Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [20] “Orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya"

Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [20] “Orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya"
<img src="fortunanetworks.com.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [20] “Orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya">

Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [20] “Orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya"


Jam setengah satu siang, berarti ada setengah jam waktu Aku berada di tempat Mbak Lina, dan Aku sudah duduk di kursi rotan yang ada di ruangan belakang Butik, ruangan dengan luas 5 meter persegi, ditata dengan artistik, setidaknya menurut pandanganku, dinding satu tembok dilapis wallpaper bermotif kembang, dipadu dengan warna cat bermotif warna bedak yang lembut, dibatas garis warna putih, pencahayaan ruangan di buat terang tapi dalam arah tertentu menyorot, sehingga ruangan kelihatan setengah redup.

“Mas Iyan duduk saja yang manis, biar Aku yang melayani makannya, Ya, hitung-hitung belajar menjadi istri mas.” kata Lina dengan tanpa canggung, nadanya dipenuhi kebahagiaan.

Di atas meja di depanku yang berbentuk bundar dari bahan kayu jati dan dilapis fiber ada berbagai makanan, tapi pandanganku hanya tertuju pada makanan yang ku suka, ada soto, dan paru goreng, juga begedel kentang.

Tercium bau harum minyak wangi yang lembut ketika Mbak Lina memasangkan sapu tangan kecil di pangkuanku, hmm, ribet amat, kalau menurutku makan ya makan, langsung santap, langsung selesai, kalau pedas dirokok'i, sudah gitu aja, kenapa pakai susah-susah.

    READ MORE

Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [17] "Apakah Ini Jalan Hidup Yang Ku Ingini?
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [18] "Apa Sebenarnya Yang Berusaha Menguasaiku, Ku Lihat Bayangannya Tak Jelas, Hanya Seperti Warna Hitam"
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [19] "Mbak Lina Kembali Menggodaku"



“Lin…”
panggilku, ketika dia menata sendok dan piring di depanku, kerana melihat dia seperti itu, bisa-bisa acara makan belum selesai, waktuku istirahat kerja sudah habis.

“Ada apa mas?”
tanyanya, sambil masih meletakkan garpu, dan kertas tissu.

“Sudahlah… kamu duduk kita makan.., Aku ndak usah dilayani.” kataku sudah tidak sabar.

“Mas Iyan ndak suka ya dengan pelayananku?”
tanyanya, sambil berhenti bergerak.

“Bukan begitu, tapi waktu kita pendek, coba lihat, ini sudah 10 menit Aku duduk di sini, tapi makannya belum juga mulai, ntar nasi baru Aku masukkan mulut waktu istirahatku sudah habis, nanti saja kalau kita sudah nikah, kamu menunjukkan pelayananmu yang paling top, sekarang kamu duduk kita segera makan bersama.” kataku menjelaskan.

“iya… iya Aku duduk.”
katanya sambil mulut dimanyunkan. Dalam hitungan menit, apa-apa yang ingin ku makan segera pindah di perutku, Aku bukan orang yang suka bertele-tele, selalu apa adanya, tak suka banyak unggah-ungguh asal dalam kebenaran dan tidak menyalahi agama, maka lakukan dengan tanpa ragu, mengambil yang perlu dan meninggalkan yang tidak ada manfaatnya.
Dan tak sampai lima menit makan selesai.

“Bagaimana mas, enak makanan bikinanku?” tanya Mbak Lina.

Aku acungkan jempol dan tak komentar, dan dia tertawa, kadang bahasa isyarat itu lebih mewakili dan lebih mendalam, apalagi kalau jempolnya digoyang berulang-ulang, itu menunjukan penekanan yang amat sangat, bahasa seperti itu orang tuli juga tahu, kecuali orang buta, kalau orang buta mungkin harus jempol ditempel di hidungnya, pakai jempol kaki juga dia gak ngerti, paling bilang jempolmu kok bau terasi-belacan ya…

“Mas… Apa mas Iyan gak menembakku?”

“Apa? Menembak?”
tanyaku hairan.

“Iya , menembak, kan kalau mau pacaran mau jadian ditembak gitu.”
“Ooo, maksudnya jadian?”

“Iya, kan kata kerennya pakai kata menembak.”
jelasnya.

“Kok kata menembak keren, Aku jadi ingat dulu di desa suka menembaki bangau putih di pohon tertinggi desaku, perasaan kata menembak biasa saja.” kataku sambil menerawang.

“Ya, apa mas Iyan gak mau kita jadian sekarang.” kata dia sambil menggenggam tangan kasarku.

“Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi Lin…, kamu kan belum tau betul siapa diriku.”

“Apa Aku yang harus menembak mas…”
katanya sambil menatapku dengan tatapan tak sabar.

“Memangnya ada perempuan yang menembak lelaki?” tanyaku membiarkan tangannya yang lembut memainkan jemariku.

“Ya adalah…”

“Tapi menurut hematku jangan dulu, Aku tak mau kau menyesal di kemudian hari.”

“Gak, Aku tak akan menyesal, Aku sudah yakin seyakin yakinnya, hanya mas yang pantas menjadi imamku, menjadi pembimbingku, menjadi pendamping sepanjang hidupku.” katanya bersemangat.

Jelas membuatku juga tergetar, kerana Aku juga lelaki normal, mungkin yang mengatakan kambing yang bisa bicara, Aku tak akan perduli, sekarang yang mengatakan seorang gadis yang sempurna, sedang mimpi dia mengatakan seperti itu saja tak pernah terlintas di benakku.

Tapi Aku jadi ingat, orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya, yang selalu terseret dan dituruti apa dan kemana nafsu itu menyeret.

Cepat-cepat Aku tulis Asma Allah di hatiku, ku pejamkan mata sesaat untuk menyempurnakan bentuknya, terasa aliran hangat mengaliri setiap nadi, menyadarkan dan membersihkan anasir jahat yang mulai mau menguasai, dan terasanya sangat nyata.

Siapa yang membaca cerpen ini boleh mempraktekkannya, dan akan merasakan apa yang Aku rasakan, jika mengalami hal yang menimpa sepertiku.
Itu yang dinamakan, Ja’al haq wa zahaqol baathil.

Syaitan itu mengalir di aliran darah, lalu jika kita menghadirkan Asma Allah, saat syaitan itu hampir menguasai dan mengalir di setiap darah kita, maka Asma Allah yang kita konsentrasikan itu akan menetralisir kekuatan syaitan di tubuh, dan efeknya, alirannya bisa dirasakan benar-benar nyata.

Tanganku yang digenggam Lina sekarang tak ada bedanya, Aku menggenggam kaki kerusi atau meja yang patah, tak ada getaran apa-apa.

“Ku rasa kamu terlalu muluk-muluk, begini saja, kita biarkan seminggu, nanti kalau sudah seminggu, jika kamu masih suka denganku, Aku yang akan menembakmu, dan kita langsung saja nikah. Bagaimana?” kataku.

“Benar mas?”

“Benar lah,”
To be continued..
Notes; Beberapa kalimat sengaja Saya posting tanpa Saya robah kalimat dan bahasanya, untuk menjaga mutu penulisan asal oleh penulis aslinya..


Kredit Ilustrasi Image by pinterest.com/pin
Follow me at;

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo