-->

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-2

  Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-2
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="  Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-2">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-2


“Bagaimana tahunya kita ini sudah ikhlas atau belum?” tanya Muhsin.

“Ikhlas itu suatu proses, tak ada batas akhir suatu keikhlasan seseorang, tapi ada batas antara orang itu ikhlas dengan tidak ikhlas, yang penting kita berusaha beramal tidak mengharap balasan dan menjauhkan diri dari pamrih ingin mendapatkan segala sesuatu, selain menjalani perintah Allah Ta'ala, jadi hilangkan harapan dan tujuan ingin mendapatkan sesuatu, apapun yang dilakukan atas dasar keinginan maka itu berarti nafsu, jadi jangan menyandarkan suatu perbuatan ibadah kerana keinginan mendapat sesuatu atau menyandarkan keinginan kita, atau keinginan orang lain, tapi lakukan melulu kerana Allah Ta'ala memerintahkan, tanda seorang itu telah menapaki pelataran ikhlas, yaitu hati telah tidak berubah, ada atau tidak anugerah yang diterima dari Allah saat menjalani ibadah, hati selalu tetap, tidak lalu bersemangat kerana adanya fadhilah yang diterima, dan malas kerana tidak adanya fadhilah, semangat kerana ada hadiahnya, dan malas kerana tak ada hadiahnya, dan orang ikhlas itu tidak seperti itu, selalu konsisten, istiqomah, dan berubah-rubah hatinya kerana perubahan keadaan yang dihadapi, makanya Syaikh Abdul Qodir Jailani Qaddhashallaahu Sirruhul 'Aziiz mengatakan, kalau "Al istiqamatu afdholu min alfi karomah", 'Istiqomah itu lebih utama dari seribu kekeramatan seorang Wali', sebab istiqomah menunjukkan nilai keikhlasan seseorang.” jelasku.

“Wah, berarti jarang orang yang bisa ikhlas dalam menjalankan ibadah?”

“Ikhlas itu bukan sesuatu yang diucap, sebab amaliyah hati, tak terlihat, dan tak teraba, bahkan oleh malaikat khafdzoh yang membawa amal ibadah seseorang ke langit, bisa saja orang yang gembar-gembor itu ikhlas, bisa juga orang yang diam tidak ikhlas, atau sebaliknya, tapi amaliyah yang ikhlas atau tidak itu, pasti ada efeknya di jiwa, hati, ruh, dan perbuatan orang yang melakukan amaliyah, sebab amal perbuatan itu kan pasti ada hasilnya, orang masak beras, hasilnya, beras menjadi nasi. Jika sepuluh tahun dimasak kok tak jadi nasi, berarti masaknya tak benar".

"Seperti sholat saja, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an kalau sholat itu bisa mencegah yang menjalankan, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, perbuatan keji, ya, kayak lisan suka menyumpah, suka membicarakan aib orang lain, suka mencela, menghasut, mengadu domba, dan tangan suka mencuri, mencopet, pokoknya orang lain tak aman bila di samping kita, maka jelas kita masih menjalankan perbuatan keji, dan perbuatan mungkar atau perbuatan yang menjadi larangan agama, kok perbuatan itu masih kita lakukan sementara kita juga sholat, maka sholat kita itu pasti, bukan mungkin tapi pasti belum benar, sebagaimana orang memasak beras kok sepuluh tahun dimasak belum juga jadi nasi, bisa jadi dapurnya tak menyala, atau hal apapun yang menjadi kendala perbuatan itu dilakukan dengan benar.”

“Oh ya, Mas ada temanku dari Maroko mau main ke kamar Mas Iyan boleh?”
tanya Muhsin.
“Boleh saja.”

“Soalnya dia juga mau minta tolong, soal anaknya,”
“Ya, ajak saja kesini.”

“Apa perlu anaknya diajak kesini juga?” 
tanya Muhsin.
“Tak perlu…, juga dilihat masalahnya apa dulu…” kataku.

“Oh ya juga ada orang Pakistan yang sudah sepuluh tahun tak punya anak, Apa Mas bisa memberi solusi?”

“Coba saja lelakinya suruh bicara denganku, soal solusi itu nanti dilihat apa kasusnya.”

  Kerana tak banyak pekerjaan yang ku lakukan, maka Aku sering ikut kerja orang lain, kadang memasang wallpaper, atau memasang ternit, atau karpet lantai, atau mengecat pintu dan kosen, sehingga Aku sering terlihat kerja dengan banyak orang, bahkan di bagian lain yang bukan bagianku, sebab pekerja itu dikelompokkan dalam bagian atau section, dan bagianku adalah welfare, dan Aku sering ikut bagian general services.

Disebabkan sering bekerja dengan pekerja lain, maka Aku cepat banyak teman dan kenalan, dari orang India, Pakistan, Maroko, Sudan, Yaman, dan Arab, bahkan Bangladesh.

Walaupun Aku orangnya tak banyak bicara, sehari pun bicara bisa dihitung dengan jari, tiap kerja kebanyakan diam, hanya bicara dengan orang yang ku rasa cocok bisa diajak membahas ilmu dan tukar fikiran.

Aku dipasangkan bekerja dengan orang Maroko bernama Muhammad, orangnya tubuhnya besar dan suka berkelahi, baru dua hari lalu dia memukul seorang Banggali sampai KO.

Aku lumayan cocok dengan Muhammad sebab kalau ku ajak ngobrol dia memakai bahasa Arab baku, sehingga pembicaraan kami lancar. Kami sering bersama entah dalam bekerja juga dalam keseharian, Muhammad juga sering main ke kamarku.

“Kamu tahu ilmu dari Kitab Syamsul Ma’arif?” tanya Muhammad suatu hari.

“Tahu…, itu dalam pesantren di Indonesia itu dinamakan ilmu hikmah.”
jawabku,

“Itu banyak dipelajari di Maroko.”
kata Muhammad sambil merontokkan ternit (plasterboard) lama kerana kami dapat pekerjaan lembur merusak internit villa, untuk diganti internit baru.

“Ku dengar Kitab Syamsul Ma’arif dilarang dipelajari di Arab Saudi, bahkan kalau ada orang yang membawa kitab Syamsul Ma’arif jika ketangkap polisi akan ditangkap dan yang mengamalkan bisa dihukum pancung.” kataku.

“Iya…, Aku dengar juga begitu.” jawab Muhammad.

“Ku rasa peraturan Arab Saudi soal itu ada benarnya juga, kerana menyangkut Aqidah, lebih banyak orang yang belajar Kitab Syamsul Ma’arif, Abu Ma’sar Al-Falaqi, 'Aufaq, Syamsul Anwar, jika tidak kuat aqidahnya, kebanyakan akan tersesat, artinya akan terseret pada penggantungan diri meminta pada khadam, bukan pada Allah.” kataku.

“Kok bisa seperti itu?”
tanya Muhammad,

“Iya kerana khadam yang ada di amalan yang tertera yang akan memberi kekuatan, kekuatan khadam tuju bintang yang jadi sandaran, jadi kemudian akan dimintai tolong.”
jelasku.

“Begitu ya… padahal Aku belajar Kitab Syamsul Ma’arif sudah lama.”

“Patutlah kau memiliki pukulan yang ampuh.”
kataku bercanda.

“Ilmu paling murni itu Ilmu Thareqoh…” kataku.

“Apa yang kamu maksud Thareqoh yang tasawuf itu.”

“Tasawuf itu tata cara pengalaman ubudiyah soal hati.”
jelasku...“Dan toreqoh itu lebih luas.”
“Bisakah kau jelaskan sedikit padaku, di Maroko juga ada Thareqoh tapi kok orangnya kebanyakan miskin-miskin.” kata Muhammad.

“Thareqoh itu jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang punya sanad atau sandaran ilmu yang bersambung dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, jadi ada ketersambungan guru sampai kepada Nabi 
Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, itulah keunggulannya, sebab jika diumpamakan amaliyah, paralon itu sambungan guru, dan pompa air yang menyala itu diumpamakan amalan kita, jika dari pompa air itu tak menyambung kepada sumur, sumur itu umpama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan sumber air itu fadhilat dan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, jika kita punya amaliyah, tapi tidak menyambung pada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, itu seperti sanyo (brand mesin air) yang kita nyalakan siang malam, kita amalkan siang malam tapi tidak menyambung ke sumur, maka sekalipun kita amalkan siang malam maka tidak akan keluar airnya, artinya fadhilat Allah Subhanahu Wa Ta'ala tak akan keluar, sebab tidak menyambung ke sumur, lalu Kitab Syamsul Ma’arif itu tak ada menyambung sanad dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka tidak ada fadhilat Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan keluar, jadi pentingnya sanad ilmu, juga menentukan hasil pencapaian yang diraih. Tetapi begitu juga, dalam thoreqoh itu sekalipun Guru Mursyid maka mereka punya kedudukan yang berbeda, seperti wadah air, guru itu seperti tabung penyimpanan air, jika dari atas hanya sedikit atau kecil sambungan air, maka akan sedikit juga paralon-pipa di bawahnya akan menerima air dari sambungan atasnya yang sedikit. Maka Guru Mursyid yang punya sambungan banyak amat sangat berpengaruh pada besar kecil fadhilat yang dihasilkan murid, Guruku mempunyai sambungan thoreqoh ke atas sampai kurang lebih 13 jalur, dan tertampung dalam Guruku, maka murid di bawahnya akan banyak mendapat manfaat, kerana aliran fadhilat yang besar.”

“Hhmm masuk akal juga… jadi tertarik Aku dengan thoreqoh, bolehkan Aku belajar lebih banyak lagi?”
“Aku sendiri juga seorang murid, orang yang mencari, dan masih berusaha istiqomah, kita saling berbagi saja.” kataku.


“Baik, tapi aku tetap mau minta dibimbing.”
kata Muhammad,

“Dalam thoreqoh ada juga kedudukan seorang mursyid itu beda-beda.” jelasku.

“Ada yang seperti itu ya?”
tanya Muhammad sambil kami terus bekerja.

“Contoh tahu kan, Syaikh Abdul Qodir Jailaini Radhiallahu 'Anhu?”
“Iya tau…”

“Syaikh Abdul Qodir 
Jailani Radhiallahu 'Anhu itu punya kedudukan 'Sultonul Auliya’, 'Ghousil a’dzam', 'Quthub', 'Ahli talkin', 'Ahli silsilah', 'Ahli tawasul', 'Ahli Nasab', jadi berbagai kedudukan itu menjadi satu, makanya banyak karomahnya, kerana setiap seseorang punya kedudukan itu maka akan dengan sendirinya mempunyai pakaian kebesaran berbagai atribut dari kedudukan yang dimiliki, seperti seorang jendral dari sebuah ketenteraan dalam suatu Negara, jika banyak tanda pangkat disandangnya maka akan makin banyak kelebihan yang dimiliki, seperti berhak kemana-mana membawa pistol, membawahi beberapa batalyon tentara, jika kedudukannya cuma penjaga keamanan toko tentu beda.” kataku menjelaskan yang masuk akalnya Muhammad.


“Hm… sepertinya juga masuk akal.” kata Muhammad.
“Dalam thoreqoh juga ada wakil talkin, wakil bai’at, jika kita dibai’at atau ditalkin wakil talkin, maka selamanya kita hanya akan jadi prajurit, dan kerana jadi prajurit maka tak akan meningkat pada kedudukan yang tinggi, sebab hanya prajurit, bisa jadi orang Daerahmu, orang thoreqoh yang kamu sebut miskin-miskin itu orang yang tak mempunyai kedudukan. Dalam ketenteraan juga kan orang yang kedudukannya rendah tak punya gaji tinggi.”
“Iya bisa jadi juga.”

“Kalau ku umpamakan, seorang kalau mau mendapat gaji dari pabrik, maka jangan hanya mengulurkan tangan di pintu gerbang, tapi masuklah ke pabrik, daftar, dan menjadi karyawan, maka pasti akan menerima gaji.” kataku.

“Iya itu benar, lalu apa hubungannya dengan thoreqoh?” tanya Muhammad tak mengerti.

“Sama pabrik itu ku umpamakan pabrik fadhilah dan Rahmat Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala, jika kita cuma minta dan tanpa mengikat diri masuk dalam pabrik fadhilah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala , cuma wira-wiri di sekitar pabrik, berdo’a, maka kita sangat jauh kemungkinan akan diijabah do’a kita, tapi kalau kita masuk ditalkin dan dibai’at masuk secara resmi ke dalam pabrik, maka sekalipun tak minta, sekalipun tak berdo’a kita akan tetap mendapat gaji bulanan, apalagi meminta, pasti Allah Subhanahu Wa Ta'ala tak segan-segan memberi.” jelasku.

“Hemmm… biar ku fikirkan apa yang kau katakan, soalnya aku kurang faham seluruhnya.”
“Sepertinya pekerjaan kita sudah selesai, apa kita pulang dulu?” tanyaku.

“Tidak, nanti menunggu jam pulang bersama pekerja lain, pas jam enam, ini baru jam lima lebih sedikit.” kata Muhammad.

“Lalu bagaimana jika aku ingin mengamalkan toreqoh? Apa yang harus aku lakukan?”
tanya Muhammad.

“Sebenarnya harus ditalkin, ditalkin itu penyaringan seorang murid kalau dalam masuk university ya, seperti melakukan pendaftaran dan menjalani seleksi, setelah selama seleksi itu seorang murid dipantau oleh guru dan ternyata tak pernah melakukan dosa besar, maka akan dibai’at, menjadi murid secara resmi.” jelasku.

“Maksudnya dosa besar itu apa saja?” tanya Muhammad.

“Ya seperti main perempuan, main judi, mencuri/meramp*k/mencopet, korupsi, semua golongan yang mengambil hak orang lain, mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkob*-dadah,”

“Jika tidak menjalankan dosa berarti kita bisa dibai’at ya?”
tanya Muhammad.

“Iya.. tapi kalau jauh sama guru kan juga susah juga.”

“Iya Aku juga mahu tanya soal itu, seperti Aku di Arab Saudi gini kan jauh susah jika mahu dibai’at?”
kata Muhammad sambil menyalakan rokok putihan.

“Itu bisa menjalankan amaliyah dulu, jadi misal nanti dibai’at atau ditalkin, diri sudah ada tanah tempat menanam ilmu, sebab puasa itu kan membersihkan tanah hati, dari segala penyakit disertai menyuburkannya, dan ditalkin itu guru kita umpama memberi biji ilmu yang kita tanam di hati kita, jika hati, tanahnya sudah subur maka berbagai macam ilmu yang ditanam akan tumbuh subur.”

“Boleh aku minta amalannya?”

“Iya nanti ku catatkan, sekalipun amalan ini sama dengan amalan dari siapapun, nilainya beda, bukan kerana Aku yang memberi, tapi kerana amalan ini ada sanad sambungan Guru kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dari Malaikat  Jibril, dari Allah Ta’ala, jadi jelas amalan walaupun sama-sama lafaz ALLAH, yang pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, beda yang pemberian seorang Ulama atau Kyai tapi tak punya sambungan sanad yang menyambung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ya,  kayak paralon yang ku contohkan masuk kedalam sumur dan menyedot air.”

“Lalu apa amalanku yang dari syamsul ma’arif ku hentikan?” tanya Muhammad.

“Ya dihentikan, sekarang gini saja, selama ini amalan itu kamu amalkan apa yang kamu dapat? Sudah berapa tahun kamu mengamalkan?”

“Iya sih, tak ada yang ku dapat, walau sudah lima tahun aku mengamalkannya.”


“Nah, nanti rasakan, kamu menjalankan amalan puasa yang 21 hari dariku, bandingkan dengan amalan yang kamu jalankan lima tahun…”


“Jadi, puasanya 21 hari ya?”
tanya Muhammad.

“Iya itu paling dasar, di atasnya ada 41 hari, 3 bulan, 7 bulan. dan seterusnya, seperti orang sekolah, maka setiap meningkat ke tahapan di atasnya, maka akan memiliki kelebihan yang dianugerahkan Allah Ta'ala, entah bisa mengobati orang sakit, entah bisa melihat ghaib, mengusir Jin, dan lain-lain, dan setiap orang berbeda-beda kelebihan yang akan didapat, tapi ingat dalam menjalankan jangan mengharap ingin bisa sesuatu, lakukan dengan ikhlas, kerana Allah Ta'ala, Amal apapun itu jika tanpa adanya keikhlasan maka seperti tubuh tanpa ruh, seperti motor tanpa mesin, maka tak bisa pergi kemana-mana, Jika dipaksakan pergi, maka akan menyusahkan orang yang membawa, begitu juga amal tanpa adanya keikhlasan maka akan menyusahkan orang yang didekat orang yang beramal, misal memberi wang, maka wang nanti kan akan diundat-undat, diungkit-ungkit, diminta dikembalikan, bukankah itu menyusahkan pada orang yang didekat.”

“Iya…”

“Jadi amaliyah itu ada dzahir ada bathin, keduanya harus saling melengkapi, jika ingin amal itu sampai pada tujuan, itu namanya asbab, jadi dalam beramal seseorang itu jika masih dalam kedudukan sebab asbab, maka dia tak lepas dari sebab, musabab, dan akibat, seperti orang sakit kepala minum paracetamol lalu penyakitnya sembuh, padahal sebenarnya yang menyembuhkan Allah Ta'ala, maka orang tersebut namanya masih menetap di maqam atau kedudukan asbab, artinya segala sesuatunya memerlukan sebab, kenyang sebab makan, dan segala sesuatunya dikaitkan dengan sebab termasuk dalam ubudiyahnya, kerana dia ibadah, lalu dia menjadi dekat dengan Allah Ta'ala, Tetapi ada juga orang yang sudah tak tergantung oleh asbab, kerana sudah memandang segala sesuatu itu dikehendaki Allah terjadinya, dan segala sesuatu itu telah ditaqdirkan terjadi, maka terjadi, sakit juga jika Allah menghendaki sembuh, maka akan sembuh, begitu dalam pemikiran orang yang sudah di kedudukan tanpa sebab, kerana tak ada selain Allah itu bisa menjadi sebab kepada Allah, kerana kesempurnaannya, semua menjadi sebab kerana Allah menghendakinya menjadi sebab, dan Allah itu tak memerlukan sebab agar sesuatu terjadi, Juga seseorang itu ibadah tak akan menambah kekayaan Allah, Jika semua orang maksiat juga tak menjadikan Allah menjadi miskin. Jadi Allah Azza Wa Jalla, tak terpengaruh oleh gerak gerik semua makhluk, kareera amal juga tidak bisa mendekatkan atau menjadikan dekat dengan Allah. Jika seseorang itu mengandalkan amalnya sendiri maka dia tak akan kemana-mana, kerana jika ruhnya dicabut nyatanya berangkat ke kuburan pun harus dipikul ramai-ramai, menunjukkan bahwa amal kita itu tidak bisa menjadikan kita dekat dengan Allah Ta'ala, tapi Allah-lah yang menghendaki kita menjadi dekat.”

“Lalu bagaimana kita tahu, misal aku ini di Maqam Asbab atau Maqam Tajrid?”

“Seorang yang menempatkan jati diri itu hanya perlu berusaha istiqomah dalam ibadah, seperti orang yang kerja di pabrik jika dijadwal jamnya jam 7;00 masuk dan jam 4;00 pulang, ya, harus konsisten, mengikuti aturan yang ditetapkan untuk dirinya, tanpa melakukan tindakan yang menjadikan absensinya merah, soal nanti dinaikkan kedudukan menjadi manager itu bukan urusan dia, sama dengan seorang yang beribadah pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ada Ibadah pokok, adalah waktu pokok bekerja, dan Ibadah Sunnah adalah waktu lemburan-overtime. Jika seseorang mengandalkan gaji pokok atau penghasilan pokok maka dipastikan manusia itu akan merugi, sebab keperluan itu selalu ada yang tidak diprediksi, misal sakit perlu obat, hujan perlu payung, sama dengan orang yang menyandarkan Ibadah pokok, suatu saat bepergian, maka mengqadho Sholat, jadi orang yang tak merugi yang selalu sedia payung sebelum hujan, lakukan amal dengan tekun, maka kemudian seseorang akan meningkat di kedudukan yang ditentukan Allah 
Subhanahu Wa Ta'ala, dengan sendirinya akan menempati pada kedudukan tanpa sebab, menyembuhkan penyakit tanpa obat, rezeqi tanpa mencari, dan menempuh tempat yang jauh tanpa proses perjalanan.”

“Oh, sudah habis jamnya..” kata Muhammad. Dan kami pun dijemput mobil pengangkut karyawan untuk kembali ke tempat bagian kami masing-masing melakukan tanda tangan keluar kerja.

Tak terasa telah hampir dua tahun Aku di Arab Saudi, waktu berjalan amat cepat, dan sudah sekali Aku pulang cuti, hutangku di PJTKI (Pejabat Tenaga Kerja) juga sudah ku lunasi, malah wangku dikembalikan lagi oleh PJTKI dibelikan emas seharga sepuluh juta rupiah (sekitar RM4000) dan diserahkan pada Istriku. Aku sudah mahu mengajukan Resend, berhenti dari pabrik, tapi Aku ingin tunaikan Haji dulu, agar tak percuma-siasia Aku di Arab Saudi, selepas tunaikan Haji di tahun pertama dan kedua Aku baru pulang dari Indonesia sehingga tak ada wang untuk biaya tunaikan haji lagi, semoga di tahun ketigaku Aku bisa tunaikan Haji, sehingga Aku bisa segera pulang ke Indonesia.

Sebenarnya di tahun kedua Muhammad telah membujukku untuk tunaikan Haji dengan biaya ditanggung dia, tapi Aku orangnya selamanya tak mahu menyusahkan orang lain, walau saat itu Muhammad memaksa-maksa katanya sebagai tawadhu' murid kepada Guru, tapi aku tetap tak mahu.[] 

To be Continued..
Kredit Ilustrasi Image by Doc; FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser