CATATAN POLITIK INDONESIA PASCA KEPUTUSAN MK; "MUHASABAH BANGSA, Pengokohan Kemenangan Untuk Regim Curang"

 CATATAN POLITIK INDONESIA PASCA KEPUTUSAN MK; "MUHASABAH BANGSA, Pengokohan Kemenangan Untuk Regim Curang"
<img src="#SengketaPilpres2019.jpg" alt="CATATAN POLITIK INDONESIA PASCA KEPUTUSAN MK; "MUHASABAH BANGSA, Pengokohan Kemenangan Untuk Regim Curang" ">

FORTUNA NETWORKS.COM | CATATAN POLITIK INDONESIA PASCA KEPUTUSAN MK; "MUHASABAH BANGSA, Pengokohan Kemenangan Untuk Regim Curang"

Mukaddimah;

Beberapa penulis hebat dan terkenal di Indonesia. telah menulis opini mereka tentang situasi dan kondisi politik Bangsa Indonesia setelah Keputusan para Hakm Mahkamah Konstitusi tentang Sengketa Pemilu@ Pilpres & Pileg 2019. Diantara penulis tersebut ada ; Asyari Usman Mantan Wartawan BBC London,UK dan juga Nasrudin Joha. yang kali ini ini Saya share untuk blog ini artikel menariknya Selamat Membaca,!


Anda kembali membaca artikel Saya, tepat sesaat setelah keputusan MK diumumkan. Anda mengira, Saya akan bergembira kerana telah tepat membuat prediksi akhir keputusan : "Sejumput kekuasan mengalahkan segudang kepintaran dan ilmu pengetahuan".


Tidak, Anda keliru. Bahkan, Saya sangat bersedih, prihatin dan berduka. Saya berharap, prediksi Saya keliru. Saya berharap ada keadilan dari ketukan Palu para Hakim MK. Berharap, ada ketegasan Hakim MK mengoreksi Pilpres curang. Berharap, ada air keadilan dari keputusan MK yang mampu menyiram dahaga Rakyat Indonesia yang telah lama dirundung kemarau panjang dalam tekanan dan kezaliman.


Namun, itulah kenyataannya. Keputusan itu, persis seperti yang Saya tulis: "Pengokohan Kemenangan Untuk Regim Curang"

   READ MORE

#2019PresidentialElectionDisputeIndonesia; "Mahkamah Konstitusi Akan Menghukum Perampok Atau Menjadi Korban Perampokan?"
Lucius Calpurnius Piso Caesoninus; “Tegakkan Keadilan Walaupun Langit Akan Runtuh"
KEKUATAN KAKI -TANGAN RRCHINA DI INDONESIA
Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri[14] "Bertemu Teman Lama Eka Damayanti,Di Stesyen Kereta Api Bojonegoro"

Rasanya, dipelupuk mata Saya tergambar lagi, saat kita bersama-sama menyadarkan Ummat tentang regim zalim yang tak layak memimpin. Entah, sudah berapa ratus artikel agitasi yang Saya buat, untuk meyakinkan Ummat agar jangan pilih Jokowi.


Kita juga pernah berada di puncak keyakinan, manakala opini sosmed dan suasana kampanye, memberi gambaran nyata tentang kekalahan kubu rezim. Saat itu, semua kampanye Jokowi sepi, sementara kampanye Prabowo begitu riuh ramai.


Rasanya, saat itu kita sudah berada pada Era Berakhirnya Kezaliman. Kita, berada di puncak keyakinan akan mengabarkan kepada Anak-Anak Cucu kita, Tentang Berakhirnya Era Penindasan dan Kezaliman.


Ya, inilah kenyataan yang Saya juga sudah pernah ingatkan. Persoalan yang kita hadapi bukan hanya regim, tapi Kapitalisme Global baik yang diwakili Amerika maupun RRChinaKomunis, yang jelas tak mahu dominasi Islam mengatur Negeri ini.


Saya begitu merasakan 'Ruh Islam' dalam Pilpres kali ini. Tentang kampanye yang diawali Sholat Tahajud, tentang Barisan Emak=Emak yang menutup aurat, tentang aksi dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan, terakhir tentang keseluruhan Aksi di MK yang tak meninggalkan kewajiban Sholat. Bahkan, Sholat itu dilakukan secara berjamaah di jalanan. Ruh Islam itu begitu tegas tergambar dalam benak.


Jelas, Kapitalisme Barat dan Timur, baik Amerika maupun RRChina Komunis, tidak akan pernah redha Negeri ini diatur dengan Islam. Mereka bertarung dalam urusan dagang, tapi untuk urusan Islam mereka berkoalisi untuk memerangi kebangkitan Islam. Baru semangat Islam yang hadir saja mereka penggal, Apalagi jika Syariat Islam yang berdaulat mengatur Negeri Ini?


Sekarang keputusan MK apapun itu, telah dibacakan. Apakah kita bisa melawan ? Berontak ? Secara formal tidak bisa. Keputusan MK telah didesain sebagai putusan final yang mengikat. Tidak ada Opsi Fikir-Fikir, Banding, Kasasi, atau mengajukan Peninjauan Kembali.!!


Kembali, kita seolah dipaksa menerima kezaliman yang telah begitu terang benderang dipelupuk mata kita. Tapi kita dibuat tak berdaya, kaki kita seperti terpasung, tangan kita terbelenggu, sementara mulut kita terkunci.


Hanya hati kita yang menjerit, menangis, berderai-berurai air mata. Sementara fikiran kita menerawang jauh, memikirkan kerusakan yang tidak lama lagi akan semakin masif terjadi di Negeri ini.


Kebijakan yang semakin zalim, Hutang Negara yang semakin menumpuk, Aset Negara dan BUMN-BUMN dijual, serbuan TKA (Tenaga Kerja A Seng) RRChina Komunis akan lebih marak, pengangguran makin parah, PHK meluas, Neraca dagang makin defisit, Kriminalisasi Ajaran dan Simbol Islam akan lebih keras, perburuan pada Aktivis dengan dalih radikal, dan seabrek problem bangsa lainnya yang akan makin terasa.


Kita pun tertegun, sayup-sayup suara Anak-Anak Cucu Bangsa ini mulai meraung raung mendakwa KITA. "Wahai Kakek-kakek kami, Wahai Bapak-bapak kami, Kenapa kami generasi yang tak berdosa ini diwarisi Negara dengan segudang masalah ? Apa salah dan dosa kami ?".


Jelas, ini semua wajib membuat kita, generasi umat ini, generasi Rasulullah SAW ini untuk bermuhasabah. Paling tidak, ada beberapa pertanyaan paling mendasar yang perlu kita jawab.


Akankah kita menyerah ?!

Berhenti berjuang ?!

Pasrah dan menerima nasib ?!

Mengakhiri perlawanan dan menyerahkan leher kepada rezim curang dan zalim ?!


Lantas, perlu juga untuk memeriksa ulang niat dan motivasi kita selama ini. Apakah kita melawan dan berjuang kerana Allah SWT ?
Atau hanya kerana partai ?
Kerana Capres ?
Kerana khawatir didakwa Anak-Anak Cucu kelak ?

Atau sekedar untuk lepas dari himpitan hidup ?


Muara dari muhasabah ini akan sampai pada pertanyaan kesimpulan.
Darimana kita diciptakan ?
Untuk apa kita hidup ?
Akan kemana setelah ajal menjemput ?


Bagi kita, Umat Rasulullah SAW yang beriman kepada Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan. Kita yakin, Visi hidup adalah untuk menghamba kepada Allah SWT. Dan, kita juga yakin hanya kepada Allah SWT lah, tempat kembali setelah ajal menjemput.

Dengan keyakinan itu, kita pasti memiliki kesimpulan.

Pertama, KITA Berjuang hanya kerana Allah dan untuk tujuan Allah SWT semata. Bukan kerana Capres (CalonPresiden), Bukan kerana Partai, Bukan karena perut yang lapar, atau kerana sebab-sebab duniawi lainnya.

Kedua, Tujuan Perjuangan itu ingin mengantarkan kita pada redha Allah SWT dan keluasan hidup. Kemudahan ekonomi, keamanan dan kenyamanan menjalani hidup dan kehidupan, jaminan untuk menjalankan aktiviti beribadah dan berdakwah.


Ketiga, KITA TIDAK akan pernah berhenti berjuang hingga ajal menjemput, kerana kita sadar hanya ajal yang layak menjadi sebab berakhirnya perjuangan.


Ketiga Keyakinan ini, tentu akan membawa kita untuk mengevaluasi jalan perjuangan kita. Apakah akan tetap menempuh jalan yang ada dan sudah kita buktikan kemustahilannya mencapai tujuan redha Allah SWT, yakni Jalan Sesat Demokrasi. Atau kita akan mengupayakan jalan lain ? Jalan yang dahulu ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat ? Jalan, yang mengantarkan Rasulullah SAW, mencapai tampuk kekuasaan di Madinah ? Jalan, yang mengantarkan para Sahabat setelahnya, mampu menaklukkan dunia dan membawa misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam ?


Jalan, yang sejak niat hingga amalan rincian semua terikat dengan Syariat. Jalan, yang tidak akan membuat kita berpaling dari ketentuan Allah SWT oleh sebab godaan remah-remah dunia.

Wahai Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah SWT,

Saya tidak pernah menjauh dari kalian, bahkan Saya turut berada di parit-parit perjuangan untuk mencapai apa yang kalian inginkan. Berupa, kekuasaan dan perubahan untuk Ummat ini.

Namun, kalian sudah saksikan betapa Demokrasi memang tak pernah memberi jalan kepada Umat Islam untuk sekedar mewarnai kekuasaan, apalagi sampai ke tampuk kekuasaan. Ini bukan senario regim saja, dibelakang regim ada Kaum Kuffar Penjajah baik Amerika dan RRChina Komunis yang jelas tak ingin Negeri ini diwarnai dengan Syiar Islam.


Bagaimana mungkin kita bisa memenangkan kompetisi dalam Demokrasi,
Lha, mereka yang pegang kendali, mereka wasit sekaligus Hakim pemutus,!? Mereka yang punya wewenang untuk menentukan siapa yang berhak berkuasa.

Lantas, Apakah kita tidak ambil pelajaran dari Partai Reffah Turki, Partai FIS Aljazair, Partai HAMMAS Palestine, termasuk Presiden Mesir, Allahyarham Mursi yang telah sampai ke tampuk kekuasaan secara Demokratis namun akhirnya ditumbangkan ?
Kenapa kita masih bermimpi 'kalau kita menang pemilu, kita akan terapkan syariat Islam'.
Bukankah Presiden Mursi telah berkuasa?
Mursi bukan 'kalau' tapi Mursi telah 'menang pemilu' telah sampai ke tampuk kekuasaan, namun ketika ingin menerapkan Islam, demokrasi langsung memenggalnya. Lantas, bagaimana dengan yang baru bermimpi 'kalau berkuasa ?'.


Coba ingat lagi, siapa yang bertanggung jawab atas sejumlah korban nyawa Umat Islam yang menjadi anggota KPPS, lebih 700 orang maut mengenaskan kerana telah diracun oleh Aparat yang Keparat, Sadis & Brutal.

Siapa yang dipersalahkan atas meninggalnya Umat Islam dalam peristiwa 21-22 Mei 2019. Para Elit itu, baik yang menang maupun yang dikalahkan tidak akan ada yang mahu dipersalahkan, apalagi diminta bertanggung jawab. Semua itu adalah korban demokrasi.!!!


Lantas, Apa yang menghalangi kita untuk meniti jalan Nabi Muhammad SAW ? Meninggalkan Demokrasi ? Meninggalkan elit politik pengkhianat ? Meniti jalan Dakwah sendiri bersama Ummat, agar tidak terjebak dalam bingkai pilih-pilihan yang dipenuhi kecurangan. Bergerak atas asas pergerakan Massa Yang Mandiri, sambil mencari dukungan Ahlul Quwwah.


Saya, memaparkan ini kerana Saya mencintai kalian Wahai Umat Islam. Kita, tetap harus kembali bangkit, bergerak, berjuang dengan Visi jelas, untuk menerapkan Syariat Islam.


Kita, tidak mungkin menyerahkan urusan ini kepada Elit Politik yang hanya peduli dengan kekuasan. Mereka melihat Ummat hanya dijadikan tangga-tangga untuk meraih tampuk kekuasaan. Mereka tidak pernah memikirkan Ummat.


Lihat saja, mereka seolah telah melupakan ratusan nyawa yang meninggal. Beberapa hari Kedepan, mereka akan bersorak-sorai merayakan kemenangan. Mereka, akan sibuk berbagi konsesi, bagi jatah menteri, bagi-bagi kursi.


Lantas, Kenapa kalian masih mengikat loyaliti kepada entiti yang tidak pernah memikirkan kalian ?
Kenapa, kalian tetap terus Istiqomah menempuh jalan Demokrasi, padahal berulang kali kalian telah dikhianati ?


Ya Allah, Selamatkanlah Ummat ini. Ya,Allah, Segera Turunkan Pertolongan-Mu, kerana Ummat ini sudah terlalu sakit dan menderita hidup dalam naungan Demokrasi Sekuler.


NB : Tulisan ini sudah dipersiapkan sejak satu hari sebelum keputusan Sengketa Pilpres oleh Hakim MK, hanya diedarkan menunggu setelah pembacaan keputusan MK.

Adaptasi dari artikel asal oleh Nasrudin Joha.

Edited by HSZ/FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser