SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-3]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-3]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM .jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG">


FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-3]

Chapter I, Part 3.

'Anak Tanpa Nama'

Rombongan segera melanjutkan perjalanan, namun belum sampai sepeminuman teh, di depan mereka ada anak kecil seumur 11 tahunan, tengah duduk di atas batu besar di bawah pohon kopi, anak kecil itu berpakaian putih, bukan kerana putih warna bajunya, tapi putih kerana warna kainnya telah pudar, lagak duduknya tenang, seperti tak ada pemandangan yang lebih menarik dari buku yang di bacanya. suaranya lembut dan jernih.

Alis matanya yang tebal, sekali waktu bergerak seperti meresapi apa yang di bacanya, juga bibirnya yang mungil, seperti bergetar setiap menemui bacaan yang memasuki pemahamannya, wajahnya amat tenang, dan anehnya semua rombongan juga berhenti, semua tersihir oleh bacaan anak itu, bahkan pintu kereta Hoan Wang-we terbuka, dan dia juga terpukau oleh bacaan anak kecil itu, juga Bwee-ji, dan Lian-ji yang biasanya cerewet dan ribut/bising, kini keduanya seperti tersihir oleh kekuatan yang tak terlihat, semua memandang ke arah anak kecil itu, seperti menemukan segumpal batu berlian yang bersinar gilang-gemilang.

Terdengar suara anak kecil itu membaca, suasana jadi hening:

"Bahagia itu telah sejak kau lahir ada di hatimu, dia seperti sumber air tersimpan di bawah rumahmu.... selama kau tak mau menggali, maka bahagia itu selamanya tersimpan di hatimu".
" Yang mengeruhkan hati adalah keinginan, seperti ikan ingin mandi di air, manusia ingin mandi, dan semakin banyak keinginan semakin keruh suasana hati",
" Hidup rela menerima takdir, akan menjernihkan pemikiran, lalu jalani dengan kesungguhan setiap kita terikat oleh kendali perjalanan, yang akan melepas adalah mati, dan manusia akan terikat dalam ikatan baru, tak bisa beranjak atau pergi, yang menanam pasti menuai ",
" Sebenarnya kau tak pernah berbuat apapun, setiap jiwa raga telah di ciptakan menetapi kehendak, sekalipun kau telah melakukan banyak hal, sebenarnya kau telah di ikat oleh gerak yang menggerakkanmu, tak ada jiwa yang selalu melekat pada raga, kerana manusia di batas keterbatasan, ada awal ada akhir, yang di mulai pasti di akhiri, hanya bersandar pada yang kekal, apa saja bisa menjadi kekal, seperti kertas di celupkan air akan basah, dan seperti di dekatkan api akan terbakar. dan seperti manusia di tempelkan pada yang kekal akan menjadi kekal, walau manusianya mati tapi selalu di ingat di setiap hati.... "

Lama anak kecil itu terdiam, dan anehnya semua orang menunggu kelanjutan anak itu membaca 'Cim-keng' yang di pegangnya.

    READ MORE

Tapi tunggu punya tunggu, tak juga membaca anak itu di lanjutkan, dan setelah di teliti, rupanya anak itu telah tertidur. Soan-wi turun dari kudanya dan mendekati anak itu, mahu membangunkannya, tapi Hoan Wang-we segera mencegahnya, dan memerintah pada anaknya dengan berbisik, supaya meletakkan makanan, buah dan pakaian di dekat anak itu, lalu dengan perlahan, melanjutkan perjalanan, meninggalkan anak kecil itu yang telah lelap.

Tapi anehnya semua orang berkerut, nyata semua di perah otaknya untuk mencoba mengerti dengan apa yang di baca oleh anak itu, tapi sekilas Soan-wi tadi melirik pada 'Cim-keng' yang ada di pangkuan bocah itu, yang buku itu telah amat lusuh, tapi yang membuat Soan-wi, adalah buku itu sama sekali tak ada aksaranya, hanya berupa buku kosong.

Di depan, Mung-wi terperanjat, dia yang sedang menyusul kedua penyapu jalan, sekarang penyapu jalan keduanya, tengah tergeletak tanpa nyawa, dengan tangan, kaki, kepala, lepas dari tubuhnya.

Sungguh sadis pembunuh yang melakukan itu, padahal jika mahu membunuh maka cukup di tusukkan pedang maka orang akan mati, Jika sampai seperti itu keadaannya, ini yang membunuh punya kesenangan membunuh, bahkan pedang di pinggang kedua orang itu tak sempat di cabut, nampak pedang masih di genggam dengan tangan yang telah putus, dan kepala yang putus menyiratkan keterkejutan, ngeri dan ketakutan.

Mung-wi, turun dari kudanya dan berjalan mendekati mayat kedua rakannya, lalu dia mencoba menggali tanah untuk menguburkan kedua temannya itu dengan layak..
To be continued...

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source;  cerita-silat.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo