-->

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [2]

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [2]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [2]">

FORTUNA NETWORKS.COM| Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [2]

NOVEL PART 2, RENI HAMIL

Mas Ranto yang seorang Dosen-Lecturer dan Mbak Ismi harus kembali ke rumahnya.

Sedangkan Mas Argo seorang pengacara-Lawyer dan Mbak Ika yang Dokter gigi masih satu minggu lagi cuti-nya.

Mas Beni dan Putri yang tinggal di luar pulau memang ambil cuti selama dua puluh hari.

Kata Mas Beni, si Hendrik menginap satu malam di Balai Polis.
Sejak keluar Hendrik  tidak hentinya menelphone, sms, kirim foto kamar dan ruangan rumah lewat WhatsApp.

"Reni, kamu tidak rindu rumah?"

"Reni, Aku masih sayang kamu, ayo pulang."


"Reni, Aku rindu, ayo pulang,"


Dan banyak sms yang dikirim Hendrik, membuat Reni pun bimbang dengan perasaannya, dia pun punya rasa rindu.

"Reni sini nak, Ibu sama Bapak mau bicara," panggil ibunya.

"Ya Buk, ada apa?"

"Kamu kefikiran Suamimu ya? Ibu mau cerita, kamu tahu tidak alasan Ibu melarang kamu menikah sama Hendrik?"

"Kerana Aku masih kuliah? Ibu maunya aku selesai kuliah dulu!"

"Ada lagi penyebab lainnya, selain umur kamu belum genap dua puluh tahun, kamu ingat yang waktu kamu sakit terus Ibu harus datang ke kost- kamu malam-malam."

"Iya Ibu naik mobil rental, kenapa memang, apa hubungannya dengan Hendrik?"

"Ingat kan hari itu lagi ada tawuran-bergaduh besar, dan ada penjual mi goreng yang dapat bacok? Ibu melihat dengan mata Ibu sendiri, pelakunya si Hendrik,"

"Ibuuuuuu! Seriuuuus?" tanya Reni sambil membekap mulutnya kerana kaget.

"Ibu tidak akan main-main dengan hal itu, saat masuk berita para pelaku ditangkap, Ibu tidak melihat Hendrik di sana,"


"Kemudian besoknya Hendrik jenguk kamu di Hospital, kamu langsung tahu kan, kalau Ibu tidak suka, waktu itu pun Hendrik masih nganggur belum ada kerjaan,"

"Iya Bu, maaf," Reni tertunduk mengingat setiap kejadian di masa lalu.

Perkenalannya dengan Hendrik, kerana kampus Reni dekat dengan rumah Hendrik, tiap berangkat atau pulang, akan melewati "Warung Mie Ayam" punya Ibunya Hendrik.

Kata Ibunya Hendrik, sejak pacaran dengan Reni, dia jarang lagi pulang pagi, bahkan mau cari kerjaan.

Tapi Reni ingat, pernah suatu waktu Hendrik, mabuk dan menggedor pintu kostnya malam-malam, kerana cemburu Reni terlalu dekat dengan teman lelakinya.

Yah, sejak pacaran dengan Hendrik, Reni memang tak bebas lagi seperti dulu, mau kerjakan tugas mau apapun harus izin sama Hendrik, tapi rasa cintanya menutup semuanya.

"Ren, Reni," panggil ibunya.

"Eh eeee, iya Buk, kenapa?"

"Kok malah melamun, eh, Ibu mau tanya, kamu terakhir menstruasi bila?"

"Bila ya, lupa Bu bulan lalu sepertinya, kerana puasa kemarin Aku lunas tiga puluh hari," jawab Reni dan tiba-tiba terkejut.

"Ibuuuuuuu, jangan-jangaaaan," Reni pun berkaca-kaca mau menangis.

"Coba kamu test dulu, ini si Putri tadi malam sudah beli, sana kamu test dulu,"

"Kok Ibu bisa tahu?" tanya Reni penasaran.

"Kerana Ibu yang melahirkan kamu nak," jawab Ibu sambil menangis.

"Ibuuuuuuuu, Aku positif hamil," teriak Reni dari dalam kamar mandi.

Sementara Bapak, Ibu, Mas Argo dan Mbak Ika, juga Mas Beni dengan Putri tak bisa berkata-kata.

Dua tahun Reni menanti kehamilannya, tapi di saat dia nekad mau tinggalkan Hendrik, Allah Ta'ala justru kasih dia hamil.

Ibu Reni menangis, tidak tau nasib apa yang akan menimpa anaknya nanti.
Dengan suami yang seperti itu, terkadang baik tapi terkadang meledak-ledak.

Begitu keluar Reni langsung telephone Hendrik, ,

"Mas Aku hamil," kata Reni tanpa sadar kalau dia sedang berantam.

"Apaaa!!! Kamu hamil? Kamu selingkuh ya, Awas kalau Aku tahu lelaki itu aku bunuh kalian berdua," teriak Hendrik.

Tentu saja membuat Reni kaget, padahal berapa hari ini sikap Hendrik, baik sekali, berkali-kali minta dia untuk kembali.

Reni langsung masuk kamar, menangis sejadinya, dia meratapi nasibnya, menyalahkan dirinya sendiri yang menikah tanpa restu, yang lari dari Suaminya.

Ibunya hanya menangis melihat Reni, sementara Putri langsung masuk ke kamar Reni dan menenangkannya.

"Reni, sabar jangan menyalahkan diri begitu, kamu harusnya bersyukur, akhirnya bisa rasakan hamil ya kan?"

"Tapi Hendrikmenuduhku selingkuh Putri, dia tidak percaya ini anaknya!!" tangis Reni.

"Sudah nanti kita bicarakan baik-baik, yang penting kamu jaga kandungan kamu, lihat nih, perutku yang lagi hamil lima bulan, kamu akan rasakan juga, jadi nikmati jaga kesehatan, senangkan dirimu ya!" kata Putri lagi sambil memeluk Reni.

"Makasih ya, Putri,"


"Anteeeee Weniiiii, siniiii," teriak Carren sama Leon anak-anak Mas Argo.

"Aunty Reni, ayook kita jalan-jalan biar Anty tak sedih, kan sebentar lagi kami mau pulang, jadi kami mau senangkan hati Aunty Reni, ya ya ya mau ya?"


Reni yang melihat sikap lucu kedua keponakannya pun tertawa, sejenak melupakan rasa gundah di hatinya.

Menggunakan dua mobil, mereka pun jalan-jalan ke pantai yang dekat dengan rumah mereka, hanya satu jam perjalanan.

Sesampai di sana, mereka bertemu dengan keluarga Bu Fatimah, teman kerja bapaknya Reni dulu di kantor pemerintahan.

"Waaah ini si Argo, sama Beni ya, waaah ini si Reni, berapa tahun ya Pak kita tidak bertemu?" kata Bu Fatimah.

"Sejak Ibu pindah ke Sulawesi waktu Ranto SMA," kata Pak Sudrajat.

"Iya ya sudah lama, lah si Ranto mana?"

"Sudah pulang kemarin, dia sekarang dosen,"

"Wah, kita jadi kelihatan tua ya Pak," canda Bu Fatimah.

"Oh ya Pak, kenalkan ini anak saya yang pertama Syahrul, sudah nikah kerja di Papua, yang kedua Farid sudah nikah juga, kerja di kantor yang sama dengan saya,"

"Nah ini yang ke tiga Arman, baru lulus setahun lalu, dia kuliah di sana (satu kampus dengan Reni ) dan sekarang sedang apprentice di sini Pak," jelas Bu Fatimah.

"Pak Sasmito mana, kok Saya tidak lihat dari tadi," tanya Pak Sudrajat.

"Suami Saya sudah kawin lagi pak, sejak Arman lahir dia sudah tidak menafkahi kami," suara Bu Fatimah bergetar.

"Yang penting anak-anak sudah besar, sudah jadi anak yang membanggakan ya toh," kata Ibu Reni membesarkan hati.

"Iya Bu Drajat, kadang Saya kalau mau ingat yang dulu-dulu suka sedih bawaannya, tapi kalau lihat anak-anak sudah kerja, sudah besar-besar, Saya jadi bersyukur,"

"Iya Bu, kita hanya bisa bersyukur," jawab Ibunya Reni sambil melihat ke Reni.

"Ngomong-ngomong itu Reni sama Arman kita jodohkan saja yuk, kita besanan," kata Bu Fatimah sambil tertawa.

"Laaah si Ibu, ngejodohin anak, kayak nempelin stamp saja," kata Pak Sudrajat sambil tertawa.

Sementara Arman tampak malu-malu sedang Reni pura-pura tidak mendengar dan berjalan ke arah pantai.

"Arman sana kejar, ajak kenalan," 

"Maaf Bu, sebenarnya Reni sudah menikah, walaupun sekarang sedang ada masalah sama suaminya," kata ibu Reni menjelaskan.

"Oh belum resmi cerai ya? Mungkin belum jodoh, tapi siapa tahu setelah Reni resmi cerai mereka berjodoh hahahaha, kan kita tidak tau rencana Allah ya kan, kita ketemu di sini saja menurut Saya itu sudah tanda-tanda mereka berjodoh,"

Bapak dan Ibu Reni hanya tersenyum, sementara Syahrul dan Farid hanya tertawa menanggapi sikap ibunya.

Beda dengan Argo dan Beni yang merasa ada yang aneh dengan sikap Bu Fatimah, dan keinginan mereka untuk menjaga adik perempuan satu-satunya, membuat mereka pasang muka tidak suka.

Sementara itu Reni dan Arman nampak ngobrol serius.

"Kamu masih ingat aku?" tanya Arman.

"Masih,"

"Bagaimana khabar suamimu?" 


"Kami lagi bergaduh," suara Reni terdengar serak, kerana menahan airmata.

Arman adalah abang tingkatannya, dia dulu banyak membantu Reni waktu masih baru kuliah, mereka ambil jurusan arkitek.

Mereka cukup dekat sampai banyak yang menyangka mereka pacaran, walaupun Reni hanya menganggap Arman sebagai abangnya, tidak lebih dari itu.

Arman pun tidak keberatan dengan sikap Reni, baginya bisa dekat dengan gadis yang di sukainya itu sudah cukup.

Sampai akhirnya Reni pacaran dengan Hendrik, berapa kali Arman ingatkan Reni kalau Hendrik itu bukan anak baik.

Dia sering melihat Hendrik memalak (paw)mahasiswa, mabuk-mabuk bahkan sudah banyak gadis yang di pacari Hendrik, sampai hamil, tapi Reni tidak percaya.

Dan puncaknya setelah Arman tahu kalau Reni sudah menikah dan tidak melanjutkan kuliahnya, Arman sangat menyayangkan sikap Reni, tapi itu hak Reni.

"Kamu di pukul?" tanya Arman khawatir.


"Tidak, hanya Aku di tuduh selingkuh,"

"Alasannya? Bukankah kamu tidak pernah keluar rumah?"

"Kok kamu tahu?" tanya Reni penasaran.

"Ingat Sintya yang seangkatan sama Aku? Dia tinggal satu blok sama kamu, dia yang sering kasih info,"


"Jadi kamu masih memperhatikanku?"


"Tidak secara langsung, sejak kamu menikah Aku tidak pernah tahu khabarmu, tapi setelah Sintya kasih tau aku pun lega, hanya berharap kamu bahagia,"

Reni terdiam, tidak menyangka dengan semua perhatian Arman, namun yang ada di fikirannya sekarang hanyalah Hendrik, kerana Reni mengandung anak Hendrik.

Handphone Reni berbunyi, telephone dari Hendrik.

"Halo Mas," jawab Reni selembut mungkin.

"Kamu dimana?"

"Sama Bapak Ibu juga Abang- Kakak semua ke pantai Mas," kata Reni lagi.

"Besok Aku mau ke rumah, kita bicarakan lagi pernikahan kita, bilang sama keluargamu, Aku datang baik-baik tidak akan cari masalah,"

"Iya mas, Aku tunggu besok," jawab Reni dengan wajah yang berseri.

Reni pun sejenak melupakan Arman dan berlari ke Ibu-Bapaknya, dan menyampaikan khabar dari Hendrik,.

Tapi sikap Ibu dan kedua Abangnya tanpa respon, sedangkan Bapak tersenyum dan bilang iya.

Mereka pun pulang setelah berpamitan dengan Bu Fatimah yang katanya masih satu minggu lagi di kota ini.

Arman hanya bisa melihat kepergian Reni, dan berharap yang terbaik untuk wanita yang masih dicintainya sampai sekarang.

Besoknya Hendrik, datang dengan orang tuanya dan juga beberapa paman dan orang tua lainnya, sikap Ibu Reni masih tetap sama tidak suka.

Sementara Mas Arga terlihat biasa, tapi Mas Beni tidak bisa sembunyikan marahnya.

"Sebelumnya kami minta maaf atas sikap anak kami yang sudah membuat malu di rumah ini," kata salah satu paman Arya yang sepertinya jadi juru bicara keluarga.

"Dan kedatangan kami ke sini untuk meminta maaf sekaligus meminta kembali Reni untuk rujuk kembali dengan Hendrik,"

"Saya tau adik Saya secara agama salah, kerana tidak pamit dengan Suaminya, tapi Suami seperti apa yang melarang Istrinya selama dua tahun untuk bertemu ibunya bahkan di hari lebaran?"


"Dan apakah Bapak semua bisa menjamin? Kalau adik Saya akan baik-baik saja di rumahnya kelak? Mengingat kata-kata yang di lontarkan Hendrik, waktu datang kesini?" kata Beni dengan nada emosi.

"Maaf Mas, Saya minta maaf, Saya khilaf, Saya sudah menyesali perbuatan Saya, mohon izinkan Saya membawa Reni pulang, apalagi dia sedang mengandung anak Saya," kata Hendrik, sambil berlutut di kaki Beni.

"Bukankah kamu kemarin menuduh itu bukan anakmu, kamu bilang Reni selingkuh?" kata Putri lagi dengan ketus.

"Maaf Mbak, Saya benar-benar di luar kendali, kerana Saya stres tidak melihat Reni berapa hari," kata Hendrik, masih menangis dan berlutut.

Tiba-tiba Ibu Reni, keluar kamar dan bicara.

"Aku izinkan kamu membawa Reni, bahkan tidak pulang ke rumah ini seumur hidupnya, asal kamu akui apa yang kamu lakukan tiga tahun lalu ke tukang mi goreng,"

"Kamu lapor ke polis, kamu akui perbuatanmu, kamu minta maaf ke keluarga yang sudah kamu hilangkan nyawanya itu,"

"Apa bukti Ibu menuduh anak Saya berbuat demikian?" tanya Ibu Hendrik kesal.

"Saya tidak punya bukti, makanya Saya diam selama bertahun-tahun, yang bisa Saya lakukan hanya melarang hubungan mereka, kalau Hendrik lelaki sejati dia pasti akan mengakui kesalahannya."

"Dan perlu kalian tahu, sudah satu kali Saya diam, tidak akan ada kedua kali Saya serahkan anak perempuan Saya ke tangan pembunuh seperti Hendrik,"

Semua terdiam tidak ada yang bisa membantah, kerana keluarga Hendrik, cukup tau seperti apa Hendrik, sebelum mengenal Reni.

Bahkan Hendrik, pernah dua kali masuk penjara kerana terlibat tawuran, tapi kalau sampai Hendrik, membunuh sungguh di luar dugaan mereka.

"Hendrik, jawab, apa benar apa yang di tuduhkan ibunya Reni?" bentak bapaknya Hendrik, yang dari tadi hanya diam.

"Eeee.. anuuuu... eeeee, saya tidak ingat Pak," kata Hendrik gugup.

Yah, Hendrik hanya takut pada bapaknya, Hendrik, anak dari Istri kedua, bapaknya jarang mengunjungi mereka, tapi tiap bapaknya datang, Hendrik yang garang berubah bagai tikus yang terjepit.

"Bicara, atau Bapak sendiri yang laporkan kamu," teriak bapaknya lagi.

"Maaf Pak, Saya lupa, Saya tidak ingat, Saya mabuk waktu itu," kata Hendrik lagi.

"Bapak Ibu, maaf kami sudah menyita waktu kalian, Saya akan pastikan anak Saya sudah layak untuk menjemput anak kalian, saat ini biarlah Reni tinggal di sini dulu, tapi jangan putuskan silaturahmi, toh mereka belum cerai secara hukum," kata bapaknya Hendrik dengan sikap memohon.

"Baik Pak, kami akan menjaga anak kami dengan baik, jika Hendrik akan datang untuk menjenguk ataupun mengantar Reni memeriksa kandungannya Saya izinkan, tapi kalau untuk rujuk kembali saat ini, Saya belum bisa berikan izin," kata Pak Sudrajat.

Dan keluarga Hendrik pun pulang, Reni mencium tangan Hendrik, tapi mata Hendrik terlihat menyimpan amarah.

"Kamu jangan macam-macam ya, kamu berhadapan dengan Saya," kata Mas Beni tiba-tiba di dekat Reni.

Hendrik pun bergegas keluar bahkan tanpa pamit ke Ibu hanya cium tangan Bapak saja.

"Lihat itu Ren, lihat lelaki yang kamu cintai, dia katanya berniat baik-baik, dia bahkan tidak pamit sama Ibu, pokoknya selama Ibu masih hidup, Ibu tidak ikhlas kalau kamu rujuk sama dia, tunggu Ibu mati," teriak ibunya Reni sambil masuk kamar.

Reni hanya bisa terpaku, merasa serba salah, satu sisi Ibunya, yang lain Suaminya dan dia pun sedang mengandung.

"Sudah perbanyak doa, Sholatnya jangan sampai lewat apalagi bolong-bolong, perbanyak Sholat tahajud, Allah sebaik-baiknya pemberi solusi," kata Mbak Ika.

Reni hanya tersenyum dan bilang terima kasih atas perhatian keluarganya.[hsz] To be Continued..
Courtesy and Adaptation by Rebecca
Editor ; Romy Mantovani
Ilustrasi Image by pinterest.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser