Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri[10]"Ditawari Nikah Sama LailaAulya,Gadis Cantik ala Artis India"

Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri[10]"Ditawari Nikah Sama LailaAulya,Gadis Cantik ala Artis India"
<img src="#Kyai Lentik.jpg" alt="Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri[10]"Ditawari Nikah Sama LailaAulya,Gadis Cantik ala Artis India">
FORTUNA NETWORKS.COM | Masih ada waktu sebelum Subuh datang, Aku pun pergi ke kamar,
Sambil menyelonjorkan tubuh dan melafazkan Ilmu melepas sukma. Sukmaku pun melesat, melintasi ruang dan waktu, ke arah sekolah angker di desaku, mungkin cuma lima menitan Aku telah sampai, keadaan sepi, Aku segera masuk ke dalam, tiba-tiba ku dengar suara,

“Nah ini orangnya sudah datang,”  Suara itu dari- 2 Arwah yang kemaren berantem denganku.

Tapi dari pintu melompat dua bayangan tinggi besar menghadangku,

“Lho kok sampean kang?” kata bayangan satu ke bayangan yang lain. Seorang berkumis tebal melintang dengan pakaian ala Madura.


“Aku dipanggil muridku untuk menghadapi pengganggu ketenangan tempatnya,”
kata bayangan satunya berpakaian besar ala warok Ponorogo.

“La sampean dulu meninggalnya kenapa kang?” tanya orang yang berpakaian warok.

“Aku menemukan lawan yang tangguh di, dan dia melukai punggungku sampai sobek melintang, yang mengakibatkan kematianku.” jawab orang yang berpakaian adat ala Madura sambil menunjukkan luka menganga tanpa darah di punggungnya.

“Lha, kamu matinya bagaimana di..? Bukannya kamu punya ilmu kebal senjata?” tanya orang yang berpakaian warok,

“Ah, Kang, ilmu kebalku ternyata ada yang mampu menembusnya, lihat ini perutku…”
  Orang yang berpakaian ala Madura itu menyingkap pakaian penutup perutnya dan luka menganga menyobek perutnya sehingga ususnya terburai.

“Ya udah lah Kang, sekarang kita membereskan orang yang mengganggu murid kita.”



“Duar….!” Suara letupan pecut hampir saja merobek telingaku, pecut tambang yang sebelumnya mengikat kepala Warok Wiro Gubras, si Madura itu memanggil, tiba-tiba dilolos dari kepalanya dan dihantamkan ke arahku yang sedang berdiri mengawang di atas meja, untung Aku terpeleset, sehingga lecutan cambuk tak mengenaiku, Tapi Aku terjengkang di lantai. Tanpa daya. !
Aryo Lincang nama orang berpakaian Madura itu melompat menebaskan cluritnya, Aku benar-benar tak berdaya, tubuh kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Aku sudah berusaha menggerakkan tubuhku tapi rasanya tubuhku seperti terhipnotis. Aku hanya bisa mendelikkan mata, ketika clurit Aryo Lincang menderu ke arah dadaku. Dan “wuuut….!” begitu saja Aryo Lincang terlempar seperti daun yang diterbangkan angin. Dan bau harum tapi lembut kuhirup seperti melepas kelumpuhanku, nampak orang berpakaian jubah putih membelakangiku, orang tinggi besar, dengan surban pengikat kepala ala Mesir, juga berwarna putih.

Singo Gubras dan Aryo Lincang juga kedua muridnya segera melompat dari jendela, saat mengetahui orang yang datang. Dan segera lenyap ditelan kegelapan. Orang yang datang dan membelakangiku itupun membalik tubuhnya, ketika Aku tahu itu siapa, Aku pun bersimpuh takzim, Ya, Syaikh Abdul Qodir AlJailani, ketiga kali ini mendatangiku, dengan idzin Allah menolongku, Aku segera menyalaminya tanpa berani menatap agung wajahnya.
“Nah, inilah ngger, maksudku, kenapa dulu Aku menyuruhmu untuk segera berbai’at thoriqohku…” katanya dengan penuh wibawa yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Aku masih menyucup tangannya ketika Syaikh telah pergi dari hadapanku.

Perlahan Aku bangkit, dalam benakku timbul semangat untuk lebih banyak melakukan amaliyah, agar Aku tak tertaklukkan oleh Syaitan dan Jin yang durjana. Aku pun segera melesat pulang. Sampai di Pesantren telah Subuh, Aku segera mengambil air wudhu dan Sholat Subuh, habis sholat Aku wirid wajib. Dan kemudian berangkat tidur. Jam 11 siang pergi ke sungai mandi, setelah mandi Aku kembali ke Pesantren, ada Macan dan Pak Abdullah tamu Kyai. Aku segera menyalami, Pak Abdullah bertanya, “Orang mana ni?” tanyanya singkat sambil tertawa.

“Orang Tuban Pak.” Jawabku juga singkat. Kami pun ngobrol panjang lebar, kerana ternyata kami adalah tetangga Desa, satu Kecamatan. Sehingga seperti ketemu saudara. Setelah lama kami ngobrol tiba-tiba Pak Abdullah berkata ditujukan pada Macan.

“Can, Iyan ini dikawinkan sama adikku, cocok gak Can?” kata Pak Abdullah yang membuatku kaget. Aku kaget, bukan apa-apa, terus terang walau Aku tak pernah merasa rendah diri kerana kemelaratanku, tapi melihat pak Abdullah yang kaya raya, punya banyak perusahaan, mobil mewah berderet-deret, masak menghendaki Aku jadi adiknya, Ah, Aku bukan tipe orang yang matrialistis, Aku tipe orang yang bahagia dalam kemiskinan, susah dan suntuk kalau kaya, mimpi pun jadi kaya tak pernah terbayang dalam benakku, kerana bukan cita-citaku, cita-citaku sepele, bahagia di jalan Allah, ini ditawari kawin milyarder, Ahh enggak lah…!

“Wah cocok sekali Pak,” kata Macan mengerling penuh arti.

“Alah,.. jangan bercanda ah, nanti jadi beneran.”
kataku rikuh.

“Bercanda gimana? Ini serius.” kata pak Abdullah.

“Wah, saya belum berani kawin Pak,”
“Jangan-jangan kamu mandul, tak bermutu, gak berfungsi, ckakaka…” Macan ngakak.

“Eh,. jangan kira…. paling kamu yang lembek, harus dibantu pake lidi….”  Kataku jengkel memang Macan kalau bercanda suka kelewatan, walau ku akui tak ada temanku sebaik Macan.

“Gimana, mau enggak?” tanya pak Abdullah mendesak.

“Wah, nanti dulu lah Pak, Aku pikir-pikir dulu, lagian Pak Abdullah kan belum tau siapa Aku?”

“Halah,.. jangan banyakan mikir, keburu karatan.” Macan ngakak lagi. Setelah Macan dan pak Abdullah pergi Aku pun mikir, Ah, mungkin Allah lagi mencobaku, sejauh mana Aku tahan oleh godaan. Aku makin serius dalam wiridku, tak ada waktu tanpa wirid sampai-sampai semua wirid yang dibebankan oleh Kyai selesai semua. Malam itu Aku dipanggil Kyai menghadap,
“Ada apa Kyai?” kataku, setelah ada di depan Kyai.

“Ini ada yang nawari,” kata Kyai sambil ketawa.

“Nawari apa Kyai?”

“Nawari nikah, mas Iyan ikut saja, nanti dilihat cocok apa enggak, kalau cocok, ya bagus, biar mas Iyan jadi orang sini aja, biar dekat sama Kyai.”
Lagi orang nawari nikah, Aku jadi berfikir apa Aku ini sudah saatnya nikah? Ataukah ini cuma ujian dari Allah? Entahlah.!
Malam itu pun Aku ngikuti Kyai naik mobil Kijang Hydrolik meluncur ke tempat yang dituju, ke sebuah Pesantren Salafiyah, tak jauh amat dari Pesantrenku, sekitar 10 kiloan, kami disambut oleh Kyai Pesantren bernama Kyai Ghofur, orangnya sudah tua sekali, jenggotnya putih sampai ke dada, wajahnya putih kemerahan penuh wibawa. Pesantren yang ku datangi, lumayan banyak dan tempat pemondokan dari bambu beratap daun alang-alang, dan yang lebih mengesankan Pesantren sama sekali tak berlistrik, kerana di Pesantren ini memang tidak boleh memakai listrik, jadi penerangan memakai lampu minyak, Aku, Kyai dan Sopir segera dipersilahkan.

"Ditawari Nikah sama Laila Aulya,Gadis Cantik ala Artis India"

Setelah duduk, Laila Aulya gadis yang dijodohkan denganku keluar, membawa makanan dan minuman, Kyai mencolek lenganku, “Gimana cantik gak?” kata Kyai dengan nada berbisik. Aku pun tanpa sadar menatap gadis yang meletakkan minuman di depan. Mak, deg! Aku terpana melihat kilauan bintang gemintang di tengah telaga mata Laila. Wah, kecantikan yang sempurna, hidung ala artis India. Membuatku tak sengaja mengelus pipi, kerana membayangkan andai pipiku dicium olehnya Aku lebih takut hidungku akan terluka oleh lancip mancung hidungnya. Bibir yang seperti dibentuk dengan kehati-hatian ranum dan seakan menyimpan berbagai rasa buah, Ah, Aku jadi ngelantur,
“Udah jangan lama-lama memandangnya.” bisik Kyai. Mak deg! Ketika mata Laila mengerling padaku, untung Aku duduk di atas kursi, kalau berdiri mungkin Aku langsung terjengkang pingsan, Aku lelaki biasa, yang masih punya perasaan sebagaimana lelaki pada umumnya, tapi Aku juga. Febrian lelaki kerdil dengan segudang kekurangan, salah satu kekerdilanku adalah tak berani beristri terlampau cantik, takut nanti rusak bila ku sentuh dengan tangan kasarku.

Laila
Aulya, bagiku terlampau cantik dan mahal, Ah, Aku ingin yang biasa, Aku tak mau nanti terlalu jatuh cinta dan mengenyampingkan Allah, aku tak mau menduakan Allah, lebih baik tak Aku terima, sebelum cinta ini terhunjam dalam menawan seumur hidupku. Melupakan siapa Aku, “Cantik sekali, Kyai.” bisikku.
“Ya kalau begitu tak usah,” bisik Kyai seakan telah membaca galau hatiku. Dan terasa Aku dibebaskan dari himpitan gunung. Mak plong.!
Kami pun ngobrol dengan Kyai Ghofur sampai larut malam, dan kembali pulang ke Pesantren Pacung dengan perasaan lega. Pagi baru saja beranjak, Aku memasukkan baju dan keperluan ke dalam tas punggung butut andalanku, untuk pergi ke Jakarta mencari uang untuk keperluanku hidup di Pesantren.
Yah, beginilah hidupku, hidup di Pesantren kalau uang ada, kalau uang habis,
Ya, Aku harus nyari lagi, walau makan sudah dijatah Kyai, tapi Aku orang yang tak suka terus-terusan jadi benalu, hidupku adalah Aku yang harus menjalani dan membiayai. Untung masih ada uang untuk ke Jakarta, ke tempat temanku, Macan atau tempat temanku Karim di Cipinang Muara. Setelah pamitan kepada Kyai, Aku pun beranjak, baru seratus meteran berjalan ada mobil di belakangku. Pak Jahru. Bos barang bekas, tamunya Kyai mengklaksonku.

Aku berhenti, dan mobil Kijang warna biru berhenti di sampingku, kaca pintu terbuka,
“Ayo naik…!” kata pak Jahru, dengan tawa khasnya.

“Mau kemana Mas?” tanyanya setelah Aku duduk di kursi jok.

“Ke Jakarta pak.” jawabku enteng.

“Wah kalau begitu mas Iyan tak anter aja, Jakartanya mana?”

“Ke Cipinang Muara pak.” Mobil pun jalan, lumayan ada nunutan, jadi gak usah keluar uang.

Pak Jahru, adalah pengusaha sukses barang bekas, orangnya pendiam tak banyak bicara, menurut ceritanya dulu dia orang miskin, sekolah aja mungkin sampai kelas 4 SD. Lalu merantau ke Jakarta dan menjadi pemulung, suatu hari tengah ia memulung didatangi pemilik pabrik besi untuk membersihkan besi bekas, Nah, disaat yang hampir bersamaan datang juga orang minta dipulungkan besi, maka Pak Jahru pun tinggal mengoper. Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang dipulungnya sudah alat berat kayak Buldoser. Dalam perjalanan sampai Jakarta Aku tak banyak omong dengan Pak Jahru, Aku diantar sampai ke Cipinang Muara, sebelumnya diajak ke tempat pak Jahru menginap semalam dan besoknya Aku diantar ke kontrakan Karim, teman sekolahku waktu di MI. Di tempat kontrakan kumpul teman-teman sedesaku. Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, Ah, memang nama panggilan semua, sampai nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban, satu nasib sepenanggungan.

“Wah kamu di sini juga Nges.” tanyaku ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku, Renges, pemuda seumuranku 24 tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, kerana sering dicongkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung, kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak sesuatu yang teramat susah diambil dan memerlukan tenaga extra, rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel SLANK.

“Iya Iyan, dah datang sebulan yang lalu, kamu sendiri kesini ngapain?”

“Wah, Aku mau nyari uang saku untuk di pondok.”
kataku.

“Eh Iyan, dah lama datangnya.” Karim masuk kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor miliknya pak Abdullah.

“Baru aja Rim.”
jawabku.

“Trus ada perlu apa?”
“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok alias nyari kerjaan.”

“Iyalah besok Aku cari’in kerjaan.”

Begitulah dialog-dialog ringan di antara kami. Tapi setelah itu nyampai seminggu pun Aku belum dapat kerjaan, makan nebeng, Ah, jadi tambah susah.

“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Iyan, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.

“Wah gimana ya Rim, la Aku kalau balik ya lebih repot lagi,” jawabku prihatin.

“Kenapa gak bikin lukisan sendiri aja Iyan?” sela Renges.

“Nanti tak bantu njualin deh.”
“Wah kalau itu perlu modal Nges…”

“Biar Aku yang modalin, kamu anggap beres aja, perlu berapa?”
kata Karim mantap.

“Ya, paling perlu 4 ratusan ribu,” kataku.

“Ya, udahlah besok beli barang keperluanmu.” kata Karim. Maka besoknya Aku pun beli barang keperluan, Aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam, jadi bisa dilihat dari luar. Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai dibingkai, Aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke pintu, dari gang ke gang, banyak yang melihat lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mahu beli setelah ku kasih tahu harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan harga 2 ratus ribu. Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.

“Nges, perasaan kita muter-muter di jalan ini-ini aja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk jalan.

“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan Aku tak percaya atas kefasihannya menghafal jalan Kota Jakarta.

“Iya.” jawabku, dari pada muter-muter lagi. Kerana perut belum keisi dan pegelnya kaki minta ampun.

“Aku ini sudah hafal jalan di Jakarta, lebih hafal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah.”
kata Renges sambil nepuk dada.

“Hafal jalan aja bingung, apalagi tak hafal jalan?” kataku jengkel.

“Kamu itu yang bingung, kerana lukisannya tak laku.” kata Renges juga marah.

“Udah gini aja, kita lihat tuh ada Toko Sarinah, Nah, mari kita jalan, apa balik ke Toko Sarinah lagi apa enggak?” kataku menengahi keributan kami, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Dan memang sesuai dengan apa yang Aku bilang, kami kembali ke Toko Sarinah.

“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata Renges sambil duduk di regol.

“Udah Nges, mending kita cari Masjid, ini waktu dzuhur hampir habis.” kataku sambil lalu pergi nanya pada orang arah Masjid, dan kami pun ditunjukkan Masjid yang jaraknya 300 meteran. Kami pun segera pergi ke Masjid dan menjalankan Sholat Zuhur. Selesai Sholat kami memajang lukisan di depan Masjid, yang kebetulan pertigaan jalan yang ada pohon mahoni tua.

Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah lima, tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar, tapi sebatas nawar, kalau harus pulang ke rumah kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama sekali, Ah, betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut yang lapar kerana dari pagi kami belum makan. Ah, kami lebih parah dari pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya mereka punya uang.

“Gimana Iyan?” kata Renges, Wajahnya yang bertampang suntuk, makin suntuk aja.

“Aku tak kuat, kalau gini, udah jauh, perut lapar, bisa klenger beneran nih,” tambahnya, makin menambah beban masalah aja keluhnya.

“Ya, mau gimana lagi Nges, la emang tak laku,”

“Satu aja dijual 50 ribu aja deh, buat naik angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya menghiba.

“Ya udahlah nanti kalau ada yang nawar, kasihkan aja,” kataku agak berat, kerana kefikiran untuk mengembalikan uangnya Karim. Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami dan menanyakan harga lukisan, ee ,udah dikasih harga 50 ribu rugi harga produksi, masih tak laku juga, mahunya 30 ribu, Ya, jelas Aku tak mahu, memangnya kacang garing, semurah itu, orang bermotor itupun pergi, meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.

“Wah..! Udah Iyan Aku tak kuat lagi, mending sekarang pulang aja, daripada nanti kemalaman.”
kata Renges, kayak mahu nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas toleransi.

“Gini aja, biar Aku wirid di dalam Masjid sebentar, siapa tahu masih bisa laku, kita masih punya Allah, Aku akan meminta supaya lukisan kita terjual.” kataku masih sabar.

“Ah, Jakarta ini keras Iyan, tak ada Allah, Allahan, di sini itu siapa kuat maka berjaya.”
kata Renges masygul.

“Tapi ndak salah kan dicoba?”
"Ya udahlah sana, biar Aku nunggu di sini, jangan lama-lama…!”
“Setengah jam aja.” kataku sambil berjalan ke dalam Masjid.
To be Continued.....
     READ MORE

Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri[9]"Afifah Memang Cantik,Wajahnya Mirip Bunga Citra Lestari"
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [8]"Kyai Perintah Untuk Lakukan Latihan Ilmu Rogo Sukmo"
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [7]"Kyai Perintah Untuk Nglakoni 'Ngedan"
Kredit Ilustrasi Image Photo by www.pinterest.com
===================================================
Peringatan; Dilarang Keras meng-copy,mem-posting, menyalin secara keseluruhan artikel ini.tanpa izin Admin Blog ini. Jika terjadi pelanggaran tersebut Anda akan ditindak mengikut Undang-Undang yang berlaku di Negara Anda.
@Copyright by FortunaNetworks.Com.


WARNING; It is forbidden to copy, post, copy this article entirely without Admin Blog permission. In case of any such violation you will be prosecuted following the Applicable Laws of Your Country.
@ Copyright by FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser