-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-4]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-4]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-4]">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-4]



Chapter II, Part 4.
'
Terkena Racun Peretas Hati'

Malam makin sunyi, dan sudah pukulan kentong ke tiga, di dalam gua tempat tinggal Bubeng-tong suasana hening, hanya suara jengkrik dan serangga, tiba-tiba terdengar suara halus, seperti orang membaca 'Cin-keng' tapi seperti suara dari dunia yang jauh, seperti suara di balik dunia,

"Ya Awwal, Ya Akhir, Ya Mukhiwal Akhwal...Ya, Man Idza Aradha Syai'an Aiyyaquula Lahu Kun Fayakuun........." suara terdengar juah, kadang dekat, sayup-sayup sampai terbawa hembusan angin gunung, jika orang mendengar pasti akan mengira itu suara syaitan atau hantu dedemit penghuni gunung.

Suara itu adalah suara Bubeng-tong, yang tengah memisah raga dengan sukma, lalu melumerkan raga mencuci darah, kerana racun peretas hati yang meracuni darahnya, untung dia segera pergi, jika terlambat sedikit saja, maka hatinya akan hancur dan di muntahkan,

Ketika racun di masukkan ke mulutnya, maka dia berusaha mengikatnya dengan Iwekangnya, tapi ketika Toksin-Sianli menyerangnya, maka tenaga iwekang yang di pakai membungkus pil sedikit tergetar, sehingga racun sempat terpecah sedikit dan mengalir ke lambungnya, makanya dia langsung menghentak tangan Toksin-Sianli sehingga tangan Iblis perempuan itu hancur, segera dia berlari pulang ke guanya, tak mau banyak bicara dengan orang-orang, takut terlambat racun menyebar.

Sekarang nampak kubangan tubuh Bubeng-tong yang mencair itu bergerak-gerak, dan asap hitam kebiruan menguap perlahan, dan di netralisir kabut yang memenuhi kamar giok, lalu kubangan air itu perlahan-lahan bergerak membentuk manusia, dan perlahan pasti pasti membentuk tubuh Bubeng-tong, yang duduk bersila, dan wajahnya tak pucat lagi, lalu nafasnya perlahan mulai teratur, dan matanya pun terbuka, dia mengangkat tangannya dan di usapkan ke wajahnya yang berhidung mancung, beralis tebal dan berwajah mirip orang Arab.

   READ MORE
SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-3]
SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-2]
SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-1]

"Terima kasih Guru, atas bimbingan Guru, Aku selalu bisa menyelesaikan masalah, Aku rindu sekali dengan Guru, pasti Guru tak akan menemuiku lagi..." kata Bubeng-tong.

"Ada apa Anakku...?, kenapa kau risau?" tiba-tiba ada bayangan  yang samar-samar terlihat, seorang lelaki tua, berjenggot putih memanjang sampai ke dada, jubahnya putih, dan memakai ikat kepala yang di ikatkan membentuk udeng besar, nampak walau samar kerana hanya berupa bayangan wajah orang tua itu amat teduh, dan menyejukkan jika di pandang. 

Bubeng-tong segera bersimpuh di tanah,

"Ampun Guru, bukan maksud murid menyusahkan Guru, dengan memanggil Guru, murid hanya kangen/rindu dengan Guru, dan rindu dengan petuah dan nasehat Guru." kata Bubeng-tong.

"Anakku, ilmu yang kau peroleh itu seperti pohon, jika tidak di amalkan maka seperti pohon tanpa buah, dan buah itu ada yang bermanfaat dan ada juga yang tak ada manfaatnya, amal itu ada yang ikhlas dan ada yang tidak ikhlas, jika tidak ikhlas maka perbuatan itu sia-sia, seperti menaburkan debu di atas batu, jika terkena hujan, maka debu akan segera sirna." kata lelaki tua itu dengan lembut.

"Lalu apa itu ikhlas Guru?"

"ikhlas itu terbagi menjadi tiga, satu ikhlasnya orang yang ahli amal, dia merasa melakukan perbuatan amal, maka dia mengharap balasan, seperti seorang pekerja yang mengharapkan di bayar, maka orang seperti ini akan mudah meninggalkan pekerjaannya jika bayarannya tidak ada, dan akan mudah menyepelekan amalnya jika yang memberi gajii tak mengawasi."

"Berarti tak baik Guru, ikhlas yang seperti itu, namanya pamrih, lalu yang kedua apa Guru.?"

"Yang kedua ikhlasnya para pecinta, para pecinta itu akan memberikan apa saja kepada orang yang di cintai, dengan mengharap yang di cintai itu memberi balasan kepada dirinya, dia sanggup melakukan amal perbuatan apapun, asal yang mencintainya itu memberikan cintanya pada dirinya, sebenarnya dia itu tak mencintai kecuali pada terpenuhinya cintanya sendiri, yaitu kesenangan terbalasnya cinta, jika cintanya tidak terbalas, maka akan timbul penghentian amalnya, dan bisa jadi akan mengungkit-ungkit apa yang telah di berikannya, kerana dia masih memandang kalau apa yang di lakukan itu jerih-payahnya, dan dia mengharap balasan dengan porsi yang sama dengan apa yang dia berikan."

"Wah, itu juga tak baik Guru, kerana hati tak akan tenteram kerana di sibukkan dengan balasan yang setimpal. lalu yang ketiga apa Guru?"

"Yang ketiga, ikhlasnya seseorang yang tau siapa dirinya, untuk apa dia di ciptakan, dan kepada siapa dia mengabdi, manusia itu di ciptakan oleh yang menciptakan, tentu ada alasan penciptaannya, dan tujuan penciptaannya tentu saja sudah pasti menuruti pada apa yang di inginkan penciptanya, anak kecil saja kalau membuat mainan layang-layang, di harapkan mainan layang-layang itu akan menuruti apa yang dia inginkan, apa yang dia inginkan? yaitu agar layang-layang itu bisa di terbangkan, seandainya layang-layang tak bisa di terbangkan, maka tak salah bila dia merobek layang-layang ciptaannya, dan membuat layang-layang baru yang bisa di terbangkan."

"Iya guru."

"Begitu kita ini di dunia di ciptakan untuk menuruti perintah pencipta kita, apa yang di kehendaki pencipta kita maka itulah yang harus di lakukan, dan jika kita tidak menuruti perintah pencipta kita, maka sah saja bila pencipta kita mencabik dan merobek-robek kita di ganti dengan ciptaan baru,"

"Lalu letak ikhlasnya perbuatan kita di mana Guru?"

"Kerana kita tau bahwa kita ini ciptaan, jadi apapun gerak gerik kita tak lepas dari penguasaan pencipta kita, seperti layang-layang yang di terbangkan dengan benang, ke kiri atau ke kanan adalah kerana tarikan benang, kerana segala gerak itu adalah atas perbuatan kita, maka jika kita melakukan perbuatan tak pantas di harap balasannya, karena hakikatnya bukan perbuatan kita, tapi perbuatan pencipta kita, dan kita hanya menjadi lapangan perbuatan-Nya, jadi tak layak kita mengharap balasan amal perbuatan yang sebenarnya bukan perbuatan kita, jika kita sudah bisa melepaskan diri dari harapan balasan kerana tahu tubuh dan perbuatannya itu bukan hak kita, maka baru amaliyah itu pantas mendapat balasan yang setimpal, kerana telah sesuai dengan cara melakukan perbuatan dengan benar."

"Hhmm..."

"Kenapa Anakku?"

"Masih mencoba menelaah Guru."

"Baik, Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik Anakku..." kata bayangan itu kemudian sirna.

"Iya Guru, murid mengantar" kata Bubeng-tong sambil duduk menghormat.

Suasana kembali sepi... Bubeng-tong masih duduk hening-tafakur. dia merenungi perkataan gurunya.
To be continued...
-----------------------
Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source; pixiescout.tumblr.com/
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser