-->

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-3

Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-3
<img src="FORTUNA NETWORKS.COM.jpg" alt="  Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-3">

FORTUNA NETWORKS.COM | Cerpen @ Hikayat Sang Kyai [39]"Cahaya Makrifat Itu Menyinari Hati"-3

Pulang kerja Aku langsung mandi, setelah mandi tunaikan Sholat Maghrib, enaknya di Arab Saudi setiap kamar ada kamar mandi dan WC-toilet, jadi setiap orang tak perlu susah-susah antri-beratur, cuma kamar cuci pakaian yang mesinnya hanya satu, jadi kalau mennyuci harus nunggu yang lain selesai.

Setelah sholat handphone bunyi.
“Halo… Mas, minuman sama ayam bakar ku taruh di pintu, tolong diambil, tadi ku ketuk-ketuk tidak menyahut jadi ku taruh aja di pintu.” suara Muhsin.

“Oh ya… Aku tadi lagi mandi, jadi pintu kamar ku kunci.” jawabku.

Biasa Muhsin membawakanku kalau tidak minuman kaleng-tin, ya, ayam bakar atau kepala kambing, atau babat lembu, atau kepala ikan laut yang jika dimasak seminggu tak habis-habis, sehingga Aku tak makan di kantin dan memasak sendiri, dia juga aktif membawakan Indomie sekardus, juga beras sekarung, kadang meja sampai penuh untuk menaruh makanan.

“Nanti habis Sholat Isya’ mahu kesitu.” kata Muhsin lagi.

“Ya..” jawabku.

Ada yang mengetuk pintu, ku buka ternyata Amir Khan, orang Pakistan, tak biasa-biasanya main ke kamarku.
“Silahkan duduk.” kataku dengan bahasa Arab. “Kok, tak biasanya main ke kamar?”

“Ya, maaf mengganggu Ustaz.” kata Amir Khan, Aku tak tau kenapa kebanyakan pada memanggilku Ustaz, padahal sama sekali juga Aku tak pernah mengajar atau menunjukkan punya ilmu apa-apa.
“Begini ustadz, saya mau minta tolong…, sebab saya dengar Ustaz sering dimintai tolong teman-teman.” kata Amir Khan.

“Soal apa itu? Maaf sebenarnya Aku sendiri tak bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan.” kataku.

“Ini soal anak saya di rumah,”

“Memangnya kenapa anaknya?”

“Saya sendiri tak tau sebab musababnya Ustaz, tiba-tiba sekitar sebulan ini, anak perempuan saya yang berumur 10 tahun lumpuh, dan tak bisa berjalan.”

“Itu awalnya bagaimana?”

“Makanya itu Ustaz, cerita Istri, anak saya itu tak panas juga tak sakit, ketika bangun tidur, begitu saja menjadi lumpuh…”

“Ooo begitu, apa bisa di rumah disediakan air?”

“Maksudnya air apa Ustaz?”

“Maksudku air mineral, ya, air itu dibiarkan semalam, biar ku transfer obat ke dalam air tersebut, besok pagi airnya diupayakan diminum, dan dipakai mandi, bagaimana, bisa tidak?”

“Sebentar, saya akan menghubungi Istri saya.” kata Amir Khan, sambil mengeluarkan handphone dan menghubungi rumahnya.

“Oh ya sekalian suruh airnya dicampurkan air untuk mengepel rumah.” kataku di antara pembicaraannya dengan istrinya.

“Iya, sudah disediakan air.” jawab Amir Khan.

“Iya, nanti ditunggu saja perkembangan selanjutnya.” jelasku.

“Terimakasih Ustaz saya mohon diri dulu..” kata Amir khan.

Selang beberapa saat Muhsin masuk kamar membawa bungkusan makanan.
“Apa itu?” tanyaku menanyakan yang dibawa Muhsin.

“Ini nasi jagung plus ayam, titipan dari orang Maroko, bernama Abduh yang ku mintakan do’a tentang anaknya dulu, Alhamdulillah anaknya sudah baik dan sehat.” jelas Muhsin. “Ayo di makan.”

“Wah, kalau nasi jagung kurang pas kalau tak disambalkan, biar aku masak sambal sebentar.” kataku segera meramu sambal terasi-belacan andalan.

“Sepertinya tadi Amir Khan dari sini?” tanya Muhsin.

“Iya, dia meminta dido’akan anaknya sakit di Pakistan sana.” jawabku.

“Ooo… Wah, hebat ya, kalau mendo’akan orang sakit di mana-mana bisa sembuh.” celetuk Muhsin.

“Ya, semua orang juga bisa, lha, wong berdo’a saja apa susahnya.” kataku.

“Tapi kan ndak semua diijabah.” jawab Muhsin.

“Semua juga mempunyai hak diijabah yang sama, dan Allah Ta'ala juga memberi hak diijabah yang sama, cuma manusia sendiri yang menjadikan do’anya terhalang oleh ijabah, nafsunya sendiri yang menjadi penghalang terijabahnya do’a, Aku sendiri kan juga bukan orang hebat, sama doyan-suka nasi jagung, sama doyan bakso, dan sama doyan semua yang halal, jadi tak ada bedanya dengan orang lain, sampean atau siapapun.”

“Itulah yang malah sulit membedakan, kerana samanya, jadi sulit dilihat perbedaannya.” kata Muhsin.

“Kita sebenarnya hanya perlu melakukan cara ibadah yang benar, yang menjauhi yang dilarang dengan benar, memakan makanan yang terjaga kehalalannya, ya, sebenarnya hanya itu.” kataku sambil memindah sambal yang selesai ku ulek.

Orang Maroko punya tradisi jika hari Juma’at mereka memasak nasi jagung, nasi jagungnya sama dengan masakan Jawa Timur, Aku yang memang suka nasi jagung, walau di Arab Saudi, jadi hampir setiap Juma’at mendapat kiriman nasi jagung dari orang Maroko, kerana mempunyai murid orang Maroko.


Besok Aku dikirim ke pabrik-kilang baru di Tahamah, perjalanan dari pabrik yang ku tempati ditempuh kira-kira delapan jam, sore hari pulang kerja Aku cepat-cepat pulang ke kamar, melewati jalan pintas gerumbul semak perdu, walau di Arab kerana kepedulian pabrik, jadi ada pengolahan air dinamakan water treatmen di mana air kotor diolah menjadi air bersih, dan sebagian dipakai menyirami tanaman, sehingga sekitar pabrik semua tanaman tumbuh subur, kebun mangga ada, kebun jambu, kebun pisang, kebun jeruk-limau, yang paling menyenangkan di sini burung bebas berkeliaran, bahkan di pohon kadang penuh sarang burung, bergantungan, dan semua tiap pagi bernyanyi ramai sekali, juga tiap ada tiang lampu jalan, pasti ditempati sarang burung elang, atau bangau, bahkan di atap-atap pabrik, penuh sarang merpati, cuma teman-temanku pernah mengambil banyak merpati, kerana kalau di sarangnya ditangkap tak lari, jadi mengambil merpati sampai dapat setengah karung, hairannya dagingnya rasanya langu, mungkin yang dimakan bukan biji-bijian jagung.

Yang Aku hairan di sini juga ada ayam liar, atau kalau di Indonesia ayam alas, tapi bentuknya kayak kalkun, cuma sebesar ayam kampung, juga bisa terbang, jadi sulit untuk menangkapnya, banyak juga ayam liar, kadang mereka berkelompok. Walau tak pernah hujan, tumbuhan tak mati kerana setiap pohon mendapat jatah air dari selang-pipa yang dialirkan sepanjang jalan. Jadi suasana amat rimbun, cuma kalau panas ya, tetap panas, walau di bawah pohon, sebab panas terbawa hembusan angin.

“Ustaz, terima kasih…” kata suara seseorang di belakangku, ternyata Amir Khan orang Pakistan yang semalam meminta tolong.

“Bagaimana khabar anaknya?” tanyaku masih tetap jalan, dan Amir Khan berjalan di sampingku.

“Alhamdulillah, kata Ibunya tadi pas istirahat siang telpon, katanya anaknya sudah bisa jalan, walau pelan-pelan, ibunya juga merasa kaget, tiba-tiba anaknya turun dari ranjang.” kata Amir Khan.

“Ya, syukur kalau begitu.” jawabku.

“Ustaz, Ustadz mahu dibelikan apa? Katakan saja, pasti saya turuti.” kata Amir Khan.

“Aku?” tanyaku.

“Iya..” jawab Amir.

“Wah, Aku tak ingin beli apa-apa, sudah yang penting anaknya sehat..”

“Tapi saya mau berterimakasih pada Ustaz..” kata Amir Khan.

“Berterima kasih saja pada Allah…, Aku hanya meminta pada-Nya,” jelasku.

“Bolehkah saya menjadi murid Ustaz…?” tanya Amir Khan.

“Ah, Aku orang bodoh, tak pantas diangkat menjadi guru, juga pas kebetulan Aku berdo’a, dan Allah pas menurunkan kemurahannya dan anakmu diberi kesembuhan.” kataku, dan sampai di kamar.

“Terima kasih Ustaz..” kata Amir Khan kerana Aku akan masuk kamar.

“Sama-sama..” jawabku.

Akhirnya berangkat juga ke Tahamah, satu mobil jeep diisi sembilan orang, sepanjang perjalanan hanya pemandangan padang pasir, batu, gunung, dan rumah-rumah di puncak gunung, sekali waktu berhenti di tempat makan, untuk mengisi perut, dan di sini ya, paling enak makannya nasi minyak, dan ayam bakar, tanpa rasa apa-apa, beda di Indonesia yang ada aneka makanan pilihan, bahkan bumbunya ayam bakar juga cuma cabe utuh, itu juga kalau minta, biasanya cuma dikasih kecap sama irisan bawang bombai. Sebenarnya jika ke pasar Aku lebih suka makan roti canai, atau roti yang kayak martabak tanpa isi telur jadi cuma adonan tepung tapi digoreng, makannya disuwir dicolek ke kari daging, rasanya sih lumayan, mendekati rasa rendang Padang, cuma kebanyakan kunyitnya, ya, daripada tak ada, ya, itu termasuk makanan yang lazat. Biasanya di jalan-jalan ada warung teh plus nyedot shisha, rokok ala Arab Saudi, dan tehnya dari daun menthol yang direbus, di Arab Saudi namanya daun Nak-nak, rasanya diminum panas ya, hangat-hangat semriwing.

Jam 2;00 siang, Aku sampai di pabrik Tahamah, ketemu juga banyak orang Indonesia, dan kumpul sebagian rombonganku yang dahulu berangkat bersama dari Indonesia, cuma kemudian yang lain dikirim ke pabrik beda Daerah.

Malamnya pada main ke kamarku, ngobrol ngalor-ngidul (sembang2 kosong), ya menanyakan khabar dan lain sebagainya.
Pabrik Tahamah adalah pabrik baru yang sebelumnya katakanlah Daerah tanpa penduduk, hanya wilayah gunung mati, jadi entah salah satu gunung dipangkas, diledakkan, didatarkan, kemudian dibangun sebuah pabrik, dan segala macam keperluan yang diperlukan pabrik, sehingga jika mahu ke kota maka amat jauh, di kanan kiri depan belakang, dan kemana arah mata memandang yang ada hanya gunung dan deretan gunung-gunung batu, pabrik ini seperti sebuah koloni di dunia antah berantah, tak seperti di Indonesia yang gunungnya terdiri dari pepohonan dan hutan, kalau di Arab Saudi, maka gunungnya hanya terdiri dari batu dan batu. Bahkan gunung itu seperti batu yang utuh.

Beberapa hari di Tahamah, bingung juga pertama sebab ternyata soal pekerjaan sama sekali tak ada, barang-barang yang ku perlukan sama sekali tak tersedia, di Tahamah hampir-hampir dikuasai oleh orang India, Insinyur-Jurutera dan teknisyen nya juga orang India, tahulah orang India jika insinyur sekalipun belum tentu insinyur beneran artinya ijazah dari beli, jadi soal kerja sama sekali tak mengerti.

Bahkan Aku sendiri ikut dipekerjakan melayani tukang batu, memang apes-sial kalau bekerja dengan India, apalagi orang Arab Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun diberi obat parasetamol, padahal ijazahnya doktor. Ah, tak tahulah yang penting tak menyalahi aturan Allah Ta'ala, mahu orang lain menyalahi aturan bukan urusan diri.

Untung ada tukang-tukang dari Maroko, sehingga Aku tak diminta bekerja berat, kerana tahu menjadi pelayan tukang batu bukan bidangku.

Sementara untuk mulai bekerja di kaligrafi entah harus menunggu bila, untuk meminta meterial dan peralatan yang ku perlukan prosesnya sangat rumit, tak ada yang mengurus, dan Aku harus mengurus sendiri, mengajukan permintaan kepada bagian yang anehnya semua tak merasa membawahi pekerjaanku, Aku jadi ketawa sendiri, Lha, Aku harus minta pada siapa? Sungguh pabrik besar yang semrawut.
Padahal material yang ku perlukan tak seberapa harganya.
Daripada menganggur, mending Aku jadi tukang sapu, Aku tak rela memakan gaji buta, walau ini pabrik, tak rela rasanya tanpa mengeluarkan keringat lalu menerima gaji, biarlah Aku menyapu gudang tiap hari, sampai sebulan dua bulan, aku hanya menyapu ruangan yang panjangnya hampir limapuluh meter persegi.
Sampai Muhsin telpon, menanyaka kabarku,
“Bagaimana pekerjaan di sana?” tanya Muhsin.

“Kerja apaan… di sini sampai sekarang cuma jadi tukang sapu..” jawabku.

“Lhoh, kirain sudah mulai kerja kaligrafi?” tanya Muhsin.

“Ya, Aku mengajukan minta material yang ku perlukan juga belum dikasih, malah sampai sekarang ndak jelas, ini Aku ikut general services apa ikut welfare section, semuanya tak jelas, jadi Aku cuma jadi tukang sapu.”

“Wah, memang kalau dipegang orang India semua pekerjaan semrawut, nanti Aku menghadap manager.” kata Muhsin.

Handphone pun ditutup, sebenarnya Aku sudah perduli, mahu kerja apa juga, asal tak terlalu berat.
Selama di pabrik baru Aku, ternyata semua orang Indonesia juga terkena penyakit telpon-telponan sama TKW (TenagaKerjaWanita), malah ada yang sampai ketemuan, janjian, padahal di Indonesia punya Anak dan Istri, nyatanya semua orang tak tahan banting.

Dulu Aku merasa kaget waktu di Jakarta, melihat teman pesantrenku tak pada sholat, padahal mereka jebolan-lulusan Pesantren Lerboyo, ada juga yang jebolan pesantren Sarang Rembang, tapi begitu di Jakarta, sholat sudah ditinggalkan.

Yang baru ku sadari, ternyata setiap tempat itu mempunyai karakter cobaannya sendiri-sendiri, di Arab Saudi mungkin saja sholat dilakukan tapi keluarga kemudian dikhianati.

Aku tak ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan, kerana Aku tahu betul jika Aku mengingatkan mereka, maka itu sama sekali tak akan membuat mereka sadar, malah bisa jadi Aku malah akan dimusuhi.

Ada beberapa orang yang tak terseret oleh godaan saling telpon dengan TKW, dan ada dua kelompok yang tak suka main telponan dengan TKW, yang satu berkumpul di kamar yang ada TV nya, yang lain yang sering main ke kamarku, ya, kalau di kamarku paling ku setingkan internet gratis dan sedikit ku ajak ngobrol tentang ilmu.
Dan sebagian meminta amalan, dan menjalankan puasa. Ada salah satu orang meminta satu kamar denganku namanya Lukman, katanya ingin biar bisa lebih dapat ku bimbing.

Aku tahu Lukman mempunyai banyak masalah, di keluarganya, dan Aku tahu kalau dia ingin sekamar denganku hanya ingin agar bisa ngobrol berdua membicarakan masalahnya. Dan dugaanku tak meleset, saat semua orang sudah tak ada main di kamarku. Lukman mulai mengungkap unek-uneknya padaku.

“Mas…! terus terang aku punya masalah yang ingin ku sampaikan ke mas Iyan…” kata Lukman yang kurus dan tubuhnya ceking, tapi tinggi semampai.

“Masalah apa? Ya kalau Aku bisa membantu, InsyaAllah akan ku bantu mencarikan solusinya, tapi jika Aku tak bisa membantu, ya, Aku minta maaf.” kataku, yang tidur di ranjang satunya.

“Ini yang bisa membantu hanya Mas Iyan…, “

“Wah, kok bisa gitu? Kan yang lain banyak teman-teman kita, kenapa musti Aku?” tanyaku heran.

“Kan, Mas Iyan yang punya ilmu trawangan, melihat dari jarak jauh.” kata Lukman.

“Wah, kata siapa? Itu mengada-ada…”

“Lha, buktinya kan banyak, misal soal Mas Sarno, trus kemaren kan ada tukang kayu yang pasahnya hilang, kan juga yang nunjukkan ditaruh di atas lemarinya orang Arab kan juga Mas Iyan, akhirnya pasahnya ditemukan.”

“Ah, itu sih kebetulan, pas tukang kayu orang Indonesia pasahnya hilang, dan dia habis ngerjain rumahnya orang Arab, ya ku bilang saja pasahnya di atas lemarinya orang Arab, dan pas kebetulan dicari di atas lemari pas ketemu, jadi bukan berarti Aku bisa trawang atau melihat dari jarak jauh.”

“Ah mas aja yang merendah.”

“Bukan, memang Aku tak punya ilmu seperti itu, jika pas kebetulan itu juga kan bukan berarti Aku punya ilmu seperti itu.”

“Jadi, Mas Iyan tak mahu membantu masalahku?”

“Bukan tak mahu, Aku mahu saja membantu jika Aku mampu, kenapa tak mahu membantu orang lain, tapi itu jika mampu, kalau tidak mampu lalu membantu bukankah akan malah menambah susah saja.”

“Baik begini mas, Aku punya Istri, punya anak satu yang masih kecil.”

“Lalu?”

“Kalau bisa dilihatkan bagaimana Istri saya? Soalnya hati saya tak enak sekali.” kata Lukman.

“Lebih baik bekerja dengan baik, dan tak terlalu menyangka yang tidak-tidak, hanya akan membuat hati tak tenang.” nasehatku.

“Ya, tolong dilihatkan mas..” Lukman merajuk.
Lukman lalu mengeluarkan foto Istri dan anaknya.
“Ini mas, foto istriku…” Lukman menyodorkan foto ke arahku.

“Kamu itu hanya rindu pada keluarga, dan semua orang yang bekerja di Arab Saudi itu pasti mengalami cobaan itu, namanya juga jauh dari keluarga, jadi jangan kemudian menjadikan diri terseret pada prasangka dan bayangan yang membuat diri tak tenang.”

“Tidak Mas, ini masalahnya lain…”

“Sudahlah tenangkan saja diri, banyak-banyak zikir, minta pada Allah agar hati tenang.” kataku.

Malam itu tetap saja tak ku jawab kemahuan Lukman, diriku memang serba susah, apalagi menyangkut rumah tangga orang, Aku sama sekali tak ingin ikut campur dalam rumah tangga orang.

Besoknya pulang kerja seperti biasa banyak orang yang berkumpul di kamarku, ada yang tua ada juga yang muda, dan setiap waktu ada saja orang yang biasanya tak pernah ikut main ke kamarku, lalu tiba-tiba saja main, pasti ada maksudnya.

Ini ada tiga orang yang biasanya tak main ke kamarku, dan kali ini main, ada Iwan, pak Purwanto, dan Sodikun, pak Purwanto orangnya sudah umur 50'an tahun, juga Sodikun sekitar umur 50'an tahun. Iwan masih muda.

“Mas… saya mahu ada perlu..” Sodikun mendahului bicara.

“Ada apa pak ?” tanyaku.

“Ini soal anak perempuan saya.” jawab Sodikun.

“Kenapa anak perempuannya?”

“Anak perempuan saya kemaren dibawa ke hospital, dan divonis mengidap kanser rahim.”

“Hm… trus..?” kataku sambil membuang abu rok*k mallboro merah di asbak.

“Maksud saya ingin minta bantuan Mas, minta dido’akan supaya penyakitnya sembuh tanpa harus operasi.” jelas Sodikun.

“Ya, ndak apa-apa, saya do’akan, wong, mendo’akan juga ndak bayar kok, tinggal minta saja sama Allah, yang di rumah disuruh saja sedia air, nanti obatnya saya transfer ke air itu…, sana ditelpon dulu yang di rumah.” kataku.

“Iya mas, terimakasih sebelumnya.” kata Sodikun kemudian menelpon rumahnya.

“Ini ada apa Wan kok tak biasanya main ke kamarku?”

“Anu mas, saya juga mau minta tolong…” kata Iwan.

“Wah, lama-lama Aku dianggap dukun ini di Arab Saudi.. ” candaku.

“Ya, beda toh Mas, kalau dukun kan pakai kemenyan, kembang-bunga, sesajen, lha, panjenengan kan minta langsung sama Allah..” sela pak Purwanto.

“Ada apa dengan Nenekmu Wan?” tanyaku.

“Nenekku itu sudah lima tahun lumpuh tak bisa jalan, Mas…”

“Lalu?”
“Ya saya minta Mas mendo’akan Nenek saya itu diberi kesembuhan oleh Allah, soalnya selama ini sudah diobatkan kemana-mana juga hasilnya nihil, sudah banyak biaya yang kami keluarkan.”

“Ya, suruh saja di rumah sedia air mineral, biar obatnya ku transfer ke air itu… sudah sana yang di rumah dihubungi.” kataku.

“Iya,terimakasih Mas sebelumnya.” kata Iwan lalu berlalu menelpon rumahnya.

“Ini pak Pur ada apa?” tanyaku pada pak Purwanto.

“Sama Mas, mahu minta do’anya untuk anakku yang di rumah, anak lelakiku sebesar Mas tapi fikirannya kayak terganggu.”

“Terganggunya bagaimana pak?” tanyaku.

“Dulu pernah mengalami kecelakaan motor dan sejak saat itu jadi sering diam, kayak orang bengong gitu…”

“Hm… ya sama, kalau begitu di rumah disuruh saja sedia air mineral, biar obatnya nanti ku transfer ke air itu.”

“Ya, Mas terimakasih, biar saya telpon ke rumah.” kata Purwanto.

Sodikun sudah menghadap lagi,
“Sudah saya suruh sedia air Mas.” kata Sodikun.

“Bapak tulis nama dan nama bapak di kertas, besok pagi airnya suruh minum ke anak bapak, moga saja sembuh.” kataku. Dan Sodikun pun menulis nama anaknya dan nama dia.

“Nanti airnya diminum waktu pagi ya Mas?” tanya Sodikun.

“Iya, minumnya waktu pagi, sebelum makan atau minum apapun, Insya Allah kalau Allah Ta'ala mengizinkan sembuh, nanti tumornya akan hancur, terbuang lewat jalan pembuangannya.” kataku. “Jadi kalau keluar daging dan darah banyak tak usah terkejut dan kaget.”

“Iya, Mas… terimakasih..” kata Sodikun, dan minta diri dari kamarku.

“Ini Mas, airnya sudah disediakan,” kata Iwan.

“Suruh saja besok pagi diminum Nenekmu, dan diusapkan di kakinya, tapi Wan, belum tentu kesembuhan itu membawa kebaikan.” jelasku.

“Ya, Mas, asal Nenekku sembuh, kasihan dia sudah sakit sejak lama…” kata Iwan.

“Moga-moga saja sembuh.” kataku.

“Terimakasih Mas,” kata Iwan.

“Iya sama-sama.”

“Airnya sudah disediakan Mas.” kata pak Purwanto.

“Iya besok, airnya diminumkan ke anaknya, dan dipakaikan mandi.” kataku.

“Besok pagi ya Mas..? “

“Iya, besok pagi, moga saja diberi kesembuhan oleh Allah.”

“Terimakasih banyak Mas… semoga Allah membalas kebaikan Mas Iyan.”

“Aamiin.” Pak Purwanto pun berlalu, dan masih beberapa orang yang ngobrol ngalor ngidul tak karuan.

Aku tertidur, dan tak tahu orang-orang sudah pergi, ketika bangun, segera menjalankan Sholat Isya’, dan mendo’akan yang minta dido’akan.

Lukman masuk, baru pulang kerja lembur-overtime, wajahnya nampak kusut. Aku melanjutkan zikirku. Setelah selesai zikir, Aku membuat Indomie, kerana perut keroncongan. Ku buatkan sekalian Lukman yang masih mandi.

“Ayo makan Indomie.” kataku ketika Lukman selesai mandi.

“Terimakasih Mas, tak nafsu makan.” katanya tak semangat.

“Lhoh jangan gitu, ini sudah terlanjur ku buat dua, sudah, ada masalah bisa difikirkan dengan perut kenyang, kalau perut lapar, masalah kecil juga tak akan selesai, jangan kerana satu masalah lalu diri terseret dalam arusnya, tenangkan diri, hanya hati yang tenang yang mampu menyelesaikan masalah, Ayo makan..” akhirnya Lukman mahu, dan kami makan.[] To be Continued..
Kredit Ilustrasi Image by Doc; FortunaNetworks.Com
Admin
Founder https://FortunaNetworks.Com. An Active Blogger Writing Issues Indonesia, Malaysia and The World in General, Journalism, Traveler Author, Blogging Tutorials and Motivational Articles. Can be Addressed on Twitter @helmysyamza

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - https://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Advertiser