Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39] "Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-1

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39] "Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-1
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39] "Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39] "Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-1

Pabrik simen punya tiga cabang tempat, yang dua ada di daerah Bissa, dan Tahamah. Dan ketiga pabrik itu penulis kaligrafinya cuma Aku. Jadi satu saat bisa saja Aku dikirim ke Bissa atau ke Tahamah. Di Bissa menurut teman-temanku, Daerahnya dingin, jadi biasanya yang pulang dari sana bibir akan pecah-pecah, dan kulit ari pada terkelupas, kerana hawa dingin dan matahari terik, jadi orang kayak kena penyakit panas dalam.

Pabrik simen punya tiga cabang tempat, yang dua ada di daerah Bissa, dan Tahamah. Dan ketiga pabrik itu penulis kaligrafinya cuma Aku. Jadi satu saat bisa saja Aku dikirim ke Bissa atau ke Tahamah. Di Bissa menurut teman-temanku, Daerahnya dingin, jadi biasanya yang pulang dari sana bibir akan pecah-pecah, dan kulit ari pada terkelupas, kerana hawa dingin dan matahari terik, jadi orang kayak kena penyakit panas dalam.


Sedang di Tahamah adalah pabrik baru yang baru dibangun, juga baru selesai, jadi amat memerlukan banyak tulisan kaligrafi, entah untuk pintu kantor, nama-nama manager dan nama Vila, sampai papan rambu jalan.

Sepertinya dalam waktu dekat Aku akan dikirim ke Tahamah, teman sepenerbanganku sudah dikirim ke Tahamah, namanya juga pabrik baru, jadi segala fasiliti belum selengkap pabrik lama, Aku akan sering dikirim untuk mengerjakan pekerjaan kaligrafi, dengan sistem kirim dan balik lagi, tak seperti yang lain tinggal menetap. Memang resiko pekerjaan, kerjaan ringan tapi wira-wiri.

Muhsin datang ke kamar, sambil menenteng beg kresek (beg plastic).
“Ini Mas ada titipan dari Mabrur, dia tadi siang main ke tempatku, dan mengucapkan terima kasih kerana masalahnya sudah beres.” kata Muhsin.

“Oo ya, syukur kalau begitu.”

“Saya juga mahu mulai puasa, Mas.”

“Ya bagus, puasa itu untuk tempat lahan ilmu, puasa itu untuk membersihkan tanah hati, jika mahu ditanami ilmu, maka puasa, seperti tanah mau ditanami padi maka dibersihkan dari rumput dan batu, juga dicangkul, agar diperolehi kesuburan yang didapat, biji-biji fadhilah dari Allah Ta'ala, akan tumbuh dengan subur, lalu disiram, dipupuk-dibaja dan di-istiqomahi dengan zikir, bila mulai puasa?” tanyaku kemudian.

“Baiknya bila Mas?” tanya Muhsin.

“Bila-bila saja tak masalah, ingat ikhlaskan dalam menjalankan, jangan punya pamrih apa-apa, jangan punya keinginan ingin bisa sesuatu, laksanakan zikir kerana memenuhi perintah Allah Ta'ala, "Wazkurullaha katsira", Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, banyak menurut Allah tak terbilang menurut manusia, di akhirat saja sehari sama dengan lima ratus tahun di dunia, dan jangan mengeluh waktu zikir, jangan membuat kalkulasi, zikir segini selesai segini jam, sebab dalam zikir itu tak bisa dikalkulasi, hitungan penetapan itu hanya agar seseorang itu istiqomah, walau di dalamnya menyimpan banyak rahasia, tapi jangan mengkalkulasi zikir dengan hitungan jam dan ketetapan waktu, sebab Allah Azza Wa Jalla, sendiri membuat penekanan, "Wayarzuqhu min haisu la yakhtasib", Allah Ta'ala memberi rezeqi dalam artian umum, sebab rezeqi itu bukan cuma harta, tapi juga waktu, kesempatan dan berbagai macam, itu dengan arah yang tak dapat diprediksi, dihitung, dihisab, makanya ada istilah "ta’yul wakti", atau "melipat waktu", seperti Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, 'Mi’raj' ke langit tujuh sampai 'Sidhrotul Muntaha', hanya memerlukan waktu satu malam",

"Jikalau di perhitungan dengan ilmu paling canggih di zaman ini, mungkin langit satu saja perlu waktu jutaan tahun perjalanan kecepatan cahaya baru sampai, cahaya matahari yang sampai ke bumi bukan cahaya yang di hari ini, tapi cahaya yang ribuan tahun silam, makanya kalau sudah unsur Allah Azza Wa Jalla, maka tidak bisa dihitung dengan perhitungan manusia, sebab Allah Ta'ala itu menjadikan yang mustahil di pemikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata, kalau diri masih eyel-eyelan dengan kekuatan akal sendiri, maka tak akan keluar dari kemusykilan, sebab masih menyandarkan pada kekuatan akal sendiri, jika mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala harus mahu menutup indera, dan biarkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan 'Nur Makrifat kefahaman" pada hati, dan menjauhkan diri penyandaran pada akal,” kataku panjang lebar.
“Iya… InsyaAllah Mas, mohon bimbingannya.” kata Muhsin.
“Jika menemui hal aneh, misal mimpi ditemui oleh orang berjubah putih, ingat jangan mudah tertipu oleh rupa-rupa syaitan, orang Arab juga semua berpakaian putih, lalu mimpi ketemu orang berpakaian putih misal kamu kemudian sampai disuruh ini, diperintah itu, maka kamu nurut, berarti kamu telah disesatkan.” kataku.

“Lho, kok bisa Mas, misal Aku disuruh membaca Al-Qur’an, apa Aku juga disesatkan, kan itu membaca Al-Qur’an.” kata Muhsin.

“Iya itu disesatkan, kamu sendiri tahu kan, orang ibadah itu bagaimana, niat sholat itu bagaimana, niat puasa itu bagaimana? Kan ujungnya 'Lillahi Ta’ala', kerana Allah Ta’ala, lha kok, kemudian kamu menjalankan bacaan Al-Qur’an kerana diperintah oleh orang yang kamu temui di dalam mimpi yang berjubah putih, bukankah kamu membaca Al-Qur’an berarti kerana perintah orang dalam mimpi itu, bukan menuruti perintah Allah Ta'ala, faham tidak..”

“Oo ya…ya.. baru Aku berfikir kesana…”

“Ingat namanya ikhlas dalam Thareqoh itu, tak menganggap ibadah yang kita jalankan itu perbuatan kita sendiri, tapi itu adalah perbuatan Allah Azza Wa Jalla, sebab semua tubuh, jiwa, ruh, hati dan sampai kita bisa bergerak dan melakukan ibadah dengan cara dan ilmunya, itu tidak ada lain atas izin, kesempatan dan kekuatan Allah Ta'ala yang diberikan pada kita, sehingga tubuh mati kita bisa hidup dan bergerak melakukan ibadah, maka ibadah itu secara hakikinya bukan perbuatan kita, kerana bukan perbuatan kita, maka tak selayaknya kita mengharap balasan, Nah, baru amal itu bernilai, dan patut mendapat balasan yang setimpal.”

“Jika wirid, upayakan hati berzikir, zikir itu ingat dan zikir itu hanya Allah dan nama-namanya, 'Wazkurullah, ala bizikrillahi', jadi semua berhubungan dengan Allah, dan zikir itu di hati secara umumnya, dan di latifah-latifah secara penempatannya, cukup ketika wirid itu hati menuliskan lafaz Allah, dan memegangnya dan menahannya dalam dada, sampai dada itu terasa pecah dan mengalirkan cahaya Ilahiyah, serasa dingin seperti aliran air dari kulkas-freezer, mengaliri seluruh urat, dan menenangkan, menunjukkan hati telah mulai subur, setiap waktu cahaya makrifat itu menyinari hati, tapi jika hati penuh oleh keinginan nafsu, maka cahaya makrifat itu berlalu tanpa efek sama sekali, seperti kita bercermin di kaca, sementara kaca tertutup berbagai macam barang, itu seperti ketika cahaya makrifat melintas di hati dan hati tertutup berbagai keinginan nafsu, maka ada ilham yang sampai di hati tak terbaca.” kataku..
“Hm… iya mas..”
[] To be Continued..

Kredit Ilustrasi Image by Doc; FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser