Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam[Akhir]

Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam[Akhir]
<img src=#RRChinaKomunis.jpg" alt="Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam[Akhir] ">

FORTUNA NETWORKS.COM | Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam[Akhir]

Artikel ini lanjutan dari thread sebelumnya bertajuk ;
Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam
Sistem Kapitalisme Timur Republik Rakyat China Komunis semakin eksis tatkala Dunia Islam sedang menghadapi multi tantangan dan serangan dari Barat. Eksploitasi Isu ISIS, massifnya Program Counter Radicalism (re-generation dari Counter Terrorism), juga berbagai tragedi termasuk yang menimpa Muslim Uyghur di Xinjiang – wilayah Barat RRChina Komunis, tepatnya di Daerah Turkistan Timur.

Setelah membahas latar belakang kebijakan luar negeri serta mimpi RRChina Komunis yang menjadi penggerak meluncurnya Mega Projek Belt and Road, maka bagian kedua tulisan ini akan mengulas bagaimana inisiatif ambisius dari sang Kapitalis Timur,RRChina Komunis
 menimbulkan banyak implikasi berbahaya pada Negara-Negara Dunia Islam seperti yang akan dijabarkan berikut ini:

Dampak Projek OBOR/BRI pada Negara-Negara Dunia Islam

Trend umum yang diamati dalam keterlibatan RRChina Komunis dengan banyak Negara berkembang adalah bahwa mereka tidak suka mengatur ekonomi mikro. Namun, beberapa konsesi yang signifikan dituntut sebagai imbalan. Ini mungkin termasuk kepemilikan saham yang lebih tinggi, peranan yang lebih besar dalam menentukan projek-projek besar, dan akses pasar yang lebih besar untuk perusahaan-perusahaan RRChina Komunis.

Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka adalah salah satu contohnya, di mana 
RR China Komunis mengakuisisi saham pengendali dan sewa 99 tahun pada 2017 setelah kegagalan Pemerintahan Sri Lanka untuk membayar kembali pinjaman. Mencerminkan kegelisahan yang berkembang tentang Belt Road Initiative (BRI), Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa persyaratan untuk Pinjaman RRChina Komunis lebih banyak merusak Kedaulatan Seebuah Negara yang meerima pelaburan/investasi para Investor RRChina Komunis


 Kasus di Indonesia, Sungguh Tragis,!RRChina Komunis  telah menandatangani 23 kesepakatan kerjasama di berbagai sektor usaha. Dari 23 projek tersebut, Nilai Investasi RRChina Komunis dari 14 MoU bernilai total USD 14.2 Bilion dolar yang dipastikanmenurut Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Kanan Regim Jokowi yang mempunya Kuasa Postfolio Besar disemua Kementrian Regim Jokowi bukan merupakan hutang yang harus ditanggung pemerintah.
Hal ini menurut LB Panjaitan dikarenakan bentuk kerjasaman yang terjadi adalah Bussiness to Bussiness, bukan Goverment to Government. Saat menghadiri konferensi OBOR pertama (2017), Jokowi mendapat komitmen investasi hingga US$ 28 Bilion saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi One Belt One Road (OBOR) pertama di Beijing.


Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan tiga (3) Provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dengan Sulawesi Utara. Profil Area yang menguntungkan 
RRChina Komunis, dalam hal konektion. Secara geografis, Bambang beralasan tiga(3) Wilayah tersebut merupakan Wilayah Negara Indonesia yang dapat terhubung dengan RRChina Komunis melalui Laut Cina Selatan. “Terutama dari konsep Belt-nya yang terhubung (dengan RRChina Komunis  ) dengan laut,” jelasnya (katadata.co.id, 2017).

READ MORE

Inilah Ambisi Dan Ancaman Nyata Dari RRChina Terhadap Kedaulatan Indonesia[1]
Inilah Ambisi Dan Ancaman Nyata Dari RRChina Terhadap Kedaulatan Indonesia [2-Akhir]
Agenda Strategis Investasi China Di Manado & Bitung,Sulawesi Utara"Bencana Geopolitik Bagi Indonesia"
KEKUATAN KAKI -TANGAN RRCHINA DI INDONESIA



Serba Utara Untuk RRChina Komunis ; Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. 

Dari sudut pandang kepentingan RRChina Komunis , wajar saja kerana tiga Provinsi inilah yang berdekatan dengan Jalur Strategis Indo-Pasifik yang juga menjadi nafas ekonomi RRChina Komunis. Namun bagaimana dengan sudut pandang kepentingan Umat Islam?

Kekhawatiran hegemoni atas nama infrastruktur ini bukan terjadi di zaman ini saja, di Era Sukarno pun sudah terjadi. Dalam buku yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: 'Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', Sukarno bercerita pembangunan irigasi dan jalan di Hindia-Belanda bukan terutama untuk mengairi sawah Rakyat, melainkan untuk pengairan perkebunan tebu dan tembakau milik kapitalis Belanda. Begitu juga dengan projek jalan raya. Jalan Raya tidak dibangun untuk menembus hutan atau antar pulau, sehingga melancarkan mobilitas penduduk dan barang-barang, Melainkan untuk melayani transportasi logistik dan hasil produksi kapitalis (Hartono, 2017).
Pembangunan infrastruktur sesungguhnya tidak lepas dari urusan keberpihakan; apakah mengabdi pada cita-cita pemerataan kesejahteraan rakyat ataukah sekedar melayani akses rantai 
supply global para pemodal?

Dampak Ideologi – Politik Terhadap Agama, Bangsa & Negara Indonesia

Di sisi lain yang dampak yang paling berbahaya adalah dampak Ideologis. Agenda OBOR ini ternyata sejalan dan sepaket dengan Projek Kontra Terorisme untuk melawan Islam. Jadi OBOR bukan hanya bermuatan ekonomi tapi juga politik. Hal ini sangat terlihat dari manuver di Asia Tengah, dimana agenda kontra terorisme dan radikalisme meluncur deras bersamaan dengan program ekonomi OBOR/ BRI. Pada tahun 2015, Pemerintah RRChina Komunis dikhabarkan telah meminta dukungan Amerika Syarikat (AS) guna melawan Pejuang-Pejuang Muslim di Xinjiang (Turkistan Timur), di Wilayah Barat negaranya yang di jajah secara paksa oleh Tentara Merah Regim RRChina Komunis Seorang Pejabat RRChina Komunis mengungkapkan, adanya permintaan bantuan ini tak lepas dari kian masifnya aktiviti Pergerakan Islam Turkistan Timur (ETIM) dalam merekrut Kaum Muslimin minority Xinjiang, Uyghur. (CNN, Agustus 2015)
 

Fakta terbaru adalah lawatan Xi Jinping ke Asia Tengah (Tajikistan, Kirgistan) Juni 2019 baru saja – semakin menegaskan komitmen Projek Belt and Road Initiative (BRI) berdampingan dengan upaya melawan ‘terorisme’ termasuk Muslim Uyghur. Melalui Shanghai Cooperation Organisation, Organisasi bentukan RRChina Komunis dan Rusia untuk mengontrol Asia Tengah, RRChina Komunis berusaha memperkuat implementasi Belt and Road bersamaan dengan slogan terorisme dan ekstremisme dalam perang melawan Islam/Muslim di Negeri-Negeri Islam ,Asia Tengah. Kepentingan ekonomi politik RRChina Komunis melalui Projek Belt and Road Initiative (BRI)  ini memerlukan kestabilan politik melalui pembungkaman banyak Gerakan Islam di Asia Tengah. Meski pola ini belum terlihat nyata di Asia Tenggara, tapi dengan terjeratnya Indonesia dan Malaysia melalui agenda OBOR, maka menjadi dekat kemungkinan gaya represif RRChina Komunis juga segera diekspor ke Negara-Negara Asia Tenggara.

Bagaimana lantas kita bersikap sebagai Umat Islam? Tatkala Umat Islam mempunyai tugas mengemban/menyelenggarakan Dakwah Islam kepada seluruh Umat manusia, mereka harus melakukan kontak dengan dunia, dengan menyadari sepenuhnya keadaan-keadaan mereka, memahami problem-problemnya, mengetahui motif-motif politik berbagai Negara dan Bangsa, dan mengikuti aktiviti-aktivitipolitik yang terjadi di dunia.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala, telah memberikan kepada kita Umat Islam – suatu kehormatan besar dan status yang agung. Tetapi posisi yang luar biasa dan juga berkah yang berlimpah dari 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala ini, sekaligus datang dengan tanggung jawab besar, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan dalam ayat di bawah – untuk menjadi “saksi atas umat manusia”. Peranan agung umat Islam ini juga disebutkan dalam Surah Al-Baqarah, di mana Allah (swt) berfirman:


وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا


“Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) Umat yang Adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian”
(AlQur'an Surah al-Baqarah [2]: 143).


Ulama Tafsir Terkenal serta Ulama Besar Islam,
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya pada ayat ini menyatakan bahwa ayat ‘UMMATAN WASATHAN’ bermakna sebagai umat pilihan dan yang terbaik, Beliau menjelaskan bahwa posisi ini adalah kerana: Pertama, Umat Islam akan bersaksi pada Hari Pembalasan atas semua Bangsa-Bangsa lain di dunia – masa lalu, Sekarang dan Masa Depan;
Yang Kedua, Adalah kerana 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala, telah mengkhususkannya dengan Syariat yang paling sempurna dan tuntunan yang paling lurus serta manhaj yang paling jelas.

Absent-nya ‘Kekuatan Negara’ pada Dunia Islam 

Berbeda dengan Ideologi Kapitalisme yang dilayani oleh banyak Negara, ideologi Islam sangat miskin bahkan absent negara yang berani melayani. Pada abad ke-21 ini, tidak banyak Aktor Negara (state actor) dari Dunia Islam yang memiliki independen sikap politik, melainkan hanya segelintir saja.
Samuel Huntington mengatakan dalam bukunya yang terkenal Benturan Peradaban; Konsep Islam sebagai kesatuan religio-politis mengandungi arti kesatuan kepemimpinan politik dan keagamaan yaitu Kekhalifahan dan Kesultanan yang terwujudkan melalui sebuah Institusi Kekuasaan (pemerintahan) global (Global-State) Tunggal.

Runtuhnya Institusi Kepemimpinan Politik Islam yang terakhir yaitu Kekhilafahan Turki Utsmani, membuat dunia Islam tidak lagi memiliki Negara Inti, Wilayah kekuasaannya terpecah-pecah, sebagian masuk ke Wilayah Barat dan sebagian lagi masuk ke Wilayah-wilayah Negara Islam. Kerananya pada Abad XX tidak ada satupun Megara Islam yang memiliki legitimasi kekuasaan kultural mahupun keagamaan untuk memainkan peranan sebagaimana 
Kekhilafahan Turki Utsmani yang diterima sebagai ‘pemimpin Islam’ oleh Negeri-negeri Islam maupun non-Islam. Absent-nya Negara Islam yang berperanan sebagai Negara Inti merupakan factor utama yang menjadi sebab terjadinya konflik-konflik internal mahupun eksternal di kalangan Masyarakat Islam.


Di mata Elit Politik Amerika (AS), masih terlihat bahwa sebagian besar Negara Islam memiliki karakter a-politis, yang moderat dan pro Barat seperti pemerintahan Arab Saudi, Mesir, Tunisia, Turki, Pakistan, Malaysia dan Indonesia sebagaimana yang dinilai oleh Fawaz A. Gerges. Hanya segelintir Aktor Negara yang memiliki militansi dalam sikap politiknya terhadap Barat khususnya Amerika, misalnya Iran dan Palestine, menurut Gerges. Aktor Negara dalam Dunia Islam kebanyakan bersifat pasif dan ‘mengikuti arus’ ini disebabkan negara – negara Islam pada umumnya tidak memiliki Visi Ideologi dan sikap politik yang jelas dan independent.


Walhasil, apa yang terjadi sekarang di Dunia Islam saat ini memudahkan hegemoni Kapitalis baik Kapitalis Timur maupun Barat 'menghunjam kuku kekuasaan' pada Negeri-Negeri Muslim. Arus dunia yang bipolar hari ini juga membuat banyak Negeri=Negeri Muslim kebingungan memilih antara RRChina Komunis dan Amerika, hal ini tercermin dalam banyak pernyataan politik pemimpin dunia. Ini terang-terangan terlihat di saat persekusi dan penghinaan yang dialami Umat Muslim Uyghur di Xinjiang/ Turkistan Timur oleh pemerintahan RRChinaKomunis; Regim Indonesia, Arab Saudi, Pakistan, Malaysia, Turki dan banyak Negeri-Negeri Muslim lainnya justru bergandengan mesra menjalin kerjasama, membuka kran/paip sebesar-besarnya bagi pengusaha/Investor RRChina Komunis berinvestasi di Tanah Air mereka. Ketidak-berdayaan Negeri Muslim diakibatkan ketergantungan besar pada RRChinaKomunis dalam projek OBOR ini. Padahal, projek OBOR merupakan projek ambisius RRChina Komunis dalam penguasaan kepentingan ekonomi dan politik.


Menurut Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam, Pendanaan Projek-Projek dengan mengundang Investasi Asing & A Seng adalah cara paling berbahaya terhadap eksistensi Negeri-negeri Islam. Investasi ini bisa membuat Umat menderita akibat bencana yang ditimbulkan, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu Negara. Memang benar, kerjasama projek ini menyimpan bahaya besar, merugikan dan mengancam Negeri-Negeri Muslim. Ancaman terbesar dari sisi ekonomi adalah tergadainya Negeri ini dalam jebakan hutang dan hegemoni Asing & A Seng Penjajah. Hegemoni/penjajahan (ekonomi dan politik) merupakan metode baku pengusung kapitalisme. Negara yang dijajah akan dieksploitasi besar-besaran kekayaan alamnya dan dijauhkan dari Agamanya. Penjajahan ini untuk melemahkan semangat Kaum Muslimin untuk bangkit kembali kepada islam. Namun, hal ini sering tidak difahami dan disadari Umat, disebabkan Uslub Penjajahan yang bersifat halus seperti bantuan, skim hutang, kerjasama dll.


Jebakan hutang, pembengkakkan hutang luar negeri akan membebani pembayaran cicilan'angsuran pokok dan bunga. Makin besar jumlah hutang, makin besar jumlah Perbendaharaan Negara untuk membayarnya. Akibatnya, kapasiti APBN (Bajet Negara) untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan Rakyat makin terbatas. Resiko terbesar gagal bayar hutang adalah pengambil-alihan/penguasaan Aset Negara oleh Cety/Pemiutang ala 'ALONG' RRChinaKomunis. Bahkan telah nyata pendudukan suatu wilayah dengan hegemoni Militer seperti di Negara Djibouti.Afrika. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengharamkan jalan apapun penguasaan Umat islam dan Negerinya oleh Orang-Orang Kafir, sebagaimana firman Allah yang artinya'

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

 “Dan sekali-kali Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir, jalan untuk memusnahkan orang-orang beriman” (AlQur'an Surah; An-Nisa:141).

Harapan Terakhir Terhadap Gerakan Islam

Satu-satunya harapan terakhir Umat Islam untuk membendung hegemoni RRChina Komunis adalah peranan 'Gerakan Islam' sebagai Aktor Non Negara (non-state actor), terutama Gerakan Islam (Harakah Islam) yang bersifat Ideologi-Politik. Gerakan ini secara dinamis mampu memainkan peranan sebagai aktor non negara (non state actor) yang bergerak lintas nasional di Negeri-Negeri Islam.
Gerakan (Harakah) Islam harus mampu mendidik Umat dengan Aqidah Islam dan penjelasan detail Syariat Islam, membukakan mata umat akan makar-makar musuh Islam, mengedukasi Ummat dengan Tsaqofah Islam termasuk bagaimana membangun infrastruktur secara mandiri tanpa hutang dan juga tanpa terjebak arus penjajahan ekonomi. Dalam sistem ekonomi kapitalis, termasuk yang diterapkan di Indonesia, biaya pembangunan dan pemeliharaan berbagai macam infrastruktur diperoleh dari sektor pajak/cukai/tax sebagai pemasukan terbesar penerimaan negara, dari pinjaman atau uang luar negeri dan melalui senario kerjasama pemerintah dan swasta (KPS). Pada akhirnya masyarakat yang harus menanggung beban bak secara langsung melalui pungutan penggunanan infrastruktur.

Dalam Sistem Ekonomi Islam, Infrastruktur adalah hal penting dalam membangun dan meratakan ekonomi sebuah Negara demi kesejahteraan bagi Rakyatnya. Kerana itu, Khilafah wajib membangun insfrastruktur yang baik, bagus dan merata ke pelosok negeri. Dasarnya adalah kaedah, “Mâ lâ yatim al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib (Suatu kewajiban yang tidak bisa terlaksana dengan baik kerana sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya menjadi wajib).

Infrastruktur yang masuk kategori milik umum harus dikelola oleh Negara dan dibiaya dari Dana milik umum/awam. Bisa juga dari Dana Milik Negara, tetapi Negara tidak boleh mengambil keuntungan dari pengelolaannya. Walaupun ada pungutan, hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat sebagai pemiliknya dalam bentuk yang lain. Ini termasuk juga membangun infrastruktur atau sarana lain yang menjadi kewajiban Negara untuk Masyarakat seperti Sekolah-sekolah, Perguruan tinggi/University, Hospital/Klinik, Jalan-jalan umum, dan sarana-sarana lain yang lazim diperuntukkan bagi Masyarakat sebagai bentuk pengaturan dan pemeliharaan urusan mereka. Dalam hal ini, Negara tidak mendapat pendapatan sedikit pun. Yang ada adalah subsidi terus-menerus. Jadi, sama sekali tidak ada pos pendapatan dari sarana-sarana ini.


Maka kembali harapan ini hanya bisa terwujud pada Usah gigih tanpa putus asa oleh NGO- Gerakan Islam. Pada level lanjut, jika aktor non-negara ini berhasil menyadarkan aktor negara (state actor) secara intensif, membangun basis dukungan dari Umat dan berhasil memunculkan kesadaran penguasa-penguasa Negeri-Negeri Muslim, Maka terwujudnya Kesatuan Dunia Islam di bawah Naungan Khilafah Islam, menjadi sangat niscaya. Insya Allah bi idznillah


وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan Umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (AlQur'an Surah; Ali Imran: 104)

Wallahu A’lam bish Shawwab.
===========
Adaptasi karya asal by Fika Komara

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com.


Sumber Bacaan;

Fawaz A. Gerges,  Amerika dan Islam Politik : Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan? (Jakarta : Alvabet, 2002)

Hartono, R., (2017), Masukan Untuk Politik Infrastruktur Jokowi, diakses 2 September 2017

Kitab al Amwal
Kitab Mafahim Siyasi li Hizbit Tahrir

Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia(Yogyakarta : CV. Qalam, 2003)
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser