Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [17]

Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [17]
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [17]

FORTUNA NETWORKS.COM | Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [17]

Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 17


"Ayo, siapa yang merasa sok jago-jagoan?" kata Sulaiman,

"Sudahlah kang, wong mereka cuma main-main." kata pemuda yang bernama Hubbaibulloh masih dengan ketenangan.

"Sudah-sudah semua bubaran...!" kata Sulaiman membubarkan kerumunan, yang segera mereka melangkah pergi.

"Wah, kamu ini bagaimana to bai..., masih sukanya kayak gitu, padahal sejak kecil kamu itu kan orang pesantren, lha kok sekarang malah menjadi ketua genk segala." kata Sulaiman setelah semua pergi dan mereka berdua duduk di tengah lapangan.

   READ MORE
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [16]
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [15]
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [14]


"Kita itu menjalankan lakon kita masing-masing kang, sampean menjadi Ketua Karang Taruna, dan Aku menjadi Ketua genk, mungkin jika dipandang secara zahirnya kita amat berseberangan, kang Sulaiman di bidang yang kelihatannya serba membangun, dan Aku di jalur yang merusak, tapi menurutku segala sesuatu itu didasari dari niatnya, bagaimana mungkin Aku menyadarkan orang yang suka mabuk, jika aku sendiri tak berpura-pura menjadi seorang yang bisa diterima mereka. Coba kang Sulaiman lihat, dulu di Desa sampai masjid digunakan mabuk-mabukan, tapi sekarang malah tak ada seorangpun mabuk-mabukan, dulu sering banyak tawuran, sampai ada yang mati, sekarang kan adem-ayem saja, kalau ndak ada yang nyebur/terjun sepertiku, dan orang rusak malah dibenci, disalahkan, ya, generasi kita bukankah akan makin hancur Kang?" jelas Hubbaibulloh panjang lebar.


"Tapi apa yang kamu lakukan itu sangat rentan bergesekan dengan bahaya Bay.."

"Wah, itu sudah resiko perjuangan Kang... ya, kalau berjuang cuma mahunya tampil ceramah di tivi, dapat order pesanan, memakai tarif kalau dipanggil, Wah, itu ku kira ndak bakalan ada ruhnya Kang, kalau ceramah, sebentar juga akan ditinggalkan, jika sudah bosan, kalau ceramah di Masjid saja, menurutku yang perlu dilanting itu bukan orang yang jelas di Masjid Kang, tapi orang yang tersesat jalannya. Dan orang yang perlu petunjuk dan bimbingan itu bukan orang yang sudah sadar dan penglihatannya lengkap, tapi orang yang perlu dituntun dan disadarkan itu orang yang dalam kesesatan jalan, dan orang yang buta tidak bisa melihat cahaya kebenaran, buta pengetahuan, sebab mereka menjadi sesat itu kadang kala tidak berarti mereka inginkan, cuma mereka tidak di tempat yang tepat dan tidak ada yang menunjukkan,"

"Tapi apa yang kamu lakukan itu amat berisiko,"

"Ya, segala apa di dunia itu yang tidak punya resiko, orang makan saja bisa sliliten, atau tersedak, segala sesuatu kita lakukan saja, kita lakukan mengikuti perintah Allah, soal bagaimana nantinya hasilnya, itu kita tidak tahu, semua terserah Allah, nilai itu kan tidak tergantung pada hasil, tapi nilai itu terletak pada proses perjuangan, yang mendapat pahala itu kan perbuatan amal kita, bukan hasil yang dicapai, hasil yang dicapai itu kan terserah dalam ketentuan Allah, seorang Nabi Nuh 'Alaihissalam saja tidak bisa menjadikan sadar anaknya, juga Nabi Luth 'Alaihissalam  tidak bisa menyadarkan Istrinya, atau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tak bisa menyadarkan pamannya Abu Jahal dan Abu Lahab, apalagi Saya toh Kang. Tapi perjuangan bukan berarti lantas berhenti."

"Entahlah, entahlah Bai.. Aku bingung dengan pola pikirmu.."

"Ya, itulah Kang, setiap orang itu menjalani terbaik saja apa yang dijalani saja."

"Tapi Aku selalu suka bicara denganmu, yang sejak dulu selalu nyeleneh... aneh." kata Sulaiman sambil memegang pundak Hubaibulloh, dan tak terasa air matanya meleleh.

"Ya, Aku ini ya begini kang, di-cap anak berandalan sama semua orang kampung, ya, itu ndak apa-apa, sebab kalau ndak ada yang nyebur/terjun kayak diriku ini, ya, kasihan toh sama anak berandalan, jadi tidak ada yang menyadarkan". kata Hubbaibulloh.


"Ya, moga Allah Ta'ala memberi pahala atas keikhlasanmu."

"Aamiin... biarlah itu menjadi hak Allah, kita jalani saja hak sebagai hamba, kayaknya sudah malam banget Kang, kita berpisah ya Kang...!, terima kasih kang Sulaiman sudah menemaniku di sini."

"Ya, sama-sama, kalau perlu bantuan, jangan sungkan-sungkan/malu-malu meminta padaku, Aku siap selalu membantumu, Wa'alaikum salam." jawab Sulaiman melihat Hubbaibulloh naik motornya dan berlalu.

Sulaiman sendirian dan hairan dengan tingkah yang dijalani Hubbaibulloh. Diangan-angankannya apa yang dikatakan Hubbaibulloh, tapi tak juga akalnya menggapai, seperti buntu pepet, dia hanya menggeleng-geleng dan berlalu dari lapangan itu.

Manusia itu nyatanya tak bisa membuat pilihan, bisanya hanya menjalani, jika membuat pilihan sendiri dan memaksakan maka terjadinya akan timbul kesulitan, kita diberi kodhrat makan pakai mulut, maka jalani itu, jangan membuat pilihan makan pakai telinga, apalagi memaksakan diri, memasukkan makanan ke telinga, maka akan amat menyulitkan diri sendiri, kalau tak percaya silahkan dicoba.

Jadi apapun profesi kita, jika kita jalani dengan ilmunya, dan kita secara total menjalani, maka keberhasilan itu akan didapat, sekalipun menyangkul, tetap pakailah ilmunya menyangkul, jangan memakai ilmunya menulis untuk menyangkul. Segala sesuatu ada teori dan cara yang benar dan efisien untuk mencapai hasil maksimal dengan mudah dan tak menyulitkan serta banyak resiko.

Selembar surat diterima Hubbaibulloh pagi tadi dari pemimpin sebuah pesantren di Daerah Demak Jawa Tengah, yang isinya memintanya untuk membantu mengajar di Pesantren itu, suatu pilihan yang sulit, di mana dia masih ingin membetulkan akhlak pemuda Desanya, tiba-tiba di depan rumahnya datang Irul sambil tergopoh-gopoh,

"Mas, Masjidnya dipakai minum-minum lagi." kata Irul.

"Lhoh, apa tidak diusir sama santri,"

"Wah, sudah mas, malah Adib yang mengusir, dipukul sampai hidungnya berdarah."
"Lha, yang memimpin dan yang memukul Adib siapa?"

"Biasa Mas si Bahak.."

"Lagi-lagi anak itu, bukankah dia itu pelatih karate Kera Sakti, kenapa tingkahnya seperti itu???"

To be continued...

Editor ; 
HSZ/FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo