Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [19]

Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [19]
<img src="fortunanetworks.com.jpg" alt="Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [19]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [19]

Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 19

"Kalau sampean pergi ke Demak, lalu urusan pemuda di sini bagaimana Mas?" tanya Irul ketika mereka beranjak pulang.


"Ya tak tau Rul, Kang Sulaiman ya, cuma maunya ngurusi karang taruna, padahal kalau yang suka mabuk dan bikin onar tidak diurusi, kan ngurusi karang taruna, bikin acara volly juga percuma kan? Oh ya, kalau Kang Ridwan bagaimana Rul?"

"Maksud sampean Kang Ridwan yang melatih silat di Kampung Lor, yang pernah mukul kerbau sampai kepala kerbau pecah, dan otaknya berhamburan, gara-gara sawahnya dimakan kerbau, dan yang angon ditepuk sampai kelojotan itu Kang?"

"Iya, siapa lagi?"

"Ya, dia mana mau ngurusi orang mabuk segala,"

"Ya, belum dicoba, diminta." yakin Hubbaibulloh, "Mau kamu, lepas habis Isya' temani Aku ke rumahnya Kang Wan?" tanya Hubbaibulloh.

"Mau Kang, udah Kang, Aku pulang dulu, ntar malam Aku kemari."

"Ya Rul, hati-hati."

    READ MORE
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [18]

Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [17]

Rumah Ridwan, pelatih pencak silat, ada di dalam kampung, mendekati sawah, jalannya gelap, kerana tak diberi lampu, di kiri jalan penuh pohon bambu, dan kanan jalan, kuburan yang memanjang, jika ingin cepat harus melewati tengah kuburan, ada jalan pintas selebar dua kaki, kiri kanan hanya batu nisan, salah langkah bisa menginjak batu nisan.


Ada salah satu kuburan yang orangnya meninggal kerana diacungi pedang cucunya, mungkin jantungan jadinya langsung mati mendadak, harta-warisannya dibuat rebutan, sehingga anak - cucunya tak ada yang pernah mengirimi do'a, kuburnya selalu amblas ke tanah sudah diusahakan kuburnya ditutup pakai pasir sampai 1 truk/lory, tapi tetap saja amblas ke dalam, tidak tau kenapa seperti itu, dulu sih, masa hidupnya suka melebarkan sawah sehingga mencaplok sawah tetangga.

Tapi pernah ada kejadian, semasa meninggalnya 40 harian, ada seorang tukang becak pasar, dipesani seseorang disuruh mengantar daun pisang ke rumah si orang yang sudah meninggal, sampai di rumah orang yang sudah meninggal itu, waktu perempuan yang pesan daun itu, pesan ke tukang becak, bilang kalau untuk selamatan 40 hari, Tapi sampai diantar ke rumah anak-cucunya tak ada yang mau bikin selamatan, akhirnya si tukang becak bingung, daun dibawa ke sana kemari, sampai di kerumunan toko dia cerita, soal ada yang pesan daun itu, lalu orang-orang tanya bagaimana ciri-ciri yang pesan daun itu, si tukang becak cerita ciri-cirinya, dan semua orang merinding, soalnya ciri-cirinya itu adalah ciri perempuan tua yang meninggal itu. Lalu orang yang sama nyuruh tunjukkan wang yang dikasih pada tukang becak sebagai pembayaran becaknya, dan wang dikeluarkan oleh tukang becak, ternyata semua wang cuma daun kering.

Sampai di rumah Kang Ridwan mereka berdua disambut dengan hangat kopi, dan sepiring singkong rebus.

"Wah jan kadingaren, mau main Kak..." kata Kang Wan, 'kak' itu adalah panggilan Kakak, atau Kang, sifatnya lebih mengakrabkan biasanya untuk memanggilkan anaknya, maklum tradisi di Desa.

"Iya ini ada perlu Kang., begini, langsung saja, bagaimana kalau Kang Wan ini ikut mengawasi anak-anak muda yang suka pada mabuk-mabukan, ya, setidaknya memperingatkan gitu Kang?" kata Hubbaibulloh.

"Wah, Aku ndak berani Kak." jawab Kang Wan sambil menggeser tubuh kekar berototnya di kursi.

"Lha, siapa toh yang sampean takuti, wong sampean punya ilmu tinggi gitu, kerbau saja sampean pukul pakai pukulan Bandung Bondowoso, sampai langsung mati, pasti suara sampean di dengar."


"Bukan masalah takut pada manusia Kak, tapi Aku sendiri belum benar, bagaimana mau memperingatkan orang lain?"

"Lha, kalau semua orang nunggu benar dirinya, kemudian baru bertindak apa ndak terlambat, misalkan kalau sampai mereka mabuk, terus hilang akal, terus pas anak perempuan sampean lewat, lalu diperkosa, apa sampean akan diam saja?"

"Wah kalau anakku diperkosa, Ku pecahkan kepala mereka,"

"Lha, tapi kan mereka mabuk, hilang akal, kan tetap misal mereka sampean pecahkan kepalanya, lha, anak sampean terlanjur sudah diperkosa, bagaimana?"

"Iya... harus dicegah sebelum terjadi.."

"Makanya itu, kita antisipasi, jangan sudah ada kejadian baru disesali, gimana sampean mau?"

"InsaAllah Kak, Saya siap, lha, Kak Hub bukannya selama ini yang mimpin anak-anak suka mabuk-mabukan itu?"

"Bukan, Aku hanya mencegah dari dalam..."

"Ooo baru ngerti Aku, lha, sekarang kenapa minta Saya yang mengawasi?" tanya Kang Wan.

"Aku sendiri ada panggilan di sebuah pesantren untuk mengajar."

"Wah, di mana itu, biar anakku si Ahmad ikut jadi muridnya Kak Hub.."

"Di Daerah Bonang, Demak."

"Iya, nanti Aku susulkan"

"Kerana urusannya sudah beres, Saya sama Irul mau pamit."

To be continued...

Editor ; 
HSZ/FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo