Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [36] "Selesai Tunaikan Umrah"

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [36] "Selesai Tunaikan Umrah"
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [36] "Pergi Tunaikan Umrah">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [36] "Selesai Tunaikan Umrah"


Mobil melaju dengan kencang, penunjuk kecepatan sampai mentok, yang ku suka di Arab Saudi adalah tak ada macet, jalan lurus, dan tak banyak belokan, dan tak ada jalan tol, semua jalan lebih tol dari jalan tol di Indonesia.

Jika bicara jujur, memang pemerintah Arab Saudi yang kenyataan tanahnya tandus, keunggulan melebihi Indonesia, dari yang tak ada korupsi, mobil murah kerana tanpa pajak-cukai, minyak petrol juga seRiyal dapat dua liter, berarti seliter kalau dihitung rupiah cuma seribu dua ratus rupiah, tak ada cerita pump petrol dijaga polisi, juga tak ada polisi cepek di jalan, orang paling miskin dan udik-kampungan saja punya mobil, apalagi orang kaya.

Pemerintah Arab Saudi memang sangat perhatian sama rakyatnya, tak ada dan tak mungkin orang luar bisa usaha atau membuka usaha di Arab Saudi tanpa menggunakan nama kepemilikan orang asli Arab Saudi, tak bisa orang luar bebas mempunyai tanah atau usaha. Sebab Raja tak mahu rakyatnya dijajah bangsa Asing & A Seng, yang hebat semua orang mempunyai ATM, dan wang dari kerajaan langsung sampai ke tujuan orang yang akan diberi, tanpa melewati siapapun.

Waktu bulan puasa, jadi banyak orang yang pergi Umrah, di jalan kami temukan banyak rombongan keluarga.

Malam makin larut, mobil teksi masih melaju, tiba-tiba ban-tayar meletup, untung mobil langsung keluar dari jalan raya, dan di tepi jalan hanya pasir, dan untungnya juga pas di dekat kami ada bengkel penggantian ban, di Arab Saudi itu tak ada tukang tambal ban, adanya bengkel penggantian ban, jika ban kempes, langsung diganti yang baru, dan hebatnya penggantian semua dari pencopotan baut-nut sampai pelepasan ban semua memakai mesin otomatik, jadi pencopotan sampai ban terganti ban baru waktunya paling enam menit, malah Muhsin yang ke kamar kecil, kedahuluan ban terganti dan mobil siap jalan.

Di Arab Saudi juga kepentingan rakyat soal jalan amat diperhatikan oleh kerajaan, dari banyaknya gunung yang di-bor untuk jalan tembus menjadi terowongan di lambung gunung tak terhitung, sehingga jalan bisa diperpendek tak perlu mengitari gunung, dan jalan mulus, lancar, bagus, tapi tak ada jalan tol, tak ada tarikan sana-sini, jalan antar kota, bisa ngebut sengebut-ngebutnya, tak pakai macet sama sekali.

“Ini ada dua orang TKI yang datang dari Indonesia, asalnya melalui Airport Riyad, tapi dialihkan ke Airport Jeddah.”
kata Muhsin.

“Kok bisa begitu?” tanyaku heran.

“Iya soalnya ini bersamaan banyak orang Umrah di bulan puasa, baiknya bagaimana mas?”
tanya Muhsin.

“Terus ada penjemputan dari pabrik tidak yang di Jeddah?”

“Tidak ada mas, ya harus naik bus sendiri dari Jeddah.”

“Wah, kalau seperti itu ya, rumit, TKI itu pasti tak punya wang riyal kan?”

“Iya juga Mas…, makanya aku bingung..,”

“Punya teman gak yang di Jeddah? Yang agak dekat Airport?”
tanyaku.

“Ada sih mas, coba ku hubungi.”

“Iya baiknya begitu, suruh dia membelikan tiket bus ke Jizan, pasti dua TKI itu juga belum bisa bahasa Arab, beli tiket sendiri pasti juga tak bisa.”

“Iya mas…”
jawab Muhsin, yang menghubungi temannya lewat handphone.

“Sudah mas, temanku sudah sanggup menjemputnya ke airport, dan membelikan tiket, nanti biar tiketnya diganti sama perusahaan.”

“Ya sukur kalau begitu, moga saja ndak ada halangan.”

   READ MORE

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [35] "Pergi Tunaikan Umrah"
Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [34] “Istriku Pas Nimba Air Di Sumur, Mendapatkan Belut Putih Di Timbanya.”


Jam delapan pagi kami sampai di Yu lam-lam, dan berganti pakaian Umrah, di kamar mandi antrian sampai panjang, harus sabar, kekurangan Arab Saudi mungkin tak ada toilet yang membayar seperti di Indonesia, kerana tidak bayar, maka toilet jadi tidak ada yang membersihkan, sepanjang jalan semua toilet kotor banget, bahkan tak disiram, atau dalam keadaan tersumbat, jadinya ngeri kalau ke kamar kecil, jadi harus bertahan selama perjalanan.

Ya, semua yang gratis memang tak selamanya baik, jika mungkin berbayar, toilet jadi ada yang membersihkan.

Sampai di Masjidil Haram kami segera Tawaf, dan cepat-cepat menjalankan Rukun Umrah, sebab setelah Sholat Jum’at rencana langsung pulang kembali ke pabrik, kerana mengejar waktu dengan kembali bekerja besok paginya.

Selesai tunaikan Sa’i aku cepat-cepat ke tempat di mana kami janjian, jika kami terpisah maka selesai menjalankan ibadah kami akan ketemuan di depan toko asir, tapi semua tak ada, Aku menunggu sambil duduk melepas lelah, sebentar kemudian Munif nongol,

“Mas Iyan dah selesai?”
tanyanya tiba-tiba di sampingku.

“Sudah… tinggal potong rambut.”
jawabku.

“Ini ada gunting, biar ku potong sedikit rambutmu, sebagai syarat aja.”
kata Munif mengeluarkan gunting dari tas pinggangnya.

“Iya, ini potongin. Tadi pisahan sama Muhsin di mana?” tanyaku sambil membiarkan rambutku dipotong Munif.

“Ya, tadi waktu tawaf putaran ketiga, tapi kok tadi handphonenya dititipkan ke Aku.”
jawab Munif sambil merapikan potongan rambutku.

“Lhoh, gimana to…, ya kan seharusnya handphone dibawa sendiri-sendiri, lha, kalau pisahan kita ndak ketemu gimana?” tanyaku kaget.

“Ndak tau tadi handphone nya dititipkan, ini handphone nya.” kata Munif sambil mengeluarkan Handphone nya Muhsin.

“Wadoh… gimana ini, lha, dia mau ngubungi kita pakai 
handphone siapa?”

“Lha, kamu juga mau toh Nif dititipin handphone .., harusnya kamu jangan mau.”

“Ya, fikirku dititipin handphone  juga gak berat-berat amat, kenapa gak mau…”

“Yo, bukan masalah beratnya to Nif, la kalau kita mau ngubungi Muhsin pakai handphone  siapa hayo… coba on-kan nya, kali aja dia ngubungi kita pakai handphone si sopir itu.”

“Wah gak bisa dihidupkan.” kata Munif mencat-mencet handphone.

“Oalah, 
handphone pakai di-PIN segala, jadi bikin repot banget si Muhsin” kataku yang coba membuka handphone  ternyata pakai PIN.

Satu jam menunggu, tapi Muhsin tak juga muncul.

“Nif gimana kalau kita ke mobil yang diparkir, kamu tau kan di mana mobilnya diparkir?”
usulku, yang lama-lama mumet melihat orang yang wira-wiri. “Ya siapa tau mobilnya kita bisa ganti baju, soalnya pakai baju umrah terus risi-rimas juga.”
“Iya, Aku tahu tempatnya, ayolah daripada diam…” jawab Munif yang langsung berdiri.

Kami pun berjalan menuju mobil yang diparkir berjarak tiga kiloan dari area Masjidil Haram, dalam perjalanan waktu sholat dan di tengah perjalanan waktu Sholat Jum’at pun mulai, kami berdua menjalankan Sholat Jum’at di jalan, selesai Sholat Jum’at kami sebentar istirahat tidur di rerumputan taman, lalu melanjutkan mencari mobil yang diparkir, sampai di mobil, ternyata mobil terkunci.

“Wah, bagaimana mobilnya terkunci.” kataku kecewa, sebenarnya Aku yakin kalau mobil terkunci tapi Aku berharap entah kebetulan si sopir pas kembali ke mobil.

“Gimana sekarang Nif? Kita kayak orang hilang gini…?”
“Kalau balik lagi ke tempat kita janjian ngumpul bagaimana?” tanya Munif kayak orang bingung.

“Ya, gak apa-apa, Aku jalan jauh juga dah biasa, tapi kamu sendiri yang setengah tua gitu apa ndak pegel…?” tanyaku kepada Munif yang ku lihat wajahnya memelas.

“Ya, Aku ndak pegel…, tapi kita tiduran bentar di taman tadi ya…”

“Yaah, itu namanya pegel…”

“Sudah kalau ndak kuat puasa, batalin saja…, kita kan musafir,”
kataku menghibur. “Benar-benar risih pakai pakaian umrah jalan wira-wiri, tiap orang-orang ngelihatin kita, kita jadi kayak badut, mungkin malaikat pada ngetawain kita dari atas, sampai giginya copot melihat kita jalan wira-wiri kayak orang bingung.”

“Memangnya Malaikat punya gigi? Bukannya dia gak doyan makan? Apa di tempat malaikat ada jualan bakso balungan yang harus dimakan pakai gigi, atau keripik singkong?”

“Ya,  kalau daging kurasa ada, kan Nabi Ibrahim 'AlaihisSalam waktu mau nyembelih Nabi Isma’il 
'AlaihisSalam didatangkan kambing oleh malaikat.” jawabku se-enaknya.

“Oh iya…ya. ” kata Munif.

“Eh, tidak ding… itu kambing qurbannya Habil yang dikasihkan ke Nabi Ibrahim 
'AlaihisSalam…, tapi untanya Nabi Soleh 'AlaihisSalam, atau Buraknya Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam kan juga dari alam Malaikat, berarti ada kayaknya di sana binatang.”

“Ah, bingung Aku, sudah tiduran bentar saja…” kata Munif yang segera tiduran di rumput taman.

“Nif, kamu bawa wang tak?” tanyaku.

“Bawa, tapi di ATM,” jawab Munif.

“Ya, kalau begitu kita bisa pulang.”

“Tapi Aku tak bisa ngambil.”
jelas Munif.

“Lhoh, kenapa…?”

“Aku tak tau caranya…”


“Lalu selama ini kamu ngambil gaji bagaimana? Kamu di Arab Saudi kan sudah empat tahun, masak ngambil wang di ATM saja kamu ndak bisa, wong tinggal mencet, Ah, sama dengan orang Badui Arab kamu, udik, gak bisa ngambil wang di ATM.”

“Ya, nyatanya Aku ndak bisa, Aku takut salah pencet, malah ATM nya rusak.”

“Ah benar-benar dah… apes benar kita,”

“Lha, kamu ndak punya wang di ATM?” tanya Munif.

“ATM ku kan baru jadi kemaren Nif, gajian juga belum, siapa yang mau ngisi.”

“Kamu hafal nombor-pin ATM mu?”
tanyaku.

“Ya, tak hafal, tapi Aku selalu bawa nombor pinnya.”
jawab dia sambil mengeluarkan kartu ATM yang di bungkus amplop yang ada tulisan nombor pinnya, lalu menyodorkan kepadaku.

“Aku sendiri juga belum pernah ngambil wang lewat ATM, tapi daripada bingong, mending kita coba.”
kataku meyakinkan.

“Lha nanti kalau kartuku nyangkut di dalam bagaimana?” katanya takut.

“Memang ada kayak gitu?”

“Ya ada, banyak,”

“Terus kalau kartunya ketemu orang, nanti wangku di kuras semua.”

“Kan, ada PIN nya.”

“Lha, kalau pinnya ketahuan?”

“Ah, seribu banding satu lah, nombor pin ketahuan orang.”

“Kad ATMnya dipegangi ya, atau diikat benang, kalau ngangkut di dalam kan bisa ditarik.”

“Aaah tak-tak kalau nyangkut, jadi tak kita ngambil wang, nanti kalau terpaksa kita ndak ketemu Muhsin, kita pulang pakai Bus aja.”

“Dengan pakai pakaian umrah gini, di bis apa tak diketawain orang sampai giginya tanggal?”

“Ya, tanggal juga gigi mereka sendiri, yang penting kita kan tidak mencuri pakaian umrah..” jelasku.

“Udahlah kalau dapat wang kita beli baju.”
kata Munif.

“Ya kan celana juga, ini aku ndak pakai celana dalam.”

“Ya sama…, iya nanti beli baju sama celana.”

“Ayo cari ATM.”
kataku bangkit dari tidur.

Dan kami berjalan, untung di Arab Saudi di perempatan dan di setiap gang atau keramaian ATM selalu ada, dan Aku masukkan kartu ATM di salah satu ATM.

“Hati-hati mencetnya, jangan sampai salah.”
Ku ganti bahasa dengan bahasa Inggris, walau Aku sendiri belum pernah ngambil wang di ATM, tapi nyatanya gak sulit.

“Ambil berapa?”
tanyaku ketika di dalam menanyakan wang yang akan dilakukan transaksi penarikan.

“Seribu aja dulu.” jawab Munif.

“Wah, wangmu banyak juga.”

“Iya, Aku ambil sekali kalau mau pulang, jadinya ngumpul.”
jelas Munif.

Setelah mengambil wang dari ATM kami berjalan kembali ke Masjidil Haram. Tapi baru sampai pasar di sekitar Masjidil Haram handphone Munif bunyi. Munif segera mengambil 
handphone yang ditaruh di tas pinggangnya, lalu diangkat.


“Si Muhsin..” kata Munif berbisik.

“Kamu di mana?” tanya Munif.

“Di tukang cukur.” jawab Muhsin.

“Tukang cukur di mana? Kan tukang cukur banyak.”

“Di bawah jembatan.”
jawab Muhsin.

“Ini Aku juga di bawah jembatan, jembatan sebelah mana?”

“Jembatan sebelum pasar.”


Aku yang tengak-tengok, melihat Muhsin pas di belakang Munif, hanya dipisah jalan raya, tapi kedua orang itu saling membelakangi. Aku tepuk pundak Munif, dan ku tunjukkan arah, dimana Muhsin sedang menelepon. Munif nengok dan melihat Muhsin.

“Iya, kami sudah melihat, kami akan kesana.” kata Munif.

Maka kami pun menyeberang jalan, dan bertemu Muhsin.

“Lhoh belum cukur rambut mas?” tanya Muhsin.

“Aku cukup potong sedikit, tadi sudah dipotongin Munif.” kataku.

Dan kedua orang itupun saling menyalahkan soal 
handphone, Aku hanya melihat, bagiku tersesat dan kehilangan kontak sangat penting, kerana bisa tau dan sedikit hafal jalan-jalan Makkah, sehingga suatu saat jika datang ke Makkah setidaknya sudah setengah hafal.

Dan banyak sekali hikmah yang bisa ku dapat, dan ini akan menjadi kenangan bagiku dengan temanku si Munif yang telah lebih dahulu menghadap Allah Ta'ala kerana kecelakaan di perjalanan kerjanya, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya.[]
To be Continued..

Kredit Ilustrasi Image by Doc;FortunaNetworks.Com
Follow me at;

Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser

google-site-verification=RIAY10mNu9yf2U8NesbKxCynNT6konqcto6UJBlDgQo