-->

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [37] "Berdebat dengan Pak Arab"

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [37] "Berdebat dengan Pak Arab"
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [37] "Berdebat dengan Pak Arab">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [37] "Berdebat dengan Pak Arab" 


Suara sirene polisi memberi peringatan, agar setiap mobil segera meninggalkan parkir di tepi jalan, jika tidak akan segera diderek, menandakan kami harus segera pulang, kembali ke pabrik, dan bekerja seperti biasa, dan tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Taqdir telah dalam tergurat, baik buruk siapapun tak ada yang akan tahu akhirnya, kita seperti pejalan kaki yang melintasi gelap, tak ada yang memberi cahaya kecuali Sang Maha pemberi cahaya, dan Allah Ta'ala hanya memberi cahaya pada siapa yang dikehendaki, dan kita berharap kita, khususnya Aku sendiri mengharap cahaya itu menjadi penerang di hati, memperoleh sedikit sudah cukup menjadi panduan, agar Aku bisa melewati kegelapan hidup yang penuh tipu daya, sebab ketertipuan yang halus lebih menakutkan kerana diri tidak merasa, dan selalu merasa benar walau jelas telah salah jalan, itu lebih menakutkan dari masuk ke jurang secara nyata, sebab telah jauh amal dilakukan bukan menambah kita menuju kebenaran, walau sisa umur habis sudah di perjalanan panjang yang sia-sia, tak pernah bijak memaknai sepi, dan tak pernah mengerti tujuan perjalanan yang sejati.

Sampai di pabrik, masih ada waktu istirahat, dua orang TKI sudah ada di kamarku. Kami bicara tentang cerita masing-masing, dan tentu saja rokok Indonesia kebiasaan bagi TKI yang datang dari cuti atau baru datang dari Indonesia, sebab rokok di Arab Saudi harganya selangit untuk rokok Indonesia.

Dua orang TKI baru itu bernama Yatno dan Umam.

Kerana sudah teramat lelah Aku pun tertidur. Hari-hari kerja seperti biasa, Alhamdulillah, Aku mendapat lemburan-overtime membersihkan Masjid, walau waktunya setengah hari, tapi cukup lumayan untuk tambahan membeli rokok.

Biasa jam 9 istirahat, kerana kerja di Masjid sendiri, Aku memilih tempat menyendiri untuk menulis pakai handphone N75, sambil menyalakan rokok.

“Haram… hada duhon haram…!”
seorang mutowak (kyai) membentakku. Dia seorang Arab. Maksudnya, “Haram, ini rokok haram.”

“Siapa yang mengatakan haram?” tanyaku.

“Aku.”

“Siapa kamu berani menentukan hukum tanpa dasar.”
elakku.

“Aku Kyai.”

“Kyai bukan Nabi, Al-Qur’an saja tidak mengatakan haram, bagaimana kamu mengatakan haram.”

“Aku, mengatakan haram, ya haram…”
bantah Mutowak.

“He… di mana-mana haram itu sudah jelas, Al-Qur’an juga sudah menetapkannya, zina, mencuri, mabuk-mabukan, riba, membunuh, itu sudah jelas di-nas, ditentukan oleh Al-Qur’an, kalau rokok makruh iya, kerana tidak ada manfaatnya, tapi kalau haram tidak, bahkan tak ada 'wala taqrobu duhon', jangan mendekati rokok juga tak ada, jadi jangan membuat hukum tanpa ada dasar hukumnya, kalau Allah tidak mengharamkan maka jangan diharamkan, kalau melarang dalam ruang tertentu ndak apa-apa.” kataku juga ngotot.

“Pokoknya kalau haram, ya haram, ”
Mutowak juga tak mau kalah, walau dia tak punya dasar.

“He… Aku tau kamu mutowak, dan Aku orang bodoh, tapi tidak bisa seseorang itu memaksakan kehendaknya pada orang lain, kecuali hal itu benar-benar berbahaya untuk orang lain, seperti seorang doktor melarang orang darah tinggi makan daging kambing, tapi untuk orang lain daging kambing kan bukan larangan, kerajaan saja tidak melarang rokok, lha, kok kamu melarang, sekarang kalau 'gad' (sejenis rumput yang bisa menambah stamina dan jika dikonsumsi bisa menjadikan orang yang mengkonsumsi ketagihan, dan di Arab Saudi itu dilarang sebab hampir seperti ganja, walau efeknya Aku sendiri tak tau apa bisa sakau) apa itu halal kok kamu mengkonsumsi?” tanyaku.

“Kalau itu halal.” jawab Mutowak.

“Tapi itu kan kerajaan melarang?”
“Ya itu kan urusan pemerintah.” jawab Mutowak.

“Lho, yang rokok ndak dilarang, kamu haramkan, kok gad yang dilarang kerajaan kamu makan? Bukankah firman Allah, ta’atlah pada Allah, ta’atlah pada Rasul, dan ta’at pada pemimpin kalian, bukankah itu malah menyalahi Al-Qur’an?”
“Kamu sok pintar.”

“Lhoh, itu kan sudah ada di Alqur’an, bukan Aku sok pintar.”
elakku.

“Begini saja menurutmu ayat yang menyatakan: “wa anzalna minassama’i ma’an” [dan Aku (Allah) turunkan air hujan dari langit], menurutmu ayat itu benar tidak kalau Allah yang menurunkan hujan dari langit?” tanyaku.

“Ya, benar itu kan Al-Qur’an.” jawab Mutowak.

“Nah, kerana yang menurunkan hujan dari langit itu Allah, jika yang kamu katakan benar, coba kamu berdo’a minta hujan pada Allah, kalau kamu benar tentu Allah akan menurunkan hujan dari langit, bagaimana? Aku akan berhenti merokok sekarang juga.”
kataku.

“Ya, tidak bisa seperti itu.” kata Mutowak.

Kerana di Jizan sendiri setahun memang belum tentu ada hujan, bahkan telah berulang kali dilakukan sholat minta hujan di lapangan, tetap saja panas amat terik. Dan dari Kyaiku, Aku sudah dibekali sendiri cara meminta hujan, memindah mendung, dan memerintah angin, maka aku berani menantang kyai dari Arab Saudi itu.

Walau sebenarnya Aku tak ingin apa yang diberikan Kyaiku itu untuk membenarkan atau mendukung hujahku, Aku hanya ingin orang Arab itu tidak terlalu selalu menganggap ucapan dia adalah hukum, dan kebenaran, sementara ucapan orang di luar Arab itu salah.

“Nah kamu tak berani kan? Anak kecil juga bisa ngomong ini itu, menetapkan sesuatu dengan ukuran udelnya sendiri.” kataku memanasinya.

“Coba kamu…”
kata Mutowak itu yang sudah termakan siasatku.

“Kalau turun hujan bagaimana?” tanyaku.

“Tak mungkin.”

“Benar, Aku yang berdo’a?”

“Iya, kalau turun hujan bagaimana?”
tanyaku lagi.

“Kamu boleh merokok semaumu, bebas di mana saja.” kata Mutowak itu yakin kalau aku tak akan bisa meminta hujan.

“Baik ku pegang ucapanmu.”
kataku.

Aku segera ke luar dan melihat ke jauh, di mana ada setitik mendung jauh, lalu Aku berkonsentrasi, meminta kepada Allah, memadukan dengan zikir dan do’a, juga tenaga prana, angin lima menit kemudian berhembus keras, dan mendung bergulung mendatangi, Aku tetap konsentrasi, dan menyatukan permintaan dengan kesungguhan, dan sepuluh menit kemudian hujan deras, Aku berlari ke tempat teduh, menghindari hujan.

“Bagaimana?” tanyaku pada Mutowak.

“Itu sihir…” kata Mutowak.

“Lhoh, kamu ini bisa dipegang kata-katanya tidak, jelas-jelas di Al-Qur’an,  Allah yang menurunkan hujan, ini bukan Aku yang menurunkan, bagaimana kau anggap sihir, lha, coba saja airnya disentuh, tanah basah gitu, kalau sihir mampu melakukan seperti itu, sampai tanah basah, air mengalir, wah,  hebat benar sihir itu.” kataku agak jengkel.

Memang tak ada gunanya otot-ototan sama orang Arab, sebab kebanyakan mereka memperdebatkan sesuatu tanpa dasar, dan hanya memakai dasar agar diri dianggap benar.

Aku tinggalkan Mutowak Arab itu, dan kembali bekerja.

Esoknya lagi Mutowak itu mendatangiku, dan memberikan rokok padaku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Aku hanya ingin mengatakan, kamu jangan menunjukkan kelebihanmu di hadapan orang lain, kerana kamu bisa dibawa polisi, dituduh melakukan sihir, dan akan dipancung.”
kata Mutowak.

“Lhoh, Aku sama sekali tak melakukan sihir.”

“Iya, Aku tau, tapi di Arab Saudi seperti itu tak ada, kamu memiliki Ilmu Haq, tapi di sini, Arab Saudi, seperti itu tak ada, kerajaan mempunyai Mazhab Wahabi, yang bersandar pada ibadah yang logika, masuk akal, dan wajar, jadi kalau minta hujan ya, pakai sholat Istisqo’, do’a itu ada kalanya diijabah di akhirat sana.”
“Hehehe… aneh.”

“Apanya yang aneh?”

“Coba bayangkan, kalau semua do’a minta hujan diijabah di akhirat, apakah akhiratnya tidak kebanjiran, apa itu namanya tak aneh, di akhirat bukannya orang yang masuk syurga sudah disediakan semua kelengkapannya, kalau do’a minta rezeqi diijabah di sana, Apa ndak aneh? Di syurga bukannya ndak ada orang sakit? Kalau do’a minta disembuhkan diijabah di sana, Apa ndak aneh?”
kilahku.

“Wah, kamu terlalu mengerti banyak, itu akan membahayakanmu.”

“Lhoh, bukannya itu hal yang masuk akal.”

“Ijabah Allah itu tidak mesti dalam bentuk sesuatu yang kita minta.”
jelas Mutowak.

“Iya, tapi Allah kan tidak terhalang dalam memberi ijabah.” kataku.

“Sudah-sudah Aku mumet-pening bicara denganmu, hanya pesanku, jangan kamu perlihatkan kelebihan yang kamu miliki, kepada orang lain, itu demi keselamatanmu.”

“Baik-baik…”
jawabku.

“Damai.”
kata dia mengulurkan tangannya.

“Damai.”
jawabku menyalaminya.

   READ MORE
Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [36] "Selesai Tunaikan Umrah"
Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [35] "Pergi Tunaikan Umrah"

Semua orang berpegang pada keyakinan masing-masing, sekalipun kita yakin seyakin yakinnya kepada apa yang kita yakini, maka itu untuk kita sendiri, dan semua orang berhak ada dalam apa yang diyakini, selama apa yang diyakini itu tidak mencederai keyakinan orang lain.

Sesuatu apapun itu menjadi salah atau kebenaran sekalipun jadi salah jika dipaksakan kepada orang lain. Kecuali itu telah disetujui menjadi hukum suatu negara, maka negara berhak memaksakan kehendaknya pada rakyatnya. Jika rakyat tak mau, turunkan saja pemimpin yang memaksakan kehendaknya pada rakyat itu.

Sebagai pribadi, maka tak selayaknya kita memaksakan kehendak atau keyakinan kita kepada orang lain, sekalipun apa yang kita yakini itu telah terbukti kebenarannya, cukup wa’mur bil urfi wanha ‘anil mungkar, memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, hidayah atau petunjuk itu di tangan Allah Ta'ala, jika kita telah memaksakan keyakinan diri pada orang lain, maka berarti kita telah berusaha menjadi TUHAN.

Aku amat percaya, jika seseorang berusaha menjadi Tuhan, yaitu yang memaksakan kehendak pada orang lain, supaya mengikuti apa yang diperintahkan dan dikehendakinya, maka selamanya tak akan sukses, sejak dulu banyak orang yang berusaha menekankan dan memaksakan kehendaknya pada orang lain, juga sejak dulu tak ada satupun yang berhasil, malah akan menimbulkan pertengkaran dan perselisihan baru, permusuhan yang tiada ujung pangkalnya.

Menurutku kita ikuti saja perintah Allah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita kepada kebenaran, maka kebenaran itu kita sampaikan, tak perlu menggurui, tak perlu menunjukkan diri berilmu, bahkan kadang kita tak perlu berbicara lebih, cukup menjadi contoh dan mencontohkan, "lisanul khal afsokhu min lisanil maqol", lisannya perbuatan itu lebih fasih berbicara dari lisan ucapan.

Kejernihan hati itu akan berimbas pada orang yang memiliki kejernihan itu, dan berimbas pada orang yang melihat, suatu ketenangan akan merambat menjalari hati siapa saja yang bertemu dengan orang yang kejernihan hati, seperti orang yang berdiri di tepi danau, dan akan merasa tenang ketika melihat danau yang tenang, angin yang lembut menyegarkan menerpa pipi, dan damai dengan sendirinya akan merasuk ke hati, walau dia tak menyentuh danau yang tenang itu.

Hari-hari biasa, jika sudah malam, kamarku sering didatangi teman-teman yang sekedar nongkrong, duduk ngobrol, juga banyak yang belajar internet gratis.

Yatno termasuk yang sering main ke kamarku,

“Kamu punya masalah ya No..?” tanyaku suatu hari.

“Kok tau Kang?”
tanya Yatno hairan.

“Ya, kan bisa dilihat dari wajah yang kelihatan sumpek, dan suntuk.”
jawabku.

“Aku mau nanya soal perempuan Kang…, kalau boleh.” kata Yatno.

“Lhoh, bukannya kamu sudah punya anak bini?”

“Iya kang…, tapi Aku sudah tak kumpul, dan Aku punya pacar baru..”

“Wah, jangan teruskan No…, percayalah kamu akan menyesal nantinya” jelasku.

“Wong Aku cuma bantu kang…”

“Hahaha… membantu? Aah gak usahlah banyak alasan, Aku tau semua, pokoknya ingat kata-kataku ini, kamu akan menyesal kalau kamu teruskan, nanti kalau ada apa-apa jangan minta tolong padaku loh…”
“Wah mbok sampean jangan nakut-nakuti Aku toh Kang.”
“Lho, nakuti gimana toh, sesuatu perbuatan itu ya No, jika keluar dari jalur kebenaran pasti akan celaka, menyesal, makanya kerana Aku merasa kita senasib di Arab Saudi ini, kamu Aku ingatkan, agar tak menyesal nantinya.”

“Ya… Aku jalani dulu Kang…”

“Kamu ini kok ya lucu..”

“Lucu bagaimana Kang.”

“Yang kamu jalani itu ya, apa enaknya.”

“Maksudnya Kang?”

“Kamu itu kan di sini, pacarmu di Indonesia, coba apa kamu nyentuh, nyium? Lha apa enaknya pacaran kayak gitu, kalau Aku orang gak benar, mengapa juga pacaran kayak gitu dilakuin.”

“Ah, ndak tau lah Kang..”

Mungkin di Arab Saudi itu orang kesepian, apalagi kami yang terkungkung seperti di penjara, melihat perempuan ibarat seperti barang langka, melihat perempuan mungkin kalau pas beruntung lagi pergi ke kota, itu juga perempuan yang cuma kelihatan matanya, tak tahu kalau pas dibuka ternyata perempuan tua.

Kesepian itu merajut hati siapa saja, dan memenjarakan kehendak, tentu saja seperti nafsu itu seperti kuda yang lama dipasung di kandangnya. Bahkan sebelum Aku mengajari cara berinternetan gratis, semua orang pada terseret pada penyakit telpon menelpon TKW (TenagaKerjaWanita), tiap habis kerja semua pada sibuk mojok, telpon-telponan dengan TKW, tak tau orangnya jelek, hitam, jerawatnya batunya numpuk, asal terdengar suaranya yang merdu manja, semalaman pun kuat bicara, dan kebanyakan gaji habis untuk telpon-telponan, Aku melihat merasa kasihan juga, sebab jelas semua orang jauh-jauh ke Arab Saudi bukan untuk enak-enakan rekreasi, tapi mahu memperbaiki ekonomi, mahu agar taraf hidup jadi lebih baik, lalu kok gaji habis cuma untuk nelpon cewek yang tak jelas juntrungnya, perawan apa janda, juga masih tanda tanya, juga sudah tua atau muda juga masih perlu dibuktikan, tapi semua kerana kodrat, lelaki itu memerlukan wanita, dan wanita memerlukan lelaki.

Walaupun Aku tak sampai ikut-ikutan, dan maklum akan keperluan teman-temanku mengisi sisi hatinya yang kosong, apalagi yang punya Istri mahu telpon Istri di Indonesia juga mahal, Aku maklum, kalau masih nelpon cewek, dan tidak nelpon kambing, kan, kalau nelpon kambing jadinya kan kelainan, tapi Aku juga kasihan mengingat tujuan ke Arab Saudi adalah mendapatkan wang untuk memperbaiki taraf hidup, jadinya wang dihabiskan, malah ada yang sampai habis wang 3 ribu riyal perbulan, atau tujuh juta setengah dalam rupiah, wang segitu hanya dihabiskan untuk haha-hihi dengan cewek yang tak jelas.

Kayak pemuda bernama Tony, dia selalu telpon-telponan di dekatku, sambil sayang-sayangan, suara perempuannya sih kedengaran manja merayu.

“Hei Ton…!”

“Apa Mas…”

“Kamu itu telpan telponan tiap hari, apa sudah lihat ceweknya?”

“Ya, belum Mas…”

“Setahuku cewek yang suaranya merdu begitu, apalagi mau bicara gak genah jorok gitu, biasanya jelek.”

“Ah, mana mungkin jelek, lha, suaranya saja merdu gitu.”
elak Tony.

“Lha, kenapa kamu ndak minta fotonya, dibuktikan kata-kataku, daripada sudah sayang-sayangan tak karuan ceweknya malah lebih tuwir dari emakmu, apa ndak menyesal.”

“Dia sudah ku mintai foto, tapi tak punya handphone yang ada kameranya.”

“Nah ketahuan, apalagi pakai alasan segala, sudah jelas jelek amit-amit itu orangnya.”

“Lha, kalau memang dia tak punya 
handphone yang berkamera gimana?”

“Kan, bisa pinjam handphone orang lain, bilang saja kalau tak mau memberikan kamu foto, dia kamu putusin.”

“Iya, deh ku minta fotonya lagi.”

“Sekalian bilang kalau dia ndak ngasih foto sekarang juga, kamu putus sama dia, tak mau telpon-telponan lagi.”

“Iya, ku bilang.”

Tony pun nelpon lagi, dan meminta foto, juga mengatakan akan memberi foto.

“Gimana sudah mau ngasih?”
tanyaku pada Tony yang sudah nelpon.

“Iya, setelah ku ancam mahu ku putusin dia mau, dan mau minjam 
handphone temannya.” jawab Tony.

“Nah, itu baru benar.”

Suara pintu diketuk.

“Masuk, tak dikunci.” kataku mempersilahkan masuk yang mengetuk pintu.

Ternyata Muhsin dengan temannya, yang tak ku kenal kerana bukan dari salah satu di antara pekerja pabrik simen.

“Wah, ramai sekali, pada ngumpul.”
kata Muhsin sambil masuk.

“Mari silahkan, desak-desakan,”
kataku kaerana memang kamar sudah agak penuh orang.

“Ini Mas… orang yang pernah Aku ceritakan mau minta tolong.”
jelas Muhsin setelah duduk memperkenalkan namanya Mabrur.

“Lha, ada masalah apa Mas?”
tanyaku.

“Itu Mas, Saya membeli tanah di rumah di daerah Cirebon.” cerita Mabrur.

“Terus ada apa?”
tanyaku.

“Nah itu, ceritanya begini Mas, yang punya tanah itu dulunya pernah nyupang, bekerja sama dengan sebangsa buto ijo atau apa gitu, yang jelas kan di tanah yang ku tempati itu ada pohon sawo tua, Nah sering kejadian orang lewat di sekitar sawo tuwa itu menjadi korban.”
“Maksudnya menjadi korban?” tanyaku.

“Ya, kayak tiba-tiba mati tercekik, dan orang yang ada di sekitar pohon itupun pada satu persatu mati, dan memang di dekat sawo itu juga tempat Saya mau tinggal nantinya, ini masih belum ku tinggali, sebab Saya dan Istri masih kerja di sini.” cerita Mabrur.

“Lalu…”

“Ya kalau bisa, mau minta tolong dipindahkan atau mau diapakan agar 'buto' itu tidak meminta korban lagi…”
kata Mabrur.

“Hm… ”
Aku merenung.

“Ini sudah ku mintakan orang pintar, atau paranormal untuk memindahkan  Mas, tapi tak ada yang kuat, malah ada yang sampai mati tercekik.” jelas Mabrur.

“Wah, ngeri juga ya…”
kataku asli merasa ngeri juga. Biasanya Jin kalau sudah diajak kerja sama dengan manusia memang sudah kuat.

“Iya coba nanti ku usahakan, moga-moga Allah memberi izin dan kekuatan padaku untuk mengusirnya.”

“Makasih sebelumnya.”
kata Mabrur.

“Lalu yang kedua Mas..” tambah Mabrur.

“Wah, kayak buku saja ada yang kedua, hehehe…” candaku.

“Ya, sekalian Mas, soalnya jauh-jauh sudah sampai di sini.”

“Apa itu yang kedua?”
tanyaku.

“Ini soal majikanku Mas, Aku punya majikan, nah, Aku sudah lama bekerja sama Istri di tempat majikanku itu, tapi gaji gak dikasih-kasih…”

“Siapa nama majikannya?”
tanyaku. Lalu Mabrur menyebutkan nama.

“Ya, InsyaAllah nanti ku bantu do’akan.”

Teman sekamarku namanya Safi, orang Madura, dibilang lucu ya, lucu juga, kerjanya tukang potong rambut, jadi di dalam perusahaan simen ini seperti layaknya kampung, semua bidang pekerjaan ada, dari sopir, sekurity, tukang kayu, tukang batu, tukang letrik, mekanik, sampai tukang gunting rambut juga ada, semua di bawah naungan pabrik simen, jadi orang tak perlu kemana-mana, semua sudah tersedia di dalam, bahkan lapangan bola, lapangan basket, kolam renang, juga mini market yang lumayan lengkap juga ada, dari pabrik seminggu sekali ada bus yang siap mengantar karyawan ke kota untuk belanja, dengan gratis.

Di dalam juga ada kantin, jadi mahu makan tinggal potong gaji, mahu masak sendiri juga boleh, dengan belanja sendiri tentunya.

Safi teman sekamarku itu orangnya suka bercanda. Malam-malam dia mendekatiku, sambil nelpon,

“Ada apa?” tanyaku hairan kerana dia nelpon dengan suara perempuan.

“Ssst…! Jangan keras-keras Mas, Aku lagi ngerjain mas Widji.” kata Safi,

“Ngerjain apaan?”
tanyaku hairan.

“Ngerjain nelpon dia, Aku pura-pura jadi perempuan, biar kapok, masak orang kok sukanya telponan sama perempuan.”
kata Safi.

Walau Aku mengerti maksudnya tapi Aku kasihan juga sama yang dikerjai, kerana sampai mahu mengirimi pulsa, dikiranya Safi yang memakai nama perempuan itu benar-benar perempuan, sehingga sampai malam larut masih ngobrol sayang-sayangan, juga masih perawan, sakitlah, Aku jadi tidak konsentrasi nulis di handphone.

Besoknya yang dikerjai orang lain lagi, bernama pak Bunawi, pak Widji dan pak Bunawi itu juga orang tua yang sudah ubanan, lha, heranku kok bicara yang sayang-sayangan. Anehnya lagi nanti setelah nelpon pada ke tempatku, dan cerita sama Safi kalau habis telpon-telponan sama cewek, dan sayang-sayangan, kayak anak baru remaja saja, tak tau kalau yang barusan nelpon orang yang sekarang diajak bicara, Ah, benar-benar sudah edan semua, gara-gara pada kesepian.

Aku tinggal saja mereka, lalu melepas sukma, pergi ke Cirebon ke Daerahnya Mabrur.[]
To be Continued..

Kredit Ilustrasi Image by Doc;FortunaNetworks.Com
Follow me at;
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser