Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [5]

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [5]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka[5]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [5]

NOVEL PART 5,

DENDAMNYA HENDRIK


Reni yang baru keluar dari kamar dan mendengar berita itu langsung histeris.

"Sariiii, maafkan Aku maaaf," tangis Reni pecah terdengar memilukan.

"Sayang, tenang sayang," kata Arman menenangkan sambil memeluk Reni.

"Arman, Aku penyebab Sari terbunuh, Aku mati saja Arman, biar Hendrik puas, Aku tidak mau ada korban lagi," teriak Reni.

Mas Ranto langsung ambil tindakan, di teleponenya salah satu polis yang dia kenal, minta pengawalan beberapa orang, dan meminta Bapak dan Ibunya mengemasi barang-barang berharga dan segera berangkat ke tempat Argo.

Ibu panik sedangkan Bapak berusaha tenang, surat-surat penting semua dikemas, dalam satu beg, perhiasan dan barang-barang penting sesuai anjuran Ranto, sekitar empat jam dan selesai.

Dengan di antar dua orang polis, dan ada beberapa orang bayaran untuk jaga rumah, Bapak dan Ibu Reni berangkat walau agak khawatir.

Sementara Hendrik nampak mengintip di warung perempatan milik Pak Haji Nurdin, pura-pura beli rokok.

"Pak Haji, mau nanya kalau rumahnya Beni yang polis itu mana ya?"

"Oh itu sana, tapi kayaknya sepi rumahnya, Bapak Ibu Sudrajat barusan berangkat itu," jawab Pak Haji tanpa curiga.

"Oh iya terimakasih ya Pak," kata Hendrik sambil pergi.

Polis sudah mengerahkan team petugasnya untuk mencari Hendrik, tapi sepertinya Hendrik licin seperti belut, pintar sekali sembunyi.

Reni masih shock, Mbak Ismi putuskan untuk membawa Reni ke hospital biar doktor bisa menanganinya dengan benar.

Kandungan Reni pun lemah kerana kondisi sang Ibu yang stres, tidak makan dengan baik juga kurang tidur, Arman sendiri sudah kehilangan akal untuk menenangkan hati Reni, bahkan Arman sekarang mengambil kerja yang freelance.

Namun Ranto dan Argo juga membantu kewangan Arman, Beni pun tiap hari selalu cek keadaan Reni, Bapak dan Ibu Weni ada pensiunan begitu juga Bu Fatimah, Abangnya Arman pun siap membantu.

Masalah kewangan Arman tidak akan pernah khawatir kekurangan, tapi masalah kejiwaaan Reni, Amran terlalu takut dengan kondisi mental Reni.

"Papa, gimana kalau Reni kita pindahkan ke Papua biar jauh dari Hendrik, kan ada Abangnya Arman di sana?" kata Mbak Ika memberi saran ke Suaminya.

"Papua terlalu jauh, kalau ada apa-apa kita sendiri yang repot, kasian Bapak sama Ibu," jawab Mas Argo.

"Tapi selama masih di Pulau Jawa, Reni akan seperti ini terus Pa'."

"Nanti Aku coba rundingkan dengan Bapak sama Mas Ranto."


Kerana kondisi Reni benar-benar drop, akhirnya dia harus kehilangan bayinya untuk kedua kalinya, Arman tentu sangat kecewa, tapi kesehatan Reni lebih penting baginya.

Sudah satu minggu Reni bedrest di klinik, dan entah kekuatan dari mana, tiba-tiba Reni minta pulang ke rumahnya.


Tentu saja permintaannya Reni, di tolak mentah-mentah sama Abang-Abangnya terlebih Suaminya.

"Sampai bila Saya akan menghindar dan ketakutan? Hendrik sengaja mau mencari Saya," teriak Reni.

"Sudah dua kali saya harus kehilangan bayi dalam kandungan saya, hanya kerana kesalahan saya pernah mencintai lelaki yang salah, saya tidak akan mengalah." 


"Tapi sayang, kamu tidak harus berbuat seperti itu," kata Arman
"Tidak Arman, sudah cukup aku menjadi orang yang bodoh, Aku harus berani, demi hidupku, demi kita," pinta Reni. 

Mbak Ismi dengan Mas Beni setuju dengan keinginan Reni, yang lainnya menolak, tapi Reni tetap memaksa.

Akhirnya Bapak Ibu, mengikuti kemauan Reni dan Arman pun akhirnya mengiyakan.

Bu Fatimah pulang kembali ke Sulawesi, Mas Arga dan Mbak Ika yang masih khawatir tiap lima jam selalu telepone Reni.

Sementara Mas Ranto selalu mengingatkan Arman untuk tidak lengah.
Satu bulan berlalu, semua biasa saja hingga masuk bulan puasa.

Seperti biasa Reni membantu Ibunya tiap dapat giliran menyiapkan makanan ringan untuk dibawa ke Masjid.

Sore itu Reni sendirian di rumah, Bapak dan ibunya antar snack ke Masjid sedangkan Arman belum pulang kerja.

Ada yang mengetuk pintu, tanpa curiga Reni membuka pintu dan alangkah terkejutnya karena Hendrik sudah berdiri di depan pintu rumah.

"Apa khabar sayang, tidak rindu?" sapa Hendrik dengan senyuman khasnya.

Awalnya Reni gugup, tapi dia belajar menguasai diri, ingat pesan dari pelatihnya, kuasai diri dulu jangan terpancing emosi dan rasa takut maka kita bisa taklukkanmusuh.

"Khabar baik Mas, gimana rasanya jadi buronan satu tahun, susah ya," jawab Reni sengaja memancing emosi Hendrik.

"Wah, sudah berani jawab ya, sudah selingkuh sekarang pintar bicara lagi," kata Hendrik dan berusaha menampar Reni tapi dengan sigap Reni mengelak.

"Kan Mas Hendrik, yang ajarin saya jadi pintar, pukulan Mas Hendrik waktu itu buat bibir saya robek jadi pintar bicara, jahitan di kepala mungkin sedikit menggeser otak saya jadi lebih pintar,"

"Dan satu lagi jahitan di tangan ini mungkin sekarang cukup kuat untuk membuat Mas Hendrik patah tangannya," kata Reni dengan wajah meledek tentu saja membuat Hendrik kesal.

Tanpa bicara Hendrik mengejar Reni, yang langsung mengayunkan tongkat yang selalu di siapkan sama Mas Beni di tiap sudut pintu.

Dan praaaak suara tulang yang patah mengenai siku Hendrik, dan diapun nampak kesakitan.

"Sakit Mas? Mau lagi? Di mana? Lutut? Atau kepala? Ah jangan nanti pecah kamu mati kasihan," suara Reni makin membuat Hendrik emosi dan ingin memukul.

Kerana Hendrik lebih tinggi, Reni pun tidak main berhadapan langsung tapi lari-lari memutar sambil naik turun kursi.

Ini rumah Reni tentu dia hafal letak setiap barang, dan Hendrik yang sudah terpancing emosinya tampak kelelahan kerana mengejar Reni akhirnya dia hancurkan barang-barang yang ada di depannya.

"Ayo Mas sini, masak tidak bisa pukul saya, jangan sampai nanti tunggu polis datang ya, kalau ada tetangga yang dengar pasti sudah telepone polis,"

Mendengar kata-kata Reni, Hendrik pun terlihat gugup dan lengah dan ini kesempatan Reni, satu kali lompat dan praaaak dia pukul lututnya Hendrik sampai di terjatuh.

Dan pas Arman tiba, tanpa bertanya Arman menghajar Hendrik sampai wajahnya tak dapat di kenali, Bapak dan Ibu pun tiba, tetangga berdatangan Polis pun tiba.
Hendrik yang sudah tinggal satu-satu nafasnya kerana siku kanan dan lutut kirinya di hantam dengan tongkat yang besar, belum lagi pukulan dari Arman.

Dan juga dirinya yang DPO selama satu tahun lengkap sudah penderitaan Hendrik kali ini dan Reni pun tersenyum puas.

"Ya, ampuuuuun Reniiiii, Astaghfirullahaladzim, Ya Allah, kamu tak apa-apa Nak?" tanya Bu Sudrajat sambil memeluk anaknya.

"Tidak apa- apa Buk, maaf rumah berantakan, banyak barang Ibu yang rusak,"

"Barang bisa di beli yang penting anak Ibu tak apa-apa nduuuk," tak henti-hentinya Bu Sudrajat memeluk Reni.

Sementara Arman merasakan energi yang luar biasa kerana melihat kondisi Hendrik akibat di hajar Reni, rasanya puas dan lega.

Arman menghubungi Mas Ranto, Mas Argo dan Mas Beni menceritakan kejadian yang baru terjadi.

Semuanya merasa heran juga bangga dengan sikap Reni.
Apalagi ini di awal bulan puasa, dan ketiga abangnya Reni pun berjanji lebaran kurang dua hari akan pulang seperti biasanya.

Puasa hari ke sepuluh, Reni mengajak Arman menjenguk Hendrik.

"Ngapain kesana?" tanya Arman heran.

"Ada yang harus Aku selesaikan."

Akhirnya tanpa pamit ke Bapak dan Ibu, Arman mengantar Istrinya.

Hendrik masih di tahan di polres-balai polis kerana kesnya bertambah lagi, terlebih dia adalah DPO dari kota lain, jadi baru rencana mau di pindahkan minggu depan katanya.

Sesampai di dalam ruang tahanan Hendrik nampak buruk sekali, semua ketampanannya hilang, hidungnya sepertinya patah.

Belum lagi dia jalannya ngesot kerana tempurung lututnya hancur, belum lagi tangannya juga retak.

Wajahnya sangat kesakitan sekali, Reni merasa tidak tega tapi juga merasa puas bisa melihat keadaan Hendrik.

"Apa kabar Mas."

"Mau apa kesini, mau meledek-mengusik lagi?"


"Tidak Mas, kasian lihat muka Mas Hendrik, jadi jelek," jawab Reni sinis.

"Trus ada urusan apa datang cari saya?"

"Saya mau kembalikan ini," kata Reni serahkan cincin nikah, kalung gelang yang di belikan Hendrik dulu.

"Saya memaafkan setiap perbuatan Mas yang dulu, saya mengikhlaskan anak kita yang Mas bunuh, saya sudah melupakan kejadian Mas hampir membunuh saya, dan semoga Mas juga mulai melupakan saya dari kehidupan Mas Hendrik."

"Saya berhak bahagia, Mas Hendrik juga berhak bahagia, kiranya ini pertemuan kita yang terakhir, terima kasih Mas," kata Reni sambil menangis dan pamit.

Arman yang dari tadi diam pun angkat bicara tapi dengan perlahan.

"Kamu dulu merebut Reni dariku, sekarang jangan pernah bermimpi mendekatinya lagi, camkan itu!!"

Hendrik hanya diam tapi dendam itu masih sangat menyala dalam hatinya.

"Tunggu saja, tunggu waktu kalian semua akan rasakan pembalasanku," kata Hendrik seperti ancaman

Arman pun mengajak Reni pulang dengan perasaan lega.
Sebentar lagi lebaran keluarga akan berkumpul semua.

Lima kali Hari Raya terlewati, Reni sudah di kurniai Allah Ta'ala, sepasang anak kembar, namanya Rashid dan Raisha umurnya tiga tahun.

Bu Fatimah sudah meninggal, dan sudah bahagia kerana sudah melihat cucunya dari Arman dan Reni.

Beni pun sudah pindah dinas-tugas di kota asalnya, 
Menempati rumah Putri yang kosong sejak kedua Ibubapanya meninggal, anak Mas Beni pun masih satu Queen namanya.

Reni sudah merasakan kehidupan yang sangat amat nyaman, sampai suatu hari Mas Beni mengabarkan kalau Hendrik di bebaskan.

Atas pertimbangan kelakuan baik dan juga mendapat remisi tiap bulan kemerdekaan August dan Hari Raya.
Reni pun merasakan ototnya tiba-tiba menegang semua.

Terlebih menurut info yang di dapat Mas Beni, kondisi Hendrik sekarang sudah baik, sudah sehat dan wajahnya agak seram kerana hidungnya bekas patah dan ada beberapa jahitan kasar di wajahnya.

Temannya mengirim foto Hendrik terkini agar Keluarga Beni bisa mengenali Hendrik .

Rumah Bapak yang dulu tanpa pagar, sekarang sudah di pagar keliling dan banyak di renovasi.

Arman yang mendapat pesan pun mulai merasakan ketegangan dalam darahnya, sepertinya babak baru suatu kehidupan akan di mulai lagi, tapi tanpa dia tahu awalnya dari mana.

Seminggu setelah pesan yang terkirim, hari itu Adam yang sudah kelas 3 SMA membonceng Annisa yang 1 SMA dan mereka satu sekolah.

Sementara Adeera yang masih SMP di antar Mbak Ismi, di persimpangan pas masing-masing mahu berbelok kerana beda arah, tiba-tiba ada satu motor yang sepertinya sengaja menabrakkan diri ke arah Adam dan Annisa.

Tentu saja Mbak Ismi kaget langsung turun dari mobil dan melihat keadaan anaknya, sementara penabrak sepertinya mabuk berat.

Adam dan Annisa hanya lecet, tapi lumayan cukup nyeri buat jalan dan motor pun sepertinya rusak agak parah.

Namun yang membuat Mbak Ismi kaget kerana suara teriakan Adeera, dan begitu sampai di mobil, Adeera sudah pingsan kerana tangannya di iris pakai silet.

Gugup Mbak Ismi langsung telepone Mas Ranto, polis pun sudah datang. Dia bawa ketiga anaknya ke rumah sakit.

Begitu Adeera tersadar dia teriak-teriak..."Bundaaaa, Om Hendrik jahat dia yang kasih lukaaaa," teriak Adeera yang kesakitan kerana lukanya cukup dalam.

Tentu saja Mbak Ismi dan Mas Ranto kaget dengan kata-kata Adeera.

"Kamu beneran lihat Om Hendrik,?"

"Iya Ayah, Aku lihat sendiri, tapi wajah Om Hendrik  seram, tidak kayak dulu, aku takuuuut Bundaaaa," tangisnya keras.

Mas Ranto makin kaget, ternyata Hendrik benar-benar sudah siap perang demi balas dendam pada Reni.

Setelah di selidiki sang penabrak pun rupanya di bayar, awalnya di ajak minum kemudian di tawarkan wang, namanya mabuk yah, di iyakan katanya.

Keluarga besar Reni pun semakin tidak nyaman, hari-hari mereka seperti tegang, tiga bulan berlalu tidak ada kejadian apapun.

Semuanya nampak normal, tapi semua tetap waspada, siang itu Carren yang seumuran Annisa sekarang juga kelas 1 SMA sedang menunggu jemputan.

Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya dan segera menarik tangannya...Tentu saja Carren berontak tapi mobil itu melaju cukup kencang, dan situasi juga agak ramai, jadi tidak ada yang perhatikan.

Dalam mobil Hendrik memegang payudara Carren dan memaksa dia menyentuh kemaluannya.

Tentu saja Carren berontak sampai di tempat sepi dia dikasih turun di jalan...Dengan gemetar dan menangis, Carren telepone Papanya.

Mas Argo dengan amarah yang luar biasa mendengar cerita Carren langsung menjemputnya...Rupanya tujuan Hendrik menteror setiap keluarga Reni, dendamnya benar-benar di luar batas manusia.

Jiwa Hendrik sudah sangat sakit kerana dia tega melukai anak-anak bahkan melakukan pelecehan seksual.

Reni pun menjadi stres atas kejadian yang menimpa keponakannya.
Kalau tidak ingat anak kembarnya, mungkin Reni akan bunuh diri biar Hendrik puas.[hsz]   To be Continued...
Courtesy and Adaptation by Rebecca
Editor ; Romy Mantovani
Ilustrasi Image by pinterest.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser