Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [4]

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [4]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka[4]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [4]

NOVEL PART 4,HENDRIK LARI DARI PENJARA



"Kamu tidak ingin kuliah lagi Reni?"
tanya Mbak Ismi sore itu.


"Tidak Mbak, sudah tua malu."


"Umurmu baru 23 tahun iih, tua darimana, Mbakmu saja ambil S2 sudah umur 35 tahun, Masmu ini juga umur 40 kemarin ambil S3," jawab Mas Ranto.


"Ah bedalah, Aku ingin jalan-jalan boleh tak? Pergi ke tempat Mas Argo sebulan, terus ke Mas Beni sebulan?" tanya Reni.


"Pergi saja, nanti jangan lupa pamit Bapak sama Ibu sama Bang Armanmu, kasihan dia, cowok baik dan setia begitu." jawab Mbak Ismi disambut tawa sama Mas Ranto.


"Apaan sih Mbak ini, Aku sama Arman tidak ada hubungan apa-apa, belum lah Aku masih mau sendirian," jawab Reni tertunduk.


"Nikmati hidupmu selagi masih muda, bila mau berangkat biar nanti Mas carikan tiket, biar Mbakmu transfer wang buat peganganmu nanti ya."


"Terima kasih Mas, Mbak." kata Reni sambil memeluk kedua kakaknya.


"Iihh, sudah besar juga main peluk-peluk," suara Adam, Annisa dan Adeera bersamaan meledek Antenya.


Reni pun tersipu malu, dan hanya bisa bersyukur punya keluarga yang mendukungnya saat dia terpuruk sekalipun.


Setelah telepone ke Bapak dan Ibu untuk pamit, juga ke Arman yang sepertinya agak keberatan dengan keputusan Reni.


Hari Sabtu Reni berangkat ke rumah Mas Argo dan Mbak Ika.

Sesampainya di sana baru tiga hari Reni merasa ada yang hilang.

Yah perhatian Arman, biasanya dia akan datang hanya sekedar tanya "Apakah hari ini kamu bahagia?"


Ataupun orderkan makanan kesukaan Reni lewat grab, tiba-tiba ada rasa rindu yang begitu besar yang tak bisa di bendung.


Di ambilnya handphone dan menghubungi nombor Arman.


Lama tidak di angkat, sekali di angkat yang bicara cewek, Reni langsung gugup dan gemetar, merasa kecewa dan sedih.


Di matikan handphonenya dan siang itu Reni hanya ada di kamar memikirkan kebodohannya untuk yang kedua kali.


Sementara di kantor Arman, dia yang lagi sibuk banyak pekerjaan kerana ada projek besar, tidak perhatikan handphonenya bunyi dan tidak tahu kalau Risma sengaja mengangkat dan bicara.


Padahal di handphone itu tertulis My-Queen, yang artinya Risma harusnya tidak usil dengan urusan Arman.


"Ris, kamu apa-apaan sih, tidak lucu apa yang kamu buat itu faham!" suara Arman meninggi membuat Risma takut.


"Maaf Bang, Saya hanya iseng," jawab Risma.


"Iseng apa? Bagaimana kalau Reni salah faham? Kamu tidak tahu keadaan dia jadi jangan sok-sokan mau iseng," 


Risma dan orang-orang kantor terdiam, kerana belum pernah melihat Arman semarah itu bahkan sampai teriak.


Tiba di rumah Arman berkali-kali hubungi Reni tapi tidak diangkat, bahkan sampai besoknya pun Reni tidak mahu bicara.


Hari Juma'at petang Arman nekad beli tiket pesawat dan terbang ke rumah Mas Argo, setelah minta alamat ke Mas Ranto dan menjelaskan masalahnya.


Mas Ranto dan Mbak Ismi hanya tertawa dengan tingkah Reni dan Arman...
Mereka pun menghubungi Mas Argo yang di iyakan kalau mau jemput Arman.

"Patutlah Reni tinggal di kamar terus, rupanya ada yang cemburu," kata Mbak Ika.


Reni masih dalam kamar, hatinya masih rasa sakit membayangkan Arman dengan wanita lain, ajakan Carren dan Leon pun tak di tanggapinya, Reni makin sedih.


"Ante ada yang cari Ante tuh," kata Carren.


"Cieeee ada yang rinduuuuuuu," teriak Leon yang baru kelas 2 SD.


"Apaan sih kalian ini," jawab Reni ketus.


"Tuh, ada Om Arman, barusan Papa jemput di Airport, betul tak mau keluar?"


"Yang benar? kalian tidak bohong kan?" tanya Reni penasaran.


"Makanyaaa keluaaaarrrrrr," teriak Kedua anak itu sambil tertawa.


Reni pun cepat-cepat keluar dan benar Arman sudah ada di ruang tamu, sedang ngobrol dengan Mas Argo.


Kerana sudah jam delapan malam, Mbak Ika persilahkan Arman untuk mandi dan siap-siap makan malam.


Arman tidur di kamar tamu, rumah Mas Argo lebih besar dari rumah Mas Ranto, kamarnya pun lebih banyak.


Malam itu perasaan Reni berbunga-bunga, setelah mendengar penjelasan Arman, apalagi Arman sengaja terbang jauh-jauh hanya untuk memastikan keadaannya.


Reni merasa sangat spesial di mata Arman, dan hatinya pun bertekad untuk segera menerima pinangan Amran.


"Maaf ya Reni, Aku sedang sibuk, tidak tahu kalau kamu telepone."


"Iya, Aku juga minta maaf kerana merajuk."


Dan Reni pun memutuskan untuk menerima cinta Arman, yang tentu saja di sambut bahagia oleh semua keluarga.


Terlebih Bu Fatimah yang sudah pensiun, langsung bilang mahu lamaran.


Semua orang merasakan sukacita yang luar biasa, di hari baik lebaran tahun lalu Reni masih dengan status yang tidak jelas, tapi lebaran tahun ini Reni merasakan bahagia yang sesungguhnya.


Pernikahan impian yang akan di adakan secara mewah dan juga atas restu kedua belah pihak, Reni benar-benar bagai ratu.


Lebaran hari ke sepuluh, Reni tampak cantik sekali duduk di pelaminan, walaupun Arman tak setampan Hendrik, tapi hatinya sangat baik itu sudah cukup buat Reni.


Terlebih rona bahagia terpancar di wajah kedua Ibu-Bapa Reni begitu juga dengan Bu Fatimah, terlebih bapaknya Arman datang dan duduk sebagai Ibu-Bapa.


Kebahagian itu benar-benar terasa di seluruh gedung tempat resepsi.

Bahkan mereka dapat hadiah honeymoon ke Bali empat hari.

Sementara di penjara, 
Hendrik yang mendapat khabar pernikahan Reni dengan Arman, merasakan kemarahan yang sangat besar dan berniat membalas dendam.

Malam itu di penjara berlaku rusuhan, ada kejadian pemukulan dan semua orang pun mencari kesempatannya masing-masing termasuk 
Hendrik, yang segera kabur melarikan diri dari penjara.

Pagi itu masih penuh kebahagiaan Reni yang masih lena tidur, sementara Arman yang tinggal menatap Istrinya, wanita yang sangat di cintainya bertahun-tahun lalu.


Handphone Arman berbunyi, dari Mas Argo...
"Arman kamu hati-hati ya, Hendrik kabur dari penjara tadi malam, besok pagi kamu sudah harus pulang kan? Nanti Mas Ranto yang jemput kalian," kata Mas Argo.

"Oh ya, kamu tidak usah kasih tahu Reni, takut dia cemas."


"Iya Mas saya paham,"


"Telepone dari siapa Abang?" tanya Reni manja.


"Dari Mas Argo, bilang selamat bersenang-senang katanya."


"Iihh, Mas Argo ini kenapa sih suka usil," jawab Reni tanpa curiga.


Sementara Mas Beni menghubungi teman-temannya untuk cari tahu tentang keberadaan 
Hendrik.

Bapak dan Ibu Reni pun mulai cemas, kerana mengingat apa yang sudah 
Hendrik perbuat.

"Ben, ada baiknya kalau Reni dengan Arman pindah ke Sulawesi ikut ibunya Arman, kan dekat juga sama kamu toh," kata Ibu Reni.


"Nantilah lihat keputusan Arman kan sekarang Reni sudah dalam kewenangan Suaminya, tidak baik kalau kita terlalu atur mereka," jawab Argo.


Siang itu Arman dan Reni tiba di airport, langsung di jemput sama Mas Ranto.


"Eeeh... oooh," suara Reni kaget dan nampak cemas.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arman penuh perhatian.


"Tidak, Aku hanya seperti melihat Mas 
Hendrik
, tapi kan tidak mungkin, dia kan di penjara," kata Reni berusaha menenangkan diri.

Sementara Mas Ranto dan Arman langsung waspada, kerana takut 
Hendrik mengikuti mereka, terlebih Arman langsung memeluk Reni, membuat Reni hairan.

"Kamu kenapa Arman, malu ah di tengok orang," kata Reni.


"Kan, biar semua orang tahu kita pengantin baru," jawab Arman sok romantis.


Sesampai di mobil, baru saja mahu keluar dari parkiran, Mas Ranto langsung pijak rem-brek kerana tiba-tiba ada sosok lelaki mirip 
Hendrik, lewat di depan mobil mereka.

Arman spontan membuka pintu dan keluar, dihampirinya lelaki itu, ternyata bukan 
Hendrik, dia hanya sekedar lewat katanya sambil minta maaf.

Dalam mobil Reni nampak bingung, sementara Mas Ranto terlihat waspada dan mengunci pintu mobilnya.


Nampak ketegangan di wajah Mas Ranto dan Arman semakin membuat Reni penasaran juga ketakutan.


"Kalian kenapa sich? kok rasanya ada yang aneh?" tanya Reni.


"Tidak ada apa-apa sayang," kata Arman menenangkan.


Sesampai di rumah pun Bapak dan Ibu sudah ada di sana, membuat Reni tambah bingung.


"Ini ada apa? bisa tolong jelaskan?"


"
Hendrik,
 lari dari penjara tadi malam Reni, dia telepone ke rumah mencari kamu, dia juga tinggalkan pesan di pintu kalau akan membalas dendam sama keluarga kita," kata Ibu sambil menangis.

Reni pun langsung mundur dan nampak ketakutan, ingatan akan perbuatan 
Hendrik pun tiba-tiba muncul di kepalanya, membuat Reni berteriak-teriak ketakutan.

Mbak Ismi menyayangkan sikap Ibu yang langsung memberitahu Reni, tapi semua sudah terlanjur, Reni pun tiba-tiba histeris dan teriak-teriak.


"Reni, sayang kamu aman ada Aku, lihat Aku di sini menjagamu, jangan takut," kata Arman sambil memeluk Reni.


"Tenang sayang Aku selalu menjagamu, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, ingat! Jangan takut kamu sudah bisa memukul menendang bahkan kamu bisa melakukan gerakan-gerakan sulit, jangan takut," suara Arman mulai bergetar menahan marah pada 
Hendrik.

Sementara Mas Beni sudah minta tolong ke teman-temannya bahkan banyak intel yang di sebar untuk mengintai di area rumah 
Hendrik, tapi Hendrik tidak kelihatan.

Nun jauh di seberang pulau di Sumatera sana, 
Hendrik nampak terlihat kumal kerana sudah berhari-hari tidak mandi, dengan modal wajahnya, Hendrik pun bisa merayu seorang wanita untuk membantunya.

Hendrik, sudah merasa segar sudah merasa bebas, dengan bantuan teman wanitanya, 
Hendrik menjual dirinya alias menjadi gigolo demi mengumpulkan wang, dan bisa membalas dendam pada keluarga Reni.

Sembilan bulan berjalan, Reni sudah merasa baik-baik, semuanya berjalan seperti biasa, rumah yang di beli Arman pun sangat safety penuh dengan alarm.


Terlebih Reni sedang hamil muda, ibunya Arman sementara tinggal dengan Reni, khawatir Reni kepenatan katanya.


Reni pun bersyukur punya Ibu-mertua yang baik,Ibu-bapanya pun sesekali melawatnya, sampai suatu hari ada telepone masuk di handphonenya.


"Reni, tadi 
Hendrik, di sekitaran terminal, dia sepertinya mahu menghampiriku, tapi pas ada polisi langsung mundur" kata Sari teman SMAnya yang tahu kisahnya dengan Hendrik, kebetulan dia agen bas di terminal.

"Serius kamu?" 


"Iya, Aku telepone supaya kamu hati-hati, kasih tau Masmu juga suamimu, 
Hendrik, sudah berkeliaran di sini."

Reni yang sudah mengganti nombor handphonenya, dan hanya orang-orang tertentu yang dia kasih, juga Reni tidak menggunakan facebook dan sosial media yang lama, tentu saja merasa aman.


Tapi begitu dapat info dari Sari, dia mulai panik, di hubunginya Mas Beni, Mas Argo juga Mas Ranto, dia malah lupa hubungi Arman, Bu Fatimah yang melihat kegelisahan menantunya segera telepone anaknya.


"Arman coba kamu pulang dulu, Istrimu habis dapat telepone, dan dia malah seperti panik," kata Bu Fatimah cemas.


Arman pun minta izin pulang lebih cepat, sesampai di rumah Arman melihat Istrinya mondar-mandir sambil bicara sendiri mulai kebingungan.


"Sayang kamu kenapa?"


"Arman, itu.. Arman, aku, aku takut," tangis Reni sambil memeluk suaminya.


"Takut apa sayang, kan ada Aku? Ada Umi juga," jawab Arman menenangkan.


"
Hendrik,..dia muncul...Hendrik,
 dia mau cari Aku," tangis Reni tak berhenti.

Sementara itu Mbak Ismi dan anak-anak datang dan bantu menenangkan Reni.


"Coba ceritakan apa yang terjadi," tanya Mbak Ismi perlahan sambil mengusap tangan Reni.


"Tadi Sari telepone, katanya 
Hendrik, muncul mau mencari dia, tapi kerana ada polisi Hendrik, langsung mundur,"

Arman bergegas mengambil handphone Reni dan menghubungi Sari.


"Halo Sari, ini Arman, Suaminya Reni,"


"Iya Bang, pesan saya kalian hati-hati, 
Hendrik, barusan memaksa saya untuk memberikan alamat kalian juga nombor handphonenya Reni," suara Sari nampak gemetar.

Malam itu semua dalam keadaan tegang, Reni pun istirahat kerana pengaruh obat, yang tentu saja sesuai dosis dan nasehat dari Mbak Ismi yang psikologis dan konsultasi ke Dokter kandungan.


Mas Ranto menginap di rumah Reni kerana khawatir, anak-anakpun tidak keberatan. 
Pagi itu Mbak Ismi bangun dan buat sarapan di temani Bu Fatimah.

Sementara Mas Ranto dan Arman nonton berita TV pagi, dan sangat dikejutkan oleh berita yang menghebohkan.


Di temukannya mayat seorang wanita di pojok terminal, dan teridentifikasi mayat itu adalah Sari salah satu pemilik kios di terminal di kota tempat Reni tinggal.
[hsz]   To be Continued...
Courtesy and Adaptation by Rebecca
Editor ; Romy Mantovani
Ilustrasi Image by pinterest.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser