Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [5] “Kyai Kena Santet dan Muntah Darah.”

Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [5] “Kyai Kena Santet dan Muntah Darah.”
FORTUNA NETWORKS.COM  | Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri ini adalah kisah sebenar Cuma ada beberapa tambahan story untuk membuat kisah lebih menarik dan para pembaca dan pengunjung blog ini tidak bosan membacanya.

Perlu pembaca ingat, bahwasanya setiap episod ini saling berkaitan,walaupun judul/tajuknya berlainan. So,pastikan Anda membaca setiap threads yang sebelum artikel ini.Terima Kasih.

“Eh, eh, apa apaan ini?” aku berusaha mengangkat lengan Anggraini, tapi gadis itu menangis sesenggukan.

“Hu hu, mas Ian, kalau tak ada mas Ian apalah jadinya aku… hu… aku pasti tak sanggup membalas budi, dan pertolongan Mas Ian… hu… aku siap mengabdikan diriku… hu…”
“Sudah-sudah ayo berdiri, tak baik dilihat orang, ayo berdiri.” kataku sambil menyalurkan tenaga prana lewat lengannya supaya dia tenang. Perlahan gadis itu berdiri, dan tegak di depanku.

“Jadi mas Ian mau menerima pengabdianku?” Aku yang tak mengerti, manggut aja. Dari pada masalah yang tak ada ujung pangkalnya berkepanjangan. Setelah aku manggut, gadis itu wajahnya kelihatan ceria, dan mengusap air matanya kemudian melangkah ke dalam

<img src="Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [5] “Kyai Kena Santet dan Muntah Darah">


Beberapa detik kemudian Bu Lurah keluar dan mempersilahkan kami menikmati hidangan. Mujahidi kulihat mulutnya telah penuh makanan, bakwan, mendoan, tahu goreng, uh cabe yang di piring yang udah aku incer udah ludes. Mujahidi, enak aja mulutnya manyun kesana kemari, mengunyah makanan yang penuh di mulutnya sambil omong, “Hm…, semalaman bertarung, lapar mas.., hm, hm, enak..” lalu setelah makan dia mengeluarkan sebatang Djisamsoe yang sudah gepeng dan melengkung. Kemudian menyalakannya, asap mengepul dari bibirnya yang hitam kayak habis ditonjok orang, juga asap keluar dari lubang hidungnya yang lebar kerana sering dikorek-korek dicari kotoran upilnya.

Aku makin jengkel aja melihat tingkah Mujahidi, tanpa memandang sebelahnya yang jakunnya naik turun. Sebenarnya aku ngiler pada rokok yang diisapnya, tapi aku tak mahu merengek-rengek, minta satu dua isapan, walau kalau dikasih, aku tak bakal menolak.
Kerana melihat Mujahidi, kelihatannya rokoknya tak akan dibagi, aku segera pamitan kepada Bu Lurah untuk pergi ke Mushalla, sekalian menunggu waktu Sholat Zohor, sambil selonjoran kerana semalaman belum tidur, aku langsung tidur, jam menunjukkan jam sepuluh lewat lima menit.
    READ MORE

Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [1] Didatangi Bayangan Hitam Yang Terbang,Rambutnya Semua Memutih,Terbang Menggunakan Sajadah
Cerpen Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [2] Kyai Ditantang Duel Oleh Nyai Bundo,Murid Pendekar Sakti@Wong Agung Sahlunto
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [3]"Jadikan Daun-Daun Kopi Menjadi Uang"
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [4]"Duel Dengan Carik Sanusi Penculik Perawan Desa"
Wah, kalau ingat jam jelek yang selalu melingkar di tanganku ini, heran juga,! Yah walau jam tangan bermerek Casio ini menurut aku jelek, tapi awet sangat, juga tahan air, Aku malah mengira jam ini tak pakai batery untuk menopang jalan angkanya. Soalnya sampai tiga tahun tak mati-mati, padahal semenjak kubeli, belum pernah aku melepasnya. Mandi, tidur, kemana aja jam ini kubawa. Sampai bentuknya buruk sangat. Kaca mikanya jaret-jaret kesana sini. Penunjuk waktunya yang cuma angka-angka itu memudahkanku.

Apalagi kalau ku ingat saat waktu mendapatkannya, saat itu aku dari Serang Banten mahu pulang ke Tuban sesampainya di terminal Pulo Gadung. Setelah membeli tiket Bus malam jurusan Senori Tuban. Aku segera mencari tempat duduk, kerana terlambat sedikit saja aku pasti tak akan dapat kursi, kerana siapa cepat, dia dapat. Untung aku masih kebagian kursi di tengah, walaupun bus yang kutumpangi jauh dari nyaman, Aku berusaha menyamankan diri, Bus masih menunggu penumpang penuh dan menunggu jam keberangkatan.

Para pedagang asongan berseliweran, sehingga menambah keadaan makin ribut. Tak jarang para pedagang itu menawarkan dagangannya disertai paksaan. Terdengar seorang pedagang jam tangan menawarkan dagangannya, sampai di depanku dia menawarkan dagangannya kepadaku, tapi aku menggeleng.

“Dilihat dulu mas, melihat tak bayar kok.” kata pemuda penjual jamnya. Aku pun melihat, walau aku tak tahu tentang jam tangan, tapi menurutku semua jam tangan yang dijualnya tak bagus. Maka ketika dia menawarkan kepadaku untuk membeli satu, aku menolak, lagian aku tak punya uang. Tapi dia maksa malah memakaikan jam tangannya ke pergelangan tanganku.

“Ayolah mas dibayar, cuma limapuluh ribu aja kok.” Aku mahu melepaskan jam tangan dari pergelangan tanganku, tapi pemuda itu menahan.

“Ayo dibayar,”

“Maaf, aku tak mahu dan tak ingin punya jam tangan.” kataku, “Kamu jangan maksa.”

“Eehh, kamu sudah melihat-lihat sudah pakai jam tanganku tapi tak mahu bayar, kamu ngajak berantem?!” nadanya menantang. Sementara bus sudah gerak jalan.

“Heehh, yang makaikan kamu, kamu jangan memutar kata-kata ya, aku bilang aku tak punya uang.”
aku juga mulai emosi.

Dia tersenyum mengejek, “Heehh, oke aku akan ambil semua uang di sakumu, sebagai pengganti jam tanganku.”
Aku diam saja ketika dia merogoh uang di sakuku, kerana memang aku tak punya uang. Sementara kondektur telah menyuruhnya turun. Dia tak menemukan apa-apa kecuali uang lima ribuan.

“Aahh kere…!” katanya sambil bergegas turun, kerana kondektur yang sudah membentaknya turun. Dan jam tangan ini sampai sekarang ada di tanganku. Aku berharap pemuda penjual jam itu insaf dan melakukan jual beli dengan wajar, dan aku juga berharap, jam tangan ini setiap ku pakai beribadah maka pemuda itu mendapatkan pahalanya.

Dalam tidur aku merasa ada banyak orang yang duduk berbisik-bisik di bawah kakiku. Aku pun membuka mata dan mengangkat sedikit kepala untuk meyakinkan prasangkaku. Ternyata benar, banyak sekali pemuda kampung Pasir Seketi. Dan yang aku kenal namanya ada yang namanya Jejen, Maman, Nono, Safi, Imam dan banyak lagi yang aku tak tahu namanya, aku segera bangkit duduk.

“Eh, apa sudah saatnya sholat?” tanyaku kerana menyangka, pemuda-pemuda ini mahu sholat.

“Belum.” jawab mereka serempak.

“Lho, lalu kenapa kalian duduk di sini?” tanyaku heran, sambil membetulkan rambut panjangku yang ikatannya kendor, sehingga yang rambut pendek lepas, agak membuatku risih, kulihat Mujahidi tidur mendengkur di sebelah kananku, sekali waktu mulutnya berkriutan, mungkin makan emping atau daging yang agak liat, kulihat semua pemuda saling memberi isyarat untuk mewakili bicara. Akhirnya yang bicara pemuda bernama Jejen.

“Jadi, anu…,” pemuda itu rikuh, sehingga dia susah mengeluarkan kata-kata. Jejen, pemuda ini ku taksir umurnya duapuluh dua tahun, tubuhnya kecil, tapi berotot kerana biasa kerja di kebun. Wajahnya juga kecil tapi kelihatan tua. Jejen pernah ke tempat Kyai, tapi disentil Kyai, supaya jangan sering nonton video porno, lalu malu sekali, sehingga tak berani datang lagi.

“Anu mas Ian, maaf kalau kami mengganggu tidur mas Ian, kami semua pemuda desa meminta dengan sangat supaya Mas Ian bersedia membimbing kami, menjadi guru silat di desa Pasir Seketi ini.” seperti telah melepaskan beban di dadanya, Jejen menarik napas lega. Aku tak terkejut, biasa saja, sementara kulihat para pemuda yang kebanyakan umurnya di atasku itu, tegang menanti jawabanku.

“Aku mau-mau saja menjadi guru kalian, tapi apakah kalian sanggup untuk menjadi muridku?”

 
“Sanggup…!” terdengar suara serentak.

“Kami sanggup disuruh apa saja,”
kata Jejen menambahi. Kerana waktu itu sudah masuk waktu sholat maka aku mengajak mereka semua sholat berjamaah. Setelah selesai menjalankan sholat, para pemuda itu duduk melingkariku, mungkin semua sekitar tigapuluh orang.

“Saudaraku semuanya,” aku membuka pembicaraan.

“Perlu kalian ketahui, ilmu yang akan kuturunkan kepada kalian ini, dinamakan ilmu laduni, dasar amalannya adalah wirid. Sementara kalian harus menjalani puasa, untuk memiliki ilmu ini, kalian harus membeli ilmu ini dengan puasa, semakin banyak kalian puasa, maka akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat….” aku menjelaskan panjang lebar tentang ilmu laduni, dan setiap pertanyaan aku jawab sampai mereka puas.

Setelah memberikan wirid yang harus jadi amalan, aku segera pamit meninggalkan pemuda-pemuda desa itu, kerana pak Lurah telah datang memanggil untuk mengajakku makan. Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda depan, sambil menikmati rokok Djisamsoe, pak Lurah membuka pembicaraan.

“Aahh, si Sanusi, kenapa dia bisa melakukan perbuatan sekeji itu?” tanpa tahu arah pembicarannya aku menjawab,

“Yah itulah pak, nafsu kalau sudah mengalahkan akal budi, manusia lupa diri, dan perbuatan keji pun dilakukan.”
lalu pak Lurah menceritakan, Sanusi sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan pak Lurah, meskipun jauh.


Sanusi muda adalah orang yang suka Ilmu Debus dan Kanuragan. Dia suka mengembara mencari guru. Bertahun-tahun Sanusi mengembara sampai akhirnya dia pulang dengan berbagai ilmu kesaktian. Dia menunjukkan ilmu kesaktiannya pada pemuda-pemuda sehingga para pemuda desa merasa takut padanya. Sanusi sering memperlihatkan ilmu kebalnya, sehingga para pemuda tertarik untuk belajar ilmu silat kepadanya, maka Sanusi pun menjadi guru silat. Tapi karena belajar silat di tempat Sanusi dipungut iuran yang tinggi, maka banyak pemuda yang mengundurkan diri, kerana tak mampu membayar. Akhirnya perkumpulan silatnya pun berhenti.

Ketika terjadi Pemilihan Lurah (Ketua Kampung), Sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata Sanusi yang kalah dan Pak Lurah pun menduduki Jabatan Lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari Sanusi yang telah diangkat jadi Carik, datang ke rumah Pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja ditolak walau secara halus, kerana Sanusi umurnya lebih tua dari pada Pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga Sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul.

Pak Lurah menghela nafas berat, “Tak menyangka, Sanusi yang pendiam mampu melakukan kekejian seperti itu.”

Aku hanya manggut-manggut, lalu mahu pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi Pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan asap rokok Djisamsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian Bu Lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa? Keheningan sebentar terasa kerana Pak Lurah tak segera bicara, nampak bpBu Lurah menjawil- mencuit suaminya, seakan memberi isyarat supaya lekas bicara.

“Anu…nak Mas Ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk menjadi orang desa Pasir seketi?


“Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku, seperti orang bodoh.

“Maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak Ian.” walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejut juga. Bagaimana tidak, menikah adalah kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk seumur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya.

“Menurut saya, Anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan tertarik, termasuk saya.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanya pak Lurah bersemangat.

“Tapi pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan nada rendah karena takut kata-kataku menyinggung.

“Aahh, pondok Pacung kan dekat dari sini nak mas? Kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya,Anggraini,” suara pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri.

Bu Lurah pun menambahi, “Iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokoknya nak mas tinggal menjalani.”

“Ibu, Bapak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar-benar belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya.” kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, kerana takut menyinggung.

Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan. Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan.

Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi Pak Lurah memaksa mengantar dengan Mobil Kijangnya. Di luar banyak sekali pemuda kampung mahu mengantar kepergianku, bergantian menyalamiku. Dan beraneka macam pemberian kuterima, aku tak menolak sampai mobil pak Lurah tak muat lagi. Akhirnya aku dan Mujahidi pergi meninggalkan desa Pasir Seketi. Kulihat mata-mata berlinang dan melambaikan tangan. "Orang-orang Desa yang baik", gumamku. Setengah jam kemudian aku tiba di pesantren Pacung. Suasana pesantren sangat sepi, tak ada mobil tamu di tempat parkir, kulihat Kholil berlari-lari kecil mendekatiku.

“Kenapa sepi sekali Lil?” tanyaku setelah Kholil ada di depanku.

“Kyai lagi sakit.” jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh Kholil menurunkan barang-barang yang ada di mobil.

“Sakit apa?”


“Kena santet, dan muntah darah.” Aku tak begitu kaget, kerana memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang dikirim seseorang, kerana Kyai menolong orang yang disantet, jadi Kyai jadi sasaran.

“Parah?” tanyaku menyelidik.

“Sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.” karena penjelasan Kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada setelah ditunjukkan Kholil.

Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar, tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya.

“Kau mas Ian sudah datang,” kata Kyai datar, masih dengan mata terpejam.

“Sini duduk di sampingku.” Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata Kholil semua tubuh Kyai memerah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, Uuhh, panas sekali, lalu tanganku diangkat ke arah pahanya.

“Baca haukalah tiga kali, tahan napas.” kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca 'Lahaulawala quwwata illa billa hil aliyil 'azim dalam hati tanpa nafas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir bergulung-gulung di barengi sentakan-sentakan seperti setrum elektrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perlahan tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai terbatuk-batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plastik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar ghaib.

“Aahh Kyai kenapa serangan santetnya tak ditolak aja?” kataku kawatir.

“Mas, kalau tak merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang disantet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan-makanan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, kerana telah buntu akal fikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, kerana telah mampat fikiran oleh rasa sok moden. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.” Kyai berkata panjang lebar, sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakaian putihnya lalu memberikan pada santri untuk dicuci.

“Bagaimana tugasnya selesai?”

“Alhamdulillah Kyai, semua kerana bantuan Kyai.”
“Oohh, rupanya ada pak Lurah juga…, sampai tak memperhatikan.” kata Kyai dengan senyum ramah.

Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habis mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam tetek bengek jabatan, mahu Menteri mahu Presiden, Jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai zaman sekarang.

Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita, tahu semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan di mana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang dilakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai.

Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang, dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi Imam Masjid, bahkan sholat di Masjid kampung saja jarang, aku pernah satu hari Jum’at, aku diminta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jum’atan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku tertidur.

Aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget kerana mendengar suara adzan keras seperti ditempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap-kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejutnya aku, kerana aku ada di dalam suatu Masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Kerana aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat.

Aahh, malunya aku, “Mas Ian wudhu' dulu…” kata Kyai kerana melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu', di tempat wudhu' aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mahu wudhu.

“Paman, ini Desa namanya Desa apa, Daerah mana?” lelaki setengah baya itu memandang heran kearahku.

“Adik ini bukan orang sini ya?” tanyanya menyelidik.

“Bukan pak.”

“Oo, ini Desa Kalianyar Kuningan dek.”

“Makasih pak.”

“Sama-sama dek.”

Aku tak habis fikir, kenapa bisa sampai di Kuningan. Aku segera wudhu'. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama Sholat Jum’at masih tak habis fikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku diajak ke Kampung Dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tahu itu adalah nyata, sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya. Selama sholat sampai selesai aku tak berani meninggalkan Kyai, takut kalau ditinggal bagaimana aku pulang nanti, sampai Sholat Jum’at selesai dan semua orang pergi, aku duduk menyanding Kyai.

“Ini namanya Ilmu Rogo Sukmo, tingkat menengah, tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di Makkah, di atasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma, meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.” 
Aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai, “Sudah. Buka mata.” aku pun membuka mata dan aku heran kerana telah kembali di rumah Kyai.

“Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?”


“Semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Allah itu teramat banyak, Jikalau semua air dibuat tinta, semua pohon dibuat pena, umur kita panjang dari masa Nabi Adam diciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempelajari, dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang Islam saja kalau mahu sungguh-sungguh ilmu Allah, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelaparan, dan tak akan pernah merasa sedih, tak memerlukan pesawat. Tapi kerana telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Allah Ta'ala tak diperdulikan lagi, iman cuma diucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapatkan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.” aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari.

Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran Kanuragan, tak pernah ada pengajaran Pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Allah, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol/rajin puasa, Aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, kerana mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta.

Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah.Jakarta Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.

Kesana sini aku mencari rumah kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit-hemat, seharian aku jalan, naik bus angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, kerana lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada tak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tahu sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mahu ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, toilet, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.

“Kalau mahu menempati ditempati aja mas, tidak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepentaranku, anak yang punya kontrakan.

“Lho kok bisa gitu.”

“Yah selama ini kami jadi susah, kerana setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang susah, kerana uangnya terlanjur kepakai.”
“Apa memang benar ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.

“Wah kalau saya tak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau benar ada terus saya dicekik.”
Aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.

Akhirnya aku menyetujui, rezeqi memang tak kemana, kalau sudah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling tidak empat ratus ribuan per bulan, Wah, kalau disuruh menempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, Wah benar-benar bisa kerasan. Tapi aku cuma mahu cari tempat tinggal sampai pekerjaan di Cipinang Indah selesai.

Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Kerana sambil kerja waktu tak terasa berlalu.

Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tujuh tahun, semua harus dilakukan berturut, Artinya misal mahu puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, Nah, kalau sudah selesai, baru berhenti, mahu satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.

Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem-ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi kerana lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, kerana keasyikan nonton tivi.

Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat Isya', aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, kerana wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Nafas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan nafas, nafas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti.

Setelah nafas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernafasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tahu ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.

Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, kerana sejenak aku berfikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa.

Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, Aahh, mimpi fikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan/mercun, atau seperti suara motor Vespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, Aku sempat terbangun kerana ada percikan api di atasku, kukira konsleting eletrik, Tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, Aahh, perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.

Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, Uuhh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah, celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.


“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!”
tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mahu melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.

Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek sangat, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah gantengku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.

Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia ghaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, Rumah Makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak kerana mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mood, ya senang tapi kalau lagi malas, ya malas.

Jadi ku katakan saja kalau aku nanti mahu melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mahu aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di Mushalla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di mushalla.

Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas/brush, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran fikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi,!


Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, Walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tujuh bulan, di samping wirid aku harus mengkhatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus mengkhatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, Imam Syafi'i aja mengkhatam Alquran sehari tujuh kali.

Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang anggota DPR-Dewan Perwakilan Rakyat, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.

“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memanggilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.

“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah, mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”
“Ah biasa aja pak.”

“Ah ya tak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pintar?”

“Wah bapak ini, kerana saya tak tahu ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya sudah pintar mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya kerana orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mamu mondok harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”
“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”
“Wah, kalau saya kerana kepaksa aja.”

“Wah, udah hebat masih bisa membawa diri.”

“Aah, jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”

“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”


“Sama dengan yang ada di Alquran dan Hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, kerana sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, Ya, diyakini aja sholatnya tak benar. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pakai sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pakai baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mahu mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya benar tidaknya, tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak benar, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”

“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mahu sholat.”

“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mahu sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, kerana mesin bagus lari motor jadi kencang, Tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, gear, jeruji, rantai, ban dalam ban luar, semua penting, satu saja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu saja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit saja tidak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mahu menyebut mesin motor itu adalah motor.”

Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mahu menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mahu hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mahu bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.

“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, Nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”


Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah habis kutenggak, entah rokok Djarum yang ke berapa ini kunyalakan di mulutku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gonggong anjing bersahutan meremangkan bulu kudukku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan imajinasiku, dan menorehkan kuas di tembok.

Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berjarak tiga meter berderit, seperti ada orang yang menduduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku melanjutkan melukis lagi, mengusir fikiran-fikiran takut yang mulai membuyarkan konsentrasiku. Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sambil menyatukan konsentrasiku ke telinga dan setelah yakin dengan yang ku dengar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun berhenti, Mungkin kalau bukan orang yang digembleng berulang kali telah tidur di kuburan, tentu aku akan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membuatku takut tapi, aku jengkel bukan main, karena konsentrasiku diganggu.

Aku melanjutkan melukis lagi, setelah sebelumnya aku mengambil rokok Djarum kuoles-olesi dengan ketek kopi dan kunyalakan, namun belum sampai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai dengan saat tepat aku membalikkan badan dan mengira tempat yang tadi diketuk-ketuk, Aku menghampiri dan duduk di kursi depan, dan berpura-pura melihatnya, ku pelototi dia, Yah, aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku benar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia telah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jendela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombrengan seperti ditendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Aah, perduli amat, aku memutuskan untuk berhenti melukis dan melangkah ke Musholla untuk berangkat tidur.

Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan melenggang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah merekah, ada lesung pipi ketika tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudung yang dipakai dari sutra tipis berwarna biru, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Aahh, aku mahu bergerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali, seperti dilem/digam dengan jubin keramik, Aahh ,aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memelukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbuku, Aahh, aku tak berdaya, dicumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah…..

Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada perempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi hadas besar kayak gini ini yang susah waktu bangun tidur dan mahu mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, Aku jadi pontang panting mencari air di kampung-kampung, sampai ku temukan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, Ah, tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh,
“Assalamu alaikum,” ku dengar suara salam di sampingku, aku segera menjawab salam dan menengok ternyata orang tua yang tadi menjadi imam mushola.

“Mari nak main ke rumah bapak…” suara orang itu halus sekali. Sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menolak, tanpa kata mengikutinya dari belakang. Seperti kerbau dicocok hidungnya, setelah melewati sekitar lima rumah kami pun sampai di rumah lelaki tua itu, ku taksir umurnya sekitar enampuluhan wajahnya bersih, tenang, tak ada kumis dan jenggot, gurat di wajahnya tak menunjukkan ketuaan kerana tertutup kegemukan, tubuhnya gemuk tapi gemuknya sedang tak berlebihan. Rupanya orang tua ini, adalah pengasuh Pondok Pesantren. Itu ku ketahui, setelah menyaksikan betapa banyak bangunan kamar-kamar santri berderet-deret, dan beberapa santri sedang beraktiviti. Setelah masuk rumah akupun segera disuruh duduk di kursi, sementara orang tua itu masuk ke dalam rumah, kemudian duduk berhadapan denganku.

“Kalau boleh tahu anak ini dari mana?”

“Dari Tuban Jawa Timur pak.” jawabku singkat.

“Kok saya tak pernah melihat anak ini, tinggalnya di mana ya?”
“Saya bekerja di rumah makan itu pak, lagi membuat lukisan.”

“Oo, begitu rupanya, oh ya kok kita belum kenalan, nama saya Mashuri, orang sering memanggil Kyai Mashuri.”
lelaki itu mengulurkan tangannya, dan segera saya jabat,

“Febrian.” jawabku singkat, karena mataku ngantuk sekali.

“Anak Ian ini dari pesantren ya?”

“Benar pak, saya dari pesantren Pacung.”

“Wah, pantas muridnya Kyai Lentik, pantas saya lihat beda.”

“Oh Bapak juga kenal dengan Kyai saya?”

“Ahh, siapa di Banten ini yang tak kenal dengan guru nak mas?”

Pembicaraan kami terhenti, dari pintu muncul dua gadis membawa dua baki makanan dan minuman, kemudian ditaruh di atas meja, ketika dua gadis itu mahu kembali ke dalam, Kyai Mashuri segera mencegahnya dan menyuruh duduk di kursi, malah gadis yang satunya diminta memanggil gadis yang satunya lagi, sehingga di depanku kini ada tiga gadis cantik. Aku yang tak mengerti akan maksud Kyai Mashuri, duduk cuek-cuek aja.

“Mari nak Ian, sambil dicicipi makanannya…”

“Makasih pak, saya lagi puasa.”

“Ah, sudah saya duga memang murid Kyai Lentik orang gemblengan.”
kata Kyai Mashuri memuji.

“Ini lho nak Ian anak-anak saya, sebenarnya ada lima orang tapi yang dua lelaki, yang ini.” telunjuk Kyai Mashuri menuding ke gadis cantik yang ada di sampingnya.

Gadis cantik berkulit seputih susu, ku taksir umurnya sembilan belasan tahun, wajahnya imut-imut terlihat lesung pipi ketika tersenyum, bibirnya mungil, hidungnya mancung kecil matanya agak sipit seperti mata orang Cina, alisnya kecil melengkung, wah kalau dibedaki dikasih pemerah bibir mungkin akan seperti boneka.


“Namanya Juwita, dia baru kelas tiga SMA, dia anakku yang paling bungsu. Lalu yang sebelahnya,”
Kyai Mashuri menuding gadis di sebelah Juwita, gadis ini bertulang besar, namun tubuhnya langsing wajahnya tipe keibuan, dan manis sekali dengan kulit agak sawo matang, bibir tipis dan ada tumbuh kumis halus di bawah hidungnya yang mungil matanya memandang sayu, alisnya tebal melengkung indah.

“Dia bernama Anisa, dia kuliah tingkat pertama, dan yang itu anak perempuan saya paling tua.”
Kyai mashuri menuding gadis yang tadi terakhir keluar.

Nampak gadis yang mungkin telah berusia matang, wajahnya sederhana penuh kedewasaan mungkin umurnya lebih tua dariku, postur tubuhnya tinggi semampai, dengan wajah bulat telor, bibirnya merekah, merah walau tanpa lipstik, dagunya lancip dengan hidung yang tak terlalu mancung, tapi menambah pas akan kecantikannya.

“Dia namanya Aliya, nah nak Ian sudah tahu akan anak-anak saya, menurut orang Banten kuno, orang Jawa itu rajanya, dan orang Banten itu ratunya, maksudnya alangkah baiknya kalau orang Jawa jadi suaminya dan orang Banten jadi istrinya, makanya saya memperkenalkan anak saya, maksud saya ingin menjodohkan anak saya dengan nak Ian.”

Saya yang siat-siut-mamai terlalu mengantuk kerana semalam dikerjai jin wanita, kontan kaget salah tingkah, serba salah, tak karuan, pokoknya tak mengerti, harus apa dan bagaimana. Bahkan seluruh tubuh yang tadinya gatal, sekarang semua gatal, rambutku rasanya awut-awutan, pokoknya rasanya semua tak pas, sebenarnya kalau difikir aku ini termasuk orang yang beruntung, bahkan mungkin terlalu beruntungnya jadinya malah kelihatannya sial, bayangkan saja kalau di depan dijejer bidadari-bidadari, kemudian ditawarkan lagi untuk memilih, bisa melihat bebas saja sambil ngiler clegak-cleguk aja sebenarnya sudah untung apalagi malah disuruh milih salah satu, niatku belum sampai situ.

“Nak Ian bisa memilih salah satu dari ketiga putri saya ini, tak usah buru-buru, dipertimbangkan masak-masak, diistiharohi, saya ini kalau melepaskan anak menjadi istri murid dari Kyai Lentik, sudah yakin dan tak ada keraguan, lagian menurut saya ilmu yang nak Ian terima akan sangat bermanfaat di pesantren saya ini.” kata Kyai Mashuri panjang lebar, sebenarnya kata sederhana andai aku bukan pemainnya, tapi kerana kata itu ditujukan padaku, maka seperti serangan petinju kepada lawan mainnya.

“Ah ,..kuk ..ut..ut” ah kenapa mulut jadi kayak habis disuntik obat mati rasa kayak gini. Kelu, tenggorokan kering, keringet membanjir lagi, ah kenapa juga perut jadi mules.

Melihat kegugupanku, Kyai Mashuri segera bicara, “Tak usah memberi jawaban sekarang, jadi dipertimbangkan masak-masak dulu.” Wah, seperti terkena udara ruangan yang ber-AC dan baru dari terik yang menyengat, keringatku pun perlahan mulai kering, kami pun membicarakan hal yang lain.

Setelah kurasa cukup, aku memutuskan untuk mohon diri dengan alasan takut dicari-cari oleh pak Kosasih, setelah keluar dari rumah Kyai Mashuri hati ini terasa plong.
===============================================
Peringatan; Dilarang Keras meng-copy,mem-posting, menyalin secara keseluruhan artikel ini.tanpa izin Admin Blog ini. Jika terjadi pelanggaran tersebut Anda akan ditindak mengikut Undang-Undang yang berlaku di negara Anda.
@Copyright by FortunaNetworks.Com.


WARNING; It is forbidden to copy, post, copy this article entirely without Admin Blog permission. In case of any such violation you will be prosecuted following the applicable laws of your country.
@ Copyright by FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser