Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI[1]

Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI[1]

FORTUNA NETWORKS.COM | Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI[1]

Prologue;

Cerita ini sebagian diambil dari kisah nyata, dengan bumbu dialog
tentunya ku buat sendiri, dan ramuan cerita seadanya, sedikit dibumbui. Sebab cerita ini di samping ku alami sendiri, juga dari kumpulan cerita orang-orang yang menuturkan padaku,
Aku hanya berusaha merangkainya menjadi cerita yang utuh, atau berusaha kubuat utuh.
<img src="#MIsteriNusantara.jpg" alt=" Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI[1]

Nama-nama orang di dalamnya ( artikel ini) akan ku sembunyikan, agar tidak menyinggung siapapun, dan bisa jadi nanti kisah ini akan berubah-ubah, artinya tanpa alur pakem (groove grip) tertentu, kerana mengikuti alur yang terjadi sesuai perubahan keadaan, atau protes dari orang yang kemudian tak mahu ikut ku masukan dalam kisah ini, Jadi jika ada hal yang seperti itu, maka diharap maklum, juga jika ada salah tulis atau salah ketik atau salah dalam menuangkan cerita, Maka semoga semua maklum sebab diri penulis juga baru belajar menulis, jika kok banyak kesibukan lalu cerita jadi ngadat (the story broke down), harap maklum. Cerita ini akan ku tulis langsung, jadi pasti akan banyak kesalahan, hanya harapanku. Semoga tulisan ini akan membawa manfaat bagiku khususnya dan semua orang yang membaca pada umumnya.
Nama beliau, Guru Besar Ku yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini Ku sembunyikan, yang mana beliau juga Mursyid Ahli Talkin, Ahli Bai'at, Ahli Tawasul, Ahli Silsilah Thareqah gabungan Qadiriyah Naqsabandiyah, Syathariyah, Ghustiyah, Qutub, yang juga Cucu- buyut dari Syeikh Nawawi AlBantani dari jalur Ayah yang selama hidupnya menjadi Imam Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah, juga Guru dari Hasyim Asy'ari tokoh pendiri NGO-NU (Nahdhatul Ulama), dan Guru dari Syeikh Kholil Bangkalan, sedang Ibu beliau keturunan dari Syeikh Mansyur Cikaduwun, dan juga keturunan dari Prabu Siliwangi Pajajaran.

Sejak zaman Almarhum Presiden Soeharto, Almarhum Presiden Gus Dur, Presiden Megawati SoekarnoPuteri, dan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) beliau selalu ditundukkan pemerintah. Walau tak pernah mahu dipublikasikan oleh media apapun. Dan dengan izin beliau cerita ini Ku buat, dengan menyembunyikan nama dan hal yang tidak boleh dibuka. Maka cerita ini Ku buat tanpa mengurangi takdzim, sebagai murid beliau, dari sekian juta muridnya yang tersebar di merata benua.[*]

READ MORE

Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [1] Didatangi Bayangan Hitam Yang Terbang,Rambutnya Semua Memutih,Terbang Menggunakan Sajadah
 Cerpen Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [2] Kyai Ditantang Duel Oleh Nyai Bundo,Murid Pendekar Sakti@Wong Agung Sahlunto
 Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [3]"Jadikan Daun-Daun Kopi Menjadi Uang"



CAHAYA SEJATI bagian 1

Angin dingin berhembus menggoyangkan daun, matahari belum muncul, dan kabut pekat menghalangi jarak pandang, rumput-rumput yang basah, tapi orang desa Cipacung telah beranjak pergi ke sawah, sarung diikatkan ke leher, dan rokok daun kawung dan tembakau klelet terselip di mulut, sebagai pengusir dingin, atau kebiasaan mengusir dingin dengan menyandarkan pada sesuatu yang sederhana.

Perlahan tapi pasti hari mulai beranjak siang, nampak Gunung Puteri mulai terlihat puncaknya, dikatakan gunung, sebenarnya lebih mirip sebuah bukit, tapi orang tetap menyebutnya gunung, dan dikatakan Gunung Puteri kerana di atas gunung bila malam akan terdengar suara perempuan menangis, dan dari cerita orang dulu, suara itu adalah suara seorang puteri yang menempati gunung itu dulunya, sampai hilang di gunung itu, entahlah cerita itu benar tidaknya, sebab sebuah mitos atau cerita dari mulut ke mulut itu sulit diterima kebenarannya, hanya sampai saat sekarang masih saja suara tangis itu sering terdengar, dan itu sudah menjadi suatu hal yang biasa, tak ada yang mempermasalahkannya, juga tak ada yang mencoba mencari sumber suara.



Di jalan arah sungai, nampak gadis-gadis desa dengan kecantikan alami, membawa keranjang yang isinya cucian, dan hanya dengan penutup kain jarik, sehingga bahunya yang putih bersih terlihat, padahal jika orang luar kampung melihat aliran sungai yang berwarna coklat keruh, akan merasa hairan bagaimana mungkin orang yang mandi di air sungai sekeruh itu, bisa menjadi bersih, tapi itulah kenyataan, belum tentu yang kelihatannya dari luar itu keruh, ketika dipakai akan menjadikan keruh yang bersentuhan dengan air itu, dan nyatanya semua orang kampung sekitar sungai itu memakai air keruh itu semua, untuk dipakai keperluan sehari-hari.

Di jalan Desa nampak pemuda sedang berkumpul, wajah mereka kelihatan tegang, ada dua belasan pemuda yang masing-masing berumur 20 sampai 25 tahun, dan semua kelihatan di wajahnya diliputi kekesalan.

"Kita tidak bisa diremehkan terus oleh pemuda dari Cigandu."
kata pemuda berwajah tirus dengan kumis dan jenggot tipis yang sering dipanggil mang Hasan, dia sering dianggap sebagai ketua tidak resmi pemuda kampung, kerana watak kepemimpinannya.

"Iya, makanya kita tunjukkan siapa pemuda Cipacung itu,"
jawab Ruskan, pemuda paling tua umurnya dari yang lain.

"Tapi jika kita mau menyerang pemuda Cigandu, maka kita tunggu dulu si Mun mengambil Bagus Cilik,"
tambah Ruskan.


"Nah... tuh si Mun dah datang," kata Uben, pemuda kurus ceking yang selalu mengelus elus golok yang dibawanya. Dia menuding pakai goloknya dan serentak semua memandang arah yang ditunjukkan Uben.

Nampak dari jalan tanjakan di antara pohon kopi, si Mun, pemuda gemuk dempal dan bertampang lucu itu jalan tertatih-tatih karena naik tanjakan, sambil menggendong anak kecil seumuran 4 tahun di punggungnya, yang sedang tidur menggelayut, semua menunggu si Mun mendekat, semua mata nampak cerah penuh semangat.

"Gimana Mun, kok lama banget ngambil Bagus Cilik?" tanya Uben.

"Iya mang, Aku kan hati-hati ngambil Bagus, takutnya ketahuan kyai Sepuh, ini juga bagus sedang tidur tadi langsung ku gendong." jawab Mun sambil menata nafasnya yang ngos-ngosan.

Lalu tanpa menunggu lama semua pemuda itupun berangkat, dengan golok diselipkan di pinggang, mereka melangkah menyusuri pematang, melewati kebon, dan hilang di gerumbul hutan melinjo.

Sementara hari makin beranjak siang, puncak gunung karang nampak terlihat dari jauh, matahari yang hangat pun nampak bersinar membersihkan kabut dan mengeringkan yang jatuh di atas rumput.
Bersambung...

[*] Penulis Asal Kisah Nyata Ini.
Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser