-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-4]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-4]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM .jpg" alt="SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG">

FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-4]

Chapter I, Part 4.

 'Anak Tanpa Nama'


Baru saja 'Mung-wi' mau membuat lubang kubur terdengar suara tertawa melengking, serak yang mendirikan bulu roma, dan membuat jantung Mung-wi bergetar, dia berhenti dan menengok ke belakangnya, nampak tiga orang tengah berdiri mentertawakannya, seorang adalah gadis aneh, dengan wajah penuh belang-belang, juga berpakaian aneh, dan di sekujur tubuhnya nampak menggelantung aneka macam ular berbisa, rambut gadis itu di ikat dua di atas kepala seperti layaknya anak kecil, dan ketawa haha.. hihi.., sementara banyak giginya yang sudah rontok, sehingga hanya warna hitam gusinya, orang sekali pandang pasti akan merasa muak kerana teramat jeleknya.

Di tengah adalah seorang tua, yang gundul, pendek, wajahnya amat tua, kerana kerutan aneh dan gelambir yang banyak tumbuh di wajahnya, di bilang manusia maka tak mirip manusia, di bilang syaitan mungkin syaitan pun ogah orang sejelek itu menjadi kelompoknya, tertawanya paling nyaring, dan seperti suara ujung plembungan yang bila di tiup lalu anginnya di keluarkan dari ujung plembungan, dengan menarik tepinya, malah suaranya mungkin lebih merdu suara itu, di telinga kanan kiri lelaki tua itu tergantung anting besar yang sampai membuat telinganya molor/melorot memanjang, di pundaknya tersampir sebuah kaitan baja, yang ujungnya runcing menghijau pertanda di rendam dengan racun yang teramat keji.

Lalu di sebelahnya lagi ada pemuda yang bertampang kebanci-bancian, berlenggak lenggok kayak orang menahan kencing dalam antrian, wajahnya memakai bedak tebal, dan memakai gincu yang melebihi batas bibirnya, wudelnya (pusar) yang keluar kelihatan memakai anting kerana pakaiannya tak muat membungkus perutnya yang membuncit, si banci hanya mesam-mesem kayak orang kegelian kerana di gelitiki orang.

Mung-wi bingung melihat keanehan ketiga orang yang sekarang di hadapannya, dia sampai lupa pada mayat kedua temannya.

   READ MORE

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter I-3]



"Kalian ini siapa?, apa kedua temanku ini kalian yang membunuh?". tanya Mung-wi, gelagapan, kerana seumur hidup baru melihat ketika orang yang ada di depannya, setelah dia memastikan ketiga orang itu kakinya menginjak tanah, dan bukan dari 'bangsa syaitan peri-prahyangan'.

"Huh... mana mau kami repot-repot membunuh cecurut seperti itu, itu pasti perbuatan Toan Hun Kin-mo, Iblis pemutus otot itu memang masih suka memutus anggota tubuh manusia hahaha..." kata si orang tua jelek,

"Tapi kalau kami lebih suka seperti ini... huahahaha" kata lelaki tua itu sambil menjentikkan jejarinya yang berwarna hitam, maka nampak berdesing, dari kuku jarinya, sejenis butiran sebesar biji kelenteng, dan mengenai kedua mayat itu dan segera tercium bau daging manusia yang terbakar, kedua mayat itu segera mencair menjadi cairan yang menggenang, dan menguap mengeluarkan asap berbau bangkai, Mung-wi sampai mundur kesamping kerana sangat ngerinya... sementara ketiga orang itu semua tertawa-ngakak.
Mung-wi tak bisa membayangkan jika butiran itu di jentikan ke arahnya dan mengenai dirinya, maka dirinya pasti akan mencair.. dia gemetar..

"Hahahaha kau takut.. belum kenal sama Ong Tee-tok?" kata lelaki itu masih tetap tertawa, gelambir dan benjolan di wajahnya, sampai tak karuan bentuknya.

Mimpipun Muang-wi tak pernah menyangka akan bertemu 'Raja Racun Bumi', yang pernah menggetarkan dunia persilatan, 10 tahun silam, yang pernah mencairkan semua Prajurit satu Karesidenan, hanya kerana anaknya di bunuh oleh salah seorang Prajurit Pengawal Karisedenan, maka semua Prajurit Pengawal Karisedenan di racun mati semua.

Cerita itu sungguh menggiriskan siapa saja yang mendengar, dan sekarang orang yang membuat siapa saja Pesilat Hek-to dan Pek-to semua segan dan memilih mengalah jika berurusan dengan Raja Racun Bumi ini.

Sekarang Raja Racun dan kedua muridnya Tok-sin Sian-li, dan Long-tee, berdiri di depannya, bisa saja gerakan salah atau salah menahan batuk atau Wahing, maka akan menjadi sebab terenggutnya nyawa, hal itu membuat Mung-wi makin tegang.

"Heemm.. Aku masih menimbang pantas tidak kau di beri hidup..." kata Ong Tee-tok, sambil menggaruk benjolan di wajahnya.
To be continued...

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image 
source;  cerita-silat.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser