#BJHabibieInMemories; 'Era Fenomenal dan Islam Politik yang Tersandung'

#BJHabibieInMemories; 'Era Fenomenal dan Islam Politik yang Tersandung'
<img src="#BJHabibieInMemories/#Indonesia.jpg" alt="#BJHabibieInMemories; 'Era Fenomenal dan Islam Politik yang Tersandung' ">

Bismillah, "Seiring Berjalannya Waktu KEBENARAN TIDAK AKAN TERTUKAR, SUATU SA'AT KEBENARAN ITU AKAN MUNCUL.  ALLAHU AKBAR"
Almarhum  Bacharudin Jusuf (BJ) Habibie. Seorang Presiden intelektual jenius yang selama ini memotivasi ramai orang khusus generasi muda penerus dan pewaris bangsa untuk menjadi orang cerdas,... Beliau adalah seorang pemimpin dengan track record bersih sekaligus bukan dari anggota partai, Sehingga tidak haus jabatan ... Juga satu²nya presiden yg mampu menekan kurs dollar hingga Rp6500 menguatkan rupiah, di tangan beliau Indonesia mampu menciptakan industri pesawat terbang pertama di Asia tenggara ...Dosa besar kalian orang² Parlimen / MPR yang menolak sidang pertanggung jawaban beliau ... Selamat jalan Pak Habibie, Semoga Allah SWT Menerima segala Amalan Baikmu dan baktimu kepada Agama,Bangsa dan Negara.Aamiin Ya,Rabbal 'Alamin.., 
(Adaptation of comments on fb Assyari Usman by 
Tomi Demiandro Abraham)

Salah satu kenangan dari almarhum BJ Habibie adalah Islam politik di Era Presiden Soeharto. Selalu digambarkan sebagai putar haluan Pak Harto yang sangat fenomenal.

Peristiwa pembantian umat Islam di Tanjung Priok pada 1984 banyak dikaitkan dengan kebencian Jenderal Leonardus Benny Moerdani terhadap Islam. LB Moerdani waktu itu menjabat sebagai Menhankam merangkap Panglima ABRI. Moerdani dijuluki sebagai jenderal bengis dengan wajah ketat.

Dalam sejumlah buku memoir, LB Moerdani disebut-sebut sebagai penerus kelompok anti-Islam yang dikelola oleh Letjen(Leftenan General) Ali Moertopo Cs. Moerdani adalah gemblengan langsung Ali Moertopo.

Ali Moertopo mendirikan kelompok pemikir (think tank) yang diberi nama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 1971. Banyak pengamat berpendapat bahwa CSIS adalah pabrik pemikiran dan konsep yang dianggap tidak suka Islam.

CSIS-lah yang konon menyiapkan ‘blue print’ politik untuk pemerintahan Presiden Soeharto pada masa-masa awal kekuasaannya yang disahkan lewat pemilu pertama pada 1971. Think-tank inilah yang memasok (supplying/men-doktrin) pemikiran mengenai arah pembangunan pemerintah Orde Baru.

Seiring dengan itu, Ali Moertopo menjadi sangat kuat di Kabinet Pak Harto. Ali kemudian menjadi dominan dalam tahun-tahun selanjutnya. Dia memang diakui hebat dalam memainkan kartu Islam. Dikatakan, di masa Ali Moertopo-lah muncul kelompok-kelompok Islam radikal dan berbagai peristiwa ‘anti-pemerintah’ yang mereka lakukan. Tujuan dari semua ini adalah untuk memojokkan/menyudutkan Umat Islam.

Kartu Islam ini dimainkan terus oleh Ali Moertopo bersama CSIS. Sampai akhirnya Pak Harto sendiri terjebak jauh dalam kebijakan yang tak bersahabat dengan Umat Islam. Dekade pertengahan 1970-an hingga 1980-an adalah masa-masa puncak perseteruan Pak Harto dan Umat Islam. Semua ini diyakini sebagai akibat rekayasa Ali Moertopo Cs.

Pak Harto mencium gelagat tak baik dari Ali Moertopo. Dirasakan ada senario yang bertujuan untuk mendistkreditkan Pak Harto. Singkat cerita, peranan Ali Moertopo-pun dipangkas. Sampai akhirnya Ali tersingkir dari kabinet dan meninggal dunia pada 1984
<img src="#BJHabibieInMemories/#Indonesia.jpg" alt="#BJHabibieInMemories; 'Era Fenomenal dan Islam Politik yang Tersandung' ">



Tetapi, menurut beberapa sumber, Ali 
Moertopo telah menyiapkan penerusnya. Yaitu, Jenderal Leonardus Benny (LB) Moerdani yang disebut di awal tulisan ini. Diyakini bahwa Moerdani meneruskan pemikiran Ali. Hanya saja, dalam beberapa catatan memoir, Moerdani sangat loyal-setia kepada Pak Harto.

Begitu pun, Pak Harto disebut-sebut oleh para pengamat merasa terancam oleh gerak-gerik Moerdani. Dianggap ada bahaya besar ‘gerakan politik’ Anti-Islam yang dikomandoi oleh Moerdani. Ini membuat hubungan Pak Harto dengan Moerdani menjadi tidak mulus, kata para pengamat.

Sementara itu, di tubuh Milliter dimunculkan terminologi ‘tentara hijau’atau disebut juga 'jenderal hijau' untuk menyebut para petinggi yang dikatakan memihak Islam Politik.

Pak Harto yang sebelumnya juga tidak mulus dengan Umat Islam, akhirnya memutuskan untuk menghentikan itu. Pak Harto membaca gelagat LB Moerdani yang dikatakan semakin berbahaya. Beliau mencari kekuatan baru. Kekuatan baru yang diperlukan itu tidak ada. Kecuali Umat Islam.

Mulailah kelihatan manuver-manuver yang bertujuan untuk memeluk Umat Islam. Puncaknya adalah pembentukan Organisasi Elit yang langsung bermerek Islam. Yaitu, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia atau yang sangat terkenal dengan singkatan ICMI. Berdiri pada Desember 1990.

Tidak tanggung-tanggung. Pak Harto merestui Prof BJ Habibie yang waktu itu bertugas sebagai Menristek/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memimpin ICMI. Habibie menjadi ketua umum pertama ICMI. Kegusaran kalangan Islam membuat kehadiran ICMI menjadi sesuatu yang membangkitkan semangat baru. Apalagi, sponsor pembentukan ICMI bukan orang biasa.

Tujuan resmi ICMI adalah memperjuangkan pengentasan/pembasmian kemiskinan dan peningkatan pendidikan untuk rakyat. Tetapi, bisa dibaca bahwa ICMI mempunyai misi utama untuk mengimbangi apa yang disangkakan sebagai keberadaan ‘gerakan anti-Islam’.
ICMI disosialisasikan secara masif. Berhasil menjadi wadah para Sarjana dan Cendekiawan Muslim. Di mana-mana ada cabang/cawangan Organisasi/NGO-ICMI. Ormas-Organisasi Masyarakat/NGO ini seolah berfungsi sebagai ‘parpol-partaipolitik Islam’ di seluruh jajaran birokrasi dan kampus plus di level akar rumput-grass root.

Meskipun berstatus Ormas-NGO, ICMI mampu menjadi pengimbang ‘gerakan anti-Islam’ yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan. Pak Harto mendukung penuh. Habibie pun berubah menjadi sosok kekuatan politik. Beliau kemudian menjadi Nakhoda Islam politik.

ICMI berkibar megah. Apalagi ada keyakinan waktu itu bahwa ‘gerakan anti-Islam’ sedang berlangsung gencar untuk mengerdilkan Umat Islam. Figur Habibie sebagai pimpinan ICMI sangat menentukan sukses organisasi itu dalam menghimpun kekuatan umat. Wadah ini menjadi ‘melting pot’ (tempat bertemu) para cendekiawan dari berbagai latar belakang ormas dan instansi.

Tetapi, politisasi ICMI tidak selalu mulus. Banyak yang mencemoohkannya. Antara lain tokoh Ormas Nahdhatul Ulama (NU) waktu itu, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Meskipun kemudian Gus Dur sempat mengatakan, ketika dia menjadi presiden ke-4 menggantikan BJ Habibie, bahwa Umat Islam menjadi maju berkat keberadaan ICMI.

Pak Harto memang serius merangkul Umat Islam. Dan beliau menaruh harapan pada Habibie. Harapan besar itulah yang kemudian ditunjukkan ketika Pak Harto menggandeng Habibie menjadi wakil presiden pada 1998.

Tetapi, ‘positioning’ umat Islam lewat tangan Habibie terkena badai ketika Indonesia dilanda krisis moneter (krismon) 1997-1998. Krisis ini bercampur krisis politik. Gerakan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter Pak Harto menjadi matang. Tapi, ICMI menjadi tak kelihatan. Tenggelam oleh ‘persatuan’ semua elemen bangsa yang menginginkan Pak Harto lengser-berundur.

Waktu itu, umat Islam tidak membawa bendera sendiri. Amien Rais sebagai motor tuntutan Reformasi, melancarkan gerakan yang sifatnya nasional. Meskipun beliau tokoh NGO-Muhammadiyah, tetapi Pak Amien mengedepankan suara rakyat secara umum. Rakyat yang merasa tertindas oleh kekuasaan otoriter Orde Baru di bawah pimpinan Pak Harto.

Gerakan Reformasi akhirnya berhasil mendesakkan pengunduran diri Pak Harto. Pada 21 Mei 1998, Habibie disumpah menjadi presiden. Pak Harto turun.

Tetapi, Pak Habibie malah tidak meneruskan Islam politik. Tokoh Nakhoda Islam politik ini memilih untuk menjadi presiden semua orang. Tidak mengherankan, sebenarnya. Sebab, sejatinya Pak Habibie adalah seorang Demokrat. Beliau hidup lama di alam Demokrasi Barat. Demokratis adalah jiwa Habibie.

Pak Habibie tidak menjadi presiden yang menonjolkan keinginan Umat Islam. Tidak lagi ada ICMI di mata beliau. Tidak ada lagi Islam politik di tangan pakar ilmu pesawat terbang itu.

Bahkan, setelah beliau berhenti menjadi presiden pada 20 Oktober 1999, Pak Habibie melakukan manuver ‘self-reinventing’ atau mengubah jati diri. Beliau menjadi seorang Nasionalis sejati. Bersamaan dengan itu, Islam politik tersandung di sini.!

Namun, suasana Reformasi membuat Islam politik menemukan jalan baru. Meskipun ICMI tidak ada lagi, gerakan baru malah membuka peluang yang lebih besar lagi. Kekuatan Islam politik menjadi faktual. Malahan lebih kuat. Sekiranya digambarkan sebagai kompetisi terbuka, Piala Kemenangan Pertama yang direbut oleh Islam politik adalah hasil #PilkadaDKI2017 yang mencegah Ahok menjadi gubernur DKI-Jakarta.

Pak Habibie menyaksikan ini. 'Suka atau tak suka, Habibie dengan ‘credential’ barunya sebagai seorang demokrat sejati harus mengakui kekuatan Islam politik itu. Ternyata, tidak harus selalu tersandung'.
Selamat jalan Pak Habibie. InsyaAllah Husnul Khatimah.
(12 September 2019)

Adaptasi dari Artikel Asal by Asyari Usman berjudul 'BJ Habibie dan Islam Politik yang Tersandung' - Penulis Adalah Wartawan Senior.

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Kredit Image by 1. 
Asyari Usman /fb
                           2. Prima Ceni /fb

Follow me at;
      

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser