-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-2]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-2]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-2]">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-2]

Chapter III, Part 2.


'
Mencari kitab yang hilang



Pengemis dekil-kumuh itu orang-orang di seantero kota menjulukinya 'Bohwat-kai', atau 'pengemis tak berakal', gelaran itu di perolehnya bukan tanpa sebab, kerana semua pengemis di kota semua adalah anggota 'Kai-pang', tapi hanya Bohwat-kai yang tidak, bukannya dia tak masuk anggota Kai-pang, tapi kerana dia selalu di tolak, sebab setiap anggota Kai-pang setidaknya syaratnya harus bisa 'Bu', atau 'Silat', tapi Bohwat-kai ini belajar ilmu silat apapun dia tak ada bakat sama sekali, bahkan jurus paling cakar ayam pun tak dia kuasai,

Sehingga hidup Bohwat pun paling mengenaskan sebagai seorang pengemis, jika orang itu menjadi anggota parti pengemis, setidaknya akan terlindungi oleh kelompoknya, kerana semua orang tahu kalau Bohwat itu bukan anggota Kai-pang maka semua orang tanpa sungkan-sungkan jika ingin memukulinya, dan kerana berulang kali masuk kai-pang dia itu selalu tidak lulus uji, maka pengemis lain menjulukinya Bohwat, atau orang yang kehabisan akal.

Di tepi sungai orang juga banyak berkerumun melihat ke arah pertempuran seru di tengah sungai, dua orang 'Piauw-su' terhantam masuk ke sungai, orang-orang di pinggir sungai menjerit-jerit, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Para perompak ini sebenarnya bukan perompak biasa, tapi ini adalah perompak yang 'Toat-beng-pang', atau "persatuan para pencabut nyawa".

Perkumpulan Toat-beng-pang baru hampir setahun berdiri, tapi sepak terjangnya telah sangat meresahkan, konon Toat-beng-pang ini adalah terdiri dari para perompak, penyamun, pencopet, semua dari orang 'Hek-to' yang bersatu bahkan ada dari pengacara-peguam, pejabat pemerintah yang ikut bersatu di dalamnya, sehingga semakin membuat Toat-beng-pang di takuti sepak terjangnya.

   READ MORE
SERIAL CERITA SILAT
'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-1]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-4]


Para 'Piauw-su' yang asalnya 8 orang, hanya tinggal 5 orang, yang tiga sudah tercebur ke sungai, dan jumlah orang dari Toat-beng-pang ada dua belas orang,

"Sudah tinggalkan saja barang-barangnya, mencebur ke sungai, nyawa lebih penting." teriak orang yang ada di pinggir sungai,

Tapi rupanya rasa tanggung jawab dari Piauw-se ini sangat tebal, mereka ngotot melawan, untuk mempertahankan barang kawalannya.

Bohwat hanya menggeleng, dia membayangkan jika dia pendekar sakti maka akan menolong para piauwsu , tapi dia sendiri bukan orang yang bisa silat. Jadi dia hanya menggegam-genggamkan tangannya dan memukulkan tangan yang satu pada tapak tangan yang lain kerana gemasnya.

Namun sedetik kemudian tiba-tiba tubuhnya melayang ringan, kayak orang terlempar ke arah pertempuran yang berjarak sepuluh tombak dari tepi sungai. Orang-orang di tepi menuding-nuding dirinya yang melayang-layang kerah tengah sungai, dan Bohwat sendiri berteriak-teriak kalap, seperti kucing yang tak mahu di mandikan, jadi seperti orang yang membolak balik tubuhnya di udara.

Sampai di tengah pertempuran dia juga tak tahu, serasa kakinya menendang tanpa dia mampu mengendalikan, kadang tangannya memukul, dan sama sekali dia tak mampu mengendalikannya, seorang perompak berjambang brewok berkaor-kaor kena dia tendang dengan tumitnya, sehingga beberapa giginya tanggal, dia berusaha mengejar Bohwat, tapi pengemis dekil itu dalam keadaan melayang tak juga turun-turun, tubuhnya seperti di gantung dengan tali, tubuhnya melompat kesana kemari, memukul menendang tiada henti, semua perompak telah menerima bagian masing-masing.

Ada yang benjol sebesar telor bebek-itik, ada yang hidungnya patah, ada yang matanya melembung, semua telah mendapat bagian rata, sementara tubuh Bohwat masih terus melayang kesana-kesini membagi tendangan.

Para perompak telah meninggalkan lawan-lawannya, dan berusaha mengejar Bohwat, tapi Bohwat bisa melayang di atas air, walau kelihatannya ketika melayang di atas air seperi orang yang takut dengan air, nyatanya dia melayang di atas air dan kadang kembali menyerang pada perompak.

Walau kelihatan pukulannya tak pakai jurus sama sekali, tapi setiap tendangan dan pukulan, tak pernah bisa di hindari oleh para perompak itu.

Akhirnya para perompak satu persatu memilih menyeburkan diri ke sungai, dan sampai para perompak lain menyeburkan diri ke sungai, dan Bohwat pun ikut menyeburkan diri ke sungai, dan tingkahnya seperti orang yang panik tak bisa berenang, tapi tubuhnya menggapai-gapai, kadang timbul kadang tenggelam, malah lebih mirip kucing yang sedang di kopyok ke dalam air, dan aneh dia walau bertingkah seperti itu dia mengejar ke arah perompak berenang, sehingga membuat para perompak berhamburan mempercepat renangnya, semua orang bersorak, kejar-kejar, habisi.

Sebenarnya Bohwat sendiri sama sekali tak bisa berenang, dan dengan air juga takut, makanya bertahun-tahun tak mandi, Ya, kalau air di mangkok sih tak takut, yang dia takut adalah air di sungai, itu dia trauma, sebab semua keluarganya habis saat dia kecil adalah kerana waktu itu ada banjir bandang, di sebabkan Sungai Huang-ho yang meluap, dan saat itu juga dirinya ikut terbawa arus sungai. namun ndilalah dia selamat.

Semua perompak kabur, dan tiba-tiba Bohwat terangkat tubuhnya dari atas air, berjumpalitan ke udara dan mendarat ke daratan.

Dia terbengong-bengong bisa melakukan itu..., dan semua orang sudah mendatanginya, lalu menghormat padanya memanggilnya 'Enghiong', Bohwat-kai sendiri masih tak mengerti bagaimana dia bisa melakukan itu,

"Mari Tuan penolong, izinkan kami menjamumu, " kata salah seorang yang memiliki barang yang di selamatkan oleh Bohwat-kai.

"Oh...ini tak bisa jadi, tak bisa jadi..." kata Bohwat bingung.

"Ayo.. angkat Tuan penolong.." kata yang lain.

Maka ramai-ramai mereka mengangkat Bohwat, dan di arak ke rumah makan, yang tadi baru saja dia di usir keluar.

Sorak-sorak ramai, Bohwat-kai di giring ke rumah makan, pelayan yang tadi mengusirnya memicingkan mata, melihat dari jauh ramai-ramai, dan melihat pengemis yang di usirnya tengah beramai-ramai mendatangi rumah makannya, dia hairan dan berfikir, Bohwat-kai telah menggerakkan orang-orang untuk menyerangnya.

"Wah-wah celaka, dia pasti akan menghajarku, " pelayan kabur lewat pintu belakang rumah makan.

Dan orang-orang segera mengantar masuk ke loteng atas di rumah makan, di iringi sorak ramai para 'Wang-we' yang di selamatkan barangnya, dan juga orang yang melihat sepak terjangnya di sungai.

"Sediakan semua makanan yang paling enak.. kami mahu menjamu tuan penolong kami." teriak salah seorang Wang-we yang bertubuh gemuk, ketika semua rombongan sampai di tingkat atas rumah makan itu.

Pelayan segera ramai menyediakan makanan, mereka senang banyak pelanggan yang datang. Terdengar semua saling menceritakan dan mengelu-elukan sepak terjang Bohwat-kai dalam mengobrak-abrik para perompak, sekali waktu di sertai canda -tawa ketika menceritakan perompak yang kena di hajar Bohwat, sementara Bohwat sendiri masih hairan dengan apa yang di alami.

Tapi ketika nasi dan semua lauk lazat terhidang di atas meja, maka dia baru yakin yang di alaminya bukan mimpi, tapi kenyataan, maka dia cepat melahap semua makanan itu dengan cepat, hanya dalam hitungan seper-sekian detik, semua makanan dari 'bebek-itik panggang Peking', 'Ayam jamur Hioko', 'Ayam giok lan', 'Ayam mun-haisom', 'Ayam Ngohong', 'Ang-to-mie', 'Lo-han-cai', 'Lang-pun', 'Cikong-kepiting', 'Burung dara jit-lok-joen', 'Bak-cang', 'Sup miso', 'Tom-kha-gai', 'Tom-yam-goong', 'Gang-kiew-whan-gai', 'Nam-prik-ong', 'Kra-tong-tong', 'Tom-yam-kati', dan masih banyak makanan masuk perutnya, seakan nafsu makan setahun di selesaikan dalam sehari.

Yang lain bingong, kerana baru memegang sumpit semua makanan telah habis ludes di sikat oleh Bohwat-kai.

"Tepuk tangan untuk pendekar, ilmu yang hebat memerlukan makan yang kuat." kata salah seorang 'Wang-we' yang barangnya telah di selamatkan oleh Bohwat-kai, dan di sambut oleh tepuk tangan riuh yang hadir. suasana menjadi cair lagi.

"Ayo pelayan ambilkan makanan lagi...!" kata Wang-we itu.

"Sudah.. sudah Aku sudah terlalu kenyang." kata bohwat sambil mengelus perutnya,

"Makanan untuk kami, kan kami belum makan.."

"Ooohh..iya, Aku jadi lupa he..he..ma'af..."

Dan pelayan pun membawa makanan lagi.

To be continued...
-----------------------
Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source; tumblr.com
Follow me at;

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser