Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [38] "Perempuan Itu Bernama Chintya"

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [38] "Perempuan Itu Bernama Chintya"
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [38] "Perempuan Itu Bernama Chintya">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [38] "Perempuan Itu Bernama Chintya"


Sebagian orang ingin membunuh sepi, dengan tikaman paling sederhana, lalu sepi mati dan tak pernah datang lagi selama hidupnya, tapi sebagian pejalan pencari hakikat selalu mencari sepi seperti mencari anak yang hilang, yang sangat dikasihi, yang bisa mencerai beraikan hati, sekaligus juga manautkannya. Sebab hanya dengan kehilangan yang fana, hati bisa menemukan yang kekal.

Sukmaku segera membumbung, melesat melintasi gunung batu dan malam yang membeku, laut yang mencair, dan perahu yang mencari harapan, setiap nafas itu adalah perjuangan, atau keterbuangan hembusan tanpa makna, tanpa aksara, sampai juga di satu pemakaman-perkuburan umum, dan satu makam dikeramatkan, dan orang mencari serpihan harapan yang mungkin ditinggalkan orang yang telah mati atau ditindih tipuan salah satu tipu daya dari sekian banyak tipu daya syaitan yang telah dirancang sedemikian rupa untuk menyesatkan manusia pada puncak ketersesatan.

Aku juga tak tahu kenapa Aku tertarik ke arah yang tak ku mengerti, lalu Aku melesat lagi sampai ke Masjid tua, yang lantainya dari papan kayu, yang sudah halus di-elus kaki-kaki yang mengurai harapan, dari sisi yang diyakini kebenarannya, ku lihat orang ramai sholat, Aku sekalian mengambil wudhu' dan ikut barisan jama’ah, sekalian sholat Isya’ yang belum ku tunaikan.

Tak ada seorangpun yang melihatku, selesai sholat Aku mengkonsentrasikan tujuanku, tapi Aku malah terseret ke arah air terjun kecil, lalu baru melesat lagi dan berhenti di dekat sebatang pohon sawo tua, ku lihat para Jin lebih tinggi dari pohon sawo tua, mungkin tingginya ada sepuluh meter lebih, Aku mengitarinya dengan melayang di udara.

Ku lihat tubuhnya biru tua, bukan hijau, tapi biru ke arah ungu, matanya merah menyala, tak ada taring, tapi lengannya sebesar pohon kelapa, Aku yakin perwujudannya seperti itu kerana sifat yang dimilikinya, bibirnya basah oleh darah, entah darah siapa, tiba-tiba tangannya mengibas menyerangku, Aku menghindar, dan berkali-kali Aku diserang, Aku berkelit-mengelak seperti burung sri-gunting, meliuk di antara ketiaknya yang bau bangkai, dan membuatku merasa mual mahu muntah, Aku mencoba mengitarinya dengan ikatan ghaib tak terlihat yang ku bangun dengan lafaz Ba’, seperti jaring laba-laba, berulang kali ku kitari tubuhnya, dan setelah dengan susah payah ku ringkus, Aku menyeretnya, ku seret sepanjang perjalanan, dia menyumpah-nyumpah dengan loghat Bahasa Sunda yang tak ku mengerti, ku seret terus sampai di pinggir air terjun. Dan ku ikat kuat-kuat di akar-akar pohon yang menjuntai. Lalu ku pukul telak dengan petir yang ku bayangkan tercipta dari takbir, dia pun pingsan.

Lalu Aku pun melesat pergi lagi. Setengah jam ku tempuh perjalanan jauh, dan sampai di tubuhku, kamar telah sepi, Safi telah tertidur sambil mengigau-ngigau, Aku pejamkan mata, mengucap syukur, Allah Ta'ala telah mempermudah dan memberi izin tugasku. Dan aku berangkat tidur, setelah ku lihat jam di meja menunjukkan jam dua dini hari.

Jika segala masalah selesai semudah pembuat roti mencampur tepung membuat adonan roti, dan semangat kerana hasil akhir yang diharap kenikmatan merasakan setiap gigitan, walau nafsu itu se-sepele makanan melintasi lidah dan semua telah tak bisa dibedakan jika telah dikeluarkan, nilai nafsu sebenarnya tak se-bernilai ketika dibanding perjuangan memuaskan kepuasannya.

Perjuangan yang meneteskan setiap keringat dari pori-pori, dan dinikmati lebih cepat dari kedipan mata, dan selalu rasa bosan itu me-raja lagi, sekalipun seorang lelaki jatuh bangun memperjuangkan gadis yang siang malam dimimpikan, tak akan lama juga akan bosan jika telah diraihnya.

Dan jika hal itu tidak juga disadari, maka manusia hanya mengulang-ulang kisah yang sama di waktu dan kondisi yang berbeda.


 Toni masuk kamarku dengan wajah yang tak bersemangat seperti biasanya, bahkan ku candai dia tak tertawa.

“Kenapa, kok murung amat..?” tanyaku datar, sambil memainkan game Bubblet.

Arif, Ibnu, Heri, Fathur, menyusul masuk, semua pada tertawa ngakak.

“Ada apa kok pada ketawa?”
tanyaku hairan.

“Ini mas, si Toni sudah dapat foto dari perempuan yang diajak telpon-telponan.” jelas Arif.

“Bener Ton? Coba sini aku lihat…!”
kataku.

“Udah ku hapus.” jawab Toni.

“Hahahahah… jelek banget mas..” sela Ibnu.

“Lebih jelekan dari Kunti, ampun deh, tua, monyong, hitam, Aku malah jadi merinding melihatnya, hahahaha…” canda Arif.

“Ah yang bener, apa separah itu…? Coba mana Ton…”
Toni mengulurkan handphone lipatnya, lalu ku buka..“Di mana kamu nyimpannya?” tanyaku.

“Ya, masih di inbox sms.” jawab Toni..Ku buka inbox dan memang perempuannya jelek banget, sudah hitam, gemuk, mulutnya kayak omas, rambutnya dilepas memang kelihatan seram.

“Ya kan ada baiknya Ton, kamu tahu sebelum terlambat, setidaknya kamu kan tidak sayang-sayangan setiap malam, sudah habis pulsa banyak, eeh, taunya perempuannya kayak gitu, Emakmu saja tak bakal redho kamu kawin sama orang kayak gitu.” jelasku.

“Diikat di bawah ranjang untuk nakutin tikus Mas…”
canda Ibnu.

“Ah itu pasti bukan foto asli.” bantah Toni...Semua terdiam, memang bisa jadi bukan foto asli.

“Ya, untuk membuktikan kan mudah, misal itu foto orang lain,” kataku.

“Caranya bagaimana.?”
tanya Toni.

“Ya bilang ke perempuan itu, kalau itu bukan foto asli, lalu minta foto baru, foto yang setengah telanjan*, atau telanja*g sekalian, jika itu yang di foto orang lain, apa mungkin mau diminta foto telanjan*?”
“Terus kalau dia tak mau?” tanya Toni.

“Ah, gampang itu Aku yang atur, dia pasti mau, ya maksudku, biar jelas sekalian, daripada wang kamu habis untuk hal yang tak karuan juntrungnya, telpon-telponan sama cewek melulu, Aku dengar saja telinga rasanya gatal…”
“Lalu caranya bagaimana?” tanya Toni.

“Sekarang kamu telpon saja, minta foto yang baru, untuk membuktikan foto itu asli, maka kamu minta foto yang setengah telanja*g, atau yang telanjan*.” jelasku.

“Kalau dia tak mau?” tanya Toni.

“Ya, langsung saja tutup handphonenya…, nanti kalau dia nelpon lagi biar Aku yang jawab.” jelasku. Sudah ku jamin dia mahu ngasih foto yang telanja*g. Memang Aku kalau lagi ngacau, lebih ngacau dari siapa saja.

Toni menelpon, dan pasti jawabannya perempuannya marah-marah, dan tak mahu memberi foto telanja*g. Toni menjawab akan memutuskan hubungan. Handphone ditutup sama Toni.

Aku kasihan sama Toni, dia sudah 4 tahun di Arab Saudi, dia kerja di Arab Saudi kerana ibunya bekerja jadi pembantu di rumah manajer pabrik simen, makanya dia walau umurnya di bawah duapuluh tahun tapi bisa bekerja di pabrik simen, tapi gara-gara telponan sama TKW (Tenaga Kerja Wanita), gaji bulanannya ludes habis, bukan masalah membeli pulsa-topup, tapi TKW yang selalu ngajak telponan selalu minta dikirimi pulsa, kalau ndak ngirim akan diputuskan, Ya, anak muda seumuran Toni ya, jelas susah melepaskan kesenangan walau cuma mendengar suara cewek yang mendesah-desah.

Sebab kadangkala orang yang kesepian cenderung dibisiki syaitan sampai mempunyai kelainan khayalan. Dari mendengar desahan saja bisa membangkitkan birahi, Ya, ujung-ujungnya melakukan onani yang merusak badan dan fikiran, sekalipun Aku tak bisa menghentikan kebiasaan buruk orang-orang itu, setidaknya Aku berusaha. Bahkan dari usaha yang buruk sekalipun, jika tidak tercatat sebagai amal baikku di sisi Allah Ta'ala, tak apa-apa, asal teman-temanku bisa utuh wangnya, bisa mengirimkan kepada orang yang lebih berhak, yaitu Istri dan Anak atau keluarga mereka. Bukan diberikan kepada orang yang bicara di handphone yang ah-uh-ih tak karuan.

Lama juga kami menunggu handphone Toni bunyi lagi, tak juga bunyi. Safi masuk, sambil nelpon dengan suara perempuan, semua tertawa.

“Fi… sudah kasihan, jangan seperti itu, matikan handphone nya.” kataku. Safi segera mematikan handphone nya.

“Coba panggil pak Bunawi ke sini…”
kataku pada Arif. Yang segera beranjak ke kamar pak Bunawi.

Sebentar kemudian pak Bunawi muncul disertai Arif..“Pak Bun… pak Bun suka telpon telponan sama cewek ya?” tanyaku pada orang tua berumur 55 tahun itu.

“Ah, tak juga…” jawab pak Bun.

“Hey, pak Bun, cewek yang pak Bun telpon, dan pak Bun kirimi pulsa itu bukan cewek beneran.”
kataku.

“Tidak kok itu cewek, kami malah mau ketemuan kalau Aku cuti nanti, kami mau ketemuan di Indonesia.”
jawab pak Bun.

“Wah, bisa pedang ketemu pedang, gini pak Bun, yang pak Bun telpon itu sebenarnya Safi.”
jelasku.

“Lhoh, kok bisa nombor cewek itu ada di Safi?” tanya pak Bun tak mengerti.

“Bukan nombornya ada di Safi, tapi itu ya Safi itu…” jelasku..“Coba Saf, kamu telpon pak Bun biar Aku tak banyak menjelaskan.”
Safi pun menelpon pak Bun, dan handphone pak Bun pun bunyi tanda ada telpon masuk, lalu diangkat oleh pak Bun, dan Safi bicara dengan suara perempuan, pak Bun gemetar

“Bagaimana pak Bun? Sudah percaya dengan ucapanku? Sudahlah kembali ke tujuan awal, ke Saudi itu untuk mencari wang jauh-jauh ke Saudi, tapi malah pulang tidak bawa wang, hanya habis untuk telpon telponan, mendingan pulang, kerja kumpul keluarga, biar pendapatan sedikit asal berkah, daripada sudah jauh dengan Anak, Istri, tapi malah hati tak tenang, namanya tak kuat cobaan dan ujian.”
kataku dengan halus menjelaskan.

Pak Bun salah tingkah, ya tak apa-apa daripada terlanjur kemana-mana, Aku harus menjelaskan kebenaran, semoga nantinya dijadikan pelajaran, walau Aku sendiri tak berharap banyak, sebab kebanyakan manusia selalu kalah oleh nafsunya.
Hanya orang yang selalu sadar, dan ingat akan selamat, "eleng lan waspodo", sebab tipuan nafsu itu memang sulit dilawan, nafsu itu seperti duri dalam daging ikan, jika tanpa duri, nyatanya ikan itu perlu duri, tapi jika memakai duri maka ikan akan sulit jika mau dimakan.

Seperti tulang di tubuh manusia, jika tanpa tulang, jelas manusia itu akan lemah seperti plembungan kempes, jadi memerlukan tulang, tapi kerana ada tulang maka manusia jadi patah tulang dan kalau dipukul jadi benjut.

Nyatanya manusia itu perlu nafsu, agar punya semangat hidup, mengejar bayangan yang ingin diraih, tapi juga kerana nafsu manusia punya sifat pembun*h dan suka menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diharapkannya.

Suara handphone Toni bunyi, dan dilihat ternyata ceweknya itu yang nelpon, namanya sih keren, 
Chintya, Aku angkat.


“Halo mas Toni…” suaranya mendayu-dayu kayak ayunan.

“Maaf mbak ini siapa?” tanyaku.

“Mas Toninya ada?”
“Ada mbak, ini lagi dipegangi teman-temannya.” jawabku asal sambil memberi isyarat jari agar yang lain jangan ribut.

“Memangnya kenapa?” tanya dari 
Chintya.


“Tak tau mbak, tadi ngamuk-ngamuk, pelernya sendiri dipukul-pukul pakai batu bata, sampai setengah hancur.” jawabku ngawur. “Ini juga dipegangi berusaha berontak, maunya katanya hancurin pelernya sendiri, tadi sih, bilangnya sedikit-sedikit katanya biar tak dimiliki perempuan, tak tau maksudnya apa, kasihan juga, dia jerit-jerit…” ku kasih isyarat pada yang lain agar membantu membuat suara gaduh.

“Pegangi tangannya, jangan sampai narik pelernya lagi.” kata Arif.

“Kakinya-kakinya jangan dilepas…” kata Safi.

“Darahnya itu jangan netes di kasur ya.” kata Ibnu.

“Aduuuh, lepas… lepas… biar aku mati saja.” kata Toni.

Suasana jadi ramai, ada yang menggebrak meja, ribut amat, macam menangani orang gila yang lepas...“Percuma aku hidup..” kata Toni.

“Awas dia mau gigit lidahnya, ganjel giginya dengan sepatu.” kataku menambahi.

“Mas…! Maass.. ada apa sebenarnya?” kata 
Chintya panik.


“Ya, tak tau tadi habis telponan kok jadi kayak orang kerasukan, apa tadi nelpon minta apa ke ceweknya tak dikasih, jadinya setengah edan gini…. ambil tambang ikat di pohon..” kataku seakan mengalami hal yang sebenarnya. Di selingi teriakan semua temanku ramai, padahal kami lagi nongkrong santai di dalam kamar.

“Iya… iya mas bilang Aku mau ngasih apa yang dia minta, jangan menyiksa diri.” kata 
Chintya panik.


“Mau ngasih apa mbak?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Ya, sudah pokoknya bilang sebentar lagi ku kirim..” jawab Chintya.

“Oh iya mbak akan ku kasih tahu, heey Ton… sudah jangan ngamuk, mbak ini mau ngasih apa yang kamu minta…. heey, jangan biarkan Toni pegang bata itu… ambilkan obat merah.” kataku. Dan handphone 
Chintya dimatikan.


Sungguh sandiwara yang aneh… memang sesuatu yang serba bayangan harus menyelesaikannya dengan bayangan...Sepuluh menit kemudian ada kiriman MMS masuk di handphone Toni, dan tetap foto wanita itu yang terkirim dalam keadaan telanja*g.

“Nah, sekarang bagaimana Ton, apa mahu dilanjut, kamu kirim pulsa ke cewek itu, atau mau kamu nikahin atau bagaimana, sekarang sudah ku tunjukkan kenyataan.”
kataku mengingatkan.

“Rasanya masih tak percaya kalau dia sejelek itu, padahal suaranya merdu habis.” kata Toni lemah,

“Dunia itu tak sesederhana itu Ton, dalam agama saja seorang lelaki tak harus asal cantik saja mencari pendamping hidup, Nabi Shallahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan, kalau mencari pendamping hidup yang bernasab, Nasabnya baik, bukan anak zina yang tidak jelas bapaknya, juga kalau bisa yang kaya, kalau bisa yang cantik, dan kalau bisa yang sempurna agamanya, kalau cantik terus ditinggal sebentar sudah dibawa kabur lelaki lain kan juga makan hati. Jadi cari yang jelas, jangan yang cuma lewat handphone, moroti wangmu, kan wang kamu bisa dibelikan sawah, nanti pulang dari Arab Saudi bisa digarap sawahnya atau digarapkan orang lain, atau dibelikan lembu atau kambing, disuruh orang yang menjaganya, nanti kan bisa dijual, daripada kamu kasihkan orang yang tak jelas gitu… apa kamu mahu di Arab Saudi sampai tua?”
“Iya mas…, memang Aku sudah habis banyak,”
“Iya, kamu kirimi dia pulsa tiap hari, dia jual pulsa itu pada temannya di sana, insaf, mendingan nanti pulang cuti, nikah sekalian.” kataku.

“Iya, Terima kasih Mas…, mungkin kalau Mas tidak mengingatkan, Aku akan makin habis-habisan.” kata Toni.[] To be Continued..

Kredit Ilustrasi Image by Doc; FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser