SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-7]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-7]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-7]">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-7]

Chapter I, Part 7.

'Anak Tanpa Nama'

Pertempuran di apit dua tebing jurang berbentuk sisir itu makin seru dan mengenaskan, para Piauw-su makin banyak yang jatuh korban, jeritan marah, suwitan nyaring menggugah iwekeh, dentingan senjata yang beradu, juga suara senjata menyobek kulit dan mematahkan tulang, diselingi jerit mengaduh ramai terdengar, darah menghambur di mana-mana, rumput seperti di siram embun merah, bau amis memualkan siapa saja.

Sementara lima orang masih berpangku tangan, Ong-Tee-tok dengan kedua muridnya, dan Kuibo-lomo, serta Hun-Mokang-moong, hanya melihat jalannya pertempuran, kalau Kuibo-lomo buta matanya, dia hanya mendengus dengus.

"Segala yang keluar dari kebenaran, akan menimbulkan bencana, semakin jauh dari kebenaran, maka akan makin besar bencana yang di timbukan, tapi jika perkara yang benar, dan kebenarannya itu hakiki telah datang, maka kejahatan akan musnah, sebab kejahatan itu hanya bisa di musnahkan dengan kebenaran."  terdengar suara anak kecil yang membaca kitab Cin-keng, dan aneh pertempuran segera berhenti... Semua orang terdiam, yang berhenti bertempur mengatur nafas, bahkan semua Iblis yang ada , merasa dada mereka bergetar, dan sudah berusaha menolak kekuatan ilmu mengirim 'Sinkang Coan-im'. Sinkang yang menyerang iwekang mereka, tapi tetap saja suara itu merasuk menggetarkan jantung mereka, membuat semuanya berhenti, bahkan Kuibo-lomo, yang di situ Singkangnya paling tinggi, harus menyatukan konsentrasi untuk mementahkan tekanan Sinkang yang menggetar jantungnya.

Semua menunggu dan yang membaca Cin-keng, si anak belasan tahun pun muncul dari tikungan jalan,

"Sungguh tak tahu diri, berani melakukan pembantaian di daerah kekuasaanku..." kata anak itu tenang, tangannya masih memegang buku yang di bacanya, wajahnya tenang, seperti orang tua yang memberi nasehat pada anaknya.


"Walau Aku anak kecil, Daerah Gunung Khe-san, sampai puncak mega Teng-in san, adalah tempat kekuasaanku, maka siapapun tak boleh melakukan hal sembarangan di Daerah kekuasaanku, kalau tak ingin mendapat hukuman dariku." kata anak kecil itu tenang, dan suaranya jernih, berdiri di antara genangan darah dan orang yang mati seakan tak terlihat takut.

"heey, anak ingusan, sana kembali ke tetek Ibumu, nanti Ibumu ubek-ubekan mencari..., sudah Aku tak akan mengapa-apakan dirimu, sana pergi..." kata Toan-hun yang memang paling banyak bicaranya.

"hmm... seharusnya Aku yang berkata itu, sekarang pun kepalamu masih di ragukan, apa bisa sampai besok..." kata bocah cilik itu.

"Jumawa, biar Aku remukkan dadamu..." tiba-tiba Long-tee murid dari Ong-Tee-tok melompat menerjang, baginya bocah sekecil itu bisa apa.

Long-Tee-tok melompat dengan jurus serigala menubruk pintu.
Serangannya telak menghantam dada bocah kecil itu, tapi tubuhnya seperti mengambang di udara, tangannya tetap menempel di dada bocah itu, tiba-tiba tubuhnya menggeliat, seperti tersengat letrik, dan terlempar lima langkah, lalu menggasruk di tanah seperti pakaian kotor tak bertenaga.

"Hhmm... Aku musnahkan ilmu silatnya, dan selama 40 tahun ke depan dia tak akan bisa belajar ilmu silat." kata bocah cilik itu.
Ong Tee-tok segera memburu ke arah murid bancinya, dan memang, setelah di raba di punggung bawah titik Cin-meh telah putus.

"Siapa kau sebenarnya bocah cilik..?" tanya Ong Tee-tok, sebab belum ada dalam Bulim seorang yang mampu memutus urat seseorang, tanpa menggerakkan tubuh. pasti bocah ini setidaknya murid orang sakti "

"Kan, sudah ku katakan, Aku penguasa gunung Khe-san, percaya, atau tak percaya itu bukan urusanku, yang pasti Aku akan menghukum kalian, yang telah melakukan pembantaian di daerah kekuasaanku."

"Kau tak tahu kami siapa?" tanya Toan-hun.

"Apa perduliku kalian siapa?"

"Jika kau tahu siapa kami, kau akan sujud minta ampun dan lari terkencing-kencing" tambah Toan hun-kin-mo

"Kau terlalu memandang tinggi dirimu kakek cebol.., coba katakan siapa dirimu, Apa Aku akan lari terkencing-kencing" 

"Aku Toan-hun-kin-mo, dan yang muridnya kau pukul adalah Ong-tee-tok, dan yang besar itu, Kuibo-lomo, dan yang di sebelahnya Hua-mokang-moong," jelas Toan-hun sambil memperjelas sebutan mereka.

"hmm.. nama kosong saja kau banggakan, orang tua cebol.., kalau Aku mengaku Giamlo-ong bagaimana hahaha" ejek bocah kecil itu.

"hei, bocah.. mungkin gurumu orang yang kami kenal.., sehingga jangan sampai kami kesalahan tangan, siapa gurumu?" tanya Ong-tee-tok.

"Legakan hatimu, kakek bisulan, Aku tak punya guru" 

"Lalu siapa dirimu? jika kami membunuhmu, kami akan tuliskan namanu di nisanmu." tambah Ong-tee-tok

"Aku?" anak itu menuding ke hidungnya sendiri.

"Iya siapa lagi.." jawab Ong-tee-tok tak sabar.

"Aku Bubeng-tong." jawab anak itu, artinya tak bernama.

"Bagaimana mungkin ada anak manusia tak bernama, pasti kau punya orang tua." kata Kuibo-lomo yang tak banyak bicara.

"Dasar kau buta, nyatanya Aku ada, "Anak tak bernama", sayang kau buta, sehingga percuma saja kalau Aku bilang Aku ini berdiri depanmu."
"hei, kakek cacingan... kau beri tahu kakek buta itu, kalau Aku berdiri di depannya."

Anehnya si Hua Mokang-moong, benar-benar mencolek Kuibo-lomo, dan membisikan kalau anak kecil itu berdiri di depan.

"Sialan, Aku sudah tau..!" Kuibo-lomo marah. kerana merasa di permalukan.

Sementara Pang-cu Kay-pang kebat-kebit merasa khawatir, akan nasib anak kecil itu, juga Soan-wi yang menolong anak buahnya yang terluka, merasa di luar dugaan dengan tingkah bocah cilik itu...
To be continued...

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source;  cerita-silat.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo