#BPJSCrisis; WHO ACTUALLY ARE YOU WORKING FOR, ANIEK?

#BPJSCrisis; WHO ACTUALLY ARE YOU WORKING FOR, ANIEK?

FORTUNA NETWORKS.COM | #BPJSCrisis; WHO ACTUALLY ARE YOU WORKING FOR, ANIEK?

Surat Terbuka Untk Menteri Keuangan,RI. DR Sri Mulyani Indrawati Sutrisno


<img src="#BPJSCrisis/#Indonesia.jpg" alt="#BPJSCrisis; WHO ACTUALLY ARE YOU WORKING FOR, ANIEK?">

   READ MORE
#CrisisKPK. Manuver Berikutnya Ada Di Tangan Presiden Jokowi
The Lippo Way!@By John[9]"The Case Of Big TV & Astro Malaysia"




AKU mahu to the point saja.

Sri, Sebenarnya kamu kerja untuk siapa?

Sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia, bukankah semestinya kamu kerja untuk Rakyat Indonesia?

Bukankah gaji dan seabrek fasilitas serba wah, yang kamu nikmati itu dibayari oleh Rakyat Indonesia?


Bukankah dalam Sumpah yang kamu ucapkan waktu dilantik sebagai menteri antara lain berbunyi :
“Saya bersumpah, bahwa saya, setia kepada UUD Negara Republik Indonesia1945 dan akan memelihara segala undang-undang dan peraturan yang berlaku bagi negara Republik Indonesia. Bahwa saya, dengan sekuat tenaga akan mengusahakan kesejahteraan Republik Indonesia.”

Sri, sumpahmu itu berat, lho. Apalagi kalau tidak salah, sebelum bersumpah, kalian para menteri yang Muslim, termasuk kamu, mengatakan “Demi Allah aku bersumpah...”
Sumpah itu menyebut-nyebut Asma Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Sumpah itu berimplikasi pada tanggungjawab dunia dan akhirat. Allah pasti akan mintai pertanggungjawabannya. Maksudku, itu kalau kamu percaya adanya kehidupan setelah mati, di Akhirat.

Tapi, terlepas kamu percaya atau tidak dengan balasan di akhirat kelak atas segala perbuatan di dunia, yang pasti kamu sudah bersumpah. Kamu juga sudah menikmati gaji dan bergelimang fasilitas sebagai menteri yang dibayari semuanya oleh Rakyat Indonesia. Secara etika, mestinya kamu harusnya merasa punya hutang budi kepada Rakyat Indonesia. Kamu punya tanggungjawab moral untuk memenuhi sumpah kamu itu.
Tapi Sri, Kenapa justru perilakumu menabrak Sumpah Suci itu? Kenapa segala kebijakanmu justru banyak menyusahkan rakyat?
AKU tidak mahu membahas bagaimana kamu gigih memperjuangkan dan mengusung Ekonomi Neo-Llb yang terbukti di banyak Negara, dan juga di Negeri kita, gagal mensejahterakan

AKU juga tidak berminat menyoal hobimu membuat hutang ribuan triliun dengan bunga supertinggi.

AKUpun tidak mahu singgung soal dari tahun ke tahun kamu alokasikan sebagian besar dana di APBN untuk membayar hutang.

AKU juga ogah ngomongin kenapa kamu justru rajin memangkas belanja sosial (subsidi) Pemerintah untuk Rakyat Indonesia yang berakibatnya naiknya harga-harga keperluan dasar.

AKU pula tidak ingin bicara tentang kepanikanmu dalam menggenjot penerimaan pajak/tax, dengan cara sibuk mempajaki aneka hal remeh-temeh yang membebani UMKM dan rakyat kecil. Padahal, pada saat yang sama kamu justru mengurangi bahkan membebaskan bermacam pajak (tax holiday) barang-barang mewah dan bagi pengusaha dan Asing & A Seng dengan dalih investasi.

Kenapa semua kali ini Aku tidak berminat membahas itu semua? Karena kamu orang yang kopeg, ndableg. Tidak mempan masukan nasehat, apa lagi kritik. Berapa banyak orang dan pihak yang berteriak soal-soal tersebut? Tapi kan kamu selalu ngeles (menghindar dari kesalahan, pembicaraan, perdebatan dsbnya) dengan berbagai dalih. Hutang terkendali, lah. Mengelola APBN secara prudent, lah. Dan serenceng jurus berkelit lainnnya yang jadi andalanmu. Kamu abaikan semua kekhawatiran dan ketakutan akan kebijakanmu yang lebih banyak menyenangkan ‘pasar’ sekaligus pada saat yang sama justru menyusahkan Rakyat Indonesia sendiri.

Jadi, pertanyaan di pembuka surat ini sekali lagi Aku ajukan kepadamu. Pertanyaan ini makin menemukan konteksnya, ketika kamu mengusulkan agar penunggak iuran BPJS dikenai sanksi tidak bisa mengurus SIM (Lesen Memandu) dan sekolah anaknya.
Sadarkah kamu ketika mengucapkan usul ini? Sehatkah kamu saat mulutmu berucap seperti ini?

Sri, kamu kan Menteri. Masak kamu tidak tahu, bahwa perpanjangan SIM itu penting sekali, khususnya bagi para sopir dan pengendara motor, termasuk tukang ojek. 
Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada mereka kalau saat bekerja di atas roda tanpa mengantongi SIM yang masih berlaku? Jika lagi apes/pokai, mereka akan ketanggor polisi. Mereka bisa kena tilang atau memberi ‘uang damai’ kepada Polantas. Mereka harus keluar uang tambahan, Sri.!

Kamu tahu, kan, bahwa mereka adalah orang-orang kecil yang mengandalkan duit receh agar bisa menghidupi anak, istri dan keluarganya. Dengan uang recehan itu mereka membeli beras, membayar tagihan dan atau pulsa listrik, membeli gas ukuran tiga kg, membayar uang sekolah anak-anak, membayar belanjaan di pasar-pasar tradisional, dan membayar segala keperluan dasar / asas mereka.

Jadi, kalau Rakyat telat atau tidak sanggup membayar iuran BPJS, kerana uang mereka sudah habis untuk berbagai keperluan dasar tadi. Jangankan membayar denda, untuk membayar iuran rutin bulanan saja mereka tidak sanggup. Mereka tidak punya duit, Sri!

Kamu tahu konsekwensi bagi para penunggak iuran BPJS? Pasti kamu baca berita, ada yang tidak bisa membawa pulang jenazah keluarganya dari rumah sakit kerana menunggak iuran BPJS seperti yang dialami Lilik Puryani, anak Suparni. Dia terpaksa menjaminkan sepeda motor untuk mengambil jenazah ayahnya yang dirawat dan meninggal dunia di RSI Madiun yang menyodorkan pembayaran sebesar Rp6.800.000(Enam juta,lapan ratus ribu rupiah). Padahal, sangat boleh jadi, sepeda motor itu menjadi tulang punggung keluarga tadi dalam mengais nafkah yang receh-receh.

Kamu pasti tahu persis, rakyat kecil tidak sama dengan kamu yang Menteri. Buat kamu, Rp6,8 juta pasti tidak berarti, bahkan jika deretan nolnya ditambah beberapa lagi. Rakyat harus berjuang ekstra keras agar bisa sekadar bertahan hidup di tengah gempuran harga-harga yang terus merangkak naik. Sedangkan kamu, gajimu besar. Kekuasan dan kewenanganmu lebih besar lagi.!

Sri, Listrik dan keperluanmu yang lainnya ditanggung oleh Negara. Supirmu dibayari Negara. BBM (petrol) mobil supermewahmu dibayari Negara. Baju dinas di kementerinmu yang mentereng itu, juga dibeli dengan Uang Rakyat. Perjalanan dinasmu yang terbang dengan kelas eksekutif, kamar hotel mewahmu, kartu kreditmu semua dibayari Negara. Kamu hidup dengan gratisan, Sri. Dan semua itu dibayari oleh rakyat. Kamu tahu persis, kan, Sri?

Satu lagi. Sri, kamu kan intelektual. Gelar akademismu doktor lulusan luar negeri, Amerika Syarikat pula. Keren sekali. Sebagai intelektual, kamu pasti faham betul pentingnya pendidikan. Kamu pasti tahu persis, bahwa dengan pendidikan peluang seseorang memperbaiki nasibnya lebih terbuka lebar ketimbang / berbanding orang yang tidak atau kurang berpendidikan.

Tapi, Sri, sebagai intelektual dan menteri kenapa kamu tega mengusulkan agar penunggak iuran BPJS dikenai sanksi tidak bisa mengurus sekolah anaknya. Jahat sekali kamu!

Kalau dulu penjajah Belanda melarang Rakyat Indonesia yang mereka sebut Inlander untuk bersekolah, Aku masih bisa memahami alasannya. Belanda tidak ingin Rakyat Indonesia pintar, agar mereka bisa melestarikan penjajahannya atas Negeri yang bergelar, Rangkaian Zamrud Khatulistiwa.
Tapi Sri, Usul yang berimpilkasi menghalangi Rakyat Indonesia bersekolah dan menjadi pintar kali ini datang dari kamu. Seorang menteri, intelektual sekaligus WNI Asli keturunan Indonesia. Aku harus bilang apa dengan fakta seperti ini? Kamu benar-benar jahat.!
 Kamu sadis terhadap rakyat Indonesia yang sudah menanggung gaji dan bermacam fasilitasmu sebagai menteri.!

Atau, Barangkali kamu mahu mengelak, bahwa tidak semua keperluan hidupmu dibayari Rakyat? Mungkin kamu juga dapat penghasilan dari jasa atau sebagai pembicara di aneka forum bergengsi karena intelektulitas dan atau pengalamanmu. Tapi Sri, biarkan Aku mengingatkanmu, bahwa betapa pun dan bagaimana pun, kamu tetaplah WNI (Warga Negara Indonesia). Kamu tetap Rakyat Indonesia Asli, bukan keturunan Asing atau A Seng. Masak kamu tega dan jahat kepada saudara-saudaramu sesamat Rakyat Indonesia?

Sri, sebagai menteri dan intelektual, kamu pasti tahu, bahwa ada Amanat Konstitusi yang Mewajibkan Negara Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Kalau kamu lupa, Aku kutipkan sebagian dari paragraf empat UUD 1945 :
"Kemudian Daripada itu Untuk Membentuk Suatu Pemerintah Negara Indonesia yang Melindungi Segenap Bangsa Indonesia dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia dan Untuk Memajukan Kesejahteraan Umum, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa,..”
'Cetak miring dan bold sengaja kulakukan untuk memberi penekanan, barangkali kamu luput memperhatikan',! 

Pertanyaannya, Bagaimana Rakyat bisa cerdas jika kamu yang jadi Menteri justru menghalang-halangi mereka bersekolah hanya karena mengunggak iuran BPJS?
Di mana hati nuranimu? Masih adakah? Kalau pun ada, Masihkah hati nuranimu itu hidup?
Tidakkah cukup penderitaan Rakyat saat Bosmu yang presiden itu akan menaikkan iuran BPJS dua kali lipat?

Di mana juga hatimu, ketika dengan enteng kamu bermaksud menaikkan gaji direksi BPJS? Padahal, fakta dan bukti menunjukkan mereka tidak becus mengelola perusahaan asuransi / 
insurans yang diback-up kekuasaan.

Terakhir, sebagai Menteri Keuangan, Tentu kamu faham betul bahwa BPJS Bukanlah Pajak / Tax atau Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tidak ada secuil pun aturan apalagi Undang-Undang yang mewajibkan Rakyat membayar iuran BPJS. Kalau sekarang Rakyat dipaksa ikut dan membayar iuran BPJS, dengan segala sanksinya yang tidak masuk akal dan kejam, itu kerana kalian para pejabat publik telah berlaku sangat zalim kepada rakyatnya sendiri.
Bagaimana mungkin seorang Menteri Keuangan dan Intelektual seperti kamu tidak faham perbedaan antara Pajak/Tax, PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak), dan Iuran /fees?

  
Namanya saja iuran, mana bisa dijadikan kewajiban. Iuran itu hanya berlaku bagi yang terlibat. Iuran RT(Rukun Tetangga), misalnya, hanya wajib bagi warga lingkungan RT yang bersangkutan.

Lagi pula, BPJS sejatinya adalah 'Manipulasi Negara terhadap Rakyat'.
BPJS bukanlah jaminan kesehatan oleh Negara kepada Rakyat sebagaimana di-Amanatkan dalam Pasal 34 ayat 2 UUD 1945. Di situ disebutkan, “Negara Wajib Memberikan Jaminan Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

BPJS hanyalah Perusahaan Asuransi yang berlindung di balik ketiak penguasa, Ya,
di antaranya kamu. BPJS adalah bentuk kesewenang-wenangan Negara yang amat luar biasa terhadap Rakyatnya. Tolong Tunjukkan Kepadaku, Di belahan Bumi Mana Ada Negara yang Mewajibkan Rakyatnya Untuk Menjadi Peserta Asuransi?


BACA DISINI ;

Sindiket Mafia Jaringan Hospital Siloam Milik Lippo Group@James Riady(JR)Dibalik Pelaksanaan BPJS
Sudahlah Sri, Bertaubatlah. Jabatan yang kamu banggakan itu sama sekali tidak abadi. Cepat atau lambat akan selesai. Berakhir. Dan, yang lebih penting lagi, kalau kamu orang yang beragama, tentu kamu yakin adanya Akhirat.
Kelak, kamu harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Mahkamah Rabuul Jalil yang anti suap dan KKN. Ngeri, lho Sri!
Jakarta, 6 September 2019

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser