GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN ; "Anis Ditekan,Anis Melawan"

 GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN ; "Anis Ditekan,Anis Melawan"

FortunaNetworks.Com | Di Negara manapun , pasti berat bila berseberangan dengan penguasa dan dan para Taipan Konglomerat yang punya pengaruh besar atas Negara tersebut.. Berani dikit, posisi bisa dilengserkan. Apalagi kalau salah kelola anggaran, atau main perempuan. Tak jarang ada yang dibiarkan jadi "sandra" atau malah "tahanan". Kadang-kadang tanpa proses persidangan. Alasannya: adalah makar dan Negara terancam,.Modus Operandi "Klise" pemerintahan yang corruption. Apalagi kalau bawa-bawa istilah Anti Pancasila dan Anti Ke-Bhinekaan, makin sempurnalah sebuah tuduhan.

Ketua-ketua Partai dan para pimpinan Daerah seringkali tak luput dari bidikan. Sikap represif ini ada sejak Zaman Orla(OrderLama), Orba(Order Baru), dan sampai sekarang secara turun temurun diwariskan. Hanya beda kadar dan ukuran. Ada yang sembunyi-sembunyi dengan beragam kemasan, ada pula yang terang-terangan. Malah ada yang cenderung dipertontonkan.

<img src="GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN .jpg" alt="  GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN ; "Anis Ditekan,Anis Melawan" ">

Apakah tindakan represif ini juga dirasakan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI,Jakarta Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Shalahudin Uno?

Kabar yang banyak beredar, Anies juga sering jadi target dan pernah ditekan. Anies takut? Semula memang banyak pihak meragukan. Anies dianggap tak punya ketegasan, apalagi berada di bawah ancaman. Lelaki yang dibesarkan di Jogja,Jawa Tengah ini, dengan didikan penuh tata krama dan sopan santun ala Jawa ini tak punya wajah garang. Dibanding gubernur sebelumnya, tentu kalah seram. Vokal suaranya tak lantang. Lebih nampak sebagai pemikir yang mengumbar senyuman.

Setelah Anies tutup Hotel Alexis,Hotel yang aktivitinya penuh maksiat, masyarakat mulai bimbang: punya nyali juga rupanya. Tidak disangka, sikap pendiam rupanya menghanyutkan. Sampai disini Anies mulai melakukan pembuktian. Orang belum yakin sepenuhnya. Publik pun menunjukkan, di luar Alexis, ada Alexis-Alexis lain yang harus diburu dan dibekukan. Publik berharap Anies-Sandi bisa membuktikannya lagi. Jika tidak, maka publik akan bilang: itu cuma pencitraan media.

Memang, sebagian orang masih bilang: itu pencitraan. Terutama mereka yang belum bisa "move on" dari kekalahan. Ini biasa, wajar dan harus dimaklumi. Dalam politik ada luka. Tidak setiap luka bisa cepat untuk disembuhkan. Apalagi, setiap orang juga berbeda dalam membuat ukuran kepercayaan. Mereka mesti dirangkul dan diberi pengertian.

Ditengah keraguan sebagian orang, Anies kembali membuat kejutaan. Kali ini, giliran lahan Hospital Sumber Waras. BPK (Badan Pemeriksa Korupsi) mencatat, transaksi pembelian lahan ini terbukti merugikan. Negara kehilangan 191,33 milyar(
billion). Lumayan besar. Sempat Ahok dan sejumlah orang dipanggil KPK(Komisi Pemberatas Korupsi). Habis itu, kasus seolah dilupakan. Jejaknya lenyap dari berita media. Publik sempat curiga: ada kekuatan yang sedang mengendalikan. BPK tidak mungkin salah.

KPK berdalih dalam kenyataannya:"Yaitu tak ada niat jahat di kasus ini". Publik makin curiga. Bagaimana tidak ada niat jahat, sementara pembayaran dilakukan secara cash. Ratusan milyar cash? Aneh!  Ada suatu keganjilan. Gegara kasus ini, Kredibiltas KPK mulai dipertanyakan. Masyarakat bilang: KPK masuk perangkap permainan.
   READ MORE

 CATATAN SEMINGGU PERTAMA #ANIES-SANDI GUBERNUR JAKARTA
 Melihat Pelantikan Gubernur DKI Jakarta Kali Ini Terasa Berbeda
 Sesekali Keluarlah dari “Empang”,Untuk Tahu Bahwa Kehidupan ini Indah
<img src="GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN .jpg" alt="  GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN ; "Anis Ditekan,Anis Melawan" ">
 Untuk efektifnya pencegahan dan pemberantasan korupsi, Anies membentuk KPK sendiri, KPK DKI Jakarta. Hanya mirip fungsi dengan KPK yang sudah ada, tapi beda wewenang. Bersama KPK DKI yang baru ini, Anies minta Wakil Gubernur menuntaskan kasus jual beli lahan Hospital Sumber Waras. Harus tetap diusut dan dituntaskan. Bambang Widjajanto, mantan wakil ketua KPK, dan Ogoeseno, bekas Wakapolri Timbalan Ketua Polisi) ini bersama teamnya mendapat tugas untuk mendampingi. Dengan melibatkan team hukum ini, Anies nampak punya keseriusan dalam menangani permasalah korupsi di DKI.

Pihak Sumber Waras diberi dua pilihan: kembalikan 191,33 milyar ke negara, atau jual beli dibatalkan. Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW) sebagai penjual lahan berdalih: tak ada dasar untuk mengembalikan. Jika demikian, opsinya adalah pembatalan.

Veronica Tan, istri Ahok yang diduga terlibat keburu mahu diceraikan. Adakah hubungannya? Ahli Hukum Djoko Edy Abdurrahman, Wasek LPBH PBNU sudah mulai mengait-kaitkan. Tulisannya yang viral di medsos (jika benar) berupaya membuat logika kausal-nya. Sangat "tidak etis" dibicarakan jika memang tidak ada kaitan. Tapi, posisi Veronika Tan adalah ketua Yayasan Kanser Indonesia Wilayah DKI saat itu. Oleh KPK dianggap ikut terlibat dalam proses jual beli lahan R.S Sumber Waras. Faktor ini yang mendorong orang lalu mengaait-kaitkan.

Kasus Sumber Waras sedang dalam proses untuk diselesaikan, Anies lagi-lagi membuat kebijakan mengagetkan: Hak Guna Bangunan (HGB) Pulau Reklamasi dibatalkan. Semua surat pengajuan ke BPN ditarik kembali. Segala bentuk pembangunan dan kegiatan apapun harus dihentikan. Apa dasarnya? Prosedur penerbitan HGB telah melanggar banyak aturan. Perda(Peraturan Daerah) belum jadi, HGB sudah diterbitkan. Khususnya Pulau D, HGB terbit sehari setelah pengukuran. Pulau seluas 483,6 ha diukur tanggal 23 Agus 2017, tanggal 24 sudah diterbitkan. Ini sungguh keterlaluan.,.!

Pembatalan HGB berlaku untuk semua pulau B,C,D dan G. Publik tak menyangka Anies berani melakukan itu. Gila! Dengan begitu Anies mesti siap-siap berhadapan dengan sejumlah para Taipan, termasuk Aguan.Mafia Kartel dan Anggota 9 Cina Naga.

<img src="GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN .jpg" alt="  GUBERNUR DKI JAKARTA, ANIES BASWEDAN ; "Anis Ditekan,Anis Melawan" ">

Di mata publik, keberanian ini memberi kredit poin kepada Gubernur dan Wagub baru ini. Pasalnya, nyali (keberanian/guts) ini dibuktikan berani berhadapan dengan para Taipan yang selama ini dicurigai menjadi pemodal/pendana dibalik kekuasaan. Saat Luhut B.Panjaitan dikonfirmasi media, ia menjawab: Itu hak Gubernur Jakarta. Luhut tak segarang sebelumnya.

Dirunut dari sejarah awalnya, Pulau Reklamasi adalah projek lama. Pergub(Peraturan Gubernur) pertama dibuat oleh gubernur Jokowi. Lalu dimulai pembangunan saat Ahok jadi gubernur menggantikan Jokowi. Banyak protes, tapi tak digubris. Tangan-tangan kekuasaan diduga "back up" di belakang.

Saat Rizal Ramli diangkat jadi Menko Maritim, moratorium dibuat. Kesimpulannya: banyak masalah dan berdampak besar jika reklamasi diteruskan. Tak lama kemudian, sang menteri dipecat dan diganti Luhut Binsar Panjaitan. Lalu, moratorium dibatalkan. Dengan bersemangat Menko Maritim yang baru ini bilang: Projek Pulau Reklamasi dilanjutkan.

Beberapa hari sebelum Anies-Sandi dilantik jadi Gubernur Jakarta, rancangan Perda Reklamasi sudah diajukan ke DPRD. Saat itu, Djarot Saiful Hidayat gubernurnya. Salah seorang menteri pun kabarnya memanggil Wakil Gubernur Sandiaga Uno dan memberi ancaman. Sang Menteri akan mencari-cari kesalahan jika Sandi berani hentikan reklamasi. Sandi gentar? Rupanya tidak.,!

Belum sempat Perda Reklamasi itu disahkan, Anies-Sandi buru-buru menghentikan. Keputusan diambil tak lama setelah pelantikan. Ancaman diabaikan. Sang menteri tak berkutik dan diam. Memang, proses ini cukup dramatis dan menegangkan.

Sampai disini, rasanya tidak bijak jika ada yang masih menyebut pencitraan. Beda pembuktian dengan pencitraan.
Pencitraan itu cirinya: Pertama, Ada kesan dibuat-buat dan penuh kepura-puraan. Yang terlihat berbeda dari yang sebenarnya. Tak sama antara panggung depan dengan panggung belakang. Berita media jauh beda dengan kenyataan.
Kedua, Ujung-ujungnya tidak ada pembuktian. Kerana itu bukan program, tapi branding dan jualan. Hanya sekedar untuk iklan dan magnet mendatangkan pujian. Rakyat mesti peka: mana janji, mana bukti. Ini bisa jadi alat ukur melihat pemimpin dan penguasa.
Ketiga, Biasanya berkaitan dengan hal-hal kecil, remeh temeh, dan sederhana. Blusukan, cara berpakaian, tampil sederhana untuk iklan ke-bersahajaan. Atau sekedar marah-marah dan gebrak meja. Semua hal tak penting yang kira-kira bisa jadi magnet perhatian. Itu namanya pencitraan.

Banyak orang tertipu dan jadi korban pemimpin yang hanya sibuk membuat pencitraan. Di media bilang A, di lapangan melakukan B. Saatnya rakyat mesti dicerdaskan. Rasio dan bukti mesti diutamakan. Anies-Sandi punya tugas untuk itu.

Pembatalan reklamasi adalah keputusan berisiko, apalagi sampai adu nyali lawan Taipan, bahkan kekuasaan. Hanya "orang gila" yang melakukan ini untuk bermain-main dengan pencitraan.

Rupanya, Anies memang tidak bisa diancam. Semakin ia ditekan, semakin ia melawan. Begitu pula dengan Sandi. Beginilah mestinya keberanian seorang pemimpin, bukan cari pencitraan, tapi sibuk membuktikan. Soal ini, Anies bisa jadi inspirasi dan panutan/teladan.
Adaptasi dari tulisan Tony Rosyid
Pengamat Politik (Direktur Graha Insan Cendikia dan Ketua FASS Jabodetabek)


Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser