Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [6]

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [6]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [6]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [6]

NOVEL PART 6,


Kemarahan Mas Ranto, Mas Argo juga Mas Beni sudah diambang batas, merekapun mula membayar preman-preman untuk mencari Hendrik.

Kalau selama ini selalu gagal menemukan Hendrik, kerana ternyata Hendrik, sekarang pergaulannya dengan bandar- geng narkob*, yang pastinya wangnya banyak.

Jadi, Beni fikir untuk memancing penjah*t harus dengan penjaha* juga, walau dirinya seorang anggota Polis, tapi pasti ada batasannya, entah melanggar HAM ataupun Hak yang lainnya.

Tapi, jika sesama preman, biarlah hanya urusan mereka dan hanya Allah Ta'ala Yang Maha Tahu,

Petang itu Beni sedang piket-tugas, kejadian Carren sudah empat bulan berlalu, tapi khabar berita tentang Hendrik belum juga ada.

Entah bagaimana cara dia bersembunyi, iseng Beni, menanyai seorang tahanan yang baru masuk, dia pengedar narkob*(dad*h) yang masih usia muda belia sekali.

Dia, sudah tiga hari di tahan, tapi belum satupun saudara atau temannya yang datang menjenguk, rupanya dia anak remaja dari luar pulau dan sedang main di kota ini.

"Eehh, Ndo, kamu kok mau jadi pengedar. alasanmu apa? Wang,?

"Bukan Ndan, biar bisa makai-menagih gratis Ndan,"

"Kamu mahu rokok? Mahu kopi?" Tanya Mas Beni serius.

"Wah, rokok mahu sekali Ndan, sudah tiga hari mulut kering, kalau kopi tidak Ndan"

Benipun memberikan sebungkus rokok ke Nando, juga sebungkus Nasi Padang yang tadi dibelinya tapi belum dimakan, sambil lanjutkan pertanyaan.

"Ibu-Bapamu masih ada?"

"Masih Ndan, di Maluku sana, Bapak kerja di kantor Desa, Ibu jadi Guru"

"Lhah, kok kamu malah tega berbuat begini, kalau IbaBapamu tahu kamu di penjara bagaimana?"


"Mereka tidah tahu Ndan, Saya datang kesini, mereka tahunya saya kerja ikut saudara, dua tahun kerja Saya kumpul wang buat lamar cewek Saya disana Ndan"

"Tapi, tiga bulan lalu cewek Saya kawin Ndan, Saya stres, Saya hancur, mabuk-mabuk terus sampai wang habis, Saudara marah tidak mahu terima saya, Sayapun jadi gelandangan, Nah, Saya ketemu sama Mas Hendrik Ndan, dia baik," Jelas Nando.

Beni yang mendengar nama Hendrikpun langsung mengepalkan tangannya, tapi dia masih menahan emosinya biar Nando cerita.
"Hendrik itu siapa?"

"Dia penjaha* besar Ndan, katanya pernah membun*h orang, wajahnya penuh jahitan, kata ana-anak geng dia pembun*h bayaran, sudah banyak orang mati ditangannya," kata Nando tanpa sadar kalau dia sedang bongkar cerita sama seorang Polis.

"Wah, hebat dong dia, rumahnya dia dimana"? tanya Beni tidak sabar.

"Wah, rahasia Ndan, kalau Saya kasitahu nanti Saya di bunu* Mas Hendrik"
"Katakan rumah Hendrik dimana?" kata Beni langsung berdiri membuat Nando kaget.

Beni langsung arahkan senja*a ke kepala Nando sambil bicara ke Nando yang baru saja selesai makan.

"Saya Polis, Saya sedang piket, dan Saya akan bilang kamu mahu melarikan diri, makanya Saya tembak mati,"

"Cepat katakan rumah Hendrik dimana atau Saya tembak kamu,"

"Jangan Ndan, jangan ampun Ndan, iya Ndan saya kasih tahu,"

Setelah Nando berikan alamatnya, Beni dan teman-teman pun menggerebek rumah tersebut, sayang Hendrik tidak ada.

Hanya ada barang bukti narkob* dan beberapa anak muda yang sedang mabuk dan mem-packing barang, sepertinya mereka anak-buahnya Hendrik.

Yang lucunya lagi rumah itu tidak jauh dari rumahnya Reni yang tentu saja membuat Reni makin stres, makin khawatir.

Tapi Arman selalu menenangkan hati Istrinya, walaupun dia sendiri sudah penuh dengan amarah yang tak tertahankan.


Sementara Hendrik yang saat itu ada di Jakarta, sejak ditangkapnya Nando anak buahnya tiga hari lalu, yah, Hendrik sudah punya feeling kalau Nando akan buka mulut sama Polis.

Dan benar barusan Fredi anak-buahnya telepone, kalau rumahnya di gerebek Polis, Hendrik merasa kesal kerana dia harus kehilangan banyak wang, belum lagi nanti pasti akan ribut dengan Jabrix partner bisnis narkoba*nya sekaligus bosnya.

Kerana kesal Hendrik marah-marah sendiri, dan dia yang saat itu sedang duduk di sebuah kafe merasa ada yang memandanginya, awalnya dia fikir kerana dia lagi marah-marah.

Tak lama- lama Hendrik perasan- tahu kalau di meja seberang nampak ada beberapa lelaki yang mengawasinya tanpa berkedip.

Salah satu lelaki itu nampak menelpone, bicara sebentar dan mengarahkan handphonenya ke arah Hendrik dan dia nampak tersenyum.

Hendrik sudah menduga ada yang tidak beres langsung menghubungi temannya untuk minta dijemput.

Kerana posisi Hendrik duduk di area luar ruangan, sebenarnya dia berencana untuk lari saja, tapi pasti akan menimbulkan kegaduhan, sedangkan Pos balai Polis dekat.

Hendrik pun memutuskan untuk diam ditempat duduknya, tapi empat lelaki itu nampak berdiri dan menghampirinya, membuat Hendrik agak ciut nyalinya.

"Kamu Hendrik ya," sapa seorang lelaki botak.

"Bukan, nama Saya Dion." jawab Hendrik.

"Oh, Saya fikir kamu mantannya Reni, kerana dia titip salam buat kamu," kata lelaki yang lebih tinggi langsung memukul perut Hendrik dengan keras.

Hendrik pun kaget dan merasa mual seketika..Dia berusaha berdiri tapi lelaki botak itu malah memukul pas di dadanya Hendrik.

Hendrik benar-benar sesak nafas sekarang, posisinya yang terduduk dan terjepit tanpa bisa bergerak di apit dua orang yang badannya lebih besar dari dia.

Pelayan yang melihatnya diusir oleh si lelaki berambut gondrong, sedangkan seorang lelaki yang paling kecil nampak mengeluarkan pis*u kecil. Tiba-tiba ada teriakan juga tembakan yang dilepaskan, rupanya teman Hendrik datang.

Lelaki yang paling kecil langsung menikamkan pisa*nya ke perut Hendrik dan mereka semua lari ke arah samping, teman mereka sudah siapkan mobil disamping kafe.

Teman Hendrik hanya dua orang yang datang, walaupun mereka memegang senjat* tidak mungkin mahu mengejar empat lelaki tadi. Kerana mereka juga preman dan pasti akan dicari Polis, dan benar saja Polis langsung tiba dikafe tersebut, si pemilik senjat* yang sedang bergaya menakut-nakuti orang dikafe tersebut ditangkap Polis, sementara Hendrik dan teman satunya lagi sempat kabur.

Mas Argo yang mendengar khabar orang suruhannya, agak menyesalkan kerana tidak bisa membawa Hendrik, tapi paling tidak lingkup gerak Hendrik kini semakin sempit.

Kerana dia DPO (Daftar/senarai pencarian orang) di banyak kota/daerah atas kes narkob*, pembunu*an Sari kerana ada saksi melihat Hendrik.

Dan kes pembunu*an tukang/penjual mie goreng yang sekarang di tuntut oleh keluarganya kerana teman Hendrik mengaku ke Polis.

Belum lagi kesnya di Pulau Sumatera menipu banyak Ibu-Ibu pegawai pemerintahan dengan dalih tanam modal untuk usaha padahal dibawa kabur oleh Hendrik.

Hendrik sekarang tinggal diarea kumuh-setinggan, pinggiran kota kerana tidak ada lagi tempat sembunyi, Alex yang membawa dia kabur hanya preman kelas teri-ikan bilis.

Sedangkan Jabrix tidak mahu membantu lagi, kerana dia tidak mahu ikut terseret dengan kes Hendrik yang tidak ada hubungan dengannya.

 Jabrix pun mengancam kalau sampai dia kena tangkap, maka nyawa Hendrik dan keluarganya sebagai taruhannya.

Hendrik sudah kesakitan sekali kerana pisa* yang menancap di perutnya kemaren di cabut tanpa ke hospital, hanya mengandalkan rawatan seorang jururawat klinik yang dipecat kerana mencuri obat-obatan.

Hendrik pun sudah mula kehabisan wang, yang di ATMnya tinggal sekitar tiga juta rupiah (1juta, sekitar RM400), kerana Alex sudah memanfaatkannya, mengambil wang tanpa seizin Hendrik.

Di walletnya pun hanya tinggal baki wang lima ratus ribuan, tidak ada lagi tempat minta tolong, mahu jual diri seperti dulu?..Mana ada wanita yang mahu, melihat wajahnya saja orang akan ketakutan.

Jalan satu-satunya Hendrik harus pulang ke Ibunya, tapi bagaimana caranya,?..Hendrik pun menghubungi Ibunya yang langsung di sambut tangisan.

"Hendrik kamu dimana? Polis semua cari kamu, Ibu takut Nak,"

"Ibu Aku sakit, kesakitan sekali, Aku tidak punya wang, apa Ibu masih punya wang,?"


"Kamu dimana nak, wang Ibu banyak nak, rumah kamu itu sudah Ibu jual, laku 190 juta Nak, wangnya Ibu simpan ATMnya Ibu, mahu kasih ke kamu," tangis Ibu Hendrik tanpa henti.

Walaupun anaknya sudah dianggap salah di cari Polis, tapi di mata Ibunya, Hendrik tetap anak kesayangannya, anak satu-satunya yang dia punya dan dia sayang.

Bertahun-tahun sejak keluar dari penjara, Ibunya belum pernah bertemu Hendrik bahkan mendengar suaranya, waktu Hendrik bebas dari penjara pun dia tidak menemui Ibunya.

Kali ini Ibunya harus pergi jauh untuk menemui anaknya, sesampai di Jakarta Hendrik yang masih kesakitan menjemput Ibunya, tentu saja diantar Alex dengan upah imbalan.

Akhirnya dengan wang Ibunya, Hendrik bisa dapat perawatan yang baik dari Doktor yang tidak mahu di sebutkan nama dan tempat prakteknya kerana enggan berurusan dengan Polis. [hsz]   To be Continued...
Courtesy and Adaptation by Rebecca
Editor ; Romy Mantovani
Ilustrasi Image by pinterest.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser