Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [7]

Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [7]
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka[7]">

FORTUNA NETWORKS.COM | Meniti 'Cinta Kalabendu', Berakhir Duka [7]

NOVEL PART 7,

DENDAMNYA HENDRIK


Hendrik pun mencari tempat tinggal yang lebih layak, Ibunya hanya menangis melihat keadaan Hendrik. Dia tinggal bersama Ibunya tentunya Hendrik tidak mudah dicurigai, terlebih Ibunya ramah, setelah Hendrik merasa sudah pulih dan boleh melakukan semuanya, setelah ditemani Ibunya satu bulan lebih.


"Ibu pulang saja, nanti Bapak curiga d kiranya Ibu pergi kemana,"

"Kamu mahu kemana Hendrik, lebih baik serahkan diri, jangan buat dosa lagi,"

"Tidak Ibu, Saya harus balas dendam sama Reni dan keluarganya,"

"Hendrik, kalau kamu akan jadi sejahat ini, lebih baik dahulu Ibu tidak lahirkan kamu," teriak Ibunya dengan amarah.

Mendengar kata-kata Ibunya, Hendrik langsung naik pitam tanpa sadar, langsung memukul Ibunya berkali-kali sangat keras sampai terlempar dan kepalanya langsung terbentur tembok.

Melihat Ibunya kepalanya pecah dan dara* dimana-mana Hendrik jadi ketakutan, bagaimana tidak, Ibunya yang melahirkannya pun sudah dia bunu*, Hendrik semakin marah sama Reni.

"Ini semua gara-gara Reni, semua salah Reni," desis Hendrik dan wajahnya sangat menakutkan.

Hendrik pun membawa beg ranselnya dan segera pergi, tujuannya langsung ke rumah Reni, Hendrik sudah tidak sabar untuk bertemu Reni.

Hendrik memilih naik kereta api, tiga jam setelah kepergian Hendrik, tempat kostnya heboh kerana Ibunya ditemukan sudah meninggal dengan kondisi tak berubah, bahkan di tembok ada tulisan salahkan Reni.

Polis yang ditempat kejadian berlaku pun, sudah bisa memastikan kalau pelakunya Hendrik, kerana sidik jarinya ada dimana-mana.

Beni mendapat khabar kematian Ibunya Hendrik, dan mendapat info kalau Hendrik kabur, langsung menghubungi Mas Ranto dan Mas Argo.

Mereka pun memutuskan untuk berangkat terbang dengan keluarga masing-masing dan pulang sambil menantikan kedatangan Hendrik.

Kerana perasaan mereka sama bahwa Hendrik akan datang untuk membalas dendam pada Reni dan juga keluarganya.

Sementara Hendrik untuk mengelabuhi Polis, dia naik kereta api, tiap tiga stesyen berhenti, naik bas naik kereta api lagi, agak berpusing-pusinf, tapi Hendrik bisa tiba di kotanya Reni tanpa ada yang curiga.

Hendrik sekarang sendirian, tidak bisa meminta tolong siapapun mulai menyusun rencana balas dendamnya.

Perkara pertama yang dilakukan Hendrik adalah mencari hotel yang berbintang, Kad pengenalannya pun tidak lagi nama Hendrik tapi Dion, dia memakai baju yang rapi, tidak lagi memakai topi dan sepatu kets (sneakers).

Sekarang Hendrik penampilannya berbeda, berbekal video tutorial make-up di youtube berapa hari ini, dia belajar cara menutupi bekas jahitan di wajahnya...Sekarang tiap orang akan melihatnya bagai pengusaha muda yang tampan.

Dan, Hendrik tumbuhkan jambangnya dan kumis-misainya, penampilannya sangat berbeda dengan Hendrik yang dulu.

Bahkan saat tanpa sengaja Putri berpapasan dengannya dan tidak mengenalinya, awalnya Hendrik agak kikuk takut ketahuan, tapi ternyata tidak.

Putri yang waktu itu habis mengantar Queen hadiri acara ulang tahun teman sekolahnya merasa ada yang janggal.

"Dady, tadi kan Momy sama Queen ke hotel X, Nah, Momy berpapasan sama seorang lelaki, kalau perasaan Momy sich dia itu Hendrik, tapi wajahnya beda, dia seperti pengusaha muda begitu," cerita Putri ke Suaminya, Beni.

"Serius Mom,?"

"Iya, ehh, hotel X kan yang punya teman Dady di Rachel, coba saja minta tolong dia, mungkin aja dia bisa bantu."


Tak menunggu lama Beni langsung hubungi Rachel dan dapat jawaban kalau tetamu itu namanya Dion alamatnya dari Jakarta.

Tapi Beni tetap merasa curiga, diapun dengan temannya datangi hotel bermaksud untuk bertemu dengan Dion..Tetapi, kata resepsionis Pak Dion baru saja check-out, anehnya check-outnya tidak di jam/waktu keberangkatan pesawat atau kereta api.

Rasa-rasanya kalau tetamu hotel X naik bas pulang ke Jakarta terasa aneh, Beni pun curiga kalau itu memang Hendrik.

"Mas Argo, bilang sama Reni jangan keluar rumah sekarang, Mbak Ismi, Mbak Ika juga Putri suruh dirumah saja."

"Bapak sama Ibu juga jangan keluar pagar, biar tetangga ada yang meninggal sekalipun, Aku sudah kirim teman-temanku berjaga-jaga di sekitar rumah kita," kata Beni yang di iyakan sama Mas Argo.

Situasi di rumah mulai agak tegang terlebih Reni yang degupan jantungnya seakan mahu kelauar, kedua anaknya sepertinya tahu keadaan Ibunya, mereka bermain dengan kakak sepupunya juga bersama dengan budhe'-budhe'nya (makciknya)

Nampak beberapa Polis yang menyamar ada di sekitaran perumahan. Tak ama muncul sepeda motor ada dua lelaki separuh baya yang naik, berkain sarung baju koko, kopiah sandal jepit.

Berhenti di depan rumah Reni, semua siaga, tapi mas Ranto mengenali kalau salah seorangnya adalah Pak Subhan, orang dari Masjid.

Mas Ranto memberi kode aman, dan mempersilahkan Pak Subhan dan temannya masuk, kerana mungkin Pak Subhan ada urusan perlu dengan Bapak Sudrajat.

Mas Ranto, Mas Argo dan Arman duduk di teras, sementara Pak Subhan dan temannya di ruang tamu dengan Bapak..Anak-Anak dan semua wanita di ruang tengah, temannya Pak Subhan tampak memandangi seakan memeriksa keliling ruangan.

"Eehh, Pak Subhan ada apa tumben datang,"

"Ini lho Pak Sudarajat , mahu antar teman Saya yang katanya ingin banget tahu rumahnya Pak Sudrajat, katanya dulu pernah menolong dia, Iya toh Mas Hendrik," dan begitu Pak Subhan selesai bicara Hendrik langsung mencabut senjat* di balik kain sarungnya.

Menemb*k kaki Pak Subhan dan paha Pak Sudrajat, lalu mengunci pintu masuk dan langsung menuju ke arah Reni dan anak-anak..

Mas Ranto, Mas Argo dan Arman juga para Polis yang mendengar tembak*n, semua langsung berlari ke arah pintu yang sudah berkunci.

Nampak Hendrik duduk diruang tengah dan mengacungkan senjat*nya tepat di kepala Reni.

"Apa khabar kalian semua,?" sapa Hendrik tanpa rasa bersalah.

Reni yang ingat ada tongkat pas dibelakang Hendrik rasanya ingin berbalik dan mengambil dan memukulkan ke Hendrik.

Sementara di luar rumah aparat Polis sudah mengarahkan senjata*nya ke arah Hendrik, tapi Hendrik tak sedikitpun merasakan perasaan takut.

Dia bahkan berbisik di telinga Reni..."Aku rela mati di temba*kin Polis ini asal mati denganmu,"

Beni pun tiba di rumah dan berusaha negosiasi dengan Hendrik.. "Hendrik, kamu boleh ambil Reni tapi lepaskan anak-anak dan yang lainnya, mereka tidak bersalah," kata Beni.

"Apa jaminannya kalau kalian tak menemba*kku,?"


"Kami semua akan menurunkan senjat* selama anak-anak di keluarkan,"

"Baik, ambil mereka semua, Aku tidak perlu," kata Hendrik sambil membelai rambut Reni dengan tangan kirinya.

Hendrik pun berjalan ke pintu sambil menyeret Reni dan menyuruh Pak Subhan dan Pak Sudrajat keluar dengan merangkak, sementara anak-anak yang sudah ketakutan semuanya keluar dan menangis.

Terlebih anaknya Reni yang langsung memeluk Arman, begitu kosong, Hendrik langsung membawa Reni lagi ke ruang tengah biar bisa melihat kesemua arah.

"Mas Ben temb*k saja Hendrik sampai mati, Akupun ikut matipun tidak apa. Aku rela asalkan keluargaku aman," teriak Reni.

Beni yang mendengar suara Adiknya rasanya mau menangis. Mas Ranto dan Mas Argo pun tegang menunggu di luar sementara Arman sibuk menenangkan si kembar, anaknya.

Pas tepat sekali dekat pintu kamar, Hendrik bersandar dan di tangan Reni ada tongkat dan secepat kilat dia mengambilnya dan berniat menghayunkan ke Hendrik.

Beni yang melihat aksi Adiknya langsung menemba*kkan pelur* ke arah Hendrik, 1,2,3,4,5,6 pelur* dan semua tertancap ke Hendrik, tapi  Beni tidak melihat tangan Hendrik.

Yah, Hendrik menarik pelatuknya dua kali dan tepat mengenai jantung Reni, Hendrik dan Reni pun terjatuh bersamaan.

Beni segera masuk, begitu juga Arman, Mas Ranto dan Mas Argo, Sayang nyawa Reni tak tertolong lagi..

Arman terpaku, dia tak bisa lagi berdiri dengan tegak, wanita yang dicintainya mati di tangan mantan suami yang brengsek.

Delapan tahun yang lalu Hendrik datang mengancam membunu* Reni dan sekarang dia benar-benar membun*h Reni.
Dan kini dua belas tahun sudah berlalu, Rashid dan Raisha sudah mahu masuk SMA, tapi Arman tetap setia pada Reni satu-satunya wanita yang dicintainya. The End.
_____________
P/S, Jadilah Ibu-Bapa yang bijak dalam membesarkan Anak, jangan terlalu mengekang sampai Anak terlalu bebas saat ada kesempatan. Dan janganlah terlalu membebaskan sampai Anak tidak ada aturan dan rasa bersalah.

Bukankah lebih baik kita menghukum anak-anak dan melihat dia menangis di waktu kecil?

Apa jadinya jika anak-anak tidak punya aturan sampai IbuBapa pun menyesal sudah melahirkan anaknya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala, membuat perintah untuk dilaksanakan, Ibu Bapa membantu Anaknya melakukan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala, perintahkan BUKAN membantu untuk melanggarnya.[hsz]   
Courtesy and Adaptation by Rebecca
Editor ; Romy Mantovani
Ilustrasi Image by pinterest.com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser