Campaign Jokowi Dilanda Krisis “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”

Campaign Jokowi Dilanda Krisis “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”
<img src="#2019PrabowoPresidenNKRI.jpg" alt="Campaign Jokowi Dilanda Krisis “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”">

#FORTUNA_NETWORKS_COM | Ada rapat penting pimpinan Parpol pengusung Jokowi yang tak dibahas secara mendalam. Padahal, rapat ini mengisyaratakan ada sesuatu yang sangat urgent terkait Campaign Paslonpres 01, Jokowi-Ma’ruf Amin (Ko-ruf). Rapat itu langsung dipimpin oleh Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN), Jusuf Kalla. Berlangsung di rumah Wapres(JK) di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, pada 17 Desember 2018.

Kalau dilihat dari ‘nature’ pertemuan ini, yang mereka sebut pertemuan tertutup, tentulah ada hal-hal ‘tak enak’ yang mereka bicarakan. Kalau situasi kampanye Ko-Ruf bagus, pastilah mereka menggelar pertemuan terbuka dengan sorotan banyak kamera TV. Sebaliknya, rapat tertutup hampir pasti membahas masalah-masalah yang sangat sensitif tentang kampanye Ko-Ruf yang, secara kasat mata, semakin terdesak belakangan ini.

Sebetulnya, sejak #ReuniAkbar_AksiBelaIslam_212 (2 Desember 2018), kampanye Ko-Ruf dilanda ‘psychological effect’. Ada semacam ‘efek psikologis’. Kubu Jokowi, khususnya Tim Kampanye Nasional (TKN) kelihatan hilang semangat. Mereka semua bagaikan patah arang. Tak ada kutik. Tak ada cuit. Semuanya ciut.!

Campaign (Kampanye) Ko-Ruf dilanda krisis. Krisis percaya diri. Mereka sudah bisa membayangkan di mana tempat berlabuh Ko-Ruf. Isyarat itu semakin jelas.

Menyusul pukulan #ReuniAkbar_AksiBelaIslam_212, Kampanye face-to-face Ko-Ruf ditolak di mana-mana. Di berbagai Daerah, terlihat barisan kursi kosong di ruangan kampanye ‘indoor’. Di Kota Jakarta, Pekanbaru, Banda Aceh, dll.

Kehadiran massa secara artifisial adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan. Ke mana Jokowi pergi, di situ dilakukan pengerahan massa.

Sialnya, di antara massa yang dikerahkan itu banyak ‘orang pintar’. Dan mereka nekat. Nekat mempermalukan Jokowi. Mereka itu anak-anak muda. Tetapi juga banyak orang dewasa. Belakangan ini, berswafoto (Selfie/Welfie) dua jari dengan latar belakang Jokowi, trendy di mana-mana. Menyambut Jokowi di pinggir jalan dengan acungan dua jari, sekarang menjadi fenomenal.

Jadi, Jokowi tak hanya ‘disakiti’ dengan mengosongkan kursi-kursi kampanye ruangan (indoor). Melainkan juga ‘didera’ dengan acungan dua-jari (‘V’). Dan ini terjadi meluas. Bahkan di depan Istana Negara sekali pun. Masyarakat tidak lagi perduli tantangan yang mereka hadapi dalam menunjukkan perlawanan.

Tak salah kalau kita meyakini bahwa rapat tertutup itu membicarakan perlawanan keras dari rakyat yang dilancarkan dengan santai. Jusuf Kalla (JK) kelihatannya mulai risau. Tapi tak tahu kita apakah beliau risau sungguhan atau risau ecek-ecek. 'Kuat dugaan saya, Pak JK cuma risau basa-basi'. Apa iya dia perduli dengan kalah-menang Jokowi di pilpres 2019? Bukankah Wapres yang pragmatis ini lebih banyak memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah masa jabatannya selesai akhir tahun ini?

   READ MORE
#Joko Widodo:'Presiden Indonesia Yang Menghadapi Masalah Luar-Dalam'
Rakyat Indonesia Harus Mencegah Jokowi Jadi Presiden Lagi !! Jokowi Sederhana, Merakyat. Hanya Pencitraan,"Terbongkarnya Pencitraan (Palsu) Jokowi"
<img src="#2019PrabowoPresidenNKRI.jpg" alt="Campaign Jokowi Dilanda Krisis “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”">

Baik, kita tinggalkan soal motivasi WakilPresiden (Wapres) Jusuf Kalla[JK]. Kita perlu menjawab pertanyaan besar. Mengapa bisa terjadi perlawanan meluas dari rakyat?

Kalau mau merenungkannya dengan satu pepatah, maka pepatah itu adalah “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”. Maksudnya, kezaliman demi kezaliman yang ditebar di mana-mana, sekarang siap dipanen (dituai). Kesewenangan yang dilakukan karena kekuasaan, kini telah matang untuk dipetik hasilnya.
Seharusnya orang-orang bijak di kubu Ko-Ruf sudah tahu. Seharusnya mereka telah menyadari itu. Sepatutnya mereka faham bahwa itulah hukuman yang ditimpakan oleh rakyat terhadap kesewenangan penguasa. Sewajarnyalah mereka tahu bahwa ‘kesewenangan’ dan perbuatan ‘sesuka hati’, sudah tidak zamannya lagi. Sudah lama lewat eranya. Sudah ‘expired’. Cara-cara seperti itu sudah usang.!!

<img src="#2019PrabowoPresidenNKRI.jpg" alt="Campaign Jokowi Dilanda Krisis “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai”">

So, Apa gerangan contoh-contoh kesewenangan dan sesuka hati itu? Mari kita ingat kembali sebagian.

Misalnya, penguasa menyepelekan Aksi-Aksi Bela Islam yang dilaksanakan berkali-kali oleh Umat pada 2016 dan 2017. Tidak saja dianggap remeh, para pemimpin aksi itu dikejar-kejar. Puncaknya, Habib Rizieq Syihab (HRS) dikenakan dakwaan mesum (fitnah mesum). Akhirnya beliau hijrah ke Arab Saudi demi meredam situasi. Dari sinilah bermula langkah yang sangat keliru oleh penguasa. Bukankah ini kesewenangan?

Kemudian, sejumlah para Ulama dan Ustaz didatangi oleh orang-orang gila. Ada yang disiksa sampai meninggal dunia. Meskipun persekusi terhadap para Ustaz ini tidak diketahui pasti pelakunya, tetapi ada kesan bahwa pihak yang berwenang tidak serius menyelesaikan kasus-kasus itu. Bukankah ini juga kesewenangan?

Seterusnya ada persekusi terhadap kegiatan #2019GantiPresiden. Kegiatan ini pada mulanya dikatakan legal oleh berbagai pihak, termasuk pihak yang berkuasa. Namun kemudian, kegiatan yang dimotori oleh Neno Warisman itu dihadang di banyak tempat. Polisi dan intelijen ikut melakukan persekusi. Tidakkah ini kesewenangan?

Masyarakat mengamati cara pihak yang berkuasa dan berwenang dalam menangani berbagai kasus ujaran kebencian dan hoax. Ada kesan kasus-kasus yang para terduganya dari kubu lawan penguasa, biasanya cepat ditanggapi. Sebaliknya dari kubu pendukung penguasa cenderung dibiarkan.

Di tubuh pemerintahan, para penguasa secara berjamaah melakukan kesewenangan demi mempertahankan kekuasaan petahana. Rakyat melihat ini. Mereka mengamati itu. Rakyat mencatat begitu banyak ketidakadilan.

Contoh terbaru, Gubernur DKI-Jakarta @ Anies Baswedan disidang oleh Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) dengan dakwaan melakukan pidana karena mengacungkan dua jari di depan rapat Partai Gerindra. Padahal, begitu banyak para gubernur dan bupati/walikota yang menyatakan diri secara terang-terangan mendukung paslon 01. Dan mereka ini dibiarkan saja.!

Tindakan sewenang-wenang seperti inilah yang sekarang menjadi panen badai Jokowi. Inilah yang membuat kampanye beliau terjerembab dan mengalami krisis yang serius.
_____
By Asyari Usman (Penulis adalah wartawan senior)
Via,www.facebook.com/HelmyElSyamza

Editor by Admin FortunaNetworks.Com
________

Find me;
@facebook.com/Helmy El Syamza
@twitter.com/helmysyamza
@pinterest.com/hsyamza
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo