Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [20]

 Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [20]
<img src="fortunanetworks.com.jpg" alt=" Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [20]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI [20]

Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 20

Kota Demak, di Provinsi Jawa Tengah, Kota para Wali, itu julukannya, kerana dulu para Wali Songo (Sembilan Wali) selalu berkumpul di Kota Demak. Sudah berbulan-bulan berlalu, sejak Hubbaibulloh tinggal di Demak, tapi bukan di Kotanya, tapi di pelosok, di mana airnya payau, orang kalau punya sawah harus mencuci sawahnya dulu, dan mengalirinya dengar air sungai jika ingin menanam padi, dan jika air laut naik masuk ke sawah lagi, maka harus dicuci lagi, kerana payahnya pertanian, maka banyak orang, akhirnya memilih menggali sawahnya dijadikan tambak peliharaan 'udang bago'.


Hubbah (Hubbaibulloh) mengajar di Pondok-Pesantren Tahfidzul Qur'an, menghafal al-Qur'an, sanad dari Kyai Abdullah Umar Semarang, Kyai Arwani Kudus dan Kyai Maksum Lasem,

Mengajar dan diserahi memegang Tafsir Jalalain dan Tafsir Munir, Hubbaibulloh bengong, kedua kitab itu tak pernah ditaskhikh-kan, Tafsir Jalalain itu saja cuma pernah mengikuti ngaji cuma beberapa lembar, padahal siapa saja yang menafsiri Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, maka disuruh masuk neraka disuruh milih dari pintu mana yang disukai.

"Wah, tunggu dulu Kyai, Saya boleh menjalankan amalan dulu, maksudku mahu mengamalkan dulu puasa, biar Saya ngajarnya lancar." kata Hubbaibulloh, ketika diminta Kyai Mahrus selaku pemilik pesantren.

"Ya silahkan, tak apa-apa, berapa hari mau menjalankan lelaku?" tanya Kyai Mahrus.

"Ya setidaknya empat puluh hari.".. jawab Hubbaibulloh.



Maka besoknya Hubbaibulloh menjalankan puasa hanya makan nasi tanpa lauk, dan seteguk air putih, malam digunakan untuk terus meminta petunjuk pada Allah Ta'ala agar diberi hidayah, Inayah, supaya bisa mengajar dengan redha Allah, hari demi hari berlalu, sampai di malam ke 41 hari, setengah mimpi dan sadar, ada seseorang yang masuk di kamarnya yang selalu terkunci, orang itu mengaku bernama Haidir, lalu Hubbaibulloh diberi sesuatu agar ditelan.

"Mengajarlah dan selalu berpegang pada yang haq." begitu pesan lelaki bernama Haidir.

Dan Alhamdulillah besoknya mengajar amat lancar, dan pesantren juga berkembang pesat, sampai Habib Rizieq sering main ke pesantren itu dengan keluarganya, dan orang kampung sekitar pun antusias, mengikuti pengajian di pesantren, padahal pengajian itu dikhususkan untuk santri. Tapi orang kampung pada datang ikut 'jiping', 'ngaji kuping'.
Murid dari mana-mana berdatangan, bahkan dari Pulau Sumatera dan Kalimantan, sampai ada murid dari Daerah Oki Kumiring Hilir, Provinsi Sumatera Selatan, yang oleh Hubbaibulloh di rasa aneh.

Saat itu ada murid bernama Rusli, dia selalu jarang ikut mengaji.

"Rusli kemana aja, kok tak ikut ngaji?" tanya Hubbaibulloh, yang merasa bertanggung jawab, kerana sebagai Pemimpin Pesantren Putra Putri.

"Dia pergi Kyai." jawab santri bernama Asep.

"Pergi kemana? Bukankah peraturan pesantren di saat ada pengajian dilarang pergi."

"Bukan pergi dengan tubuhnya kok Kyai, dia pergi 'ngeraga sukma'." jawab Salim.
"Ngeraga sukma? Apa itu?" tanya Hubbaibulloh yang memang awam soal ilmu seperti itu.

"Ya pergi, yang pergi sukmanya." jelas Asep.


"Wah, ndak benar itu, waktu ngaji ya ngaji... apa.. apa ngeraga sukma segala. Mana dia.." kata Hubbaibulloh marah-marah, sambil bangkit dari tempatnya mengajar, menuju kamar Rusli, diikuti para santri.

Sampai di kamar Rusli, pemuda gempal itu sedang tidur lelap, Hubbaibulloh mencoba membangunkan, tapi sia-sia, Rusli seperti kerbau mati.

"Ambil air di ember..!" perintah Hubbaibulloh.
Maka santri cepat mengambil air, dan air oleh Hubbaibulloh disiramkan semua ke tubuh dan wajah Rusli, tapi pemuda itu tetap meleng, sama sekali tak ada tanda-tanda bangun.

Hubbaibulloh jadi heran, diraba dadanya masih naik turun nafasnya, juga hembusan nafas dari hidung pun teratur.

"Coba ambilin bulu ayam.!" perintahnya lagi.

Dan santri pun datang membawa ayam sekalian bulunya.

"Ya bulunya saja diambil,"

"Keok,'! suara ayam, ketika bulunya di cabut.

"Kolokin hidungnya."
Lalu santri memasukkan bulu ayam ke hidung Rusli, tapi tetap saja pemuda itu tak bangun.

"Coba gigit jempol kakinya."
Semua santri berpandangan, tak ada yang beranjak,

"Ya maksudku diapain gitu, biar dia bangun, masak bangunkan santri, harus Kyainya yang berusaha, cari inisiatif doong..!"

"Tapi dia lagi ngeraga sukma, Kyai.." jelas Asep.

"Jadi kalau ngeraga sukma tak bisa dibangunkan, lha, kalau ada kebakaran bagaimana?"

"Ya, kalau ndak ada yang bangunin dia mati terbakar." jelas Asep.

"Lalu bagaimana baiknya, gini aja, satu orang nungguin, yang lain ngaji, ayo pergi semua, kamu Asep nunggu di sini, nanti kalau Rusli bangun kasih tau Aku." kata Hubbaibulloh tak habis fikir.

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser