Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [23] "DITAKLUKI SEMUA JIN PENGUASA PEKALONGAN"

 Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [23] "DITAKLUKI SEMUA JIN PENGUASA PEKALONGAN"
<img src="fortunanetworks.com.jpg" alt=" Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [23] "DITAKLUKI SEMUA JIN PENGUASA PEKALONGAN">

 FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [23] "DITAKLUKI SEMUA JIN PENGUASA PEKALONGAN" 


Taqdir itu adalah ketentuan Allah Azza Wa Jalla, telah digariskan dan tak siapa mampu mengelak, dan siapa saja tak tau taqdirnya, bahkan jika ditaqdirkan buruk, tak ada yang tau, tapi perlu diingat taqdir itu Allah Ta'ala yang membuat, maka Allah juga yang mampu merubah, kita manusia jika tidak menyandarkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bagaimana jika kita ternyata ditaqdirkan buruk, maka do’a kita, permintaan kita supaya Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan yang buruk menjadi baik.

Do’a itu pedangnya orang Islam, 'Addu’a'u syaiful muslimin', coba kita bayangkan pedang yang belum jadi, pedang itu kalau ingin dijadikan pedang, maka dipilih besi yang unggul, kualiti terbaik, lalu besi dibakar agar mudah dibentuk, dipukuli sampai besi menjadi bentuk yang diinginkan. Jika besi itu tak dibakar tentu akan susah dibentuk, dan jika sudah dibentuk maka diasah berulang-ulang, agar besi menjadi pedang yang bila dipakai memotong apapun akan dengan mudah terpotong.

Antara kita yang pedang sendiri, dengan kita memegang pedang tentu beda, manusia yang telah menjadi pedang, maka pandangan matanya adalah pedang, hatinya pedang, tangannya pedang dan kehendaknya adalah pedang.

Kita ini pedang, kitalah yang akan dipakai berdo’a, bukan orang yang membaca do’a,

 “Berdo’alah pada-KU”, kata perintah berdo’a dan do’a seperti satu kesatuan yang tak terpisah.

Jadi kita inilah yang seharusnya dibentuk menjadi do’a yang tajam.

Nafsu kita dibakar, nafsu keinginan yang menyala-nyala pada apa yang kita inginkan, itu dibakar, agar keinginan hati itu bisa diarahkan pada yang bukan keinginan nafsu, kita bakar dengan prilaku, kita tempa dengan ibadah tiada henti, agar kepribadian yang terarah pada kehendak Sang Khaliq itu terwujud pada segala gerak dan tingkah laku, sehingga orang telah tak bisa membedakan lagi, kita ibadah atau bukan sedang menjalankan ibadah, sebab setiap gerak telah semuanya ibadah, seperti orang sudah tak melihat bentuk besi, semua telah menjadi bentuk pedang.

Pembentukan diri menjadi sebuah pedang yang mumpuni/qualified, maka diserahkan pada sang empu yang mumpuni, jangan diserahkan pada tukang membuat roti, bisa jadi nanti menjadi pedang yang lembek.

Diri dibentuk menjadi do’a ruh dan jasadnya, maka diri diserahkan kepada guru yang matang di bidangnya.

Sehingga pembentukan diri dicapai dengan maksimal, setelah diri menjadi do’a, kemudian diasah, melihatkan orang yang mengasah pedang, tangannya maju-mundur, sama diri melakukan istiqomah, dzikir dilakukan berulang-ulang, jika cuma digerinda maka pedang walau tajamnya cepat, juga akan menjadi besi muda, mudah patah, tapi jika diasah, maka akan terjadi penumpukan elemen, menjadi pedang yang kuat dan tajam.

Jika diri diasah dengan amaliah yang berulang-ulang ikhlas, maka diri akan setajam pedang dalam berdo’a.

Teori itulah yang ku praktekkan, dan tak henti, siang-malam menjalankan lelaku. Suatu lelaku maka tidak berarti tidak berimbas pada sekeliling kita, amat besar imbasnya.

   READ MORE

Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [21] "Berangkat Ke Pekalongan Mahu Menikah"
Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri [22] "Akhirnya Menikah Dengan Husna"



Pertama, mulai ada khodam dari benda bertuah yang mulai datang ada yang lewat mimpi, ada juga yang langsung datang dengan perwujudan seperti manusia.

Sampai aku hafal di mana saja letak berbagai 'wesi aji', atau 'batu bertuah', bahkan jika Aku lewat, ada saja yang jatuh biar Aku ambil, tapi sayangnya Aku orangnya sama sekali tak tertarik dengan hal-hal seperti itu, sekalipun keris paling ampuh diberikan padaku, maka tak sedikitpun ada ketertarikan di hatiku, bagiku cukup Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala menjadi penolongku.

Segala Jin, Malaikat, itu semua sama makhluq-Nya, ciptaan-Nya, semua terbatas oleh keterbatasan, tapi kalau Allah Subhanahu Wa Ta'ala tak terbatas dan tak berhalangan.


Sehingga semua khodam yang mendatangi ku tolak, sampai pada suatu malam Aku mencoba mengitari daerah Pekalongan.

Baru saja keluar dari Daerahku, dalam 'meraga sukma', Aku dihadang oleh seorang perempuan bercadar biru, dengan perut terbuka, mirip penari perut Negeri Mesir.

Aku tau betul dia bangsa jin,

“Jangan lewat daerahku.” katanya menghadang.

“Kenapa?”
tanyaku.

“Kau tau, karena kedatanganmu, semua anak buahku kepanasan,” jelasnya sambil marah.

“Kepanasan itu kan bukan urusanku, jika tak ingin kepanasan, kenapa tak menyingkir?”
“Aku dan semua kaumku telah ratusan tahun tinggal di sini, dan tak terganggu, tapi setelah kau datang, kami amat tersiksa.” ujarnya.

“Hm… jadi maumu apa?”

“Kau harus meninggalkan daerah ini.”

“Mana boleh begitu..!”

“Kalau tak mau pergi maka kau akan ku hancurkan.”

“Kalau memang mampu silahkan”
kataku.

Lalu dia menyerangku dengan kibasan selendangnya, tapi entah tak tau selalu saja selendangnya mental, dan selalu dia menjerit, padahal Aku tak berbuat apa-apa.

“Kau rupanya punya ilmu, tunggu akan ku panggil ayahku.” katanya.

“Ya silahkan, Aku akan tunggu di sini.”
kataku tenang.

Dia pergi… dan sebentar kemudian datang lagi, bersama lelaki pendek, berkepala gundul, dan hanya bercawat, sementara dadanya telanjang.

“Ini Ayah, lelaki yang membuat daerah kita menjadi panas.” jelas perempuan yang sebelumnya menyerangku.

“Ini orangnya?” kata lelaki tua itu, tiba-tiba, dunia seperti gelap gulita, seperti matahari padam.

Dan Aku mengucap zikir, maka dunia nyala kembali.

“Hhmm, memang dia lumayan berilmu.” kata lelaki itu pada anaknya,

“Kau menyingkir, biar bopo yang menaklukannya.” kata lelaki tua itu, sementara Aku diam menunggu.

“Anak muda, kau tau, keberadaanmu di daerah ini telah membuat panas daerahku, maka kau akan ku tawan dan ku bawa ke penjara duniaku.”
kata pak tua itu yang belakangan ku ketahui bernama Kyai Cempli.

To be continued..

Notes; Beberapa kalimat sengaja Saya posting tanpa Saya robah kalimat dan bahasanya, untuk menjaga mutu penulisan asal oleh penulis aslinya..


Dan, pada serial sebelumnya semua kisah dimulai dengan tajuk 'Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Putri'. Dan, untuk threads selanjutnya kini akan diberi judul Cerpen @ Hikayat Sang Kyai. Kerana, sebenarnya Kyai Lentik tersebut adalah Guru Sang Kyai penulis kisah ini.

So, untuk tidak mengelirukan pembaca untuk memahaminya, Saya rubah judul hikayat ini, kerana pada serial seterusnya akan mengisahkan diri Sang Kyai.
Dan, pada serial sebelum inipun sebenarnya sudah banyak menjurus kepada kisah perjalanan hidup Sang Kyai .TerimaKasih.
 

Kredit Ilustrasi Image by pinterest.com/pin/
Follow me at;
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo