-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-3]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-3]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-3]">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter II-3]

Chapter II, Part 3.
'
Terkena Racun Peretas Hati'

Pangcu-Kay-pang segera melenting, dengan 'jurus bangau menyambar cacing', kedua ular di getarnya dengan tongkat pemukul anjingnya, sehingga kedua ular itu hancur berkeping, namun dia tidak sempat menahan pukulan Toksin-Sianli yang mengarah ke Bubeng-tong. Hanya tubuh Toksin-Sianli tiba-tiba telah terhentak, dan terlempar, mengaduh-aduh, kerana tangannya telah hancur seperti sepotong tebu yang habis di masukan ke penggilingan.

Sementara Ong-Tee-tok insyaf akan kekuatan sendiri, sehingga dia tak melakukan penyerangan, dia hanya yakin pada racun yang telah di telan oleh Bubeng-tong, pasti bocah itu akan segera berkelojotan, dia membiarkan murid perempuannya mengerang-ngerang kesakitan kerana tangannya hancur.

Namun tunggu punya tunggu, sibocah tidak apa-apa, tetap segar bugar, malah sibocah berkata: "Paman Wi.., maukah paman mewakiliku memotongkan kedua tangan paman beracun ini...?"

"Dengan senang hati, tuan Eng-hiong...!" kata Sowan-wi. yang segera berkelibat memapaskan pedangnya ke arah kedua tangan Ong-Tee-tok, 'Raja Racun' yang di takuti itu hanya meringis menahan sakit ketika pedang Soan-wi memotong kedua tangannya sebatas lengan, sungguh tak di sangka nasib para Iblis yang di takuti itu mengenaskan, darah mengucur dari kedua lengannya, dan tak ada yang menolongnya. Mereka bertiga segera pergi, hanya Long-tee yang tangannya masih utuh, walau terluka dalam sangat parah, dia masih bisa menotok lengan Adik-seperguruannya dan gurunya, kemudian di ajak pergi.

"Aku juga mau pergi paman sekalian." kata Bubeng-tong, tanpa menunggu jawaban dari orang yang ada.

"Terimakasih atas pertolongan Ing-kong..." serempak semua menjatuhkan diri 'paik-wi' ucapan terimakasih sampai kepala mereka menyentuh tanah, sementara tubuh Bubeng-tong telah melayang, meninggalkan mereka. Yang tak terluka segera menolong yang terluka, dan yang mati segera di buatkan kubur, untuk di kuburkan, tak henti-hentinya mereka membicarakan 'bocah sakti' itu.


   READ MORE
SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-8]


Tubuh Bubeng-tong melayang seperti kapas yang ringan di atas rumput, dengan ilmu meminjam panas bumi, tubuhnya seperti tak berbobot, sampai di tepi jurang di lamping gunung, tubuhnya terus melayang, dan langsung masuk pada sebuah gua pada dinding jurang yang tersembunyi dari dunia luar. Dan sebentar setelah si pemuda hilang di telan gerumbul jurang, nampak seorang gadis seumuran 16 tahun berbaju ringkas warna merah, berwajah ayu dan berkulit putih, di punggungnya tersoren/tersisip pedang tipis, nampak celingukan di tepi jurang. 

"Kemana perginya bocah itu, apa mungkin tercebur ke jurang?" dengus gadis itu.
"Tadi ku lihat dia ke arah sini, tapi bagaimana mungkin dia bisa hilang, apa mungkin dia memang setan penunggu gunung?, tapi selama pertempuran dia ku lihat jelas kalau kakinya menapak tanah, tak mungkin kalau dia itu iblis, atau memedi, hiiihii.." bisik Gadis itu seorang diri. 

"Apa mungkin dia bersembunyi? atau dia masuk goa di sekitar sini?" gadis itu bicara sendiri sambil mencari-cari. 

Lalu gadis itu mencabut pedang di punggungnya, lalu mencongkel kulit pohon di besetnya sehingga menjadi tali, lalu mencoba di ikatkan dan di jadikan alat bergelantungan di tebing, ada sepuluh tombak perempuan itu turun, dia sudah hampir kecewa kerana tali sudah habis dan tak menemukan apa-apa tapi dia tersenyum ketika melihat sebuah lubang gua yang tersembunyi.

"Nah, pasti dia masuk ke gua ini.." Lalu perempuan itu masuk ke dalam gua, ternyata di dalam sangat rapi dan bersih, tapi tak ada peralatan apa-apa kecuali meja batu, kursi batu dan pembaringan dari batu, kecuali itu tak ada apa-apa lagi, lalu kemana si bocah sakti itu?

Perempuan itu kemudian mengitari gua yang memang ada penerangan dari lubang di atas tapi kelihatannya lubang sebesar kepala manusia dewasa itu hanya berupa pantulan kaca dari cahaya luar, perempuan itu mengitari gua dan meraba-raba mungkin ada alat rahasia, ternyata memang benar di salah satu dinding ada cekukan lubang dan di cekukan lubang itu ada pegangan, perempuan itupun menarik pegangan dan sebuah pintu batu berdeser, di balik pintu batu ada lorong panjang, perempuan itu pun melangkah masuk, ada jalan lorong selebar dua orang sepanjang lima tombak, setelah lorong di lewati maka perempuan itu sampai di satu pintu besi, dan ketika pintu besi itu di buka maka terlihatlah ruangan yang di selimuti kabut hijau, di dalamnya amat dingin, tapi penuh cahaya, di dalamnya teramat dinginnya sampai dinginnya merasuk ke tulang, semua dinding gua memancarkan cahaya lembut, rupanya dinding gua terbuat dari giok, yang teramat indah, dan sebuah pembaringan dari giok yang seperti air berwarna hijau, dan memantulkan cahaya, sementara Bubeng-tong tengah 'duduk siulam', wajahnya pucat dan dipenuhi keringat sebesar jagung.

"Kau siapa?" terdengar suara sampai gadis itu amat terkejut, karena Bubeng-tong sama sekali tidak bergerak, tapi jelas itu suara bocah itu.

"Katakan kau siapa?, kenapa mengikutiku dari tempat pertempuran sampai ke sini?" tanya Bubeng-tong dengan 'ilmu coan-im'. 

"Aku hanya ingin berteman denganmu, maaf Aku masuk tanpa permisi, Aku kagum dengan sepak terjangmu menumpas penjahat, Aku... Aku murid Muitau-Sinni, namaku Bwee-huiyan"

"hhmm...tunggulah Aku di luar, nanti ku temui." kata Bubeng-tong.

"Iya.., baik.." jawab gadis itu kemudian keluar. lalu dia duduk di kursi batu, sepeminuman teh berlalu, namun bocah itu tak juga keluar, gadis itu mulai gelisah, dia berulang kali menengok ke pintu, tapi Bubeng-tong tak juga keluar, dia mulai tak sabar, berdiri, berjalan mondar-mandir, lalu duduk lagi, dan begitu terus berulang-ulang, sampai ada setengah harian, sementara hari telah malam, dan ada cahaya menerobos dari pintu besi yang sedikit terbuka.

Akhirnya gadis itu sudah tak kuat menunggu, dia lalu masuk lagi ke dalam kamar giok, dan setelah masuk, dia terkejut sekali, kerana Bubeng-tong telah tak ada, yang ada hanya pakaiannya tergeletak, dan kubangan cairan, serat buku.. melihat cairan itu, gadis itu terbelalak,

"Haha, dia pasti... terkena racun penghancur raga.., Ah kenapa Aku tadi tidak menunggui dia, pasti dia sudah mati..." kata kata gadis itu dalam hati, 

"Kasihan sekali dia mati masih kecil.." lalu dia melihat kitab, dan di pungutnya lalu di masukkan ke balik pakaiannya. kemudian dia keluar dari gua, memanjat ke tali, dan pergi...
To be continued...
-----------------------
Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source; pixiescout.tumblr.com/
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser