SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG'

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG'

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG'



Chapter I, Bagian 1.

'Anak Tanpa Nama'


<img src="FORTUNA NETWORKS.COM .jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG">






Selamat datang di dunia '
Wuxia'.  Istilah hebat dari 'belantara 
Kangouw' atau 'Rimba Persilatan'. Pada kesempatan kali ini akan Saya sajikan pada Anda, Cerita Silat terjemahan;
 'LAM BONG PEK SINKANG' 


Sebelum anda melanjutkan membaca cerita silat 'LAM BONG PEK SINKANG' yang jumlahnya untuk sementara ini berjaya dihasilkan sekitar 15 judul. Ada baiknya Saya jelaskan terlebih dahulu bahwasanya semua Serial Cerita Silat  'LAM BONG PEK SINKANG' dalam postingan ini adalah hasil karya, jerih payah penulisan para Suhu khususnya Guru Saya, sang penulis Cerpen @ Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Puteri  &  
Hikayat KYAI CILIK SUKMA JATI PENGUASA GUNUNG PUTERI , yang telah bekerja keras berburu, men-scan, mengedit dan menyusun Cer-sil ini hingga dapat Anda nikmati saat ini. Adapun yang Saya lakukan hanyalah sekedar men-share dari berbagai sumber, mengoleksinya dan berusaha membuatnya tidak hilang ditelan zaman. InsyaAllah.

Chapter I, Bagian 1. Anak Tanpa Nama

Pagi yang cerah, musim semi telah mulai, angin dingin membawa bau daun muda dan bau khas tanah ketika embun basah membasahi, di Gunung Khe-san, perbatasan China Daratan dengan Padang Gurun Ghobi, berjejer gunung tinggi, di antara gunung ada yang bernama Teng-In-san atau Puncak Mega, yang menurut cerita turun temurun banyak para Dewa tinggal, atau Senjin para Orang Sakti berdiam diri, meninggalkan urusan dunia, dan menjauhi mencari nama besar. Di Teng-in-san tak banyak orang yang kuat lama tinggal di atas sana kerana di samping di sana aisnya yang abadi juga di atas sana sudah tipis udara, sehingga orang harus menghemat tenaga dan banyak menahan nafas, sebab nafas lebih berat dari nafas biasa.

Dan di lereng lereng gunung, yang banyak di tumbuhi pohon Liu dan Ju, sedikit masih tersisa ais di musim salji, mulai perlahan mencair, menjadi air bening yang mengalir seperti ada daya tarik menuju satu titik aliran, lalu berpadu mengalir bersama-sama ke satu aliran yang lebih besar, dan menuju aliran sungai, lalu menyatu di air terjun Hui-poan, lalu terpancar meluncur ke sungai-sungai, menuju perkampungan di bawah gunung, dan mengalirii sawah ladang, keserasian penuh filsafat air, keserasian dan tidak kita sadari semua telah di atur oleh Dzat pengatur kehidupan.

Nampak sebuah rombongan 'Piauw-su' sedang mengatur rombongannya, dan membenahi kereta kuda dan barang kawalannya, sementara yang lain membuat sarapan, ada tida kereta kuda, satu kereta mewah untuk penumpang, dan dua kereta barang, perusahaan pengawalan barang ini bernama Hui - Ho, bangau terbang, nampak jelas dari bendera kuning berumbai dan bergambar seekor bangau yang merentangkan sayap, perusahaan Piawkok Hui-ho termasuk perusahaan kenamaan di kota Provinsi Tiong, kerana para pengawalnya adalah persatuan orang-orang yang mempunyai dasar Bu, yang cukup bisa di andalkan, walau bukan tergolong para pendekar nomor 1 di dunia Bulim, tapi setidaknya untuk mengalahkan satu orang pengawal akan di perlukan waktu puluhan jurus, juga di tambah mereka punya Barisan Pedang Kiam-tin yang di beri nama Barisan Pedang Bangau Terbang, yang di jurus-jurusnya di ciptakan oleh para pemilik saham di perusahaan Piawkok itu, yang kebanyakan adalah dari keluaran perguruan silat yang punya nama di dunia Bulim.

Kali ini perusahaan pengawalan mengawal keluarga Hoan-Wangwe yang pensiun dari jabatannya, dan mahu kembali ke rumahnya, sehingga semua keluarganya di bawa. Hoan-Wangwe adalah pejabat di bawah Goanswe, yang jabatannya menjalankan perintah Goanswe, dan kebetulan dia di bawah Jendral Goan Li - hoat, seorang Jendral yang jujur, dan amat membenci segala korupsi dan segala macam kejahatan. Selama memangku jabatan Hoan Wang-we sangat tegas, dan banyak penjahat yang di hukum berat, sehingga bisa di pastikan kalau Wangwe sangat di musuhi oleh para Lok-lim, dan setiap saat di incar akan di bunuh.


Memang setiap segala sesuatu itu pasti ada akibatnya, tidak mesti perbuatan baik, dan orang yang berjuang untuk kebaikan akan hidup makmur dan tenteram, bisa jadi hidup mereka akan sangat terancam, terancam oleh para pejabat yang korup yang bisa saja memerintahkan seseorang untuk membunuh pejabat lurus, sekelas Wangwe, kerana merasa terancam kedudukannya.


Wangwe mempunyai dua Istri, namun yang dia mempunyai anak hanya dari Istri keduanya, keduanya perempuan, biasa di panggil Bwee-ji, dan Lian-ji, keduanya menginjak usia gadis yang baru mekar, nampak mereka di sertai kedua Istri Wangwe tengah ada di dalam kereta mewah yang di tarik dua ekor kuda coklat, kuda blasteran-kacukan Mongol dan China.

   READ MORE

"Semua menempati posisinya masing-masing, kita berangkat lagi..!"  teriak Soan, sebagai pemimpin perjalanan. Soan adalah murid lepas dari Butongpay, dia terkenal dengan Kiam-kek, pedang panjang yang pegangannya berhias gambar singa, menandakan dia jago dalam Kiam-sut, segala gerak geriknya amat tenang, kumis dan jenggotnya rapi, menunjukan seorang yang selalu menjaga kebersihan, dan penampilan diri, menjaga citra diri di mata siapa saja. Di samping Soan-wi, nampak seorang pemuda gagah bernama Mung-wi, dia pemuda gagah dan trampil, segala sesuatu selalu di rencanakan dengan matang, tubuhnya tinggi jangkung, langkahnya cepat bersemangat, sinar matanya selalu memancarkan keberanian yang menyala, alis matanya tebal.

'Mung-wi' adalah salah satu pemuda yang di didik oleh para penanam modal di perusahaan Piawkok, sehingga ilmunya sangat beragam, makanya di pinggangnya ada pedang panjang, dan beberapa pisau terselip rapi di ikat pinggangnya, 'Amgi', setidaknya ada beberapa cabang ilmu Bu, dia kuasai, walau belum dalam tingkatan mahir dia telah di juluki pendekar Hui-to, 'golok/pedang terbang', kerana di saat dia menyerang dengan pedang maka pisau terbang bisa melesat dari tangan kirinya, dalam jarak dekat, terang itu akan sulit bagi musuhnya menghindarinya. Sehingga jika dia telah mengeluarkan jurus paduannya maka jarang ada orang yang menandinginya.

Jumlah pengawal 'Sam-wi', ada sebanyak 32 orang di tambah prajurit pengawal pribadi Wang-we sebanyak 12 orang, sebagian pengawal Wang-we, berjalan di kiri kanan kereta, depan dan belakang, sementara dua orang membuka jalan, jika ada sesuatu di depan maka kedua orang itu melaporkan aman tidaknya jalan yang akan di lalui, sehingga kalau ada apa-apa akan mudah di antisipasi, sudah empat hari rombongan itu meninggalkan rumah 'Wang-we', sekarang adalah hari ke lima.

Rombongan segera melanjutkan perjalanan, semua telah menaiki kudanya dan berjalan pelan, sementara matahari mulai naik ke angkasa.
To be continued...

Ilustrasi Image source;  cerita-silat.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo