-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-2]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-2]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-2]">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-2]

Chapter I, Part 2.

 'Anak Tanpa Nama'

"Paman Soan, bukankah setelah tikungan/corner di depan adalah tebing Siok-san?." tanya 'Mung-wi'.

"Ya...! Aku juga sedari tadi mengkhawatirkan, sebab tebing sisir adalah tempat kawanan para begal dan perampok dari Lok-lim yang paling mudah melakukan pencegatan, jika lewat tebing itu kita lolos, maka selanjutnya akan lebih mudah." jelas 'Soan-wi'.

"Hain paman...! kenapa penyapu jalan kita belum juga melaporkan akan jalan yang kita lewati, apakah Saya perlu menyusulnya?"

"Mungkin sebaiknya seperti itu, Aku khawatir juga jangan-jangan kenapa-napa."

Mung-wi segera memacu kuda coklat yang di tungganginya, mendahului rombongan, dia terus memacu sampai ada seperempat Li, tapi tak ada tanda kedua temannya itu terlihat.

Tiba-tiba terdengar suara menyanyi, dan suaranya di atas pohon, suaranya terdengar seenaknya.
"Perbuatan baik, siapa yang perduli, jika sudah tua masa muda tak akan kembali, tapi jika kebaikan telah di yakini, maka mati sekarang atau nanti tak perlu di sesali..."

Aneh suara itu menyebar seperti memenuhi semua tempat, menunjukkan yang menyanyikan menggunakan 'Iwekeh' yang amat sempurna, di gunung ada orang aneh adalah hal biasa, rupanya suara nyanyian juga sampai ke tempat rombongan kereta, semua orang tertegun, tapi semua merasa nyanyian itu terdengar dari orang yang baik... kerana nada syairnya yang penuh petuah.

"Sahabat yang bernyanyi, silahkan menunjukan diri, jika ingin bergabung dengan rombongan kami..." kata Soan-wi.

    READ MORE
SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG'
Mengenang Masa Kejayaan Novel Serial Cerita Silat

Rombongan terus melanjutkan perjalanan dan suara nyanyian telah sirap, tapi ketika sampai di bawah pohon mahoni tua nyanyian itu terdengar lagi, sekarang tidak menggunakan tenaga dalam 'Iwekeh', tapi dengan suara dekat, dan semua orang mendongakkan kepala ke atas, nampak di atas dahan kecil, menggantung terbalik seorang pengemis Ko-kay, bajunya tambal-tambalan tak karuan, jenggotnya tak pernah di cukur, beberapa lalat hinggap memperebutkan makanan yang tersisa, dan mata pengemis itu terpejam, sambil mulutnya tak henti mengeluarkan suara yang berulang-ulang, kakinya bersepatu rumput, yang sudah lubang sana sini, dia seenaknya saja tergantung di atas cabang kecil di pohon yang tinggi. tangannya berpeluk erat, dan sebuah tongkat terbuat dari 'batu giok jade', tergenggam di tangannya.

'Soan-wi' sebagai seorang yang amat pengalaman, melihat tongkat kecil yang di pegang si pengemis Ko-kay, maka dia sebagian bisa menebak bahwa pengemis itu adalah 'Pang-cu' dari Kaypang, 'i-Tiam Pang-cu'. yang selalu membela kebenaran, dan menuntas kejahatan, namun selalu tingkahnya seenaknya sendiri.

"Apakah di situ adalah i-Tiam Pang-cu adanya?" tanya Soan-wi sopan.

 "Jika benar dan pang-cu menghendaki bergabung dengan rombongan kami, maka kami persilahkan."
"Siapa yang ingin bergabung dengan kalian, Aku hanya sedang tidur di sini, dan kalian lewat, dan kalian tidak menawarkan ayam panggang, atau ayam tim, bebek/itik panggang, dan seguci arak, tapi malah menawarkan bergabung...., bergabung apa bisa mengenyangkan? Coba fikir, apa ada orang di dunia ini memakan bergabung?"

Menghadapi tingkah pengemis Ko-kay seperti itu, membuat Soan-wi, yang biasa bersikap resmi, amat kikuk di buatnya.

"Ini ku beri bebek panggang, apakah pang-cu akan turun, atau bagaimana?" kata Soan sambil memberi isyarat pada penjaga perbekalan untuk mengeluarkan apa yang telah dia ucapkan.

"Jika mau memberi, kenapa bertanya, orang semiskin Aku, memangnya ada pilihan?" jawab pengemis itu masih tetap menggantung.

"Baik ini Aku lempar"

Bebek panggang utuh pun meluncur ke atas, dan dengan tongkatnya, segera menusuk pada bebek panggang, sengaja Soan-wi melempar bebek panggang agak jauh dari si pengemis Ko-kay, dengan maksud pengemis itu berpindah tempat untuk menyambut bebek panggang, tapi nyatanya, dia hanya mengulurkan tongkatnya ayam panggang langsung seperti tersedot oleh kekuatan tak terlihat dan menancap di tongkat, lalu di makan.

Soan-wi maklum akan tingkah laku pengemis itu "Ayo lanjutkan perjalanan" kata Soan-wi menggerakkan rombongannya yang terhenti oleh tingkah pengemis Ko-kay itu...
To be continued...

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source;  cerita-silat.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser