MSD VS LBP 'Abuse of Power Conflict'

  MSD VS LBP 'Abuse of Power Conflict'

Perseteruan panas serta viral antara MSD (singkatan buat Muhammad Said Didu) M
antan@ Sekjen Meneg BUMN Indonesia (Sekretaris Jendral Menteri Energy-Badan Usaha Modal Nasional) dengan Luhut Binsar Panjaitan ‘Opung’ panggilan kita buat Luhut Binsar@Menko Maritim Jendral TNI (Purn)sudah mencuat dan berujung ke ranah hukum. Ibarat titik puncak letupan gelombang distorsi polarisasi masyarakat kita hari ini. Yaitu antara kelompok penguasa oligarkis dengan kelompok masyarakat yg kritis.

Dikalangan sebagian publik @ Rakyat Indonesia, Ada yang menganggap hal ini ‘cemen’ @ cengeng dan ada juga yang menganggap hal serius sekali. Tapi ada juga yang cuek bebek alias ‘basipakak bangak’ ( buat pekak donow saja)

Dalam konteks Negara Demokrasi, kritikan adalah salah satu bentuk konstribusi verbalistik sebagai bentuk implementasi dari kualiti demokrasi dalam melakukan sosial control masyarakat kepada pemerintah. Dan perlu kita ingat bersama, bahwa sampai hari ini, secara Konstitusional Indonesia adalah Negara yang menjunjung tinggi asas kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat (berkedaulatan rakyat). Dimana hukum menjadi panglima, makanya Indonesia disebut sebagai negara hukum.

Namun sayangnya, hari ini secara 'empirik'(empirical-yang berdasarkan atas pengalaman) dalam implementasi pemerintahan hari ini, asas ini bergeser jauh dari Negara Hukum menjadi Negara Kekuasaan. Dimana pemerintah/penguasa menjadikan dirinya itu seolah Negara. Sedangkan Negara itu terdiri dari tiga (3) elemen yaitu ; wilayah, rakyat, dan pemerintah.

Jadi wajar, dalam realisasi pemerintahan kita hari ini sering terjadi ‘abuse of power’ penyalahgunaan kekuasaan secara gila-gilaan. Kritikan dianggap ujaran kebencian. Kritikan dikaitkan dengan rongrongan terhadap kewibawaan negara, Seperti di Negara Komunis.

Dan perseteruan antara MSD dan Opung ini adalah salah satu bentuk benturan natural dari friksi bernegara demokrasi. Namun, ketika Opung membawa perseteruan ini keranah hukum, dimana Opung yang saat ini menjabat sebagai pejabat negara dikritik oleh masyarakat sivil terdidik, sehingga semua terasa berubah dari suasana demokratis menjadi 'otokrasi otoriter'.

   READ MORE
Implikasi Berbahaya Kepada Kedaulatan NKRI,Modus Operandi Penjajahan Asimetris Dengan Dalih Investasi RRChina Di Indonesia
Menelusuri Dan Memahami Sistem Kapitalisme Timur RRChina Dan Posisi Dunia Islam
"GERAKAN TUWAI" TANGKAP & USIR WARGA ASING ILEGAL@CHINA Masuk Indonesia[2]


1. Pada kesempatan ini kita tak perlu secara khusus membahas MSD (Muhammad Said Didu), kerana MSD adalah bahagian dari masyarakat sivil (civil society) yang menjalankan fungsinya sebagai cendekiawan, pakar, kritikus, yang dilindungi oleh UUD 1945 pasal 28 "tentang kebebasan setiap penduduk dalam menyampaikan pendapatnya". Dan kita tentu semua yakin, sebagai mantan birokrat dengan jabatan tertinggi secara administratif (eselon I) MSD pasti sudah mempunyai data dan argumentasi yang kuat dalam menyampaikan pendapat dan kritikannya.

Dan kita mesti ingat, bahwa apa yang disampaikan MSD itu adalah representasi dari kegelisahan jutaan Rakyat Indonesia dalam melihat kinerja pemerintah hari ini yang amburadul. Bedanya, ada yang berani secara terbuka, ada yang dibelakang layar.

2. Permasalahan yang kita bahas adalah fokus pada sosok dan kualiti kenegarawan seorang 'Opung LBP' terhadap Bangsa Indonesia, Negara dan Rakyat. Sebagai seorang mantan TNI-AD(Tentara Nasional Indonesia-Angkatan darat)dengan pangkat jendral bintang tiga (kemudian jadi bintang empat atas anugerah dari presiden BJ Habibie), seharusnya kita tidak meragukan lagi nasionalisme, patriotisme, dan kenegarawan Opung LBP. Apalagi Opung ini juga berasal dari satuan elit pasukan khusus TNI-AD.

3. Sikap 'Opung' sejak menjadi Menko Maritim yang begitu dominan dalam pemerintahan, memang sudah menjadi sorotan publik. Apakah itu secara Ilmu Hukum Tata Negara, Birokrasi, dan juga Etika Politik. Peranan dominan Opung ini yang boleh dikatakan 'full power' mengendalikan Istana bahkan presiden sekalipun, menjadikan dirinya mendapat julukan ‘menteri segala urusan’ bahkan Opung sering dianggap sebagai ‘the real presiden of Indonesia’.
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="  MSD VS LBP 'Abuse of Power Conflict">

4. Permasalahan tidak akan muncul kalau Opung memainkan perannya secara proporsional dan profesional. Bermula dari basicnya yang juga terkenal sebagai pengusaha owner Toba group, kebijakan dan manuver Opung lintas kementrian yang zig-zag kemana-mana inilah yang akhirnya mendapat sorotan sinis dari banyak pihak.

Sejak sikap reaktif Opung dalam menyikapi Kasus Pulau Reklamasi Teluk Jakarta, disalah satu TV Nasional yang begitu kelihatan arogan dan tendensiusnya, sampai yang terakhir begitu agresifnya Opung dalam membangun Ibu Kota baru Indonesia dan pembelaan mati-matian Opung terhadap TKA (Tenaga Kerja ASeng) RRChina Komunis yang masuk Indonesia secara membabi buta. Padahal Bangsa Indonesia sedang dilanda kekalutan dan kepanikan atas wabah #WuhanCoronaVirus yang berasal dari RRChina ini.

5. Sebelum pecah kepublik tentang sikap tendensius Opung yang sangat berpihak pada RRChina Komunis ini, bagi kalangan elit politik dan ekonomi, sepak terajang Opung dalam berbagai bisnis di Negeri ini juga sudah menjadi gunjingan dan perbincangan negatif. Hampir disetiap line bisnis basah baik itu Export-Import, Tambang, Migas (Oil & Gas), Lahan/Property, Perkebunan, Perdagangan, bahkan sampai penempatan jabatan strategik dan militer, Opung lah 'decision makernya'.

Tak luput juga jabatan strategis sebagai DanPasPampres (Komandan Pasukan Pengawal Presiden) Bintang Dua yang disandang Menantunya pun jadi gunjingan sinis dikalangan TNI-AD. Kerana tanpa sekolah seperti Sesko TNI dan Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional), Menantunya dapat pangkat bintang dua dengan mudah bak jalan tol. Padahal kalau berbicara tentang letting angkatan, menantunya itu masih tergolong junior dan banyak melangkahi para seniornya yang secara kualiti, bibit-bobot, serta kelengkapan sekolah pendidikan lebih lengkap paripurna. Ini tentu mengundang kecemburuan tidak sehat ditubuh TNI.

6. Dari akumulasi sepak terajang Opung yang begitu itulah akhirnya ada yang berani menyampaikan secara terbuka kepada publik, bahwa Opung dalam fikirannya hanya wang, wang, tanpa memikirkan nasib bangsa. Ditengah musibah #WuhanCoronaVirus dan krisis ekononi ini masih berbicara mahu bangun Ibu Kota baru Indonesia. Ditengah jatuhnya ratusan nyawa manusia masih juga melakukan pembelaan dan memback-up masuknya TKA (Tenaga Kerja ASeng) RRChina Komunis ke Indonesia. Dan selaku mantan orang dalam pemerintahan, tentu MSD sangat tahu persis apa dan bagaimana sepak terajang Opung didalam pemerintahan. Dan penulis yakin akan lebih banyak lagi yang akan dibuka MSD ke publik kalau berlanjut keranah hukum.

7. Sebenarnya tidak hanya MSD yang mengeluarkan kritikan pedas pada Opung. Ada juga pakar ekonomi senior UI(University Indonesia) Bapak Faisal Basri yang mengatakan 'Opung lebih berbahaya dari pada Covid19'. Belum lagi dari para senior, junior Opung di TNI. Artinya ini menggambarkan, bahwa sebenarnya sudah terlalu banyak himbauan, kritikan, dan ultimatum diberikan pada Opung. Yang menandakan, berarti sudah terlalu banyak langkah, kebijakan Opung ini yang membahayakan kehidupan Bangsa dan Negara.

Hal inilah selaku keluarga besar anak tentara yang sangat kita sayangkan. Prilaku dan tindakan Opung sangat kontradiktif dengan jiwa patriotisme, nasionalisme, sebagai mantan tentara.

8. Dari akumulasi ini jugalah, akhirnya masyarakat Indonesia kembali membongkar siapa Opung, jejak rekamnya, sampai kedekatan Opung dengan Maestro Inteligent Indonesia mantan Panglima ABRI yaitu Mendiang LB Moerdani. Kiprah Opung dalam melengserkan Almarhum Presiden Soeharto sampai Opung dapat penghargaan Jendral bintang empat oleh BJ Habibie. Kiprah Opung sejak jadi Dubes (Duta Besar Indonesia) Singapore, Menteri Perdagangan, bahkan sampai masa lalu Opung yang takut terjun payung ketika "Operasi Seroja" di Timor Timur pun dibuka secara telanjang di sosial media.

Dan itu semua adalah konsekuensi menjadi pejabat publik di Negara Demokrasi seperti Indonesia.

9. Sikap Opung membawa kritikan masyarakat ke ranah hukum akhirnya menjadi bumerang bagi Opung sendiri. Kerana, kedewasaan, kenegarawanan Opung dalam berpolitik dan bernegara dipertanyakan. Tidak hanya itu, Nasionalisme dan Patriotisme seorang Opung dengan deretan begitu panjang pengalaman ber-jabatannya pun mulai diragukan.

10. Dari akumulasi penjelasan di atas itulah akhirnya wajar muncul berbagai asumsi dan dugaan,
Apakah semua kesemrawutan dan kerusakan Negara hari ini ada hubungan dengan Opung ?
Dimana Negara seakan tergadai kepada RRChina ?
Negara saat ini tanpa kemandirian tanpa kedaulatan ?
Negara kalah oleh kepentingan politik dan ekonomi ?
Parahnya lagi adalah, hilangnya keharmonisan sesama Anak-Bangsa oleh perpecahan berbasis SARA ?
Munculnya rasisme dan phobia terhadap Islam ?
Munculnya sentimen antara istilah minoriti dan majoriti ?
Semakin suburnya Liberalisme dan Style bernegara ala Komunisne ?
Terciptanya gap yang curam antara Agama dan Negara khususnya Negara dengan Islam ?

Semua asumsi negatif tentang kerusakan negara di atas sekarang ini mengarahkan busur anak panahnya ke wajah Opung. Kerana Opunglah saat ini @ "the man behind the super power in Indonesia". Opunglah saat ini yang pegang kendali penuh remote kontrol Istana.
"Tak ada Jendral aktif yang tidak takut sama Opung"!
"Tak ada pejabat Eselon dan Menteri yang tidak takut sama Opung" !.

"Tak ada pengusaha dan BUMN yang tidak tunduk dengan Opung" !.
"Bahkan Presiden Jokowipun bertekuk lutut dihadapan Opung"!.
"Hampir semua Parti Politik Indonesia ngeri-ngeri sedap dengan Opung" !.

Jadi wajar juga akhirnya banyak pertanyaan keraguan terhadap Opung !!.


Untuk siapa sebenarnya Opung bekerja hari ini ?.

Untuk siapa sebenarnya Opung bekerja hari ini ?.
Kepada siapa Opung ini mengabdi. Kemana arah orientasi bernegara Opung hari ini ?
Masih adakah merah putih di dada Opung ?

Masih adakah Indonesia didalam fikiran Opung ?
Masih adakah bekas tempaan Lembah Tidar, semangat Gelombang Ombak Pantai Selatan di jiwa Opung sebagai seorang mantan Komando ? Pasukan elit kebanggaan Bangsa Indonesia ?
Kita semua sudah tahu. Bagi siapa saja yang terkait dengan pangkat jabatan, bisnis dan projek mesti ingat juga. Masih banyak juga para jendral, baik yang sudah pensiun, aktif, para tentara, para tokoh, aktivis, rakyat yang tidak peduli dengan pangkat jabatan atau wang dari Opung.

Masih banyak di Negeri ini, para merah putih sejati, para kesatria, dan pejuang yang tak peduli dengan siapa Opung. Yaitu orang orang yang ikhlas dan peduli terhadap nasib Bangsa ini. Yaitu orang-orang yang selama ini diam, mengamati, dan menghitung gerak langkah Opung dalam mengelola negara ini. Dan orang-orang yang juga sebenarnya sayang dan peduli dengan keselamatan Opung juga sebagai senior, bapak, dan orang tua.

Sudah saatnya Opung kita himbau dan sarankan untuk instropeksi diri sebelum Opung melangkah lebih jauh keluar dari garis lurus nilai-nilai kebangsaan.

Opung adalah senior kami, orang tua kami, paman kami, abang kami, dan juga guru kami. Yang seharusnya mewariskan nilai loyalitas kebangsaan, kedewasaan dalam berpolitik dan bernegara, serta contoh tauladan mengabdi secara totalitas kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Jujur hari ini kita semua mulai ragu kepada Opung. Saat ini banyak pihak yang gelisah dan geram melihat sepak terajang Opung. Untuk itu. Mari sejenak kita melihat sejarah dunia ini. Bahwa sehebat apapun seorang Pemimpin, Segagah apapun seorang Jendral Tentara, Sekaya Raya apapun seorang Pengusaha, pasti akan mati juga. Pasti akan dikubur juga. Minimal pasti akan jadi tua renta juga kalau umur panjang.

Cuma yang membedakannya adalah ; Ada yang akhirnya mati dengan terhormat di bawah upacara penghormatan dan deraian air mata. Ada yang mati dalam senyuman disamping keluarga tercinta. Tapi ada juga ada yang mati dalam keterasingan, azab penyakit, dan penjara. Bahkan juga ada para pemimpin yang mati di tiang gantungan, dan moncong senjata anak buahnya atas hukuman sebagai pengkhianat negara.

Tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan. Roda kekuasaan itu berputar. Mari kita berikan yang terbaik buat Bangsa ini. Mari kita tinggalkan Sejarah dan Legacy yang baik buat Bangsa ini, agar selalu dikenang oleh Anak-Anak, Cucu kita kelak di kemudian hari.

Kalau ada dendam masa lalu mari hapuskan. Kalau ada misi-misi jahat yang pernah terlintas mari buang dan hentikan. Kerana kita semua adalah sudara Satu Bangsa. Satu Nasib, dan Satu Masa Depan. Salam Indonesia. Salam Persatuan.

Artikel ini telah diterbitkan dipelbagai media Indonesia dengan judul 
'UNTUK SAID DIDU, LUHUT, DAN KITA'Oleh : Anton Permana.
(Kader FKPPI/Anak kolong keluarga besar TNI)
(Penulis adalah Alumni Lemhannas RI PPRA 58 tahun 2018)
[ Batam, 06 April 2020 ]

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo