-->

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-3]

SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-3]


FORTUNA NETWORKS.COM | SERIAL CERITA SILAT 'LAM BONG PEK SINKANG' [Chapter-III-3]



Chapter III, Part 3.



'
Mencari kitab yang hilang

Kebanyakan orang itu suka di sanjung-puji, dan tak sedikit yang mabuk sampai teler pada pujian, padahal jelas-jelas suatu pujian itu seperti asap, orang yang memuji telah berlalu tapi bekas tak terlihat, tapi namanya juga kesenangan, senang di puji, sekalipun tidak ada nilainya, kerana hati merasa senang-gembira, maka tidak sedikit orang yang rela melakukan apa saja, agar pujian itu selalu di dapat, bahkan membunuh orang lain.

Tapi ada juga orang yang tak senang pujian, bahkan akan rikuh dan mual jika di puji, dan orang yang tak suka di puji itu salah satunya Bohwat-kai, dia orang yang tidak suka di puji, jika di tanya alasannya, maka dia akan menjawab, di puji itu tak membuat perut kenyang. Daripada di puji Bohwat-kai akan lebih memilih di beri makan tiap hari.

Setiap orang punya alasan untuk mendukung keadaan dan tindakannya, dan alasan itu biasanya di pengaruhi oleh pola fikir dan kehidupan yang di jalaninya.

Jadi secara garis besarnya alasan yang di kemukakan itu bisa saja semua orang berbeda, dan jika kita punya alasan, maka alasan itu tidak bisa merasa alasan orang lain salah, alasan kita paling benar, sebab ya, itu setiap orang punya alasan sendiri yang di pengaruhi oleh jalan hidupnya, tak bisa orang hitam merasa paling benar kulitnya daripada orang bule-omputih, atau orang bule merasa paling benar kulitnya dari orang berkulit sawo-matang.

Kerana tidak suka di puji itulah Bohwat-kai meninggalkan kumpulan para Wang-we, dan keluar dari rumah makan.


   READ MORE


Namun baru berjalan 20an tombak, tiba-tiba hujan turun teramat derasnya, Bohwat-kai berlarian mencari tempat berteduh, tapi selalu tak cocok jika berteduh di emperan, kemudian berlari lagi, padahal berlari sekalipun juga percuma, jika larinya menghindari hujan, la pakaiannya sudah pada basah kuyup, untuk apalagi hujan di hindari.

Tapi Bohwat tetap berlari, dan sampai di depan Kuil bobrok dia berhenti, lalu masuk ke dalam kuil, yang ternyata di dalam ada seorang yang juga menghindari hujan, dan sedang menyalakan api unggun serta membakar ayam, Bohwat-kai segera saja bergabung dengan orang itu yang ternyata masih bocah,

Bohwat-kai lumayan kaget ketika melihat wajah Bocah itu, sekilas ada pancaran wibawa dari mata bocah itu yang membuat hatinya tergetar, tapi Bohwat-kai adalah orang yang terbuka, dia tak pernah mempermasalahkan apa yang di rasakan aneh di perasaannya.

Dia duduk saja ikut di samping bocah itu. dan membuka baju kumalnya yang basah kuyup, dan mendekatkan ke api, agar lekas kering.

"Maaf Aku ikut mengeringkan baju ya...!" kata Bohwat membuka pembicaraan.

"Silahkan saja, " jawab bocah itu singkat.

"Kau ini lari dari rumah?, kok ada di sini?" tanya Bohwat yang selalu kehabisan akal untuk bicara.

"Aku lari dari rumah? Aku tak punya rumah, juga tak punya orang tua, bagaimana Aku bisa lari dari rumah?" tanya anak itu balik.

"Ooohh, kau tak punya rumah, juga tak punya orang tua?, berarti sama denganku, tak punya rumah, juga tak punya orang tua." kata Bohwat-kai.

"Ya, tak sama, Aku bukan pengemis, kau pengemis, bagaimana bisa di katakan sama?" kata anak itu. yang membuat Bohwat salah tingkah, tapi Bohwat bukan orang yang mudah tersinggung.

"Maksudku sama, kalau kita sama-sama orang tak punya."

"Ya, tetap tak sama, Aku punya ayam bakar, dan kau tidak, " bantah bocah itu.

Bohwat-kai garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, dia memakai bajunya yang setengah kering.

"hheemm... Aku Bohwat, siapa namamu?" tanya Bohwat.

"Kenapa harus kehilangan akal?" tanya bocah itu.

"Bukan, maksudku namaku Bohwat-kai." jelas Bohwat. 

"Oohh, itu namamu?, Aku Bubeng-tong, " jawab anak itu yang telah.

"Haahh...! kau tak bernama, lalu orang memanggilmu apa?" Bohwat melotot heran.

"Bukan itu namaku."

"Kok aneh, "

"Ya, seperti dirimu, kau kan juga aneh namamu"

Kedua orang itu pun tertawa ramai, dan mereka makin akrab, menjadi sahabat. Sementara hujan telah reda, dan malam makin larut, tapi kedua orang itu masih duduk ngobrol, kesana kemari.

To be continued...

Editor ; HSZ/FortunaNetworks.Com
Ilustrasi Image source; tumblr.com
Follow me at;
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser