Kisah Pekerja Tambang Yang Pasrah Dari Bukit Kapur Tui

Kisah Pekerja Tambang Yang Pasrah Dari Bukit Kapur Tui
Kisah Pekerja Tambang Yang Pasrah Dari Bukit Kapur Tui

fortunamedia.blogspot.com-Sejarah membuktikan bahwa ketertarikan penjajah Belanda dan Portugis beserta negara-negara penjajah yang lain terhadap Kepulauan Nusantara ini dari tempo doeloe hingga kini,adalah berkaitan hasil mahsul kekayaan alam-buminya.
Di dalam dan di atas perut bumi ini, para penjajah berlomba-lomba untuk mengeruk keuntungan dari semua kekayaan yang seharusnya menjadi hak mutlak milik rakyat pribumi Indonesia.


Kisah Pekerja Tambang Yang Pasrah Dari Bukit Kapur Tui
Pada episod kekayaan kepulauan Nusantara kali ini,saya ingin berkongsi cerita dengan Anda, pengunjung dan pembaca setia blog fortunamedia.blogspot.com ini.yaitu suatu daerah di Sumatera Barat bernama Lembuti (Lembah Bukit Tui) sebuah nama lembah yang terdapat di Bukit Tui,Dan Bukit Tui pula merupakan sebuah Bukit Kapur yang sering di kunjungi oleh para wisatawan tempatan dan mancanegara.
                                                         

Bukit ini pernah longsor pada 4 May 1987, dan telah menghanyutkan Desa Sungai Andok dan Desa Tanah Hitam yang berada di kaki bukit ini. Sejak kejadian itu Lembuti terkenal kerana memang di punggung bukit itu terdapat deretan tulisan LEMBUTI yang meniru cara penulisan HOLLYWOOD.

Bukit Tui adalah sebuah bukit kapur yang berjajar di selatan Kota Padang Panjang,di Provinsi Sumatera Barat,Indonesia letaknya berada antara daerah Rao-Rao hingga daerah Tanah Hitam.

Apa yang igin saya share dengan anda tentang Bukit Tui – Kota Padang Panjang ini yang memang memiliki potensi alam yang tidak kalah indahnya dengan tempat-tempat wisata alam yang ada di kota Bukit Tinggi,dan daerah pelancongan lain di Sumatera Barat,banyak kisah yang terjadi di bukit ini. Mulai dari penduduknya, mitos yang beredar hingga tragedi yang terjadi di bukit ini.

Wanita-wanita Perkasa dari Lembuti(Lembah Bukit Tui),

Sesuatu yang menarik perhatian bagi para pelancong yang datang kesini adalah tentang kehidupan penduduk disini,yang mungkin tak akan kita temui dirantau Asia ini.Jika adapun mungkin masih ada di negara-negara yang mempunyai bukit-bukit kapur dibelahan dunia lain.

 Penduduk Bukit Tui ini,majoriti kerjanya atau mata pencahariannya adalah sebagai penambang kapur. Di bukit inilah terdapatnya wanita-wanita perkasa, kenapa dipanggil begitu? Kerana pekerjaan mereka berbeda dengan wanita-wanita di benua manapun.

Selain sebagai ibu-suri rumah tangga mereka berkerja sebagai pemecah batu kapur, lalu mengemasnya dalam karung. Sedangkan para lelaki bertugas membakar batu kapur. Mereka memasukkan batu kapur ke tungku pembakar. Selain itu, sebagian besar kaum lelakinya bekerja sebagai kuli angkut batu kapur yang memasukkan karung-karung kapur ke dalam truk(lory)
.

Aktiviti ini sudah berlangsung sejak zaman tempo doeloe lagi,sejak era penjajahan Belanda.Jika dahulu mereka bekerja sebagai buruh paksa penjajah,justru kini diteruskan oleh generasi penerus sebagai mata pencaharian untuk kesejahteraan kehidupan keluarga.

 Jika dahulu pengelolaan batu kapur dilakukan secara tradisional oleh keluarga. Namun kini telah banyak kilang-kilang dengan alat-alat moden yang mendominasi usaha pengolahan kapur di kawasan ini.

Penghasilan mereka sedikit beragam, untuk pekerja lelaki setiap harinya mendapatkan upah sebesar Rp.40.000, sedangkan para wanita sebesar Rp.25.000-Rp.30.000. Setiap buruh pengemas kapur dalam sehari harus menyiapkan 60 karung batu kapur siap packing.

(^?^) "Upah yang mereka terima begitu murah dibawah taraf layak gaji/upah seorang pekerja,jika dibandingkan dengan negara-negara jiran Indonesia seperti Malaysia,Thailand saja,sekiranya dibandingkan dengan negara-negara Barat,Ahh..malu kita;)..Namun senyum masih tersungging diwajah mereka..Pasrah aja,Pak; jawab mereka ketika ditanya".
 Proses pembakaran batu disusun dengan cara melapisi batu kapur dengan selapis batu bara. Pembakarannya dilakukan selama seminggu. Mereka bekerja dari jam  tujuh pagi sampai jam lima petang yang menghasilkan 10 hingga 12 tan kapur per harinya.

Harga Rp.250.000 per tan tidak sebanding dengan dampak kesehatan yang diakibatkan, oleh udara yang bercampur dengan debu kapur dan asap pembakaran dengan bau yang menyengat.

Tanpa disertai pelindung pernapasan, para pekerja mengerjakan tugas yang menguras tenaga itu. Tak sedikitpun asap hitam yang menyesakkan itu mengganggu aktiviti mereka. “Di sini belum pernah seorang pun pekerja yang sakit diakibatkan oleh asap pekat ini”.kata seorang pekerja lelaki.


Terkadang, suara batuk membangunkan anak-anak yang tertidur seraya menanti ibubapanya selesai bekerja.
Masih tanpa pelindung pernafasan, sang anak kembali tertidur pulas.



Silahkan untuk melihat foto – foto aktiviti kehidupan pekerja tambang Bukit Tui anda bisa melihatnya disini:
In-Pictures Kehidupan Pekerja Tambang Bukit Kapur Tui
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

1 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser